
Putri Quan Ling yang sedang dalam penyamaran sebagai seorang pelayan, menyuguhkan secangkir minuman hangat sebelum tidur, tanpa bersuara dan dengan kepala yang tertunduk, hanya tangannya yang menyodorkan cangkir itu ke hadapan raja Zhou Yhan.
'Aneh, mengapa pelayan ini tidak berbicara seperti malam-malam sebelumnya.' pikir raja Zhou Yhan seraya meneguk minuman itu dengan kedua mata masih menatap lekat putri Quan Ling.
Namun, pandangannya terhalang oleh kain kerudung yang menutupi hampir seluruh wajah putri Quan Ling.
Setelah menghabiskan minumannya, raja Zhou Yhan kembali menaruh cangkir minuman itu di nampan yang masih dipegang oleh pelayan itu. Merasa rajanya telah selesai minum, pelayan itu atau lebih tepatnya putri Quan Ling segera mundur beberapa langkah dan meletakkan nampan di tangannya pada meja kecil yang terletak di samping ranjang raja Zhou Yhan.
Sebuah kain yang digunakan sebagai penutup kepalanya, sedikit membantu putri Quan Ling agar wajahnya tidak terlihat oleh Raja Zhou Yhan.
"Cepat, lakukan!" Perintah Raja Zhou Yhan setelah menyandarkan kepalanya pada bantal di sisi ranjangnya.
Tanpa menjawab putri Quan Ling segera menyentuh kepala raja Zhou Yhan dan dengan lembut menggerakkan jarinya yang lentik, memberikan pijatan relaksasi yang menenangkan.
"Pijatan yang berbeda," gumam raja Zhou Yhan kemudian memejamkan kedua matanya.
'Ya dewa, semoga saja Yang mulia tidak akan mengenaliku,' batin putri Quan Ling seraya terus memijat kepala raja Zhou Yhan dengan lembut.
Sebelumnya putri Quan Ling menemui pelayan yang bertugas malam itu untuk memijat kepala raja Zhou Yhan, putri Quan Ling memberikan minuman yang telah dicampuri dengan obat bius. Hanya dalam beberapa detik saja, pelayan itu telah jatuh pingsan di kamarnya.
Oleh karena itu, setelah melihat si pelayan itu pingsan, dengan segera putri Quan Ling mengambil salah satu pakaian milik pelayan itu dan kemudian memakainya.
Lalu melangkah pergi menuju kamar raja Zhou Yhan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian.
Raja Zhou Yhan telah terlelap, karena sangat menikmati pijatan relaksasi yang menenangkan membuatnya cepat merasa ngantuk.
"Oh, syukurlah, dia telah tertidur," bisik putri Quan Ling seorang diri, "aku harus segera mencari bukti kalau dia bukanlah Kim Yung seperti yang telah dikatakan oleh Gough Raks,"
Putri Quan Ling menggerak-gerakan sebelah tangannya tepat di depan wajah raja Zhou Yhan, tetapi tidak ada reaksi dari pria itu, pertanda ia telah benar-benar tertidur pulas.
"Rupanya dia telah tidur nyenyak," gumam putri Quan Ling lagi.
Dengan segera wanita ini membaca mantra dimana ia dapat melihat batu permata kristal putih miliknya, bibirnya yang indah bergerak mengikuti bacaan mantra itu.
Sebuah sinar putih berkilauan terpancar dari tepat di tengah-tengah kening raja Zhou Yhan, sinar itu adalah cahaya yang dipancarkan oleh batu permata kristal putih itu. Akan tetapi walaupun dirinya adalah pemilik batu permata kristal putih itu, tetap saja ia tidak bisa mengambilnya kembali sebelum raja Zhou Yhan alias Kim Yung memberikan langsung kepada nya. Dikarenakan itu telah menjadi aturan sejak dari alam kahyangan, raga yang ditempati oleh batu permata itu, adalah pemiliknya saat ini.
"Jadi, benar apa yang dikatakan oleh tikus kecil itu, Kim Yung adalah yang mulia raja. Mengapa dia berbohong? Apa tujuan dari semua kebohongannya itu? Jika dia suka menyakitiku sebagai Zhou Yhan, lalu mengapa dia menyelamatkan aku dalam sosok Kim Yung?"
