
Sebenarnya kepergian raja Zhou Yhan ingin menemui perdana menteri itu hanyalah sebuah alasan agar ia tidak tidur sekamar malam ini dengan putri Lin Mei, entah mengapa walaupun dirinya telah berhasil dibuat melayang oleh wanita itu tetapi tidak ada gairah sedikit pun untuk bercinta dengannya.
Raja Zhou Yhan mempercepat langkahnya menuju ke arah ruangan tabib istana, disana ia yakin pasti akan mendapatkan obat penawar untuk itu. Terus terang saja ia sudah tidak tahan lagi terus berada dalam kondisi ini, kondisi yang begitu menyiksa jiwa dan raganya.
Entah dari arah mana datangnya, tiba-tiba seorang wanita cantik penuh pesona menabraknya dari arah samping dan membuat tubuh wanita itu hampir terjatuh, dengan sigap raja Zhou Yhan segera menangkapnya dengan sebelah tangannya agar tubuh wanita itu tidak sampai terjatuh menimpa lantai.
“Putri Quan Ling, hati-hati,” ucapnya.
Kedua bola mata pria itu tampak sendu menatap manik mata indah berkilau milik putri Quan Ling. Kelopak yang menawan dihiasi bulu mata yang cukup lentik menambah poin kecantikannya. sebelah tangan raja Zhou Yhan berada tepat di pinggulnya sebagai penyangga tubuh wanita itu dan yang sebelahnya lagi menyentuh pipinya yang mulai merona. Lama mereka saling menatap seakan mampu menembus jiwa satu sama lain.
Sepasang mata yang saling beradu pandang semakin lama semakin dekat, pandangan raja Zhou Yhan mulai turun ke arah bibir putri Quan Ling yang merekah bagai kelopak bunga yang baru mekar. Hasrat yang telah begitu membara mendorong keinginan nafsu pria itu dan membuatnya semakin mempererat pegangannya pada pinggul wanita itu dan menariknya semakin dekat dengannya. Kedua bibir mereka hampir bersentuhan jika saja putri Quan Ling tidak menyadarkan pria itu niscaya mereka berdua akan terbuai dalam kecupan.
“Yang mulia, aku harus menemani Young Vei, malam ini suhu badannya sangat panas,” ucap putri Quan Ling membuyarkan hasrat pria itu.
Bukan karena apa-apa ia berkata demikian, putri Quan Ling hanya tidak ingin sesuatu terjadi padanya karena baru saja bagian bawah tubuhnya menyentuh sebuah benda keras yang bergerak di dalam pakaian pria itu. Memang putri Quan Ling tidak memiliki pengalaman dalam hal ini, tetapi ia juga bukan orang bodoh yang tidak mengenali bena apa itu.
“Silahkan.” Raja Zhou Yhan melepas pegangan tangannya mengizinkan putri Quan Ling untuk pergi.
Mendapatkan izin dari suaminya, putri Quan Ling tidak ingin berlama-lama disana, dengan segera ia melanjutkan langkahnya ke arah kamar Young Vei yang telah menunggunya sedari tadi, bocah itu sakit panas sejak kembali dari istana King Huan. Sementara raja Zhou Yhan hanya dapat memandangi istri pertamanya sekaligus ratu utama di istana itu dari belakang.
“Mengapa ketika bersamanya aku selalu bergairah dan ingin melepaskan rasa ini bersamanya? Tapi dia selalu menghindar mungkin karena masih belum bisa memaafkan kesalahanku,” gumam raja Zhou Yhan merasa bersalah, apalagi di pesta pernikahannya tadi siang ia sempat melihat wanita itu meneteskan air mata ketika memberikan restu untuk pernikahannya dengan putri Lin Mei.
__ADS_1
>>>>>>>>>>>>>>>
Suara ayam jantan berkokok pertanda pagi telah tiba meninggalkan malam di peraduannya. Cahaya remang-remang sang jagad raya mulai tersenyum menyambut hari, seindah senyum putri Quan Ling yang saat ini sedang berada di halaman istana menikmati udara pagi yang sejuk dan menyegarkan.
“Maaf, Yang mulia ratu utama, ratu Lin Mei ingin Anda menemuinya di kamarnya.” Suara seorang pelayan yang bertugas melayani seluruh keperluan putri Lin Mei mengejutkan putri Quan Ling.
“Ada apa? Apakah ada hal yang penting?” Putri Quan Ling merasa heran tidak biasanya putri Lin Mei memanggilnya di pagi-pagi buta seperti itu.
“Hamba tidak tahu, hamba hanya menjalankan perintah,” jawab pelayan itu lalu pergi setelah mendengar persetujuan putri Quan Ling.
