
Setapak demi setapak putri Quan Ling melangkahkan kakinya, dengan perasaan yang hancur lebur ia berusaha menembus hawa malam yang dingin menusuk tulang. Ia terus memaksakan diri mengayunkan langkahnya dengan rasa perih itu.
Namun, semua rasa itu tidaklah sebanding dengan rasa sakit di dalam hatinya. Tidak pernah ia bayangkan selama ini, dan seumur hidupnya ia akan jatuh hati pada pria yang ternyata adalah pembunuh.
"Aaaaaaaa!"
Suara teriakan putri Quan Ling menyibak kesunyian malam, angin yang berhembus seakan menemani dirinya dalam kegundahan.
"Mengapa? Mengapa aku harus mencintaimu Kim Yung? Jika saja aku tahu kau adalah Zhou Yhan, tentu aku tidak akan membiarkan pintu hati ini terbuka untukmu!" Kembali putri Quan Ling berteriak.
Malam itu putri Quan Ling merasakan hidupnya begitu hampa, separuh dari jiwanya seakan pergi darinya. Perasaan yang berkecamuk membuatnya tidak terarah, tetes demi tetes bulir bening jatuh bergulir melewati pipinya.
Putri Quan Ling terduduk lesu dengan wajah memancarkan kekecewaan, hatinya begitu sakit bagai tersayat-sayat dengan sejuta luka di dalamnya. Pandangannya kosong tertuju jauh ke depan, seakan menantikan hadirnya seseorang.
Dikarenakan suasana hatinya sedang kacau membuat wanita cantik itu tidak menyadari kehadiran Ibu ratu Yan Yikhu yang melangkah ke arahnya dengan sangat hati-hati, sebab ia tidak ingin menantu kesayangannya terkejut dan menjauhinya. Bahkan sekelompok prajurit yang bersamanya terpaksa menunggu sedikit lebih jauh dari posisinya.
“Menantuku, maafkan Ibumu ini atas semua kesalahan yang telah dilakukan oleh putraku,” ucap Ibu ratu Yan Yikhu saat berdiri di samping putri Quan Ling.
Sontak membuat putri Quan Ling terkejut seraya mendongakkan kepala menatap wajah wanita setengah baya yang menyejukkan hatinya. Seketika putri Quan Ling menyeka air mata yang masih menggenang di kelopak matanya. Perlahan putri Quan Ling berdiri dan memeluk Ibu mertuanya.
“Ibu, hiks… hiks…,” tangis putri Quan Ling kembali di dalam dekapan hangat sang Ibu mertua.
“Aku tahu, putraku pasti telah melakukan sesuatu yang menyakiti hatimu, jadi maafkanlah…,” sahut Ibu ratu Yan Yikhu dengan membelai kepala wanita muda itu.
__ADS_1
Mendengar ucapan Ibu mertuanya sontak membuat putri Quan Ling melerai pelukannya, menatap intens ke wajah Ibu ratu dengan berbagai pertanyaan yang berkemelut di dalam kepalanya.
“Apa benar, suamiku adalah pembunuh Ayahku?”
JEDAARR!
Bagai tersambar petir di saat Ibu ratu mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut menantunya, ia tidak pernah mengira kalau putri Quan Ling akan menanyakan hal itu padanya. Ibu ratu Yan Yikhu tampak kebingungan dan mulai gelisah jawaban apa yang harus ia berikan.
“A-apa maksudmu, Nak?” Mengapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku hanya ingin mengetahui tentang kebenaran informasi itu, jadi aku mohon jawablah dengan jujur dan ingat jangan sampai ada yang ditutup-tutupi,” jawab putri Quan Ling dengan tatapan masih lekat pada wajah ibu mertuanya.
Melihat tatapan yang begitu tajam dari menantunya membuat Ibu ratu Yan Yikhu merasa jika berbohong bukanlah pilihan yang tepat untuk situasi saat ini karena tentunya putri Quan Ling akan dapat mengetahuinya. Oleh karena itu mau tidak mau ia harus mengatakan hal yang sebenarnya.
