
Tiba-tiba sebuah sentuhan di pundaknya sempat membuat putri Quan Ling terkejut, sebuah sentuhan lembut yang tidak asing lagi baginya.
“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, hatimu sedang resah karena memikirkan sebuah keputusan, sedangkan keputusan itu tidak sejalan dengan pikiranmu,” ucap Ratu Yun Lie setelah duduk di samping putri Quan Ling.
Wanita paruh baya itu terus mengamati wajah putrinya yang juga membalas tatapannya. Pandangan mereka memang bertemu, tetapi tatapan putri Quan Ling terasa kosong dan hampa. Sebagai seorang Ibu, ratu Yun Lie sangat mudah sekali untuk memahami semua yang terjadi pada putrinya tercinta, sebesar apapun usaha putri Quan Ling untuk menyembunyikan masalah yang sedang ia hadapi tetap saja ratu Yun Lie bisa membaca walau hanya dari perubahan pada raut wajah putrinya.
“Ibu.” putri Quan Ling menundukkan wajahnya berusaha menyembunyikan air mata yang telah mengambang kembali di kelopak matanya.
"Putriku, putri Quan Ling. Kau bukanlah manusia biasa, kau adalah titisan sang dewi kahyangan, didalam dirimu terdapat kekuatan yang besar. Waktu kecil kau begitu mengagumkan dan membuat semua orang memujimu, lalu mengapa kini aku harus menyaksikan sisi terlemah mu? Dimana putri Quan Ling yang dulu? Kemana hilangnya semua kekuatan itu?"
"Kekuatan itu telah sirna, Ibu. Kekuatan itu telah menghilang dari diriku bersama dengan batu permata putih yang telah aku berikan kepada raja Zhou Yhan."
"Tapi, aku tahu tentunya ada alasan dibalik semua ini," ucap ratu Yun Lie menatap putrinya lebih lekat lagi.
Akhirnya putri Quan Ling terpaksa menceritakan dari awal hingga akhir tentang pertemuannya dengan Kim Yung yang ternyata adalah pangeran Zhou Yhan. Dan bagaimana ia begitu mempercayainya hingga menyerahkan batu permata itu kepadanya.
"Sekarang aku menyesal, Ibu. Seharusnya aku tidak melakukan semua itu."
__ADS_1
Ratu Yun Lie tersenyum dengan membelai rambut putrinya ia berkata, "Tidak ada yang perlu kau sesali, putriku. Bukankah dia adalah suamimu? Jadi, sekarang semua keputusan berada dalam kendalimu."
"Apa maksudmu, Ibu?" tanya putri Quan Ling merasa tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ibunya.
"Jika dia ingin menikah maka izinkankah, dan jika dia ingin kau menjauh maka jauhilah, tetapi hanya satu pesanku, tetaplah bersikap baik dan menjadi istri yang patuh pada suamimu," jawab ratu Yun Lie seraya menghela nafas, "tapi, ingatlah satu hal, jagalah nama baik keluarga ini dimana pun kau berada, jangan sampai masalah yang menimpamu menodai jiwa sucimu, kau terlahir dari kerajaan King Huan, kerajaan yang dikenal karena cinta dan kasih yang kita terapkan di keseharian kita."
Putri Quan Ling berusaha mencerna setiap kata yang terucap dari mulut Ibunya, setiap kata yang begitu bermakna mengandung nasehat yang baik untuk dirinya. Putri Quan Ling berusaha menggabungkan nasehat dari raja Shan Hua dan ratu Yun Lie, hingga pada akhirnya terbentuklah sebuah keputusan yang sangat diyakini olehnya. Sebuah keputusan yang tidak ingin ia sesali seumur hidupnya.
Meskipun terasa berat di hatinya, tetapi putri Quan Ling tetap berusaha untuk menjalaninya. Ia akan membuang semua kenangan ia pahit di masa lalu dan seluruh dendam yang merasuki jiwa sucinya. Putri Quan Ling ingin terlahir kembali sebagai putri Quan Ling yang bijaksana dan berwibawa, sama seperti alasan ia terlahir ke dunia ini.
