
"Ada apa?" pangeran Zhou Yhan menghentikan langkah nya membelakangi putri Quan Ling.
"Bolehkah aku bertanya satu hal?" putri Quan Ling turun dari ranjang nya mendekati pangeran Zhou Yhan.
"Katakan!" pangeran Zhou Yhan masih membelakangi putri Quan Ling.
"Mengapa kau bersikap dingin kepada Ibumu? Sepertinya dia sangat merindukanmu," ucap putri Quan Ling mengeluarkan beban pikiran yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman.
"Aku rasa itu bukan urusanmu dan jangan ikut campur!" pangeran Zhou Yhan terlihat marah mendengar pertanyaan dari putri Quan Ling.
"Sekarang sudah terlalu larut malam, lebih baik kau tidur saja karena besok akan dimulai menjalankan tanggung jawabmu sebagai seorang istri." kemudian pangeran Zhou Yhan pergi meninggalkan putri Quan Ling yang masih bertanya-tanya karena tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan dari pangeran Zhou Yhan yang saat ini telah menjadi suaminya.
'Tanggung jawab? Apakah aku bisa melakukannya? Ah, aku rasa tidak!' batin putri Quan Ling.
Memang, pernikahannya dengan pangeran Zhou Yhan hanya berdasarkan demi kesejahteraan rakyatnya, bukan karena cinta ataupun ketertarikan. Putri Quan Ling berharap pengorbanannya tidak akan sia-sia.
Putri Quan Ling kembali menaiki ranjang nya dan berusaha memejamkan mata meskipun sangat sulit baginya.
Keesokan harinya.
Seperti biasa, di bawah pemerintahan raja Fan kris Wu semua pekerjaan dilakukan oleh wanita. Tua, muda dan anak-anak semua bekerja keras mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya.
Putri Quan Ling yang menyamar sebagai rakyat biasa, kebetulan melihat semua itu, putri Quan Ling merasa heran dan bertanya-tanya dalam hati ketika ia melihat para wanita yang bekerja keras banting tulang, sedangkan para pria disana hanya duduk-duduk saja sambil berjudi.
Hari itu putri Quan Ling ditemani oleh dia orang pelayanan untuk melihat-lihat daerah kerajaan ShengShi. Daerah yang sangat luas dan subur, tetapi sayang para penduduknya tidak bisa mengelolanya dengan baik.
Banyak dari ladang mereka yang dibiarkan kosong dan terlantar, jika saja mereka terutama para pria bisa bekerja dengan tekun, putri Quan Ling yakin kehidupan disana jauh lebih baik dari saat ini.
Disaat melintasi sebuah gubuk, putri Quan Ling melihat dengan mata kepalanya sendiri seorang wanita yang dipaksa bekerja oleh suaminya sendiri. Sedangkan suaminya hanya duduk bergerombol dengan para pria lainnya.
"Maaf, Bu. Bolehkah aku bertanya? Putri Quan Ling mencegat wanita itu yang sedang berjalan dengan tergesa-gesa seraya membawa sebuah bakul berukuran besar yang ia letakkan diatas kepalanya.
__ADS_1
"Mengapa kau bekerja sendiri? Kemana suami mu?" lanjut putri Quan Ling.
"Maaf, suamiku sedang sakit keras jadi untuk sementara waktu aku yang harus menggantikannya bekerja," jawab wanita itu berbohong.
Putri Quan Ling terdiam ketika mendengar jawaban dari wanita itu yang telah jelas-jelas berbohong padanya. Ia juga tidak bisa melakukan apapun ketika wanita itu pergi menjauh darinya.
Di samping semua itu, putri Quan Ling mengerti bahwa wanita itu terpaksa berbohong lantaran suaminya akan marah kepadanya jika sampai ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Rata-rata para wanita di desa Rajevac adalah seorang pedagang, mereka menjual hasil panen mereka yang tidak seberapa ke sebuah pasar yang tidak jauh dari desa itu.
"Sejak kapan kondisi seperti ini terus berlangsung?" tanya putri Quan Ling kepada pelayan yang bersamanya.