“Benar, Nak, raja Shan Hua memang dibunuh dan itupun oleh putraku sendiri, Zhou Yhan.”
“Tetapi, asal kau tahu, suamiku juga tewas dibunuh oleh Ayahmu,” lanjut Ibu ratu Yan Yikhu dengan raut wajah memancarkan kesedihan.
Dan hal itu membuat Putri Qan Ling menundukkan wajahnya, sebenarnya ia juga memahami bagaimana perasaan Ibu mertuanya saat ini. Tentu saja sebuah perasaan yang tidak baik-baik saja, tetapi ia tetap berusaha untuk berdamai dengan keadaan. Seketika Putri Quan Ling memalingkan wajahnya dan membelakangi Ibu ratu Yan Yikhu.
“Maafkan aku Ibu, tapi aku harus pergi,’’ ucap putri Quan Ling.
“Apa maksudmu?” tanya Ibu ratu sedikit memicingkan sebelah matanya.
__ADS_1
“Ya, Ibu, aku harus pergi karena aku tidak bisa lagi hidup bersama seorang suami yang ternyata adalah pembunuh Ayahku,” sahut Putri Quan Ling dengan menutup kelopak matanya yang terkulai.
Bukan main betapa terkejut Ibu ratu ketika mendengar jawaban menantunya, dengan cepat ia membalikkan tubuh putri Quan Ling dan menatapnya dengan tajam,.
“Apa kau ingin meninggalkan Ibumu ini?” tanya wanita setengah baya itu, tetapi masih terlihat begitu cantik, “jika kau tidak bisa tinggal sebagai seorang menantu, maka tinggallah sebagai seorang anak, karena aku telah menganggapmu sebagai putriku sendiri,”
Putri Quan Ling kembali tertunduk saat mendengar ucapan Ibu mertuanya, jujur jauh di dalam hatinya ia tidak ingin membuat wanita itu kecewa dan bersedih. Sebelum putri Quan Ling sempat menjawab, Ibu ratu kembali meneruskan ucapannya
“Aku mohon tetaplah disini dan jangan pernah berpikir untuk pergi dan jika sampai semua itu terjadi maka aku pasti akan memilih untuk mengakhiri hidupku sendiri.
“Tidak Ibu, jangan katakan itu,” sela putri Quan Ling, ia merasa tidak tega jika harus menambah penderitaan dalam hidup Ibu mertuanya.
“Kalau begitu, mari kembali bersamaku.”
“Tapi Bu. Aku sangat merindukan Ibuku, aku sangat ingin sekali bertemu dengannya.”
“Baiklah, aku akan menemanimu pergi menemui Ibumu, tapi… kau harus berjanji akan kembali bersamaku tinggal didalam istanaku.”
“Tapi Bu…,”
Ibu ratu Yan Yikhu berjongkok di depan putri Quan Ling dengan raut wajah yang memelas ia berkata, “Aku mohon jangan pernsh tinggalkan putraku, dia sangat membutuhkan kasih sayang darimu untuk merubah kepribadiannya.”
“Baiklah Bu, aku akan tetap bersamamu tapi bukan untuk Yang mulia raja, melainkn hanya untuk dirimu.”
__ADS_1
Kedua tangan putri Quan Ling meraih kedua pundak Ibu mertuanya dan memintanya untuk berdiri, sebuah senyuman terbit di bibirnya yang kering. Kemudian Ibu ratu Yan Yikhu menuntun Putri Quan Ling menuju ke arah tandu dan para prajurit yang selalu siap siaga.
Pangeran Shin Haein tersenyum begitu melihat Ibunya datang bersama kakak iparnya, dari awal ia telah mengira bahwa Ibunya pasti akan berhasil membujuk kakak iparnya itu. Setelah membersihkan bekas darah pada luka di kaki putri Quan Ling terlebih dahulu kemudian mereka kembali meneruskan perjalanan menuju kerajan King Huan.