Sebelum pergi ke kamar putri Lin Mei terlebih dahulu ia melihat kondisi Young Vei yang sedang tertidur pulas di kamarnya, putri Quan Ling meletakkan telapak tangannya di atas kening bocah itu, ternyata suhu tubuhnya mulai stabil. kemudian putri Quan Ling melanjutkan langkahnya menuju kamar putri Lin Mei.
Pintu kamar putri Lin Mei saat ini sedang terbuka, tetapi wanita itu tidak tampak dimanapun. Putri Quan Ling memasuki kamar itu dengan bertanya-tanya, mengapa suasana di kamar itu sangat sepi? Dimanakah putri Lin Mei?
“Putri Lin Mei, ada apa? Mengapa kau memintaku kemari?” tanya putri Quan Ling seraya membalikkan tubuhnya menghadap wanita itu yang masih belum turun dari ranjangnya.
Meskipun wanita itu adalah madunya, putri Quan Ling tetap bersikap hangat dan ramah. Tidak sedikit pun ia menampakkan raut kecemburuan di wajahnya. Baginya bersikap baik tidak memilih-milih kepada siapa ia bersikap.
“Ya, karena menurutku hanya kau yang bisa memahami diriku saat ini, bukankah kita telah menikah dengan pria yang sama?” Putri Lin Mei menyembulkan kepalanya di balik kain selimut yang menutupi seluruh bagian tubuhnya, malam itu ia sengaja membiarkan tubuhnya hanya terbalut kain itu tanpa sehelai pakaian pun.
“Ya, kau benar,” sahut putri Quan Ling meskipun tidak mengerti arah bicara wanita itu.
__ADS_1
“Aku tahu kau pasti pernah mengalami apa yang aku rasakan saat ini, maksudku malam pertama semalam… oh, sakit sekali.” Putri Lin Mei sengaja melakukan hal itu untuk mengopori putri Quan Ling, karena ia tahu wanita itu belum pernah merasakannya sekalipun.
Putri Lin Mei berpura-pura meringis seperti benar-benar merasa kesakitan, seolah semalam telah terjadi sesuatu padanya. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu, dikarenakan ia ingin putri Quan Ling merasa cemburu dan kecewa, sehingga akan meninggalkan raja Zhou Yhan dan dirinya akan menjadi ratu satu-satunya di istana itu.
“Maaf, putri Lin Mei. Jika kau merasa sakit karena semalam dengan Yang mulia raja, maka aku tidak bisa membantumu, sebab aku belum pernah merasakan hal itu,” jawab putri Quan Ling dengan jujur dan suaranya pun terdengar lembut tidak ada tanda-tanda kemarahan sama sekali.
“Oh, benarkah? Pantas saja dia beraksi sangat buas semalam tapi aku senang bisa memuaskan nya. Kalau boleh tahu, mengapa kau tidak melakukan hal itu dengannya? Apa kau tidak ingin? Rasanya benar-benar nikmat.” Putri Lin Mei hendak bangkit dari ranjangnya, tetapi ia justru berpura-pura terjatuh dan merintih kesakitan seakan ada bagian tubuhnya yang benar-benar terluka.
“Hati-hati, putri Lin Mei!” seru putri Quan Ling seraya mendekati istri muda dari suaminya, bermaksud ingin membantu.
Namun, dengan tidak tahu malunya putri Lin Mei justru memerintah putri Quan Ling. Tanpa bangun dari ranjangnya ia berkata, “Ambilkan pakaianku!”
Seketika pandangan putri Quan Ling tertuju pada pakaian milik wanita itu yang berserakan di lantai. Dengan segera putri Quan Ling meraihnya lalu menyerahkan pada wanita itu yang tersenyum sinis di depannya.
“Ini pakaianmu.”
“Terima kasih, kau boleh pergi sekarang atau… kau ingin melihat tubuhku yang penuh tanda merah?”
“Oh tidak! Terima kasih.” Putri Quan Ling segera bergegas keluar dari kamar itu dengan berbagai macam perasaan yang begitu menyiksa dirinya.
Di sudut taman istana putri Quan Ling berhenti, ia mencoba untuk menenangkan dirinya. Kedua matanya terpejam secara bersamaan berusaha memusatkan pikirannya dan membuang jauh-jauh bayangan malam pertama yang membuatnya bergidik. Meskipun hanya mendengar ceritanya saja putri Quan Ling merasa ngeri ditambah lagi dengan ekspresi putri Lin Mei yang sengaja dibuat-buat.
__ADS_1
Pada saat itu raja Zhou Yhan sedang melintas di depannya maka sontak membuat putri Quan Ling menatapnya dengan intens dari kepala hingga ujung kakinya, kemudian putri ia membuang muka dan segera berlari seakan takut bertemu dengan raja Zhou Yhan.
“Wanita yang aneh, semalam dia baik-baik saja tapi mengapa sekarang berubah, seakan-akan dia melihat seekor singa yang siap menerkam,” gumam raja Zhou Yhan seraya menggelengkan kepalanya.