
"Kenapa Anda masih disini? Sebaiknya anda pergi?" Shean menatap Jaxton dengan tajamnya. Sudah dari tadi dia menyuruh Pria itu meninggalkan Ruang IGD, ruang dimana Risha saat ini ditangani setelah Shean membawanya kerumah sakit.
"Saya akan pergi setelah memastikan keadaan Risha baik-baik saja." Jawab Jaxton tak kalah tajamnya membalas tatapan mata Shean. Tak perduli pria itu marah, yang terpenting dia tahu keadaan Risha baik-baik saja.
"Kau tidak punya urusan disini! Pergilah..." Shean menggertakkan giginya, namun berusaha mengontrol emosinya saat menyadari tempat dimana mereka berada sekarang.
"Kau tidak becus menjaga Risha! Risha sudah menolak makanan yang kau berikan, tapi kau tetap memaksanya. Lihat, ini semua salahmu!"
Shean mengepalkan Kedua tangannya kuat. Rahangnya mengeras disertai emosi yang membara. Jaxton tau apa yang mereka lakukan tadi, artinya pria itu sudah memata - matainya sampai tau dengan detail. Shean ingin sekali menghancurkan wajah yang sudah berani sok tau dengan keluarganya itu.
"Kau..." Shean memotong Ucapannya kala dokter sudah keluar dari ruang IGD. Buru-buru dia berjalan mendekati dokter Wanita tersebut dengan harapan Sang Istri dalam keadaan baik-baik saja. Begitu pula dengan Jaxton yang tak kalah penasaran dengan Kondisinya Risha.
"Siapa diantara kalian yang suami pasien?" Tanya dokter Kimberly kepada dua pria yang berdiri didepannya. Keduanya terus mendesak meminta jawaban dari keadaan Wanita didalam ruang IGD yang tak lain Istri Shean.
"Saya suaminya dok. Bagaimana keadaan istri saya?" Sahut Shean dengan cepat, ekor matanya melirik pria disampingnya.
"Mari, silahkan masuk. Ada yang ingin kami sampaikan kepada Anda." Dokter kim tersenyum.
Jaxton kesal dengan jawaban Dokter kim, bukannya langsung to the poin bagaimana keadaan Risha malah berbelit-belit pakai harus suaminya yang dipertanyakan.
"Tapi bagaimana keadaannya dok?" Sebelum Dokter kim dan Shean masuk kedalam ruangan, dan sebelum dia pergi, Jaxton ingin memastikan keadaan Risha yang sebelumnya.
Dokter kim tersenyum. "Keadaan Pasien baik-baik saja. Semuanya stabil. Kami hanya ingin bicara dengan Suaminya sebentar."
Jaxton akhirnya mengangguk mempersilahkan Dokter kim masuk kembali. Dia bisa bernafas lega lantaran kondisi Risha sudah normal.
Satu kecupan lembut diberikan dikening Risha dari Shean. Pria itu mengusap lembut rambut sang istri yang masih memejamkan mata. Ada rasa bersalah ketika memandang wajah cantik yang sekarang nampak sedikit pucat. Ya, Shean menyesali perbuatannya tadi dengan memaksa sang istri makan gelato. Padahal jelas-jelas Risha tidak mau.
"Keadaan istri saya bagaimana, dok?" Tanya Shean mengulangi pertanyaannya setelah dokter kim datang dengan membawa secarik amplop putih.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kondisi Nyonya Risha baik-baik saja, begitu pula janin yang sedang berkembang didalam rahimnya." Jawab Dokter kim tersenyum.
Shean bernafas lega, dia belum menyadari sesuatu yang mengganjal. Kepalanya menoleh kesamping dimana sang istri terbaring, Seulas senyum diberikan detik itu juga dia baru sadar akan kalimat terakhir Dokter Kim.
"Dok ter tadi...bilang apa?" Shean tiba-tiba tak mampu berucap, kedua alisnya terangkat keatas.
"Selamat ya tuan, Istri anda positif hamil." Dokter kim menyerahkan hasil tes sang istri.
Shean masin tak percaya ini. Risha hamil, Archie akan punya Adik? Oh may God...Betapa lengkap kebahagiaannya nanti. Dibukanya lipatan kertas yang diberikan dokter kim, lantas membaca isinya guna meyakinkan dirinya, bahwa Ucapan Dokter kim itu benar.
