
"Apa yang kau lakukan, pangeran?" tanya Putri Quan Ling dengan membulatkan kedua matanya, menatap pangeran Zhou Yhan dalam-dalam.
"Apa? Kau bertanya padaku? Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kalian disini?" pangeran Zhou Yhan menaikkan nada suaranya. Menatap tidak suka pada Young Vei yang telah berani melahap makanannya tanpa seizinnya.
Mendapatkan pertanyaan itu dari pangeran Zhou Yhan, putri Quan Ling terdiam. Sebenarnya ia telah menyadari sedari tadi kalau perbuatannya itu memang salah, tetapi apa yang bisa diperbuat nya? Hatinya tersentuh saat melihat Young Vei kelaparan, dan ia pun memperbolehkannya makan sebelum meminta izin terlebih dahulu kepada pangeran Zhou Yhan.
"Ya, ini memang salahku, aku minta maaf," ucap putri Quan Ling dengan suara yang lebih rendah seraya menundukkan kepalanya, tetapi tidak lama kemudian ia telah mengangkat kepalanya kembali.
"Tapi, ini juga salahmu, pangeran!" Putri Quan Ling kembali menaikkan nada suaranya, sontak membuat pangeran Zhou Yhan terkejut dan bertambah marah.
"Apa kau bilang? Ini salahku?"
"Ya, ini semua memang salahmu, mengapa kau tidak ada disini saat kami masuk? Dan mengapa juga kau tidak makan terlebih dahulu? Mengapa kau harus menungguku?" pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut putri Quan Ling seperti ban meletus.
Young Vei hanya bisa memandang putri Quan Ling dan pangeran Zhou Yhan secara bergantian, seolah sedang menyaksikan sebuah pertunjukan.
Pangeran Zhou Yhan terdiam, benar juga apa yang dikatakan wanita itu, mengapa juga ia harus menunggu putri Quan Ling, mengapa harus rela menahan lapar hanya karena wanita itu tidak ada bersamanya disaat jam sarapan. Jujur, saat ini perut pangeran Zhou Yhan seperti sedang diaduk-aduk karena lapar.
Pangeran Zhou Yhan duduk di kursinya bersebelahan dengan putri Quan Ling, tanpa melirik sedikitpun kepada wanita yang telah menjadi istrinya itu, pangeran Zhou Yhan berniat menyendok nasi dan lauknya, tetapi tangannya yang terluka masih sangat terasa sakit.
Berkali-kali ia mencoba memegang, tetapi setiap benda yang dipegangnya terjatuh kembali karena tangannya masih tidak bisa memegang dengan erat. Kebetulan yang terluka adalah tangan kanannya.
Putri Quan Ling melihat itu semua, sebenci apapun dirinya kepada pangeran Zhou Yhan tetap saja kelembutan didasar hatinya kembali terenyuh dan merasa tidak tega dengan kondisi pangeran Zhou Yhan saat ini.
Namun, pangeran Zhou Yhan tetap bersikeras ingin melakukan semuanya sendiri tanpa meminta bantuan kepada putri Quan Ling. Dasar, pangeran Zhou Yhan yang keras kepala!
"Biar aku bantu."
Putri Quan Ling mendekati pangeran Zhou Yhan setelah memberikan air minum kepada Young Vei. Lalu putri Quan Ling menyiapkan nasi dan lauknya ke dalam piring emas khusus pangeran Zhou Yhan dan seluruh kerabat istana.
"Tidak perlu kau lakukan itu." Pangeran Zhou Yhan menolak ketika tangan putri Quan Ling terjulur ke arah mulutnya, berniat hendak menyuapinya.
"Tanganmu terluka, bagaimana bisa kau makan sendiri? Jadi, biarkan aku yang menyuapimu," sahut putri Quan Ling berusaha menekan rasa benci nya demi sebuah rasa kemanusiaan.
__ADS_1
Perlahan pangeran Zhou Yhan menurut, ia pun mulai membuka mulutnya. Dengan penuh kelembutan putri Quan Ling menyuapinya.
DEGH.
Sebuah rasa yang tidak pernah dirasakan oleh pangeran Zhou Yhan sebelumnya, sebuah perhatian dari seorang wanita yang membuatnya menitikkan air mata. Baru pertama kalinya ia merasakan suasana seindah ini.
Namun, pangeran Zhou Yhan secepatnya menyembunyikan semua rasa itu, karena ia tidak ingin dianggap lemah oleh Ayahnya, raja Fan Kris Wu.
Setelah selesai menghabiskan makanannya, pangeran Zhou Yhan berdiri dari duduknya dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan rasa terimakasih kepada putri Quan Ling yang menatapnya seraya menggelengkan kepala.
"Dasar, pangeran Zhou Yhan tidak tahu diri," gumam putri Quan Ling dengan geram, karena merasa tidak dihargai oleh pangeran Zhou Yhan.
"Kakak, orang itu siapa?" tanya Young Vei setelah pangeran Zhou Yhan menghilang di balik bilik istana.
