Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
36. Archie Butuh Kamu


__ADS_3

Happy reading's...


...~{^\=^}~...


"Apa maksud ucapan Suamimu?" Tanya Nyonya Nita.


Risha dan Nyonya Anita kini sudah duduk ditepi ranjang didalam kamar Nyonya Anita.


Risha menunduk kan kepalanya, tangannya menaut memikirkan sesuatu untuk menjawab Pertanyaan Ibunya.


"Bu, Tidak usah dipikirkan Ucapan Shean.." Jawab Risha mendongak menatapnya wajah Ibunya.


"Kamu mencintai Shean?"


Deg


Raut wajah Risha kini berubah seketika. Ditanya soal cinta, tentu jawabannya sangat sulit. Statusnya sebagai seorang istri hanya sebagai Figuran, lalu pantaskah dirinya memiliki Cinta untuk Shean?


Shean bahkan sudah terang-terangan mengikis jarak liwat Ucapan. Jika diakui Mengenai Perasaannya, Percayalah, Wanita mudah jatuh cinta.


"Mengapa kamu menikahi nya nak, kalau kalian tidak saling mencintai?" Tanya Nyonya Nita.


*Haruskah aku jujur bu? Aku melakukan semua ini untuk ibu...* Risha bertanya dalam hati.


Andai, andaikan Wanita paruh baya itu tidak sakit, mungkin kehidupannya masih normal seperti dulu. Andai mereka tak ke Victoria, mungkin dirinya tak bertemu Shean. Andai? Andai? dan andai? Semua itu takdir, Risha tak bisa melawannya.


"Bu... Percayalah, Putrimu bahagia dengan Pernikahan ini!" Ucap Risha setulus hatinya.


Karena Pernikahan Paksa ini, Ibunya sembuh. Karena Pernikahan ini, Seorang Anak yang ditinggalkan ibunya kini mempunyai Seorang ibu. Dan Karena Pernikahan ini, Dia dipertemukan dengan Shean, Pria yang membuatnya jatuh setengah mati, namun melukainya setengah hati. Risha benci mengakui mencintai Shean.


Ibu Nita menarik nafas perlahan dan membuangnya.


"Ibu selalu mendo'akan yang terbaik buat Anak-anak ibu. Ibu hanya Berharap, Kamu bisa bahagia dengan Semua jalan keputusanmu, nak..Walau ibu tahu, sekarang kamu sedang menyembunyikan Sesuatu mengenai Pernikahanmu!"


"Suatu saat ibu akan mengetahuinya." imbuh Nyonya Nita.


Risha langsung Menghambur kepelukan Wanita yang sudah berjuang antara hidup dan mati untuknya. Untuk wanita itu, Risha melakukan segalanya, termasuk mengorbankan Masa depannya.


...(*****)...


Saat memasuki kamarnya, pandangan pertama yang Risha lihat adalah suaminya. Shean duduk ditepi ranjang dengan kaki menjuntai kebawah, Sekilas pria itu melirik kearah Pintu saat mendengar suara handle pintu yang didorong.


Shean hanya diam tak menyapa Istrinya. Pria itu rupanya masih kesal dengan Kejadian beberapa jam lalu. Kesal? Seharusnya Risha yang kesal, karena Shean sudah memaki dan membentaknya. Padahal itu semua tidak disengaja. Mana mungkin Risha mau mencelakakan Putranya, kalau pengen, mungkin sudah dari kemarin-kemarin. Toh waktunya dengan Archie itu 24 jam non stop, dan tanpa pengawasan.


Risha berjalan kearah ranjang untuk mengecek Putranya yang tertidur dengan tangannya yang bekas luka. Namun saat hendak Menyentuh Tangan Kecil itu, Shean langsung melarangnya dengan suara menggelegar.

__ADS_1


"Jangan Sentuh Putraku!" Sentak Shean dengan Suara Kerasnya. Netra hitam setajam elangnya langsung menghunus bak pedang yang siap lepas tepat sasaran.


Risha tersentak kaget mendengarnya. Putraku? Apa arti dirinya selama ini? Pengasuh Archie? Baby Sitter Archie? Atau pembantunya?


Mata Risha langsung memanas mendengarnya.


"Shean, Archie juga, putraku..." Suara Risha Tercekat.


"Dua tahun! Kalau kau lupa! Seteleh itu, Archie bukan Putramu!" Tegas Shean, Kata-katanya langsung menembus kejantung Risha. Risha ingat, mengapa harus diperjelaskan.


Lidah Risha begitu kelu untuk menjawab. Rasanya hatinya tak kuat menanggung beban yang dijalaninya. Ucapan Shean begitu melukai hatinya. Walaupun memang itu semua kenyataan.


Tanpa Fikir panjang, Risha langsung berlalu keluar kamar. Meninggalkan pria yang membuat hatinya patah porak-poranda.


Mengapa Harus Shean? Mengapa Harus Shean yang merebut hatinya. Mengapa Mendengar kalimat menyakitkan itu, hatinya lemah. Itu bukan kalimat pertama yang di dengar, tapi mengapa kali ini rasanya berbeda.


Risha duduk dikursi bangku menatap keatas langit yang semakin mendung, mendukung suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.


Mengapa Aku harus mengenalmu Shean? Apa aku salah, sudah mengharapkanmu terlalu tinggi Shean? Mengapa Harus kamu yang tertulis ditakdirku? Mengapa?...


Risha meraskan tubuhnya mulai basah, Seiring air matanya yang luruh kala itu juga. Hujan mulai mengguyur tubuhnya, menyembunyikan Air matanya yang mengalir mengiringi Kerapuhannya saat ini.


