
Setelah kesepakatan itu selesai dan telah resmi disetujui oleh kedua belah pihak. Paman Yan Bei memberikan stempel pada selembar kertas perjanjian, agar tidak ada yang bisa berkhianat diantara mereka.
"Baiklah, dengan adanya bukti ini, perjanjian telah diresmikan!" seru salah seorang petinggi di istana itu.
Semua orang merasa senang, terutama bagi raja Fan Kris Wu dan Zhuo Yhan, tetapi tidak dengan raja Shan Hua dan ratu Yun Lie. Memang, mereka juga merasa senang dengan dikembalikannya kekuasaan raja Shan Hua, tetapi mereka juga merasa sangat sedih karena akan berpisah dengan putri Quan Ling.
>>>>>>>>>>
Singkat cerita.
Setelah menikah dengan pangeran Zhou Yhan, putri Quan Ling dibawa ke istana kerajaan ShengShi. Walaupun kedua orang tuanya merasa sangat keberatan, tetapi mereka harus merelakannya.
Impian raja Shan Hua untuk menjadikan putri Quan Ling sebagai putri mahkota dan yang akan menggantikan dirinya sebagai ratu. Kini hanyalah tinggal impian.
Namun, raja Shan Hua tidak kehilangan akal, ia memohon kepada raja Fan Kris Wu agar kelak jika mereka memiliki keturunan, maka anak pertama mereka akan diasuh oleh raja Shan Hua dan akan mewarisi semua kekuasaannya, sebagai pengganti putri Quan Ling. Dan, raja Fan kris Wu pun Menyetujuinya.
Tiba di istana kerajaan ShengShi.
Seluruh penghuni istana kerajaan ShengShi, berdiri berjejer di depan pintu utama. Diantara mereka adalah ratu Yan Yiku yang sedang tersenyum menyambut kedatangan suami, anak dan menantunya. Kabar tentang pernikahan pangeran Zhou Yhan dan putri Quan Ling segera menyebar luas.
Ketika rombongan telah mulai mendekat, semua orang merasa sangat penasaran ingin segera melihat sosok putri Quan Ling yang kabarnya sangat cantik dan mempesona.
Sedangkan Putri Quan Ling yang berada di dalam tandu yang dibawa oleh beberapa prajurit, hanya bisa meneteskan air mata untuk menerima semua kenyataan.
Tepat di hadapan ratu Yan Yiku tandu diturunkan. Semua mata mulai memandang ke arah tirai yang menutupi pintu tandu sehingga menghalangi pandangan mereka untuk melihat putri Quan Ling.
Setelah beberapa saat, putri Quan Ling tidak juga turun. Ia masih tetap duduk di dalam tandu dengan perasaan hancur.
"Segera turun, jangan sampai membuat diriku malu didepan semua orang," bisik pangeran Zhou Yhan dari arah luar tandu, rupanya ia baru saja turun dari kudanya.
__ADS_1
Karena tidak ada jawaban dari putri Quan Ling, pangeran Zhou Yhan kembali berkata, "cepatlah turun, Ibuku sedang menunggumu di luar."
Putri Quan Ling mulai membuka tirai yang menutupi pintu tandu, dan tampaklah sosok putri yang begitu cantik bak seorang bidadari yang turun dari kahyangan, membuat semua orang terpana.
Namun, putri Quan Ling tidak begitu memperhatikan semua itu, yang ingin ia lakukan hanyalah menemui ratu Yan Yiku sebagai Ibu mertuanya. Suara gelang kaki yang bergemerincing menemani langkah kaki putri Quan Ling.
"Salam Ibu mertua," ucap putri Quan Ling sambil berjongkok menyentuh kedua kaki ratu Yan Yiku dengan kedua tangannya, ia meminta restu.
Walaupun pernikahan ini membuat hatinya sangat sakit, tetapi putri Quan Ling harus tetap menghormati ratu Yan Yiku sebagai Ibu mertuanya.
"Salam, Nak. Doa ku selalu bersamamu." ratu Yan Yiku mengelus puncak kepala putri Quan Ling kemudian memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Sesaat putri Quan Ling merasakan sebuah kasih sayang seorang Ibu untuknya, kasih sayang yang sangat dirindukannya karena telah berpisah dengan kedua orang tuanya.
Namun, tidak demikian dengan pangeran Zhou Yhan. Ia terus saja berjalan memasuki istana tanpa menghiraukan ratu Yan Yiku sebagai Ibunya, membuat hati ratu Yan Yiku sangat bersedih.
