
"Ibu… Ibu bangun, Ibu tidak boleh mati, Young Vei lapar! Hiks… hiks… hiks…," tangis Young Vei berusaha membangunkan Ibunya, tetapi tubuh wanita itu telah kaku dengan wajah yang memucat.
Pilu sekali nasib Young Vei, di usianya yang baru menginjak lima tahun, ia telah kehilangan kedua orang tuanya. Ayahnya meninggal karena kecanduan Alkohol membuat organ dalamnya melepuh dan akhirnya mati. Sekarang ia juga harus kehilangan Ibunya, satu-satunya orang tua yang ia miliki.
Air mata putri Quan Ling terjatuh tanpa di sadari nya, hatinya juga merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Young Vei. Mengingatkan dirinya pada peristiwa kematian pangeran Yan Sensoo dan Annchi.
"Adik kecil, sabarlah. Apa kau memiliki keluarga lagi selain Ibumu?" putri Quan Ling berusaha mencari tahu kalau masih ada kerabat atau sanak saudara yang masih bisa membantu mengurus jenazah Ibu Young Vei.
Anak kecil itu menggelengkan kepala seraya berkata, "Tidak! Aku hanya tinggal dengan Ibu saja. Aku tidak mengenal siapapun selain Ibuku, hiks… hiks… hiks…!"
"Baiklah, kalau begitu aku yang akan mengkremasi jasad Ibumu, setelah itu maukah kau ikut denganku?"
Young Vei mengangguk pelan.
"Ya, aku mau!"
Setelah itu dengan dibantu oleh kedua pelayannya, putri Quan Ling mengkremasi jasad Ibu young Vei.
Sebagai keluarga satu-satunya, walaupun masih kecil Young Vei harus melakukan upacara pembakaran agar jiwa Ibunya tenang di alam sana.
Tubuh Young Vei yang kecil memikul sebuah botol berisi bahan bakar berukuran sedikit lebih kecil dari tubuhnya, Young Vei berjalan mengitari jasad Ibunya dengan tutup botol yang terbuka, membiarkan isinya jatuh ke tanah membentuk sebuah lingkaran.
"Ambil obor nya dan nyalakan!" perintah putri Quan Ling lalu menyerahkan sebuah obor yang telah terbakar dengan kobaran api merah menyala.
Young Vei menerima dan melemparkan obor itu ke atas tanah yang telah di sirami bahan bakar. Dalam sekejap api telah menyala dan berkobar-kobar menelan jasad ibunya.
"Ibu…!" teriak young Vei mengiringi kepergian ibunya untuk selamanya.
Putri Quan Ling memeluk tubuh kecil mungil Young Vei, mereka sama-sama meneteskan air mata kesedihan.
"Kau laparkan?"
Young Vei mengangguk.
"Ya, kakak. Aku lapar sejak kemarin aku belum makan."
__ADS_1
'Ya dewa, takdir apa yang telah kau berikan padanya, dia masih kecil tapi telah melewati penderitaan yang sangat mendalam, ' batin putri Quan Ling.
"Baiklah, sekarang kau ikut aku ke istana, lalu kau bisa makan sepuasnya di sana."
"Benarkah?" Young Vei tersenyum seakan hilang semua rasa kesedihannya.
Terbayang di dalam benak Young Vei makanan yang begitu nikmat tersedia hanya untuknya.
Putri Quan Ling mengangguk seraya tersenyum melihat wajah Young Vei yang kembali bersinar.
Didalam hatinya putri Quan Ling bertanya-tanya, bagaimana raja Fan Kris Wu menjalankan amanahnya sebagai raja? apakah ia telah menjalankannya dengan sebaik-baiknya? Ataukah ia hanya mementingkan kekuasaannya sendiri.
>>>>>>>>>>
Setibanya di istana putri Quan Ling merasa heran karena suasana di istana kerajaan Shengshi menjadi lengang, tidak seperti pagi hari saat ia pergi meninggalkan istana itu bersama dengan kedua pelayanan yang bersedia menemani dirinya.