"Mengapa Kamu Shean? Aku benci kamu!" Teriak Risha meluapkan Segala kemarahannya. Tak perduli ada yang mendengar atau tidak, karena yang pasti Suara hujan yang semakin deras, meredam Suara teriakannya. Langit Seakan mengerti Suasana hatinya.


20 menit, Risha masih duduk menikmati Dinginnya air hujan yang terus mengguyur tubuhnya. Tak perduli tubuhnya yang sudah Memutih pucat akibat tak kuat Merasakan Dinginnya Air yang rasanya Seperti Es batu. Tubuhnya yang hanya mengenakan dres selutut dengan tali pinggang kanan kiri dan lengannya yang Terekspos, membuat Air hujan leluasa menyentuh kulitnya.


Hingga beberapa menit, Hujan yang semakin deras turun kebumi, namun mengapa tak terasa lagi dikepalanya. Mengapa Air hujan seakan berhenti mengguyurnya.


Karena penasaran, Risha mendongak keatas melihat apa yang terjadi. Pantas saja Air nya tak sampai ketubuhnya. Tunggu dulu, Payung siapa itu?


Risha beralih menoleh kesampingnya, matanya langsung bertemu dengan bola mata hitam yang pemiliknya sudah menghancurkan hatinya.


Shean menatap Risha tajam.


"Sudah gila, ya?" Sentaknya.


Risha mengusap sisa tetesan air diwajahnya menggunakan telapak tangan.


"Kalau aku gila, memangnya kenapa?"


Shean menatap malas, dan menarik salah satu tangan istrinya yang sudah dingin.


"Ayo masuk!" Titahnya.


Namun Risha langsung mengibaskannya. Risha masih kecewa dengan Shean, Kata-kata Pria itu menusuk kerelung hatinya.

__ADS_1


"Archie butuh kamu!" Suara Shean keras karena kalau tidak, tidak akan kedengaran akibat Suara hujan yang lebat.


Risha tersenyum mengejek. Archie butuh kamu! Archie bukan putranya, lantas mengapa dia harus perduli?


"Kamu saja yang Urus! Dia Putramu, bukan Putraku!" Teriak Risha supaya Shean mendengarnya.


Risha memberontak berushaa melepaskan tangannya dari cengkraman Shean. Namun Pria itu malah semakin mengeratkan Cengkramanya membuat Tangannya Merasakan Sakit.


Shean langsung menarik tangan Itu dan membawanya masuk kedalam liwat pintu belakang. Takut Kalau Ibu mertuanya melihat mereka yang hujan-hujanan.


"Lepas, Shean!" Ujar Risha seteleh mereka masuk kedalam kamar.


Shean membawa Istrinya masuk kedalam kamar mandi yang Ukurannya tidak sebesar kamar mandinya. Mendorong Istrinya kebawah Keran Shower, dan langsung menghidupkannya dengan Suhu yang pas untuk menghangatkan tubuh yang sudah dingin putih pucat menggigil itu.


"Shean..." Protes Risha saat merasakan Aliran air yang tadi dingin diluar sekarang malah ganti hangat.


Risha mengusap-usap wajahnya berkali-kali saat air itu mengalir diwajahnya. Tubuhnya Sudah lemas tak mampu lagi memberontak dan mengalahkan tenaga Shean.


Matanya sudah memerah bahkan kukunya pun sudah berubah warna putih tulang. Risha semakin mengeratkan pelukannya, menghilangkan hawa dingin yang masih menyusupnya.


Shean masih berdiam diri Menyaksikan Istrinya yang kedinginan. Risha bahkan menggosok telapak tangannya guna menghangatkan tubuhnya, padahal air shower menyala.


"Dingin?" Tanya Shean.


Risha hanya mengangguk pelan.


Tak pernah terfikir, Bahwa Shean akan bertanya demikian.


Shean melepaskan kaosnya dan celana panjangnya. Dan yang tersisa kini hanya Celana pendek saja. Pria itu mendekat Keistrinya dan langsung mendekap Risha kedalam pelukannya.


Risha tentu saja terkejut. Wanita itu berusha melepaskan, namun shean justru semakin mendekapnya Erat dibawah guyuran air hangat yang berasal deri Shower.


Shean mematikan Guyuran Air dan mendorong Istrinya kedinding Kamar mandi. Tangannya bertumpu di Sisi Kepala Risha dan memojokkan Wanita itu sampai tak ada celah untuk melarikan diri.


Risha menahan dada bidang yang Terekspos sempurna itu dengan Telapak tangannya. Menahan Tubuh Shean yang semakin mendekat.


Tanpa ba bi bu, Pria itu langsung memberikan kehangatan liwat sentuhan bibir. Lidahnya langsung menerobos masuk mengabsen setiap inci decapan yang dirasakan. Risha Reflek melingkarkan tangannya dileher Shean dan membalas Ciuman memabukkan yang mampu sedikit menghangatkan tubuhnya.


Tangan kanan Shean turun menarik Dua tali disisi pinggang Istrinya bergantian. Kemudian yang satunya meraba kebelakang punggung dan menurunkan Resleting dibagian belakang dres. Begitu hafal, karena dia yang membelinya. Dres basah itu mulai merosot kebawah.


"Shhh...Shean" Desis Risha dengan Suara Seraknya ketika tangan Pria itu M*r*m*s salah satu bukti gairahnya.


"Aku ingin menghangatkanmu, sayang..." Lirih Shean tepat ditelinganya.


*****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2