
Di Kerajaan Shengshi.
Suasana kesedihan penuh duka masih menyelimuti seluruh hati manusia yang merasa kehilangan raja Fan Kris Wu, terutama bagi pangeran Zhou Yhan.
Pada hari itu juga dengan disaksikan oleh seluruh rakyatnya ia dilantik sebagai raja, penerus tahta kerajaan. Tidak pernah terpikir di dalam benaknya, ia harus membayar mahal untuk sebuah kekuasaan. Bukan ini yang ia inginkan, bukan ini yang diharapkan. Kehilangan seseorang yang sangat berarti baginya.
"Aku berjanji, Ayah. Aku akan balaskan kematianmu dengan air mata mereka, aku akan menjadikan putri raja Shan Hua sebagai budak yang akan selalu mematuhi perintahku," geram pangeran Zhou Yhan ketika telah menduduki singgasana.
"Hidup! Raja baru kita!" teriak perdana menteri setelah meletakkan mahkota kebesaran di kepala pria itu.
"Hidup!" seru rakyatnya.
"Hidup, raja Zhou Yhan!" teriak perdana menteri itu lagi.
"Hidup!" seru seluruh rakyat rajevac mengelukan nama pangeran Zhou Yhan yang telah berganti gelar menjadi raja.
Ratu Yan Yikhu menyaksikan pengangkatan gelar putranya dengan penuh rasa bahagia, walaupun raja Zhou Yhan tidak pernah menggubris nya tetapi ia tetap saja ia memberikan seluruh cinta dan kasih sayangnya sebagai seorang Ibu terus ia persembahkan untuk kedua putranya.
Ratu Yan Yikhu berharap dengan tiadanya raja Fan Kris Wu, kebiasaan buruk rakyatnya, terutama kaum lelaki akan segera berakhir.
"Oh, Dewa. Semoga ini akan menjadi awal yang indah, semoga mereka semua akan melupakan kehidupan yang tidak beradab itu." Sebuah senyuman penuh harapan terbit di bibir wanita yang selama ini tidak pernah dihargai.
Pangeran Shin Haein melangkah mendekati kakaknya, raja Zhou Yhan. Dengan penuh rasa hormat ia memberikan ucapan selamat kepada raja Zhou Yhan.
"Selamat kakak Zhou, semoga dengan berada dibawah kepemimpinan mu, wilayah kerajaan kita akan semakin maju." Pangeran Shin Haein memeluk raja Zhou Yhan.
Tepat pada saat itu, putri Quan Ling tiba disana bersama dengan tikus kecil yang selalu mengikutinya. Putri Quan Ling yang sejak tadi berdiri di depan pintu, menyaksikan penobatan pangeran Zhou Yhan sebagai raja penerus tahta kerajaan.
"Putriku…!" seru ratu Yan Yikhu saat melihat putri Quan Ling.
"Ibu…!" Putri Quan Ling segera berlari mendekati Ibu mertuanya.
"Dari mana saja kau, Nak? Bagaimana ceritanya kau bisa keluar dari dalam dinding besi itu?" Ratu Yan Yikhu Memeluk putri Quan Ling dengan penuh kehangatan.
"Ceritanya sangat panjang, Ibu," sahut putri Quan Ling seraya membalas pelukan dari Ibu mertuanya.
__ADS_1
Sebenarnya putri Quan Ling datang ke istana itu hanyalah untuk memastikan jika info yang ia terima itu benar adanya. Sedangkan dari atas singgasana, raja Zhou Yhan menatap dengan nanar ke arah putri Quan Ling.
'Bagus, rupanya aku tidak perlu mencari alasan untuk membawanya kemari, karena dia telah datang dengan sendirinya,' batin raja Zhou Yhan mengepalkan genggaman tangannya.
Tanpa menunggu apapun lagi, ratu Yan Yikhu menuntun putri Quan Ling kearah singgasana untuk menemui raja Zhou Yhan sebagai suami dari putri Quan Ling.
Namun, apa yang dilakukan oleh putri Quan Ling sungguh di luar dugaan. Ia menolak untuk menemui raja Zhou Yhan. Saat itu ia telah berada tepat di depan singgasana raja Zhou Yhan.
"Tidak! Aku tidak akan pergi kesana Ibu,"
"Kenapa putriku?" tanya ratu Yan Yikhu dengan penuh rasa heran melihat perubahan sikap menantunya.
Putri Quan Ling tidak menjawab melainkan menatap raja Zhou Yhan dengan intens. Rupanya raja Zhou Yhan juga sedang menatapnya, maka pandangan mereka pun bertemu.
"Karena anda telah memiliki pendamping, maka istri anda harus dinobatkan menjadi ratu, ratu utama," ucap perdana menteri sekali lagi.
"Tidak!" Seketika satu kata keputusan terlontar dari mulut raja Zhou Yhan, satu kata yang mengingatkan dirinya akan kematian raja Fan Kris Wu.
"Tetapi, Yang mulia, ini sudah menjadi aturan di istana ini semenjak kepemimpinan kakek anda, jika Yang mulia menolak maka tahta kerajaan tidak akan diwariskan kepada anda."
"Baiklah, aku ikuti saja peraturannya. Lakukan saja semua sesuai peraturan istana." Raja Zhou Yhan tersenyum sinis menatap putri Quan Ling.
Perdana menteri memberikan isyarat dengan menepukkan kedua tangannya dua kali, maka datanglah dua pelayan dengan tersenyum menuju ke arah putri Quan Ling. Mereka membawa nampan yang telah berisi pakaian kebesaran seorang ratu.