"Salam Ibu," ucap pangeran Shin Haein seraya berjongkok. Bukan meminta restu melainkan ini adalah wujud dari rasa syukur karena telah kembali dari pertempuran dengan selamat.
Ratu Yan Yiku memutar nampan itu tiga kali di depan wajah putra nya, agar pangeran Shin Haein selalu mendapatkan perlindungan dari Yang Maha Kuasa.
Putri Quan Ling merasa kagum dengan perlakuan ratu Yan Yiku kepada putra nya, tepati ia juga heran, mengapa pangeran Zhou Yhan justru bersikap dingin kepada Ibu kandungnya sendiri. Kemudian, ratu Yan Yiku mengajak putri Quan Ling memasuki ruangan istana.
"Beristirahatlah, kau pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh," ucap ratu Yan Yiku kepada putri Quan Ling ketika mereka telah berada didepan sebuah kamar khusus putri Quan Ling.
"Terimakasih, ratu," sahut putri Quan Ling dengan penuh hormat.
"Panggil aku Ibu, mulai sekarang kau adalah putri ku," ucap ratu Yan Yiku mengingatkan putri Quan Ling.
Malam pun semakin larut, akan tetapi putri Quan Ling tidak sekalipun dapat memejamkan kedua matanya. Ia tampak khawatir jika pangeran Zhou Yhan melakukan suatu hal yang tidak pernah diinginkan dirinya malam itu.
__ADS_1
Benar saja apa yang dikhawatirkan oleh putri Quan Ling. Disaat dirinya berpura-pura terlelap diatas ranjang nya, ia melihat sebuah bayangan memasuki bilik kamarnya. Tangan putri Quan Ling bersiap meraih sebuah pisau tajam yang dengan sengaja diletakkan di sampingnya.
Putri Quan Ling dapat melihat dengan jelas bayangan itu di dinding kamarnya, perlahan semakin mendekat. Saat itu putri Quan Ling dalam posisi membelakangi bayangan itu.
ZRASSHH.
Dengan sangat cekatan, putri Quan Ling melayangkan pisau nya pada arah bayangan itu seraya berbalik menghadap.
"Aakhh…!" teriak pangeran Zhou Yhan ketika sebuah pisau berhasil melukai telapak tangannya.
Seketika cairan berwarna merah mulai keluar dari lukanya.
"Darah," gumam putri Quan Ling saat ia melihat cairan merah mulai mengucur dari telapak tangan pangeran Zhou Yhan. Ia menatapnya dengan penuh kebencian.
"Dasar, liar!" pekik pangeran Zhou Yhan menatap putri Quan Ling dengan penuh amarah.
"Mengapa kau melukaiku? Aku hanya ingin menutupi tubuhmu dengan selimut agar tidak kedinginan, akhh…! Pangeran Zhou Yhan meringis menahan rasa sakit pada telapak tangannya.
"Maaf," hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari bibir putri Quan Ling ketika mendengar alasan pangeran Zhou Yhan mendatangi kamarnya. Rupanya ia telah salah sangka kepada pria itu.
Hati putri Quan Ling yang lembut, merasa tidak tega melihat pangeran Zhou Yhan kesakitan, sebenci apapun dirinya kepada pria itu.
Sontak putri Quan Ling merobek selendang yang ia pakai lalu membalutkan pada telapak tangan pangeran Zhou Yhan agar pendarahan segera berhenti.
"Seharusnya kau tidak perlu melakukannya," ucap pangeran Zhou Yhan seraya memandang wajah cantik putri Quan Ling yang terus membalutkan kain selendangnya.
"Kau sebenarnya ingin membantuku memakai selimut kan, tapi aku justru melukai tanganmu," keluh putri Quan Ling atas perbuatannya sendiri.
"Itu karena kau telah terbiasa hidup liar, jadi mulai sekarang belajarlah bersikap lembut layaknya seorang istri." pangeran Zhou Yhan segera bangkit dari tempatnya, karena ia tidak ingin berlama-lama berdua bersama putri Quan Ling.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan, hanya saja ia merasa takut jika naluri nya yang selalu ingin bersama dengan putri Quan Ling tidak bisa dikendalikan.
"Tunggu!" Putri Quan Ling menghentikan langkah pangeran Zhou Yhan yang hampir mendekati pintu.