
"Tunggu!" seru putri Quan Ling dan menghentikan langkahnya.
"Ada apa, tuan putri?" Raung chen menghentikan langkahnya dan menghadap ke arah putri Quan Ling.
"Katakan saja sejujurnya, siapa dirimu sebenarnya?" Putri Quan Ling menatap kedua bola mata Raung chen dengan seksama.
"Aku adalah prajurit dari kerajaanmu, aku bertugas menjaga dirimu, apakah itu masih belum jelas?" Raung chen merasa putri Quan Ling telah mencurigai dirinya.
"Bohong! Aku tahu kau mengatakan semua itu hanya karena ingin selamat dari eksekusi tadi kan? Aku berjanji asal kau jujur padaku, maka aku akan menyimpan rahasia ini dengan aman."
"Ya, kau benar. Aku adalah seorang pengembara yang kehilangan keluarga ku." Raung chen menundukkan kepalanya, seolah ia sedang sedih dan lara.
"Pengembara? Lalu mengapa kau berpakaian seperti prajurit?"
"Aku mendapatkannya dari seseorang yang pernah menjadi prajurit di kerajaanmu, karena usianya yang tua, dia berhenti menjadi prajurit dan memilih untuk menjadi peternak."
"Dimana orang itu tinggal?"
Rupanya putri Quan Ling masih belum mempercayai semua penjelasan dari Raung chen, dan itu membuat nya bertanya lebih dalam lagi.
"Kalau boleh tau siapa namanya?"
"Tuan Yonghwa, dia tinggal di desa Shirakawa. Dia termasuk penduduk terkaya di desa itu."
Putri Quan Ling menyimak dengan seksama dan berusaha mencerna dengan baik setiap penjelasan yang diberikan oleh Raung chen, karena merasa semua ucapan pria itu benar, Putri Quan Ling akhirnya percaya. Dan untuk memberikan keterangan yang benar itu tidaklah sulit bagi Raung chen yang memang memiliki kemampuan untuk menembus keberadaan setiap manusia, kecuali putri Quan Ling yang membuatnya terpaksa menyamar menjadi manusia.
"Baiklah, aku percaya padamu, sekarang kau boleh tinggal disini sebagai pengawalku."
"Terimakasih, putri Quan Ling." Raung chen menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan kepala tertunduk, tetapi ia menyembunyikan sebuah seringai menyeramkan dibalik wajah tampannya.
Raung chen merasa senang akhirnya rencananya untuk mengelabui seluruh orang di istana itu, termasuk putri Quan Ling berhasil.
__ADS_1
Sejak saat itu Raung chen selalu ada bersama dengan putri Quan Ling, dan ia selalu mencari kesempatan untuk melaksanakan misinya, tetapi kesempatan itu tidak pernah bisa digunakan dengan sebaik-baiknya, dikarenakan Putri Quan Ling selalu berada di bawah pengawasan pangeran Zhou Yhan.
"Kakak tidak apa-apa?" tanya Young Vei dengan cemas, dari raut wajahnya terpancar sebuah kekhawatiran.
Anak kecil itu kini terlihat sangat tampan dan juga lebih aktif, setelah mendapatkan arahan pembelajaran tentang cara mengenal huruf, angka dan juga berhitung. Young Vei merupakan anak yang cerdas, ia bisa menangkap setiap hal yang baru di istana itu dan memulai mempelajarinya.
Putri Quan Ling tersenyum seraya memeluk Young Vei dengan penuh kasih sayang.
"Kakak baik-baik saja, jangan khawatir." Putri Quan Ling mengusap air mata yang jatuh dari kelopak mata Young Vei.
"Jangan menangis lagi ya."
"Bagaimana aku tidak khawatir dan menangis, jika terjadi sesuatu yang buruk pada kakak, siapa yang akan membela diriku nanti? Siapa yang akan menyayangi aku seperti ini? Kakak satu-satunya keluarga yang aku punya." Young Vei menundukkan kepalanya, sekilas terlintas bayangan kematian Ibunya yang membuat air matanya semakin deras berjatuhan.
"Baiklah, maafkan kakak. Aku janji akan selalu ada bersamamu hingga kau siap untuk menjalani hidupmu sendiri."
