
"Lepaskan, Yang mulia!" teriak putri Quan Ling, tetapi tidak ada tanda-tanda pria itu akan melepaskan dirinya.
"Penjaga…! Cepat tolong aku!" Putri Quan Ling berteriak kembali dengan lebih keras hingga terdengar sampai kamar Ibu ratu Yan Yikhu. Ia berharap kedua pengawal yang bertugas menjaga kamar raja Zhou Yhan akan segera datang menolongnya.
Mendengar suara teriakan menantunya, Ibu ratu Yan Yikhu segera bergegas ke arah datangnya suara. Ya, ia dijuluki Ibu ratu karena telah ditinggal oleh suaminya raja Fan Kris Wu untuk selamanya dan ini adalah adat yang ditetapkan secara turun temurun.
"Penjaga, ada apa ini? Mengapa ribut-ribut? Apa yang terjadi dengan menantuku?"
Kedua pengawal itu saling bertatap muka, mereka tampak bingung harus menjawab apa, karena sejak tadi mereka terus berusaha untuk menutup telinga mereka agar tidak dapat mendengar suara teriakan putri Quan Ling, yang mungkin telah melakukan suatu hal berbahaya di dalam.
"M-maaf, Ibu ratu, di dalam ada Yang mulia ratu Quan Ling dan Yang mulia raja," jawab salah seorang penjaga itu dengan sedikit ketakutan akan mendapat kemarahan.
Namun, rasa takut itu perlahan sirna setelah melihat sebuah senyuman dari wajah Ibu ratu Yan Yikhu. "Baguslah, kalau begitu, jaga tempat ini dengan aman, jangan sampai ada orang lain yang mengganggu mereka berdua."
Kedua penjaga itu hanya bisa mengangguk dengan hormat, karena pastinya mereka tahu apa sebenarnya yang terjadi didalam sana. Ibu ratu Yan Yikhu akhirnya pergi dengan membawa senyuman di raut wajahnya. Sedangkan suara ribut itu masih sangat berisik dan terus berlangsung.
"Ibu! Ibu ratu, tunggu jangan pergi!" teriak putri Quan Ling ketika melihat bayangan Ibu ratu Yan Yikhu meninggalkan kamar itu.
"Berteriaklah sepuasmu, tidak akan ada seorang pun yang akan menolongmu, karena kita telah disatukan dalam sebuah pernikahan, Jadi, terserah aku mau apakan dirimu!" sentak raja Zhou Yhan seraya terus menekan cengkraman tangannya dengan sekuat mungkin hingga membuat putri Quan Ling merasa kesakitan.
"Kim Yung, tolong aku," lirih putri Quan Ling karena saat ini ia telah kehabisan tenaga untuk meronta.
Ya, putri Quan Ling berharap seperti peristiwa sebelumnya. Disaat ia sedang dalam masalah maka Kim Yung selalu datang menolongnya, dan kali ini ia merasa sedang menghadapi masalah yang sangat besar dan membahayakan dirinya.
Tiba-tiba saja cengkraman tangan raja Zhou Yhan sedikit melonggar ketika mendengar wanita di bawahnya menyebutkan nama 'Kim Yung' dan mengharapkan bantuannya.
"S-siapa Kim Yung? Apakah dia seorang pria?" tanya raja Zhou Yhan berpura-pura seraya mengangkat tubuhnya dan duduk di samping putri Quan Ling yang meringis kesakitan memegangi pergelangan tangannya.
__ADS_1
Dari raut wajahnya, raja Zhou Yhan terlihat sedikit cemburu. Entah mengapa itu semua ia rasakan sedangkan orang yang dimaksud oleh putri Quan Ling adalah dirinya sendiri.
Namun, tetap saja rasa cemburu itu datang dan menempati hatinya. Karena wanitanya menyebut nama yang berbeda. Putri Quan Ling segera bangkit dan berdiri membelakangi raja Zhou Yhan, karena ia tidak ingin hal yang sebelumnya terjadi lagi.
"Dia adalah seorang pria yang sangat baik," jawab putri Quan Ling singkat.
"Apakah dia sangat berarti bagimu?" tanya raja Zhou Yhan sekali lagi.
"Ya."