"Baiklah, Ibu, aku akan menyebarluaskan cinta kasih antara sesama manusia dan makhluk-makhluk lainnya, akan aku buat rakyat kerajaan Shenshi menyadari betapa pentingnya ikatan cinta dan kasih antar sesama."
Putri Quan Ling terkejut saat melihat kain berwarna merah menyala yang berkilau seperti batu permata. Memang selama ini putri Quan Ling tidak tahu-menahu tentang keberadaan kain itu, karena ratu Yun Lie sekalipun tidak pernah menceritakan perihal kain itu kepada putrinya.
"Kain apa ini, Bu?" tanya putri Quan Ling dengan terheran-heran, tidak pernah sekalipun ia melihat kain seindah ini sebelumnya.
"Ini adalah kain pembungkus tubuhmu saat kau dilahirkan kedunia ini, kain ini telah bersamamu sejak dalam kandungan," jawab ratu Yun Lie apa adanya.
__ADS_1
"Sungguh aneh, Bu. Aku tidak pernah menyangka kalau masa kecilku begitu menakjubkan." Putri Quan Ling mengagumi dirinya sendiri dari cerita Ibunya.
"Aku tahu, aku adalah titisan dari sang dewi, tapi aku tidak pernah menyangka kalau kelahiran ku membawa keajaiban." Putri Quan Ling tersenyum seraya memeluk ratu Yun Lie dengan begitu erat.
"Mulai saat ini, kau harus kembali menjadi putri Quan Ling yang tangguh seperti dulu, putri Quan Ling yang tidak pemberani dan tidak takut pada siapapun, tetapi tetap hormat pada suami dan Ibu mertuamu." Ratu Yun Lie kembali mengulang nasehatnya.
Putri Quan Ling mengangguk mengerti, sebuah kekuatan tumbuh dalam dirinya ketika kain itu ia lilitkan menutupi lehernya, putri Quan Ling menjadikan kain itu sebagai syal. Dengan begitu, kain itu tidak akan mudah terlepas dari nya. Kain itu akan segera bersamanya, menemani di setiap harinya hingga ia sendiri yang melepaskan.
"Waw! Ibu, aku merasakan energi didalam tubuhku penuh, aku merasakan sebuah kekuatan yang tidak pernah aku rasakan selama ini. Terimakasih, Ibu. Terimakasih kau telah memberikan kain ini padaku, oh bukan kain, tapi… syal!" Putri Quan Ling berjongkok di depan ratu Yun Lie dan mencium kedua kaki wanita itu dengan penuh kebaktian.
"Aku tidak memberikan, tapi hanya mengembalikan apa yang telah menjadi milik mu," sahut ratu Yun Lie dengan penuh rasa bahagia ketika melihat putrinya bahagia.
Tubuh Putri Quan Ling kini mulai bersinar, sebuah pancaran cahaya yang mengagumkan bagi setiap mata yang memandang. Mulai saat ini, kekuatan nya kembali.
Tiba-tiba terdengar suara dari arah langit, suara yang begitu menggelegar tetapi terdengar lembut di indera pendengaran. Suara yang menggetarkan alam semesta, tetapi sangat sejuk didalam hati. Dialah sang dewa Narayan, dewa dari seluruh dewa. Dewa yang menciptakan cinta dan kasih di setiap hati para manusia.
'Kekuatan batu permata kristal putih itu, adalah kekuatan kasih dan sayang, sedangkan kekuatan yang terpendam dalam kain kelahiran mu itu adalah kekuatan cinta yang murni. Jika kau berhasil menyatukan kedua kekuatan itu, maka kalian akan menjadi penguasa dunia yang tidak akan tertandingi, seluruh makhluk akan tunduk dibawah kekuasaan cinta dan kasih sayang yang kalian miliki.'
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari dewa Narayan semakin membulatkan tekad Putri Quan Ling, untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi dan tidak akan membiarkan dendam menguasai hatinya. Menurut pemikirannya saat ini, yang lalu biarlah berlalu. Saat ini yang harus ia lakukan dan ia tetapkan sebagai kewajiban adalah menyebarluaskan cinta kasih antar sesama agar tercipta kerukunan, kedamaian dan kesejahteraan dalam bermasyarakat.