"Setahu hamba keadaan memang sudah seperti ini sejak hamba mengingatnya," jawab pelayan itu dengan suara yang sengaja di pelankan agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka selain mereka bertiga.
"Nenek hamba pernah mengatakan kalau kondisi ini bermula sejak beliau masih remaja," sahut pelayan yang satu lagi dengan suara yang dipelankan pula.
"Kalau begitu, mereka semua menderita sejak lama," gumam putri Quan Ling, "apakah diantara kalian tidak ada yang berusaha memberontak dengan ketidakadilan ini?"
"Kami tidak berani melawan Yang Mulia raja Fan Kris Wu, karena jika sampai itu terjadi maka kami semua pasti akan mati."
"Tapi, sekarang tidak lagi, aku bersumpah akan berusaha merubah semua ketidakadilan ini, dan aku juga akan berusaha agar hidup mereka semua sejahtera." janji putri Quan Ling dengan bersungguh-sungguh.
Putri Quan Ling dan kedua pelayannya kembali melanjutkan perjalanan menyusuri desa itu, kini putri Quan Ling merasa jauh lebih tertarik untuk mengetahui peradaban wilayah kerajaan Shengshi lebih dalam.
Tepat pada saat putri Quan Ling sedang melewati pemukiman warga. Di sebuah gubuk tua yang mulai reyot, telinga putri Quan Ling menangkap sebuah suara anak kecil sedang menangis di dalam gubuk itu.
Tanpa berkata apapun kepada kedua pelayannya, putri Quan Ling bergegas mendekati gubuk tersebut.
Pintu gubuk itu tidak tertutup rapat, dan di sekeliling dindingnya yang terbuat dari anyaman bambu telah berlubang.
"Sepertinya gubuk ini sudah tua," gumam putri Quan Ling mengamati gubuk reyot itu.
__ADS_1
"Hiks… hiks… hiks… !" suara tangisan anak kecil itu semakin keras.
Membuat putri Quan Ling segera mendorong pintu itu tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Adik kecil!" seru putri Quan Ling ketika pintu telah terbuka dan ia melihat seorang anak kecil yang kira-kira berusia lima tahun sedang menangis di samping jasad Ibunya.
"Adik kecil kenapa? Apa dia Ibumu?" Putri Quan Ling menunjuk ke arah seorang wanita yang sedang berbaring di tempat tidurnya.
Anak kecil itu mengangguk.
"Ada apa dengan Ibumu?"
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu, aku lapar tapi Ibu tidak mau bangun," jawab anak itu dengan lugu.
Putri Quan Ling menatap wajah wanita itu, ia melihat tidak ada hembusan nafas dari hidungnya dan tubuhnya pun terlihat kaku.
"Wajahnya sangat pucat, seperti tidak dialiri darah sama sekali," gumam putri Quan Ling.
Kemudian putri Quan Ling menghampiri wanita itu dan memeriksa kondisi tubuhnya, apakah benar apa yang ia pikirkan?
"Oh, ya dewa," ucap putri Quan Ling dengan terkejut.
"Apa yang terjadi kepada Ibu, Kakak?" tanya anak kecil itu dengan raut wajah yang memelas minta dikasihani.
Anak kecil itu memanggil putri Quan Ling dengan sebutan kakak.
"Adik kecil, maaf, aku harus mengatakan kalau Ibumu sudah tiada." Putri Quan Ling merasa tidak tega untuk mengatakannya, tetapi ia harus tetap mengatakannya.
"Tiada? Apa maksud kakak Ibu Young Vei sudah mati?" tanya anak kecil itu lagi dengan air matanya yang telah membanjiri kedua pipinya.
__ADS_1
Anak kecil yang berjenis kelamin laki-laki itu, ternyata bernama Young Vei. Ia hanya bisa menangis seraya memeluk erat tubuh Ibunya yang telah kaku.
Sepertinya Ibu Young Vei telah meninggal sejak semalam, dikarenakan kelaparan. Ibu Young Vei rela tidak makan demi anaknya agar tetap merasa kenyang. Dikarenakan saat itu mereka tidak memiliki simpanan bahan makanan, maka Ibu Young Vei rela kelaparan.