Shean tak bisa melukiskan rasa bahagianya kali ini seperti apa. Bahkan kabar bahagia ini terasa lebih menyenangkan dari kehamilan Elma dulu. Bukannya membedakan, namun memang kenyataannya. Dia sendiri tak tau alasannya. Kecupan bertubi-tubi mendarat mulai dari pipi, kening, bahkan bibir Risha, sampai Wanita itu mulai siuman. Beruntung Dokter kim sudah keluar setelah memindahkan Risha keruang perawatan, menunggu Wanita itu sadar dahulu.
"Shean..." lirih Risha. Perlahan kelopak matanya terbuka, pertama yang dilihat langit-langit ruangan yang serba putih. Dia merasa asing diruangan itu, bau karbol yang menyengat membuat Risha teringat, dia tadi pingsan, itu artinya ini Rumah sakit.
"Kamu sudah sadar Sayang. Jangan banyak bergerak, tetaplah berbaring." Tegur Shean menahan bahu sang istri, ketika wanita itu hendak beranjak dari tidurnya.
Bukannya menjawab, Shean malah meraih tangan sang istri dan mencium punggung tangannya. "Kamu baik-baik saja, sayang..." Satu tangan Shean beralih meraba perut rata sang istri dan mengusapnya dengan gerakan lembut. "Dia juga baik-baik saja disini." Shean lantas mengecup perut yang masih rata itu.
Risha mengerutkan keningnya. Dia sama sekali tidak mengerti apa maksud ucapan Shean.
"Aku sangat mencintainya." Ucap Shean lagi sembari mencium perut sang istri cukup lama, Lalu berdiri mengecup kening Wanita itu.
"Shean... Maksudnya, apa sih?" Risha benar-benar dibuat tak mengerti.
"Sebentar lagi Archie akan punya adik."
"Mak, sudnya...?" Suara Risha tercekat, dia mulai mengerti Ucapan Shean namun masih tidak percaya akan hal itu. "A aku...Disini, ada...Baby?" Risha menempelkan telapak tangannya diperutnya yang kemungkinan besar telah tumbuh kehidupan baru. Dirinya akan menjadi seorang ibu?
"Ya sayang."
__ADS_1
Seketika Risha langsung meneteskan air matanya, bukan kesedihan melainkan kebahagiaan. Dia akan menjadi seorang ibu seutuhnya, dari pria yang dia cintai. Risha tak mampu berucap sepatah kata lagi, hanya ribuan rasa bersyukur untuk melukiskan kebahagiaannya kali ini.
Risha langsung bangun dan memeluk Ayah dari calon bayi yang dia kandung. Shean langsung membalas pelukan itu dengan dekapan hangatnya. Menyalurkan rasa bahagia dalam diri dan hati masing-masing.
"Terimakasih, terimakasih..." Shean mencium rambut Brunette yang tidak rapi itu.
"Aku akan menjaganya baik-baik. Mama sangat mencintaimu sayang." Lirih Risha seteleh mereka melepaskan pelukan, Risha duduk sembari mengelus perutnya.
"Aku juga sayang. Aku akan menjaganya dan menjaga Mamanya dengan sangat baik." Ujar Shean.
Shean duduk dikursi kembali, lalu mendekatkan wajahnya keperut rata sang istri. "Halo kamu yang didalam. Apa kamu dengar suara papa, sayang? Papa menyayangimu, sangat. Sehat-sehat didalam ya, papa menunggumu. Jangan membuat mama kerepotan, Oke."
"Awww..." Shean meringis lantas mendongakkan kepalanya menatap sang istri yang memanyunkan bibirnya.
"Dia tidak membuatku kerepotan. Jangan mengatakan seperti itu. Nanti dia kesal didalam karena berfikir aku tidak mau direpotkan!" Protes Risha tidak terima. Belum lahir saja anaknya sudah dikasih peringatan. Yaampuunnn...
"Oke-oke, Papa minta maaf. Kamu boleh merepotkan mama." Shean kembali berbisik diperut Risha.
"Ya jangan juga dong Shean. Masak kamu mengajar anakmu untuk merepotkanku?" Risha kembali protes yang membuat Shean bingung sendiri.
"Aku ini harus bagaimana? Kok serba salah? Memang ya, dasarnya, Wanita itu serba benar."
Risha tertawa kecil mendengarnya. Begitu lucu ketika suaminya itu kebingungan. Raut wajahnya membuatnya gemas.
"Oh ya, bagaimana kalau kita Ngecek keadaannya. Aku ingin melihat seperti apa dia." Tawar Shean dengan antusias.
"Boleh. Ayo..." Risha tak kalah antusias ingin melihat rupa calon jabang bayinya, walaupun masih berupa gumpalan darah mungkin.
Bersambung...
__ADS_1