Misteri Putri Quan Ling {Reinkarnasi Dewi Surgawi}

Misteri Putri Quan Ling {Reinkarnasi Dewi Surgawi}
Rayuan putri Lin Mei


__ADS_3

"Putraku! Zhou Yhan, ada apa?" tanya Ibu ratu Yan Yikhu ketika melihat putranya yang sedang dipapah oleh dua orang prajurit di sampingnya.


Ibu ratu Yan Yikhu tampak terlihat cemas dengan kondisi raja Zhou Yhan yang terluka, darah segar terus menetes dari luka di punggungnya. Wanita paruh baya itu menangis di samping putranya yang telah terbaring lemah.


"Dimana istrimu? Dimana putri Quan Ling?" tanya nya lagi setelah menyadari bahwa menantunya tidak menampakkan diri di sana beberapa menit kemudian.


"D-dia telah pergi," sahut raja Zhou Yhan dengan suaranya yang lemah.


"Pergi? Apa maksudmu?" tanya Ibu ratu Yan Yikhu. "Shin Haein, cepat kejar kakak iparmu! Jangan biarkan dia pergi!"


Mendengar perintah dari Ibunya, pangeran Shin Haein segera pergi bersama dengan beberapa prajurit. Karena baru saja mereka mendapatkan kabar bahwa besok Paman Yan Bei akan mengunjungi kerajaan Shengshi untuk bertemu putri Quan Ling.


"Oh dewa, jangan biarkan aku kehilangan menantuku, dan jika sampai itu terjadi, maka kami semua akan berada dalam kesulitan." Ibu ratu Yan Yikhu memejamkan kedua matanya, memohon kepada dewa agar menuntun putri Quan Ling kembali ke istananya.


Tak lama kemudian, seorang tabib kerajaan datang dengan membawa beberapa ramuan untuk mengobati rajanya.


"Tabib, aku mohon padamu, sembuhkan putraku, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepadanya." Ratu Yan Yikhu memelas.


"Baik Ibu ratu, izinkan hamba mengobati Yang mulia raja," sahut tabib itu dengan penuh rasa hormat.


Kemudian dengan bantuan dari prajurit, tabib itu membuka pakaian raja Zhou Yhan dan mulai mengobati lukanya.


"Aaaaaaahhhh!" teriak raja Zhou Yhan mengerang kesakitan ketika tabib itu membubuhkan ramuan herbal di punggungnya, lebih tepatnya di atas luka yang menganga.


"Pelan-pelan tabib!" Raja Zhou Yhan menyentak tabib itu karena rasa sakit dan perih mendera bagian tubuhnya yang terluka.


"M-maaf, Yang mulia." Tabib itu ketakutan mendengar suara keras dan menggelegar dari rajanya.


"Aku akan menyusul adikmu, semoga saja dia belum jauh." Ratu Yan Yikhu berlalu dari kamar putra sulungnya setelah menyadari bahwa kondisinya tidak begitu parah.


Ratu Yan Yikhu bergegas mengejar putra keduanya, walaupun bagaimanapun putri Quan Ling adalah tanggung jawabnya. Jadi, keselamatan menantunya itu sangatlah penting baginya.


"Ibu, ibu ratu mau kemana?" tanya putri Lin Mei ketika mereka bertemu tidak jauh dari kamar raja Zhou Yhan.

__ADS_1


Ibu ratu Yan Yikhu menghela nafas lega menatap putri Quan Ling sambil berkata, "Baguslah, kau disini Lin Mei, tolong jaga putraku Zhou Yhan sementara aku akan pergi menyusul Shin Haein mencari menantuku."


"Baiklah,Ibu, aku akan menjaga sahabatku, Zhou Yhan dengan baik," jawab putri Lin Mei tersenyum senang.


"Kalau begitu, aku pergi sekarang."


"Hati-hati Bu." Putri Lin Mei melambaikan tangannya dengan seringai licik di bibirnya.


"Semoga saja putri Quan Ling tidak ditemukan," gumam putri Lin Mei lalu berbalik badan kemudian melangkah memasuki ruang kamar raja Zhou Yhan.


"Apa yang terjadi sahabatku?" tanya putri Lin Mei.


Kemudian memberikan isyarat dengan sebelah tangannya agar tabib itu pergi dari sana. Pria tua berjenggot putih itu menundukkan kepala dengan hormat mematuhi perintah putri Lin Mei.


"Putri Lin Mei, kau sudah bangun? Bukankah ini masih larut malam?" Raja Zhou Yhan balas bertanya.


"Bagaimana bisa aku tertidur jika sahabat masa kecilku tengah berjuang menahan rasa sakit disini." Putri Lin Mei membalurkan obat ramuan herbal itu pada area luka dengan lembut, seperti sedang mengelus.


