Misteri Putri Quan Ling {Reinkarnasi Dewi Surgawi}

Misteri Putri Quan Ling {Reinkarnasi Dewi Surgawi}
Memilih jalan damai


__ADS_3

Perjalanan dari istana Shenshi memerlukan waktu semalaman untuk sampai ke istana King Huan, itupun tanpa berhenti walau hanya sekedar beristirahat sekalipun. Putri Quan Ling telaah merasa tidak sabar untuk segera bertemu dengan Ibunda tercinta, wanita yang selama ini sangat ia rindukan.


Begitu pula halnya dengan Ibu ratu Yan Yikhhu, ia merasa sangat khawatir apa yang akan terjadi nanti jika dirinya bertemu dengan ratu Yun Lie? Jika ia tidak menemani menantunya untuk menemui orang tuanya maka itu membuatnya khawatir akan menimbulkan hal yang tidak baik yang akan semakin mempersulit keadaan.


Iring-iringan prajurit dari kerajaan Shenshi kini telah sampai di depan pintu gerbang utama istana kerajaan King Huan. Tepat pada saat terbit fajar, sang mega mulai memerah di ufuk timur menandakan malam telah berganti pagi.


“Yang mullia Putri Quan Ling, telah tiba…!” seru penjaga dari arah luar pintu gerbang.


Pintu gerbang pun terbuka lebar dan beberapa prajurit yang sedang berjaga memberikan penghormatan terhadap tuan putri mereka, ada juga beberapa diantara mereka yang siap menyerang para prajurit dari kerajaan Shenshi. Akan tetapi niat itu mereka urungkan ketika Putri Quan Ling mengisyaratkan dengan tangannya agar mereka berhenti.


Akhirnya iring-iringan Putri Quan Ling pun bebas memasuki halaman istana yang sangat indah, bermacam-macam bunga bermekaran dimana-mana memanjakan setiap mata yang memandang. Seorang pelayan wanita yang kebetulan melihat kedatangan putri Quan Ling segera berlari ke arah dalam istana menemui ratu Yun Lie yang sedang bersama Paman Yan Bei, rupanya pria itu telah siap untuk pergi ke istana Shenshi seperti yang telah direncanakan sebelumnya.


Mendengar buah hatinya telah pulang membuka kedua matanya berbinar, pancaran kesejukan yang telah lama tidak terlihat di wajahnya. Sontak ratu Yan Yikhu berlari dengan sekuat tenaga agar segera bertatap muka dengan putrinya tercinta.


“Putriku…!” seru ratu Yun Lie begitu melihat putri Quan Ling turun dari tandunya bersama dengan ratu Yan Yikhu.


“Ibu!” Putri Quan Ling segera berlari ke arah Ibunya sedangkan ratu Yan Yikhu berjalan di belakangnya bersama pangeran Shin Haein.


Setelah saling bertatap muka dan tersenyum sontak keduanya berpelukan, saling melepaskan rasa rindu di hati masing-masing. Jiwa putri Quan Ling terasa tenang berada di dalam dekapan sang Ibunda, sebuah pelukan yang selama ini hanya berada di dalam angan-angannya, kini telah benar-benar ia rasakan dengan nyata.


Tak lama kemudian pelukan itu terlepas ketika ratu Yan Yikhu datang menemui mereka berdua. Dengan ragu-ragu Ibu ratu Yan Yikhu mengangkat kedua tangannya yang saling bertangkup.

__ADS_1


“Salam ratu Yun Lie,” ucap Ibu ratu Yan Yikhu seraya berusaha tersenyum walaupun ia tahu jawaban apa yang ia dapatkan nanti.


“Salam ratu Yan Yikhu, senang bisa bertemu denganmu lagi,” sahut ratu Yun Lie yang sempat membuat wanita di depannya terlihat kebingungan.