Pagi itu suasana sangat ramai dengan suara para prajurit yang berlatih ilmu bela diri dan beberapa pelayan serta orang-orang yang tinggal di dalam istana itu hilir mudik melakukan aktivitasnya masing-masing.
Ditengah keheranan putri Quan Ling, tiba-tiba saja ada seseorang yang menyapa dirinya.
"Ruang makan? Untuk apa?" tanya putri Quan Ling memicingkan sebelah matanya.
"Pangeran menunggu anda untuk makan tuan putri."
Mendengar penjelasan dari pelayan itu, putri Quan Ling menghela nafas. Di hatinya bertanya-tanya, untuk apa pangeran Zhou Yhan menunggu dirinya makan?
Putri Quan Ling bergegas sambil menuntun Young Vei disampingnya. Mereka berjalan menuju ke arah ruang makan yang terletak di samping dapur istana.
Namun, sesampainya disana putri Quan Ling tidak melihat pangeran Zhou Yhan, hanya beberapa menu makanan tersedia diatas meja.
"Kakak, aku sangat lapar, boleh aku memakannya?" Young Vei menelan air liburnya berkali-kali ketika melihat makanan yang lezat dengan berangkat menu.
"Boleh." Putri Quan Ling menuntun Young Vei mendekati meja kemudian duduk di kursi yang telah tersedia.
Tanpa menunggu perintah dari putri Quan Ling, anak kecil itu telah mengambil dengan kedua tangannya beberapa menu yang disukainya. Dalam sekejap saja piringnya telah penuh dengan beberapa menu. Kemudian dengan lahap ia memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya dan mulai mengunyah.
__ADS_1
"Kakak, makanan ini sangat lezat, seumur hidupku baru kali ini aku memakannya." Anak itu berkata dengan pipi menggembung dan mulut nya yang sibuk mengunyah.
"Jangan berbicara saat mengunyah, nanti kau bisa tersedak," sahut putri Quan Ling yang merasa kenyang walaupun belum makan.
Hanya karena melihat Young Vei makan dengan lahap nya membuat putri Quan Ling melupakan rasa lapar di perutnya.
Young Vei menurut, ia tidak lagi berbicara hanya tangannya yang sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulut nya yang tidak berhenti mengunyah.
Dalam sekejap, makanan yang menumpuk di piringnya telah raib tak bersisa. Hanya tersisa kuah dan beberapa butir nasi yang mengambang di piringnya.
Tanpa terduga oleh siapapun Young Vei langsung mengangkat piringnya kedepan mulutnya kemudian menyeruput di antara belah bibirnya, membuat sisa kuah dan butir jadi itu pun lenyap dari tempatnya.
"Mau nambah?" tanya putri Quan Ling agak ragu dengan pertanyaannya.
"Ya! Makanannya lezat kak, itu! Aku mau minum itu!" Young Vei menunjuk ke arah gelas berukir kepala naga.
"Oh, itu, boleh." Putri Quan Ling menyodorkan gelas berukir kepala naga itu kepada Young Vei yang menerimanya dengan senang hati.
Young Vei menempelkan gelas itu dan hendak meminumnya, tetapi tiba-tiba saja ada tangan dari arah belakang yang menepis gelas itu hingga terjatuh.
KRAAKK.
Air minum khusus untuk keluarga raja yang terisi di dalam gelas itu pun tumpah di lantai.
GLEK.
Young Vei hanya tinggal menelan ludahnya saja, air yang hendak ia minum telah tumpah membasahi lantai.
"Harusnya masuk kedalam mulutku, bukan jatuh disana!" pekik Young Vei geram dan hampir menangis tanpa mempedulikan seseorang yang sedang menatapnya dengan kemarahan tingkat tinggi.
Putri Quan Ling terkejut melihat orang itu yang ternyata adalah pangeran Zhou Yhan.
Namun, belum sempat pangeran Zhou Yhan melontarkan kata-kata amarahnya putri Quan Ling telah terlebih dahulu berteriak karena tidak terima anak sekecil Young Vei di perlakukan seperti itu.
Karena menurutnya anak kecil seperti Young Vei seharusnya di sayangi bukan malah di sakiti.
__ADS_1