Sesaat mereka saling berpelukan, Young Vei merasa sangat bersyukur masih ada seseorang yang peduli kepada dirinya, jika tidak tentu saat ini ia telah menjadi seorang gelandangan. Tiba-tiba saja suara penjaga istana melerai pelukan mereka.
"Ayah, Ibu." Sirat kebahagiaan terpancar di wajah putri Quan Ling ketika mendengar kedua orang tuanya datang menemui dirinya.
"Kakak masih memiliki Ayah dan Ibu?" tanya Young Vei menatap manik mata yang bersinar milik putri Quan Ling.
"Ya, tentu saja." Putri Quan Ling melangkah seraya menuntun tangan bocah kecil itu.
Namun, Young Vei hanya diam saja, sedikit pun ia tidak bergeming dari tempat nya. Young Vei hanya berdiri mematung.
"Oh, ayolah adik kecil. Anggap saja Ayah dan Ibuku adalah orang tuamu juga."
"Apakah mereka akan mau kak?"
"Tentu, mereka itu orang yang baik dan suka sekali dengan anak kecil."
__ADS_1
Barulah setelah mendengar ucapan putri Quan Ling, kepala Young Vei yang tertunduk mulai terangkat kembali. Ia pun merasa cukup senang bisa bertemu dengan raja dan ratu dari kerajaan seberang.
Putri Quan Ling melangkah bersama dengan Young Vei disampingnya, tetapi Raung Chen ia tidak terlihat lagi sejak mendengar kedatangan raja Shan Hua dan ratu Yun Lie.
KRAAKK.
Seorang wanita yang bernama putri Lin Mei yang kebetulan berpapasan dengan putri Quan Ling, sengaja menjatuhkan gelang kaki yang dipegangnya.
"Bisa di pasangan di kakiku? Aku kesulitan memakainya," pinta putri Lin Mei.
Dengan sebuah senyuman di wajahnya, putri Quan Ling segera merendahkan dirinya mengambil gelang kaki itu lalu memakaikan di kaki putri Lin Mei yang tersenyum puas karena pada saat itu banyak dari para dayang istana serta para selir dari raja Fan Kris Wu memandang kagum ke arahnya.
"Wah! Putri Lin Mei selalu saja beruntung, bahkan istri dari pangeran Zhou Yhan tunduk dibawah kakinya!" seru salah seorang selir kesayangan raja Fan Kris Wu kepada yang lainnya.
"Ya, kau benar, ternyata posisinya sebagai seorang sahabat sekaligus orang kepercayaan pangeran Zhou Yhan tidak dapat tergantikan walau dengan istrinya sekalipun," sahut yang lainnya.
"Dia tetap saja nomor satu."
Mendengar semua ocehan itu, putri Lin Mei merasa puas karena telah berhasil membuat putri Quan Ling tunduk
kakinya.
"Aku rasa kau memang pantas menjadi bawahanku daripada menjadi istri dari seorang pangeran, apalagi pangeran Zhou Yhan, sungguh kau tidak pantas." Putri Lin Mei menghina putri Quan Ling.
Mendengar hinaan putri Lin Mei hanya membuat putri Quan Ling tersenyum.
"Aku merendahkan tubuhku bukan berarti aku tunduk kepadamu, tetapi aku hanya ingin membantu orang lain yang sedang membutuhkan bantuanku, jelas-jelas kau sendiri yang menjatuhkan gelang kakimu dan memintaku untuk memakaikan di kakimu, aku melakukan ini hanya karena rasa belas kasihan," sahut putri Quan Ling dengan berani, tidak sedikit pun ia merasa takut walaupun ia hanyalah orang baru di istana itu.
Beberapa orang tadi mulai menyimak perdebatan di antara putri Lin Mei dan putri Quan Ling. Dua orang putri kerajaan yang sama-sama cantik dan mempesona.
"Bukankah orang yang berbuat baik dengan membantu orang lain, derajatnya lebih tinggi dari pada orang yang berpura-pura baik tetapi sesungguhnya dia sangat tidak mampu untuk melakukan hal-hal yang baik."
__ADS_1
Seperti mendapatkan sebuah tamparan keras bagi putri Lin Mei ketika mendengar putri Quan Ling melanjutkan ucapannya. Ia merasa sangat terhina dengan ucapan putri Quan Ling. Wajahnya pun mulai memerah karena terus diperhatikan oleh para selir.