"Hm, semakin lama kalimat rayuanmu semakin indah." Raja Zhou Yhan tertawa lalu menoleh ke arah belakang dimana putri Lin Mei sedang duduk dan tersenyum padanya.


"Apa? Apa aku tidak salah dengar?" Raja Zhou Yhan terkejut mendengar ucapan sahabat masa kecilnya itu.


"Ya, Zhou Yhan, apa kau tidak pernah merasakan seperti apa yang aku rasakan? Apa kau tidak pernah melihat cinta yang tulus di mataku untuk mu? Zhou Yhan, percayalah! Aku sangat mencintaimu."


Putri Lin Mei mulai mendekati raja Zhou Yhan dan memeluknya dari belakang. Hembusan nafas wanita itu sangat terasa menyentuh leher raja Zhou Yhan, dan membuatnya bergidik.


"Lin Mei, aku Mohon hentikan," pinta raja Zhou Yhan yang merasa tidak nyaman dengan sikap sahabatnya itu.


"Aku tidak akan melepas sebelum kau menjawab, iya." Putri Lin Mei semakin erat memeluk raja Zhou Yhan.


"Kau sahabatku, sampai kapanpun kau akan tetap menjadi sahabatku."


"Apakah seorang sahabat tidak bisa menjadi istri? Apakah aku tidak layak untuk mu? Apa kurangnya aku dibanding putri Quan Ling yang selalu menyusahkanmu?" Putri Lin Mei merajuk setelah melepaskan pelukannya, ia membelakangi raja Zhou Yhan.

__ADS_1


Melihat sahabatnya sedang bersedih karenanya, raja Zhou Yhan segera bangkit dengan bersusah payah dan berjalan menghampiri putri Lin Mei yang tidak jauh dari tempatnya.


"B-baiklah, jika itu keinginanmu, aku akan lakukan, asal itu bisa menghilangkan kesedihanmu," sahut raja Zhou Yhan dengan ragu.


Memang, raja Zhou Yhan tidak bisa melihat putri Lin Mei bersedih dan itu berlaku sejak dulu, karena wanita itu pernah menyelamatkan hidupnya dari marabahaya sewaktu kecil. Karena merasa berhutang budi, akhirnya putri Lin Mei diperbolehkan untuk tinggal di istana Shengshi untuk selamanya dan mereka pun bersahabat.


"Benarkah? Aku ingin secepatnya kita menikah." Putri Lin Mei merasa puas karena pada akhirnya ia menang.


'Lihat saja Quan Ling, aku pasti akan membuatmu tersingkirkan dari istana ini,' pikir putri Lin Mei dengan menarik sebelah sudut bibirnya, menampakkan sebuah seringai kelicikan.


Tanpa berpikir apapun lagi, sontak putri Lin Mei kembali memeluk pria idamannya, pria pujaan yang selama ini bertahta di dalam hatinya.


Sedangkan raja Zhou Yhan sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, selain membalas pelukan putri Lin Mei walau tidak selaras.


"Aku berjanji Zhou Yhan, akan selalu membahagiakan dirimu, tidak seperti Quan Ling yang selalu membuatmu celaka."


>>>>>>>>


Sementara itu, Ibu ratu Yan Yikhu dan Pangeran Shin Haein yang diiringi oleh puluhan prajurit sedang berusaha menemukan putri Quan Ling di tengah pekatnya malam.


Mereka bertekad, malam ini juga mereka harus berhasil menemukan putri Quan Ling sebelum wanita itu sampai di istana asalnya.


"Pangeran, lihatlah!" seru salah seorang dari prajurit itu, kemudian menunjuk ke arah tanah yang terdapat ceceran darah.


Melihat hal itu, pangeran Shin Haein segera turun dari kudanya dan meraih bekas darah yang itu lalu menciumnya.


Kemudian ia menoleh ke belakang, ke arah tandu.


"Bagaimana putraku? Apa yang kau lihat?" tanya Ibu ratu Yan Yikhu dari dalam tandu.


Pangeran Shin Haein beranjak melangkah mendekati Ibunya kemudian berkata, "Ibu, sepertinya ini adalah darah yang menetes dari kaki kakak ipar, mungkin kakinya berdarah karena melewati jalan yang berbatu ini,"


"Apakah putri Quan Ling tidak memakai alas kaki? Kasihan dia," gumam wanita paruh baya itu dengan wajah menampakkan rasa prihatin.

__ADS_1


"Kita akan mengikuti jejak kaki ini, semoga saja kakak ipar belum terlalu jauh."


__ADS_2