Sikap ramah ratu Yun Lie yang membuatnya salah tingkah, bukan hanya ratu Yan Yikhu yang merasa demikian, tetapi hal yang sama pun terjadi terhadap pangeran Shin Haein yang juga merasa bingung dengan keramahan ratu Yun LIe.


“Salam Bibi.”


“Salam.”


Setelah mengucapkan salam dan membalas salam mereka pun melangkah memasuki ruangan dalam istana dan kemudian duduk di ruang tamu untuk berbncang-bincang, sikap ramah seluruh penghuni istana membuat ratu Yan Yikhu dan putranya merasa nyaman.


“Kami tahu kedatangan kami pasti membuat kalian semua teringat dengan peristiwa itu, tapi perlu kalian tahu bahwa kami juga merasakan hal yang sama, orang yang sangat kami hormati juga tewas dalam peperangan itu.” ratu Yan Yikhu meneteskan air mata.


Suasana berubah hening seketika, seakan sedang menunggu giliran untuk bersuara. Perlahan tetapi terdengar sangat jelas ratu Yun Lie menjawab, “Jika semua memang telah menjadi takdir, apa yang bisa kami lakukan selain hanya menerima ketentuan yang telah dewa berikan kepada kami, saling bermusuhan pun tidak ada gunanya.”


“Aku sangat bersyukur memiliki keluarga seperti kalian, orang-orang yang baik dan cinta damai.” Ratu Yan Yikhu memuji kebesaran hati ratu Yun Lie dan keluarganya.


“Sebenarnya hari ini aku akan berkunjung kesana untuk menemui keponakanku,” ucap paman Yan Bei mengalihkan pembicaraan.


“Untuk apa paman ingin menemuiku?” tanya puteri Quan Ling.

__ADS_1


Setelah mendengar pertanyaan dari keponakannya paman Yan Bei pun menjelaskan perihal keinginannya.


“Jika memang seperti itu, maka aku pasrahkan semua tanggung jawab di kerajaan ini kepada paman, karena aku yakin paman bisa mengemban semua tanggung jawab itu dengan baik.”


“Sebenarnya aku telah mengatakan hal yang sama, tapi pamanmu ini ingin mendengar langsung kata-kata darimu,” sela ratu Yun Lie.


“Karena walau bagaimanapun kau adalah satu-satunya pewaris tahta kerajaan.” Paman Yan Bei menyahut.


“Paman, tidak ada yang perlu kau khawatirkan dariku dan keputusanku adalah yang terbaik.”


“Apa yang dikatakan oleh menantuku ini memang benar, jika kalian disini masih terlalu melibatkan dia, lalu kapan dia bisa fokus pada pernikahannya,” timpal ratu Yan Yikhu yang kemudian dibenarkan oleh semua orang.


“Benar apa yang dikatakan oleh Ibu mertuamu, karena pernikahanmu jauh lebih penting daripada apapun. Baiklah, aku akan mengambil keputusan sekarang. Aku sendiri yang akan memimpin kerajaan ini tentunya dengan dibantu oleh adikku, Yan Bei.” Ratu Yun Lie akhirnya mengambil keputusan.


Bukan tanpa alasan ratu Yun Lie mengambil keputusan itu, dikarenakan ia tidak ingin putrinya selalu di repotkan. Dan dengan adanya keputusan yang diambil oleh ratu Yun Lie membuat ratu Yan Yikhu menghela nafas lega.


‘Andai saja Ibu tahu pernikahan seperti apa yang sedang aku jalani, apa Ibu masih akan bersikap setenang ini?’ batin putri Quan Ling dengan menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya dibalik senyumannya.


“Tapi, mengapa suamimu tidak ikut bersamamu? Apa kalian ada masalah?” tanya ratu Yun Lie, karena telah sekian lama mereka di sana tidak ada tanda-tanda menantu nya itu akan menampakkan batang hidungnya.


“Aku disini Ibu ratu!” Tiba-tiba saja terdengar sebuah suara dari pintu utama.

__ADS_1


__ADS_2