
Setelah pernikahan raja Zhou Yhan dan putri Lin Mei gedung istana tampak sepi. Semua orang sedang beristirahat di dalam kamar masing-masing. Kecuali para pelayan yang terus sibuk di dapur istana mempersiapkan segala sesuatu untuk esok harinya.
Seharusnya malam ini menjadi malam yang paling indah bagi raja Zhou Yhan setelah acara pernikahannya, wanita yang saat ini sedang duduk di sampingnya seolah telah siap untuk menyerahkan diri kepadanya.
Namun sungguh sulit untuk di nalar, rasa bahagia yang seharusnya hadir di antara mereka ternyata hanyalah sebuah impian bagi putri Lin Mei. Padahal khusus untuk malam ini ia telah mengenakan pakaian yang sangat terbuka, ia begitu yakin akan dapat menaklukkan pria di depannya dan menjadi miliknya untuk selamanya.
"Maaf, aku tidak bisa," tolak raja Zhou Yhan ketika wanita itu mulai mendekatkan diri padanya.
"Kenapa? Apa kau masih memikirkan wanita itu? Ingat! Ini malam pertama kita, malam pertama penyatuan jiwa dan raga kita."
"Aku mohon, putri Lin Mei! Hentikan!"
Ini pertama kalinya raja Zhou Yhan berbicara dengan nada suara keras kepada putri Lin Mei, bagaimana tidak? Jika saat ini wanita itu sedang menaiki tubuhnya dan memainkan sesuatu yang merupakan benda pusaka warisan sang leluhur.
Putri Lin Mei dengan sangat agresifnya terus memainkan jari-jarinya di tempat yang sama, tanpa perduli raut wajah pria itu yang memerah di bawahnya karena menahan segala gejolak hasratnya.
"Apakah kau telah melupakan semua kebaikanku? Apa kau telah lupa akan hutang budimu? Aku tidak meminta apapun, aku hanya ingin memuaskan hasratmu malam ini."
__ADS_1
Hanya karena sebuah hutang budi raja Zhou Yhan tidak bisa berkutik, putri Lin Mei selalu menjadikan itu sebagai senjata untuk memperdaya raja Zhou Yhan.
"Baiklah, puaskan dirimu."
Raja Zhou Yhan menutup kedua matanya, membiarkan wanita itu melakukan apa saja pada tubuhnya. Dengan sangat lihai putri Lin Mei menggerayangi setiap bagian tubuh pria itu yang kekar nan menggoda. Otot-otot yang menonjol menambah pesona keperkasaannya membuat putri Lin Mei semakin menginginkan pria itu.
Putri Lin Mei semakin hanyut dalam bara hasrat yang kian bergejolak, bahkan kini ia tidak memperdulikan lagi dirinya yang telah terlepas dari busana gaunnya. Hasrat pun kian memuncak.
"Quan Ling," gumam raja Zhou Yhan di sela-sela suara desahannya.
Putri Lin Mei segera menarik sehelai kain untuk menutupi tubuhnya, dengan perasaan kecewa ia duduk membelakangi suaminya.
"Ternyata kau begitu mencintainya, hingga saat bersamaku, kau panggil namanya."
Raja Zhou Yhan segera bangkit dengan penuh keheranan, tetapi juga merasa senang karena apa yang dibayangkan tidak benar-benar terjadi. Walaupun yang disana telah siap untuk menerjang.
'Aku akan minum penawarnya,' batin nya.
__ADS_1
"Putri Lin Mei, maaf kan aku… sungguh aku tidak bermaksud untuk…."
"Sebelum kau benar-benar menerimaku maka aku tidak akan menuntut apapun darimu, aku akan sabar menunggu hingga saat itu tiba."
Raja Zhou Yhan yang telah mengenakan pakaiannya segera duduk di samping wanita yang telah ia kecewakan hatinya. Tangan kekar pria itu segera meraih kepala putri Lin Mei dan membawanya ke dalam pelukan dada bidangnya.
'Aku berhenti bukan karena aku takut pada wanita itu, tapi demi memenangkan hatimu. Aku rasa… dengan seperti ini akan membuatmu lebih merasa bersalah, Zhou Yhan, dan pada akhirnya kau akan takluk di bawah kendaliku." senyum tipis terpampang di bibir putri Lin Mei, sebuah senyum kelicikan.
"Kau adalah sahabatku, Zhou Yhan, dan sekarang kau telah menjadi suamiku. Apa yang lebih berarti dari semua ini? Tidak ada, hanya kau yang terpenting dalam hidupku."
"Terimakasih, putri Lin Mei, kau sangat berjasa dalam kehidupan ku,"
Keduanya saling berpelukan, tetapi hanya sebatas memeluk saja tidak ada maksud yang lain bagi raja Zhou Yhan. Berbeda dengan ketika ia bersama putri Quan Ling dalam penyamarannya sebagai Kim Yung, justru jika tidak di hentikan oleh logikanya, niscaya ia akan kehilangan kendali pada dirinya sendiri.
"Kau pasti lelah, sekarang beristirahatlah, aku akan menemui perdana menteri," ucap raja Zhou Yhan seraya berdiri melepaskan pelukannya dari wanita itu.
Raja Zhou Yhan melangkah keluar dari kamarnya meninggalkan putri Lin Mei yang saat ini sedang merutuki kebodohannya karena tidak berhasil mendapatkan apa yang seharusnya ia nikmati malam ini.
__ADS_1