
"Maaf, putri Quan Ling, ada raja dan ratu dari kerajaan Hua Kingyan ingin bertemu denganmu." Seorang pelayan pribadi putri Quan Ling yang bernama Moty datang mengakhiri perdebatan di antara kedua putri kerajaan itu.
"Ayah, Ibu, dimana mereka?" Senyum putri Quan Ling kembali merekah.
"Di balairung, tuan putri." Pelayan yang bernama Moty menundukkan kepalanya, hingga putri Quan Ling melewati dirinya barulah ia kembali mengangkat kepala dan wajahnya.
"Dasar sombong, lihat saja aku pasti akan membuat Zhou Yhan membuang dirimu." Putri Lin Mei merasa geram karena belum sempat membalas perkataan putri Quan Ling. Ia merasa tidak nyaman karena sedang diperhatikan oleh para selir dengan pandangan mematikan. Bahkan, kini mereka telah berani membanding-bandingkan dirinya dengan putri Quan Ling, yang menurut mereka sangat berani berdebat dengan putri Lin Mei. Orang yang selama ini belum pernah ada seseorang pun yang berani mendebatnya.
Di dalam balairung istana, tampak raja Shan Hua dan raja Fan kris Wu sedang berbincang-bincang seputar kepemerintahan. Seringkali raja Shan Hua harus menelan kenyataan pahit ketika ia melihat raja Fan kris Wu memandang ke arah ratu Yun Lie dengan penuh hasrat.
Namun, demi kenyamanan putrinya, raja Shan Hua memilih untuk diam. Lagi pula ratu Yun Lie tidak menyadari akan hal itu ia saat ini sedang bersenda gurau dengan ratu Yan Yiku.
"Aku senang sekali kau akhirnya kemari dan aku bisa melihat secara langsung wajah ayu besanku," ucap ratu Yan Yiku memuji kecantikan ratu Yun Lie.
"Ah, kau bisa saja, lihatlah dirimu. Kau begitu cantik dan lemah lembut, semoga saja putri ku bisa menjadi menantu yang baik untukmu." Dalam keadaan tersipu malu, ratu Yun Lie membalas menyanjung ratu Yan Yiku.
"Dia telah aku anggap sebagai putri ku sendiri, apalagi aku tidak memiliki seorang anak perempuan, kedua putraku laki-laki."
"Laki-laki atau perempuan, sama saja yang terpenting bagaimana kita bisa menikmati setiap kebersamaan."
"Ya, kau benar, dengan adanya putri Quan Ling disini, membuat hatiku benar-benar bahagia, dan aku sangat menginginkan agar secepatnya putri Quan Ling bisa memberikan kami seorang cucu."
"Ya, semoga saja doamu didengar dewa." ratu Yun Lie dan ratu Yan Yiku sama-sama tersenyum.
Sedangkan di balik bilik istana, putri Quan Ling termangu mendengar ucapan kedua wanita itu, bagaimana bisa mereka menginginkan kehadiran seorang cucu? Bagaimana bisa ia memberi mereka seorang cucu? Sedangkan jauh didalam hatinya hanya kebencian yang tersimpan untuk pangeran Zhou Yhan.
"Putri ku! Kenapa berdiri disitu? Kemarilah!" Ratu Yan Yiku memanggil putri Quan Ling yang sedang termangu.
__ADS_1
"Oh, Ibu, Ayah!" Putri Quan Ling langsung menghambur ke dalam pelukan ratu Yun Lie.
Sebuah dekapan hangat yang selama hidupnya ia rasakan, sebuah dekapan yang selalu setia menemani dirinya, tetapi beberapa hari ini rasa itu menghilang dan menyisakan rasa rindu yang teramat dalam.
"Hiks… hiks… Ibu…."
"Sudahlah Nak, aku tahu kau sangat merindukan diriku, bukan?" Putri Quan Ling mengangguk dengan cepat.
"Maka peluklah sepuasmu," ucap ratu Yun Lie seraya mengelus punggung putri nya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Setelah puas memeluk Ibunya, putri Quan Ling menghampiri Ayah nya, raja Shan Hua.
Disini air mata raja Shan Hua tidak terbendung lagi, titik-titik bening itu tetap saja jatuh berderai walau sekuat apapun raja Shan Hua berusaha menahan.
"Maafkan, Ayahmu Nak," Hanya kata-kata itu yang dapat keluar dari bibir raja Shan Hua yang bergetar karena menahan isak tangisnya.
