Misteri Putri Quan Ling {Reinkarnasi Dewi Surgawi}

Misteri Putri Quan Ling {Reinkarnasi Dewi Surgawi}
Duka


__ADS_3

Sementara itu di kerajaan Hua Kingyan suasana duka menyelubungi seluruh pelosok kerajaan, bahkan seluruh rakyat pun ikut merasakan duka kehilangan. Suara ratap tangis kesedihan pun menggema menghiasi seluruh lekuk istana, pancaran kesedihan tersirat di wajah semua orang.


"Suamiku, setelah kehilangan putri kita, haruskah aku kehilangan dirimu? Hiks… hiks…!" tangis ratu Yun Lie yang kini telah menjanda.


Ia berdiri di samping mayat raja Shan Hua yang seluruh tubuhnya telah menghitam akibat serangan dari kekuatan batu permata kristal putih. Dengan terus meneteskan air mata, ratu Yun lie memeluk tubuh kamu suaminya dengan penuh duka nestapa.


"Sudahlah kakak, berhentilah menangis. Aku yang akan melakukan upacara terakhir untuk kakak ipar." Paman Yang Bei telah siap dengan obor di tangannya.


Dengan mengusap air mata yang terus berjatuhan, ratu Yun Lie berkata, "Terimakasih, telah peduli pada suamiku,"


"Bagaimanapun ini telah menjadi kewajiban ku sebagai adik ipar," sahut Paman Yang Bei dengan sungguh-sungguh.


Ya, memang raja Shan Hua tidak memiliki sanak saudara lagi, seluruh kerabat yang tinggal di istana adalah kerabat ratu Yun Lie. Dikarenakan kedua orang raja Shan Hua telah meninggal.


"Bersabarlah, kakak Ipar." Bibi Zhen zhi.

__ADS_1


Pandangan ratu Yun Lie menatap lurus ke depan, dimana di sana tampak seonggok kayu yang telah menutupi seluruh tubuh raja Shan Hua. Kepergiannya untuk selamanya dan tidak akan pernah kembali lagi.


"Aku hanya takut, ketika putriku kembali dan menanyakan tentang Ayahnya. Jawaban apa yang harus aku berikan? Apakah aku harus mengatakan jika kedua orang yang sangat berarti didalam hidupnya telah dihabisi oleh suaminya sendiri?"


Ratu Yun Lie menatap kedua mata Bibi Zhenzhi seolah ingin mengingatkan peristiwa beberapa bulan yang lalu, dimana di saat itu pangeran Zhou Yhan dengan kejinya membunuh pangeran Yan Sensoo, calon suami putri Quan Ling.


Bola mata ratu Yun Lie seakan tidak berkedip menyaksikan upacara pembakaran jasad raja Shan Hua yang telah ditutupi kobaran api yang menyala-nyala, seakan mengucapkan selamat tinggal untuk seluruh rakyatnya yang juga merasakan kehilangan seorang pemimpin mereka yang sangat berwibawa.


"Walaupun tubuhmu telah habis oleh kobaran api, tetapi kenangan bersamamu akan selalu abadi di dalam hatiku," ratap ratu Yun Lie dengan air mata yang terus membasahi kedua pipinya.


Belum selesai acara pengkremasan, akhirnya ratu Yun Lie jatuh pingsan karena tidak sanggup menyaksikan peristiwa yang teramat menyayat hatinya. Bibi Zhenzhi dan beberapa pelayan membawa ratu Yun Lie masuk kedalam istana.


Setelah sekian lama kobaran api mulai padam perlahan-lahan hingga hanya menyisakan abu hitam yang masih panas, asap tipis masih mengepul perlahan melayang hingga tidak terlihat di udara.


Dengan menggunakan kekuatannya Paman Yan Bei mendinginkan abu pembakaran tubuh kakak iparnya kemudian dengan ketabahan hatinya ia memasukkan abu itu ke dalam sebuah kendi kecil kemudian menutupnya rapat-rapat.

__ADS_1


"Maafkan aku kak, aku tidak ikut dalam peperangan itu," sesal paman Yan Bei.


Memang paman Yan Bei tidak ikut serta dalam pertempuran itu dikarenakan ia mendapat tugas untuk mengamankan beberapa wilayah kekuasaan kerajaan Hua Kingyan yang diserang oleh beberapa komplotan penjahat.


"Yan Bei, aku minta maaf, aku tidak bisa menjaga raja Shan Hua." raja Qing Xio duduk di dekat kendi abu pembakaran tubuh raja Shan Hua.


"Tidak apa-apa, tapi aku ingin kau berjanji satu hal padaku, jangan pernah katakan apapun kepada keponakan ku jika kalian bertemu suatu saat nanti."


"Tapi, aku tidak melihat keberadaannya di sana, atau jangan-jangan dia–,"


"Dia baik-baik saja, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk kepadanya dan aku yakin itu." Keyakinan Paman Yan Bei berdasarkan apa yang telah ia saksikan sendiri, keajaiban demi keajaiban yang telah dilakukan oleh putri Quan Ling semenjak ia terlahir hingga menjadi wanita dewasa banyak sekali kejanggalan yang tidak bisa dimengerti secara logika.


"Semoga saja," sahut raja Qing Xio lalu berdiri di tempatnya, ?


[ Hallo readers ku tercinta terimakasih telah meluangkan waktu untuk mendukung karyaku jangan lupa like, komen dan favorit ya. ]

__ADS_1


__ADS_2