"Dia pangeran Zhou Yhan, putra mahkota di kerajaan ini," jawab putri Quan Ling datar.
"Putra mahkota itu, apa?" tanya young Vei lagi. Memang di usianya yang masih dalam pertumbuhan membuat Young Vei ingin tahu tentang bermacam-macam hal.
"Putra mahkota itu, orang yang akan menggantikan kedudukan raja setelahnya."
"Ya, dia orang besar, bahkan sangat besar," jawab putri Quan Ling, "besar kepala dan besar kemauan, tapi dia tidak memiliki hati yang besar,"
Young Vei terdiam, ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan putri Quan Ling.
"Tapi, jika aku perhatikan dia masih memiliki hati kecil, sebab dia tidak menghukummu tadi."
"Mengapa aku harus dihukum kak?" tanya young Vei cemas, membayangkan dirinya dihukum ia menjadi takut.
"Karena kau telah berani makan makanannya, tapi tenang saja rupanya dia adalah orang yang menyukai anak kecil." Putri Quan Ling sempat melihat pangeran Zhou Yhan melirik ke arah Young Vei yang sedang makan dengan lahap seraya tersenyum tipis.
Oleh karena itu, putri Quan Ling menyimpulkan bahwa pangeran Zhou Yhan sebenarnya orang yang baik. Mungkin karena kekuasaan ia menjadi seperti itu.
"Aku rasa pangeran Shin Haein lebih pantas untuk menjadi seorang raja," ucap putri Quan Ling begitu ia teringat betapa lembut dan penuh kasih sayang serta berwibawa pria itu kepada Ibunya dan seluruh orang-orang di istana.
__ADS_1
"Baiklah! Sekarang makanmu telah selesai, ayo ikut kakak!"
"Kemana?"
"Mandi, kakak akan mendandani dirimu seperti putra mahkota." Putri Quan Ling tersenyum yang langsung dibalas oleh Young Vei dengan seringai seperti kucing.
Young Vei merasa sungguh beruntung dipertemukan dengan putri Quan Ling, seumur-umur baru kali ini ia menginjakkan kaki di istana. Dulu ia sering kali bermimpi akan menjadi seorang prajurit ternama di sebuah kerajaan, dan ini adalah jalan untuk menjadi nyata impiannya.
>>>>>>>>>>
Di dalam kamar putri Quan Ling, tampak ratu Yun Lie sedang termenung memandangi sebuah ayunan yang dulu dipakai untuk putrinya bermain. Putri Quan Ling sangat menyukai ayunan itu, hingga ia rela seharian tidak turun dari tempat itu.
"Rasanya baru kemarin kau dilahirkan, tapi sekarang kau telah pergi ke istana suamimu," ratap ratu Yun Lie mengingat kepergian putrinya yang penuh di banjiri air mata.
Mungkin ratu Yun Lie akan merasa bahagia jika putri Quan Ling menikah dengan pangeran yang bisa menerima keberadaan putrinya.
Namun, pernikahan ini berbeda. Ini bukanlah pernikahan yang diinginkan oleh semua orang, lebih tepatnya ini adalah pengorbanan. Ya, putrinya telah mengorbankan seluruh hidupnya untuk kesejahteraan negeri Huachachina.
Tidak hanya ratu Yun Lie saja yang merasa kehilangan separuh hidupnya, tetapi raja Shan Hua juga merasakan hal yang sama.
"Sudahlah, jangan selalu ditangisi, putri kita pasti baik-baik saja." Raja Shan Hua berusaha menenangkan permaisurinya, meskipun jauh didalam sanubari nya ia juga tak kalah menderita nya.
"Aku takut mereka akan melakukan hal yang buruk kepada putri kita, karena pernikahan ini bukanlah hasil dari sebuah pinangan melainkan dia adalah hasil rampasan dari sebuah peperangan, hiks… hiks… hiks…," tangis ratu Yun Lie semakin menjadi-jadi hingga seluruh tubuhnya berguncang.
"Ya, aku tahu itu dan tidak mudah bagi putri kita untuk berinteraksi dengan orang-orang yang belum pernah dia kenal, tetapi apapun itu, kita sebagai orang tuanya harus selalu mendoakan putri kita, putri Quan Ling agar selalu diberikan kesabaran dan kesabaran." walaupun berusaha menahan, air mata jatuh juga dari kelopak mata raja Shan Hua, sebagai cerminan betapa pilu hatinya.
"Suamiku, maukah kau mengabulkan satu permintaan ku?" Menatap raja Shan Hua dengan mengiba.
"Katakanlah."
"Aku ingin menjenguk putri kita, aku ingin melihat keadaannya."
Raja Shan Hua terdiam sejenak, mengambil nafas kemudian berkata, "Ya, besok kita jenguk putri kita di istana kerajaan Shengshi."
__ADS_1
Sontak membuat ratu Yun Lie tersenyum, dengan hati penuh harap akan bertemu kembali dengan putri yang dirindukannya, ratu Yun Lie mengusap air mata di pipinya.