"Berhenti!" seru raja Zhou Yhan dengan suara lantang.
Kedua pelayan yang hendak membawa putri Quan Ling untuk mengganti pakaiannya pun berhenti seketika dan menoleh dengan hormat pada raja Zhou Yhan.
"Gantilah pakaiannya disini!" perintah raja Zhou Yhan yang membuat semua orang terkejut. Bayangan tentang kematian Ayahnya membuat raja Zhou Yhan sangat membenci putri Quan Ling.
"Apa? Bagaimana mungkin?," tanya ratu Yan Yikhu dengan sangat terkejut mendengar perintah putranya, "putraku, ini tidak baik bagi seorang wanita mengganti pakaian dimuka umum,"
"Ini perintah Raja dan harus dilaksanakan." Raja Zhou Yhan menatap nanar putri Quan Ling.
Tidak hanya ratu Yan Yikhu dan perdana menteri saja yang terkejut, bahkan semua orang yang mendengar perintah itu pun terkejut, terutama pada wanita yang telah menangis, karena mereka mulai membayangkan kepemerintahan yang keji dan tidak beradab akan terus berlangsung.
__ADS_1
Mereka yang berharap dengan penobatan raja yang baru akan mampu mengubah takdir mereka yang selama ini telah tertindas, akan tetapi ternyata harapan itu sia-sia setelah mereka mendengar perlakuan raja Zhou Yhan terhadap istrinya sendiri. Jika pada istrinya saja setega itu, apalagi terhadap orang lain? Berbagai macam pertanyaan tidak sanggup mereka jawab.
Ditengah kebingungan itu, putri Quan Ling memberikan keputusan yang mencengangkan semua orang, semua wanita merasakan kesedihan tetapi tidak dengan para lelaki, mereka justru tersenyum karena akan mendapatkan pertunjukan porno gratis didepan mata mereka.
"Lakukan saja sesuai perintah Raja kalian," ucap putri Quan Ling kemudian memejamkan kedua matanya.
Raja Zhou Yhan tersenyum senang dan menikmati setiap detik ketika pelayan itu membuka setiap inchi pakaian putri Quan Ling yang cantik molek. Ribuan pasangan mata yang memandangnya hampir tidak berkedip melihat keindahan diri putri Quan Ling. Sedangkan ratu Yan Yikhu menangis melihat semua itu, ini adalah titik memalukan bagi seorang wanita. Dipaksa mengganti pakaian di hadapan semua orang. Ya, memang inilah tujuan raja Zhou Yhan, pria ini memang ingin mempermalukan putri Quan Ling.
Mulut wanita itu tampak bergerak perlahan, putri Quan Ling sedang memohon kepada dewa agar melindungi dirinya dari rasa malu yang sebentar lagi akan didapatkan, karena pakaian luarnya akan segera terlepas dari tubuhnya.
Kedua pelayan itu yang ternyata adalah Moty dan Sanchi, mereka juga ikut menangis. Dengan tangan gemetar mereka berdua hendak melucuti pakaian putri Quan Ling.
Namun, keajaiban terjadi. Segumpal kabut putih menutupi tubuh putri Quan Ling dan menghalangi pandangan semua orang termasuk Moty dan Sanchi. Melihat keajaiban itu semua orang tercengang termasuk raja Zhou Yhan sendiri.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Bukankah dia tidak memiliki kekuatan?" tanya raja Zhou Yhan pada dirinya sendiri.
Ratu Yan Yikhu tersenyum, karena ia merasa putri Quan Ling bukanlah manusia biasa.
"Dia adalah manusia pilihan yang dilindungi para dewa," bisik ratu Yan Yikhu dengan sebuah senyuman penuh rasa syukur.
Hanya beberapa menit dan putri Quan Ling telah siap dengan pakaian seorang ratu yang membuat dirinya semakin cantik. Perlahan kabut putih yang menutupi tubuh putri Quan Ling menghilang, maka tampaklah di hadapan semua orang akan kecantikan abadi yang dimiliki oleh putri Quan Ling.
Seluruh manusia tercengang di istana itu, semakin dibuat tercengang ketika melihat paras putri Quan Ling sebagai seorang ratu.
"Dia cantik, dia benar-benar cantik dan mengagumkan. Beruntung sekali Yang mulia mendapatkan istri yang secantik dewi surgawi," ucap perdana menteri dengan kekaguman yang hakiki.
Putri Quan Ling membuka kedua matanya dengan sebuah senyuman ketika Ibu mertuanya menyentuh sebelah tangannya dan menuntunnya menuju singgasana. Putri Quan Ling duduk tepat di sebelah raja Zhou Yhan.
Setiap mata memandang mereka berdua dengan rasa kagum melihat keserasian antara keduanya. Raja dan ratu kini telah bersanding di atas singgasana kemuliaan.
"Hidup raja Zhou Yhan dan ratu Quan Ling!" seru perdana menteri dengan suara yang cukup lantang.
"Hidup…!" balas seluruh rakyat dari dalam maupun luar istana.
Putri Quan Ling yang telah resmi menjadi ratu melayangkan senyuman indahnya ke seluruh penjuru membius setiap mata yang memandangnya. Sedangkan raja Zhou Yhan sekilas juga mengagumi kecantikan ratunya, tetapi itu hanya sesaat karena pada detik berikutnya ia kembali menyadarkan dirinya agar tidak terlena dengan kecantikan ratu Quan Ling yang mematikan.
__ADS_1