Air mata akhirnya jatuh dari kelopak mata putri Quan Ling, seberapa pun ia mencoba untuk tidak menangis, tetapi pada akhirnya ia menangis juga dikarenakan ia tahu, bahwa orang yang telah menghabisi Ayahnya, yaitu raja Shan Hua adalah Kim Yung dalam sosok Zhou Yhan. Karena Gough Raks pernah mengatakan padanya, kalau raja Shan Hua dibunuh dengan kekuatan batu permata kristal putih itu.
Putri Quan Ling menghentikan gerakan jari-jarinya, seluruh tubuhnya bergetar hebat menahan amarah, kecewa dan rasa bersalah. Kedua mata lentiknya menatap raja Zhou Yhan dengan beringas, ingin rasanya ia menghabisi pria itu saat ini juga.
Namun, apalah daya. Ia telah kehilangan sumber kekuatan nya, sumber energi semua ilmunya yang berpuncak pada batu permata kristal putih itu. Jika saat ini ia menyerang raja Zhou Yhan dengan tangan kosong, maka sama saja dengan menyerahkan nyawanya sendiri. Oleh karena itu, putri Quan Ling memutar otak berusaha mencari cara bagaimana ia bisa membuat raja Zhou Yhan mengakui bahwa dirinyalah yang menyamar sebagai Kim Yung.
"Ini salahku, jika saja aku tidak terlalu mempercayai Kim Yung yang ternyata…Oh dewa, apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam putri Quan Ling lirih hampir tak terdengar.
__ADS_1
Secepat mungkin ia meninggalkan kamar raja Zhou Yhan, berlari dan terus berlari membawa sejuta rasa pilu yang berkecamuk di dalam hatinya. Karena malam telah larut tak seorang pun yang melihat dirinya berlari keluar dari istana.
Suasana malam yang sunyi, hanya terdengar suara burung malam menyibak keheningan. Udara dingin menembus tubuh putri cantik dengan pakaian pelayan. Tanpa menggunakan alas kaki putri Quan Ling berlari melewati semak berduri, bercak darah menghiasi jejak kakinya. Tetes demi tetes cairan berwarna merah segar menitik pada luka dikaki putri cantik itu.
Hingga pada akhirnya putri Quan Ling merasa tidak memiliki kekuatan untuk berlari lagi, seluruh tubuhnya terasa lemas tidak berenergi. Putri Quan Ling terduduk bersimpuh di atas tanah yang basah oleh tetesan air embun.
"Hiks… hiks…hiks…," tangis putri Quan Ling.
Pada saat itulah terdengar suara auman harimau, suara itu tertangkap dengan jelas di telinga putri Quan Ling. Semakin lama suara itu semakin mendekat ke arahnya di iringi suara endusan nafas harimau itu.
"Kau ingin memakanku? Kalau begitu makanlah! Sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup, cepat! Makan aku!" teriak putri Quan Ling masih di posisinya.
Merasa mendapatkan santapan lezat malam ini, harimau itu semakin mengaum dengan keras. Hewan itu sepertinya senang melihat putri Quan Ling dengan buas di tengah rasa lapar yang mengaduk perutnya.
Hanya dalam hitungan detik, harimau itu telah melompat hendak menerkam tubuh putri Quan Ling yang telah terlebih dahulu memejamkan kedua matanya dengan pasrah.
ZRASSH.
Suara tebasan terdengar jelas di telinga wanita cantik itu diiringi dengan cipratan darah yang mengenai seluruh tubuhnya.
"Ya, dewa, apakah ini bau amis darahku? Apakah saat ini aku telah mati? Mengapa tidak terasa sakit?" Putri Quan Ling bergumam masih dengan posisi meringkuk memeluk kedua lututnya. Kedua matanya pun masih terpejam.
Namun, tidak lama kemudian, ia dikejutkan oleh sentuhan yang menghangatkan pundaknya, membuat putri Quan Ling terkejut dan ketika ia menengadahkan kepalanya, sungguh sulit untuk dipercaya, lagi-lagi Kim Yung menyelamatkan dirinya dari marabahaya.
__ADS_1