
"Perkenalkan namaku, Kim Yung," jawab pangeran Zhou Yhan berbohong.
"Aku, Quan Ling." Putri Quan Ling mengulurkan sebelah tangannya ke arah depan.
Pangeran Zhou Yhan yang berganti nama menjadi Kim Yung, menyambut uluran tangan putri Quan Ling dari arah samping.
"Maaf, aku tidak bisa melihat mu," kata putri Quan Ling sedikit malu-malu ketika menyadari bahwa lawan bicaranya berada di sebelahnya.
"Tidak apa-apa, mungkin membutuhkan waktu dua atau sampai empat hari, untuk menyembuhkan kedua matamu."
"Lama juga," gumam putri Quan Ling.
"Bersabarlah, sekarang lebih baik kau istirahat." Pangeran Zhou Yhan memegang pundak putri Quan Ling kemudian pergi bergegas keluar dari dalam gua.
"Dia, pria yang sangat baik, Kim Yung nama yang bagus." Putri Quan Ling tersenyum.
Di luar gua.
Pangeran Zhou Yhan melampiaskan amarahnya dengan melepaskan semua kekuatannya ke seluruh arah. Pohon-pohon yang terkena pukulan jurus halilintar milik pangeran Zhou Yhan tumbang seketika.
"Mengapa aku menjadi lemah di depannya? Mengapa aku tidak bisa membunuhnya? Mengapa perasaan ku berbeda?" Gerutu pangeran Zhou Yhan.
Pangeran Zhou Yhan kemudian duduk bersila dengan kedua mata terpejam, kedua tangannya mengepal di atas kedua lututnya.
Pangeran Zhou Yhan memusatkan pikiran berusaha menghubungi sang Ayah, raja Fan Kris Wu melalui kontak batin.
'Ayah, Zhou akan pulang terlambat, masih ada banyak urusan yang harus aku selesaikan,' ucap pangeran Zhou Yhan namun hanya dalam hati.
'Bodoh! Mengapa kau merawat putri Quan Ling, mengapa tidak kau bunuh saja dia, dengan begitu tujuan kita merampas kerajaan Huachayyan akan semakin mudah,' terdengar suara raja Fan Kris Wu yang sangat marah kepada pangeran Zhou Yhan.
'Dari mana Ayah mengetahuinya?' pangeran Zhou Yhan merasa heran padahal mereka berada di dia tempat yang berbeda.
__ADS_1
'Kau lupa, siapa Ayahmu ini? Raja yang paling berkuasa di muka bumi.'
Pangeran Zhou Yhan terdiam sejenak.
'Kondisinya masih sangat lemah Ayah, aku tidak bisa membunuh seseorang yang lemah, aku pangeran Zhou Yhan sebagai ksatria yang memiliki ilmu tinggi merasa tidak berguna jika sampai melakukan hal itu,'
'Begitu dia sembuh kau harus segera membunuhnya!'
'Tentu saja Ayah, aku akan bertarung sebagai ksatria bukan sebagai pembunuh bayaran.'
'Baiklah, Ayah percayakan semua padamu.'
Kontak batin pun terputus.
Pangeran Zhou Yhan kembali membuka kedua matanya, mengangkat kedua tangannya setinggi dada kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan-lahan. Berusaha menstabilkan suhu tubuhnya setelah mengeluarkan begitu banyak energi untuk melakukan kontak batin dengan sang Ayah, raja Fan Kris Wu.
'Baiklah, Zhou Yhan rawat putri Quan Ling hingga sembuh kemudian kau bisa bertarung dengannya dan membunuhnya,' pikir pangeran Zhou Yhan dengan tersenyum sinis.
>>>>>>>>>
Seluruh penghuni istana menjadi gempar saat mendengar kabar bahwa putri Quan Ling menghilang, terutama ratu Yun Lie. Ia menangis tiada henti sejak mendengar kabar bahwa putrinya semata wayang tidak dapat ditemukan.
"Ampun Yang mulia, kami semua telah berusaha mencari keberadaan Yang mulia putri Quan Ling, tapi kami tidak dapat menemukan putri Quan Ling, hanya kudanya saja yang kami temukan dalam keadaan tidak bernyawa," lapor salah seorang prajurit.