"Kenapa?" Raja Zhou Yhan semakin penasaran. Membuatnya membalik tubuh putri Quan Ling untuk menghadap dirinya. Ia inginkan sebuah jawaban.
"Karena jiwa kami telah disatukan dimalam itu." Putri Quan Ling membalas tatapan raja Zhou Yhan sekilas dan melepaskan kedua tangan pria itu yang memegangi kedua pundaknya lalu bergegas pergi secepatnya dari kamar terkutuk itu.
Baru saja putri Quan Ling membuka pintu, ia telah melihat tatapan kedua penjaga yang memandangnya dengan tersenyum meremehkan.
"Apakah dia menyukai diriku sebagai Kim Yung?" Raja Zhou Yhan bertanya pada dirinya sendiri sendiri.
Raja Zhou Yhan menatap dirinya di cermin dan menyentuh bibirnya sendiri. Ia menghela nafas seraya memejamkan kedua matanya. Bayangan di malam itu, saat ia berada di dalam sebuah gua bersama putri Quan Ling dan sempat menyentuh bagian terlembut dari diri wanita itu.
"Ah, mengapa masih sangat terasa, bukankah itu sudah lama?" gumamnya, "apa dia benar-benar menyukai Kim Yung? Bagaimana jika dia tahu kalau aku lah orang yang dia maksud?"
Di saat raja Zhou Yhan sedang gelisah, tanpa ia sadari seekor tikus kecil itu menatap dirinya dengan suara tawa yang cukup keras.
"Diam! Beraninya kau tertawa di depanku!" geram raja Zhou Yhan kesal memandang tikus kecil itu.
"Ini dilema yang kau ciptakan sendiri Yang mulia, mengaku sajalah kalau Kim Yung adalah dirimu, ha ha ha ha!"
__ADS_1
"Mungkin dengan begitu ratu Quan Ling akan memaafkan dirimu, seperti dia memaafkan diriku. Walaupun sebenarnya aku pernah mencelakai nya dulu."
"Tapi, aku adalah pembunuh Ayahnya, jika sampai dia tahu, pasti dia tidak akan pernah bisa memaafkan diriku, jadi aku mohon padamu jaga rahasia ini baik-baik, atau aku akan lenyapkan dirimu!"
Mendengar ancaman raja Zhou Yhan membuat tikus kecil itu terkejut lalu berkata, "Tentu saja Yang mulia, aku akan menyimpan rahasia ini sebaik-baiknya,"
"Bagus! Tikus cerdik."
Raja Zhou Yhan mengelus kepala tikus itu dan kemudian pergi meninggalkan kamarnya bersama tikus itu yang menari-nari kesenangan. Sekarang ia merasa aman.
"Putraku! Zhou Yhan!" seru Ibu ratu Yan Yikhu dari dalam kamarnya, sebenarnya ia ingin beristirahat tetapi ketika melihat putranya sedang berjalan melewati kamarnya membuat Ibu ratu Yan Yikhu mengurungkan niatnya.
"Ada apa, Ibu?" tanya raja Zhou Yhan datar.
"Selamat ya, Ibu juga merasa senang akhirnya kau dan putri Quan Ling–,"
"Sudahlah Ibu, aku sedang banyak urusan, jika tidak ada hal penting yang perlu dibicarakan, aku pergi." Raja Zhou Yhan memotong kata-kata Ibunya.
Setelah berkata demikian, raja Zhou Yhan pergi berlalu dari hadapan Ibu ratu Yan Yikhu yang menatapnya dengan mengusap dada.
"Ya dewa, semoga putraku mendapatkan kebahagiaan di dalam hidupnya, dan putri Quan Ling adalah orang yang tepat untuk mendampinginya."
Walau sekasar apapun seorang putra terhadap Ibunya, tetap saja seorang Ibu akan mendoakan yang terbaik untuk putranya, karena cinta dan kasihnya tidak berbatas.
"Aku yakin, putraku akan berubah, cepat atau lambat dia akan menjadi seorang penguasa yang agung."
Ibu ratu Yan Yikhu kembali berbaring di tempat tidurnya, ia meraba ke arah samping sisi ranjang dan meneteskan air mata karena teringat bayangan suaminya.
__ADS_1