
Suara nyanyian burung berkicau yang sangat merdu menyambut indahnya pagi hari, udara sejuk menyegarkan rongga pernafasan seorang wanita yang sedang berdiri didepan pintu.
Putri Quan Ling mengedarkan pandangannya ke sekeliling gubuk itu, tetapi ia tidak dapat menemukan apa yang ia cari. Dengan membawa secangkir ramuan yang telah disiapkan oleh Kim Yung semalam, sebelum pria itu pergi.
"Terimakasih Kim Yung, kau seperti malaikat bagiku. Kau selalu ada disaat aku membutuhkan bantuan."
SRUUP.
SRUUP.
Putri Quan Ling menyeruput ramuan herbal yang masih hangat-hangat ruang, karena terus diletakkan di atas tungku dengan bara yang cukup, maka kehangatan ramuan itu bisa bertahan lama. Dan rasa hangat lebih menyegarkan pada tubuh putri Quan Ling.
"Tapi, mengapa kau selalu saja pergi tanpa pamit, bahkan kau selalu menghilang di saat aku tertidur," keluh putri Quan Ling, sekali lagi ia menyeruput ramuan itu untuk yang terakhir kalinya.
Ia teringat pertemuan pertamanya dengan pria itu yang meninggalkan dirinya ketika sedang tertidur, demikian juga dengan saat ini, di pertemuan keduanya, Kim Yung kembali pergi tanpa meninggalkan satu pesan pun.
"Putriku! Putri Quan Ling!" Tiba-tiba saja terdengar suara raja Shan Hua dari kejauhan.
"Ayah! Ayah bisa menemukan aku disini? Ayah dengan siapa? Mana prajurit kita?" Putri Quan Ling berlari ke arah raja Shan Hua yang berdiri di sudut halaman.
Pertanyaan bertubi-tubi diucapkan oleh putri Quan Ling dengan rasa heran, tidak biasanya raja Shan Hua keluar istana seorang diri. Biasanya selalu ada beberapa prajurit yang mengawalnya.
"Tubuh Ayah dingin, Ayah sakit?"
Raja Shan Hua tetap saja diam dengan pandangan kosong lurus ke depan. Ia membiarkan dirinya disentuh oleh putrinya ketika mengecek suhu tubuhnya.
"Ayah, aku ada ramuan herbal, mungkin kondisimu akan membaik setelah ini," ucap putri Quan Ling lagi seraya menarik tangan raja Shan Hua.
"Tidak, Nak. Ayah hanya ingin meminta maaf padamu, dan selalu ingat pesanku, Berhati-hatilah dengan pangeran Zhou Yhan."
Seketika setelah mengucapkan kata-kata itu raja Shan Hua menghilang dari pandangan putri Quan Ling, membuat wanita itu terkejut.
"Ayah…! Ayah…! Kau dimana Ayah?"
__ADS_1
Putri Quan Ling berlari mencari raja Shan Hua, semakin lama ia berlari semakin jauh masuk kedalam hutan liar. Dan tanpa disadarinya, ia telah sampai di tengah hutan. Entah berapa ratus kali putri Quan Ling memanggil nama Ayahnya, tetapi tidak ada jawaban.
Hingga pada akhirnya putri Quan Ling menyerah karena rasa lelah dan putus asa menguasai jiwanya. Putri Quan Ling terduduk di atas sebuah batu besar dengan keputusasaannya.
Namun, ia kembali dikejutkan dengan sebuah suara yang berseru kepadanya.
"Putri Quan Lingputri Quan Ling, bawa aku bersamamu. Aku berjanji akan menemanimu."
"Suara siapa itu?"
"Aku Gough Raks," suara kecil seperti seekor tikus mencicit.
Mendengar nama Gough Raks, sontak putri Quan Ling menengadahkan kepalanya menghadap langit, tetapi ia tidak dapat melihat apapun. Hanya langit biru menaungi alam semesta.
"Hei, aku disini!" suara kecil itu mencicit lagi tepat di depan kaki putri Quan Ling.
"Tikus kecil? Kau yang bicara?"
"Ya, siapa lagi." Tikus itu menutup sebelah matanya, takut putri Quan Ling akan menolak dan meninggalkannya seperti yang telah dilakukan oleh pangeran Zhou Yhan.
"Lucu sekali, siapa kau? Apakah jelmaan penghuni hutan ini?"