"Benar, Yang mulia kuda itu mati dalam kondisi yang mengenaskan, seluruh tulang-tulangnya remuk dengan kepala pecah," sahut prajurit yang lain.
"Di perkirakan kuda itu terjatuh dari ketinggian." yang lain juga menimpali keterangan tersebut.
Mendengar penjelasan para prajurit, ratu Yun Lie teringat akan misteri putrinya yang dapat terbang bahkan sejak ia masih bayi merah. Ratu Yun Lie mengutarakan apa yang di ingatnya kepada suaminya, raja Shan Hua.
"Jika memang benar seperti itu, berarti saat ini putri ku masih hidup, mungkin dia bersembunyi di suatu tempat." Raja Shan Hua mengambil kesimpulan dari cerita istrinya.
__ADS_1
"Kalau begitu kita harus tetap mencarinya, cari putri ku sampai di temukan, Yang mulia," rengek ratu Yun Lie di sela isak tangisnya.
Suasana istana sangat bersedih atas hilangnya putri Quan Ling, tidak hanya kedua orang tuanya bahkan seluruh kerabat dan para dayang maupun pelayan pun ikut merasa kehilangan.
"Izinkan aku mencari keponakan ku, Kakak," paman Yan Bei meminta restu untuk mencari putri Quan Ling.
Paman Yan Bei adalah adik dari ratu Yun Lie yang memiliki istri bernama Zhen Zhi.
Paman Yan Bei sangat setia kepada kakak iparnya, bahkan ia siap mengorbankan nyawanya demi keselamatan raja Shan Hua. Dan karena kesetiaan nya inilah, membuat raja Shan Hua sangat menyayanginya, bahkan paman Yan Bei memiliki wewenang yang sama dengan raja Shan Hua, seluruh titahnya harus dipatuhi.
"Tidak, aku yang akan turun tangan sendiri mencari keberadaan putriku," tolak raja Shan Hua yang mulai uring-uringan karena kehilangan putri Quan Ling.
"Maaf kakak ipar, jika kakak pergi dari istana ini, siapa yang akan mengayomi kerajaan, aku khawatir prajurit dari kerajaan Shengshi akan kembali menyerang."
Raja Shan Hua terdiam, berusaha mencerna gagasan adik iparnya.
"Baiklah, aku serahkan tugas ini padamu, cepat temukan putri ku, dan pastikan dia dalam keadaan baik-baik saja," titah raja Shan Hua.
"Dengan senang hati aku Yan Bei bersedia menerima tugas ini dan aku berjanji akan membawa pulang putri Quan Ling dalam keadaan selamat." Paman Yan Bei mengangkat kedua tangannya yang saling mengepal dengan menundukkan kepala penuh hormat.
Dengan perlahan paman Yan Bei berjalan mundur, dan berhenti tepat di hadapan ratu Yun Lie, kakaknya.
"Yan Bei, adikku, aku mohon padamu selamatkan putri semata wayangku." Ratu Yun Lie menghambur ke dalam pelukan paman Yan Bei yang membalasnya dengan penuh kasih sayang dan penghormatan.
Hubungan kedua saudara itu sangatlah baik, hingga tidak pernah terjadi pertengkaran ataupun kesalahpahaman diantara keduanya.
"Tenangkan dirimu kakak, jangan panggil aku Yan Bei jika aku tidak bisa membuktikan ucapanku, aku memohon restumu kakak." Paman Yan Bei melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata yang jatuh di pipi ratu Yun Lie.
"Aku titip kakakku, jaga dan temani dia, hiburlah agar dia tidak merasa sedih," pesan paman Yan Bei kepada istrinya, bibi Zhen Zhi.
"Jangan khawatir suamiku, Aku akan selalu menjaga kakak ipar dengan baik." Bibi Zhen Zhi tersenyum melepas kepergian paman Yan Bei.
__ADS_1
Dengan diiringi puluhan pengawal paman Yan Bei pergi meninggalkan istana dengan harapan besar yaitu, secepatnya menemukan putri Quan Ling dalam keadaan selamat.
Dengan berbekal restu dari raja Shan Hua dan ratu Yun Lie, paman Yan Bei memulai pencariannya.