"Tidak Ayah, jangan katakan itu lagi. Sudah seharusnya sebagai seorang anak, aku melakukan yang terbaik untuk Ayah dan Ibu juga seluruh rakyat ku." Putri Quan Ling mengusap air mata di pipi raja Shan Hua.
Ratu Yang Yiku merasa terharu dengan adegan yang terjadi didepannya, terlebih lagi sikap dan sifat raja Shan Hua yang sangat penuh kasih sayang, membuat nya dirinya sangat mengagumi keharmonisan keluarga raja Shan Hua.
'Baik sekali raja Shan Hua, dia pria yang sangat lembut, seandainya saja suamiku memiliki sifat dan sikap seperti itu,' batin ratu Yang Yiku.
Namun, tidak dengan raja Fan kris Wu yang menganggap raja Shan Hua lemah karena telah menyayangi anak dan istrinya.
Pangeran Shin Haein yang kebetulan sedang melewati tempat itu, menghentikan langkah nya saat melihat Ibunya yang selalu memandang raja Shan Hua dan putri Quan Ling.
"Oh, Ibu. Aku mencari Ibu." Pangeran Shin Haein sengaja mengalihkan perhatian ratu Yun Lie sebelum Ayahnya menyadari tatapan Ibunya.
__ADS_1
"Putraku, ada apa? Beri salam kepada raja Shan Hua dan ratu Yun Lie," ucap ratu Yang Yiku.
"Salam Paman, Bibi." Pangeran Shin Haein menyentuh kaki kedua tamunya.
"Semoga diberkati,"
"Semoga di berkati."
Raja Shan Hua dan ratu Yun Lie bergantian mengusap kepala pangeran Shin Haein, memberikan restu nya.
"Dimana menantu kami?" tanya raja Shan Hua setelah menyadari kalau pangeran Zhuo Yhan sedang tidak disana.
"Pangeran Zhuo Yhan sedang berlatih memanah, Ayah," jawab putri Quan Ling.
Memang dalam perjalanan menuju ke arah balairung, putri Quan Ling sempat melihat pangeran Zhuo Yhan sedang berlatih memanah dan setiap kali ia meluncurkan anak panah tidak pernah meleset satu pun. Rupanya ia sangat ahli dalam berbagai bidang.
"Putraku memang seperti itu, jika telah bergelut dengan senjata-senjatanya, maka dia akan melupakan segalanya," ujar ratu Yan Yiku yang merasa tidak enak hati karena pangeran Zhuo Yhan lebih mementingkan latihannya daripada menemui mertuanya. Padahal sebelumnya ratu Yan Yiku telah memerintah seorang pelayan untuk memanggil putra nya itu.
"Itulah calon raja sejati, seorang raja memang harus menetapkan keinginannya dan tidak terpengaruh dengan dunia luar!" seru raja Fan Kris Wu dengan suaranya yang lantang.
Raja Fan kris Wu berkata dengan sesuka hatinya tanpa khawatir ucapannya akan menyakiti perasaan orang lain. Mendengar perkataan dari Ayahnya, pangeran Shin Haein segera mengalihkan perhatian tamunya agar tidak terlalu tersinggung.
"Kami sangat senang Paman dan Bibi bersedia meluangkan waktu berkunjung kemari," ucap Pangeran Shin Haein dengan ramahnya.
Raja Shan Hua dan ratu Yun Lie merasa senang dengan keramah tamahan pangeran Shin Haein, mereka berharap didalam hati, seandainya saja pangeran Zhuo Yhan yang notabenenya adalah menantu mereka memiliki sifat ramah seperti pangeran Shin Haein. Tentulah mereka akan merasa lebih tenang meninggalkan putri mereka di istana itu.
Layaknya seperti sebuah keluarga pada umumnya, setelah cukup berbincang-bincang, mereka pun mencicipi hidangan yang telah tersaji di atas meja dengan berbagai macam menu makanan.
__ADS_1
Young Vei tersenyum bahagia berada di tengah-tengah dua keluarga itu, walaupun hubungan mereka tidak mulus tapi setidaknya mereka bisa berada dalam satu atap dan menikmati kebersamaan.
Raja Fan kris Wu tidak merasa keberatan dengan kehadiran Young Vei, asal dengan satu syarat, Young Vei tidak boleh Mengganggunya dan juga pangeran Zhuo Yhan sebagai calon raja.