"Aku Gough Raks!"
"Hahaha…. Gough Raks? Hahaha…! Tidak mungkin!" Putri Quan Ling tidak percaya dengan suara tawa
"Gough Raks adalah raksasa buas yang mengerikan, aku hampir mati di tangannya. Jadi, bagaimana bisa kau mengaku dirimu adalah raksasa itu?"
"Aku terkena jurus batu permata kristal putih, pangeran Zhou Yhan yang melakukannya."
"A-apa? Bagaimana mungkin, dia memiliki batu permata itu, aku hanya menitipkan untuk sementara waktu kepada Kim Yung." Putri Quan Ling tampak gusar setelah mendengar jawaban tikus kecil itu.
"Apa? Kau menitipkan kepada orang lain?" Kali ini tikus itu yang terkejut hingga terjatuh dari tangan putri Quan Ling.
__ADS_1
"Tidak! Kau pasti salah, dia pria yang baik, jadi batu permata itu aman bersamanya, lagi pula aku akan mengambilnya kembali setelah kondisiku benar-benar pulih," ucap putri Quan Ling seraya meraih kembali tikus kecil yang terjatuh tadi dan meletakkannya di punggung tangannya sebelah kiri.
"Bagaimana jika dia orang yang jahat? Bagaimana jika–,"
"Ah, tidak dia benar-benar pria bertopeng yang baik, dia yang menyelamatkan hidupku dari hukuman Ayah mertuaku, raja Fan Kris Wu." Putri Quan Ling memotong ucapan tikus kecil itu.
Putri Quan Ling menghela nafas seraya tersenyum menatap tikus kecil yang lucu di tangannya.
"Aku minta maaf, putri Quan Ling, walaupun dulu aku pernah berniat jahat padamu, tapi hari ini kau justru menolongku. Harusnya hari ini kau memiliki kesempatan besar untuk membunuhku yang tidak berdaya ini."
"Sudahlah, aku dilahirkan kembali ke dunia ini bukan untuk menjadi pembunuh, tetapi untuk menyebarkan cinta dan ketulusan pada hati semua makhluk."
Mendengar ucapan putri Quan Ling, membuat Gough Raks yang telah berubah menjadi seekor tikus kecil mengagumimu ketulusan hati putri Quan Ling, ia berjanji kepada dirinya sendiri, untuk tetap menjadi makhluk yang baik dan akan selalu menemani perjalanan kehidupan putri Quan Ling.
"Tapi, ada dua kabar untukmu putri Quan Ling, mungkin kau akan tertawa ketika mendengar kabar pertama dan kau pasti akan menangis jika mendengar kabar yang kedua,"
"Apa?" Putri Quan Ling mengerutkan keningnya sambil terus berjalan ia mendengarkan penuturan si tikus kecil itu.
"Kabar yang pertama, raja Fan Kris Wu telah meninggal karena diserang oleh Ayahmu dan raja Qing Xio,"
Raut wajah putri Quan Ling terlihat biasa saja walaupun sebenarnya ia sangat terkejut. Kemudian tikus itu melanjutkan perkataannya.
"Kabar yang kedua, Ayahmu meninggal karena terkena serangan pangeran Zhou Yhan yang menggunakan jurus dari batu permata kristal putih."
Sontak putri Quan Ling menghentikan langkahnya, antara rasa percaya dan juga tidak yang jelas saat ini ia telah meneteskan air mata.
"A-apa kau bilang? Ayah ku meninggal? baru tadi dia kesini menemui ku," ucap putri Quan Ling tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh tikus kecil itu.
"Ah, andai saja aku masih punya kekuatan pasti aku perlihatkan kepadamu peristiwa semalam hingga aku berubah menjadi tikus kecil yang tak berarti ini."
"Tapi, aku melihat ada yang aneh dengan Ayahku, tubuhnya terasa dingin dan tatapan matanya kosong." Tangan putri Quan Ling mengusap air mata di pelupuk matanya.
"Itu adalah ciri-ciri orang yang telah meninggal, entah mau percaya atau tidak itu urusanmu."
__ADS_1
Rupanya tikus kecil itu merasa kesal juga karena selalu di bantah oleh putri Quan Ling, akhirnya selama dalam perjalanan hingga tiba kembali di gubuk kecil itu, mereka hanya diam membisu.