
Beberapa bulan kemudian.
Risha nampak happy setelah dari rumah sakit, menjenguk calon buah hatinya. Perutnya sudah membuncit, dia juga mudah lelah. Dia dan Shean sempat heran, usia kehamilannya baru memasuki 7 bulan, mengapa perutnya nampak hamil 8 bulan.
Tapi ternyata ada penyebabnya. Itu karena calon anaknya takut untuk datang kedunia sendirian, makanya dia mengajak satu teman.
"Sayang. Apa kita perlu kembali kerumah sakit?" Tanya Shean tiba-tiba.
Risha yang duduk manis dibagian penumpang depan sambil mengusap perutnya dan menatap foto hasil USG calon anak-anaknya pun nampak bingung.
"Kenapa?"
"Aku perhatikan dari tadi kamu senyam senyum sendiri. Aku fikir ada yang salah." Tanya Shean.
"Isshh, kamu itu." Risha kembali tersenyum Wanita itu mendekatkan dirinya kepada Shean, lalu melingkarkan tangannya dibahu Shean. "Aku bahagia sekali, sampai aku tidak bisa mengatakan apa-apa." Ucap Risha.
Shean mengusap rambut Istrinya, tangan yang satu memegang kendali setir mobil. "Apalagi aku. Terimakasih, Terimakasih sudah mencintaiku dan memberikanku hadiah yang tidak pernah aku bayangkan ini." Ucap Shean lalu mencium kening Wanita hamil itu.
"Aku berterimakasih kepada Archie, karena dia yang dulu memilihku sebagai ibu yasoda-nya."
"Dan terimakasih karena kamu bersedia. dan terimakasih karena kamu sudah mencintai Kami."
Keduanya pulang dengan hati bahagia, bukan hanya mereka, namun kebahagiaan itu pun sudah menyebar keluarga keduanya.
*
*
*
*
*
"Kak, kenapa Baby Twins hanya mirip padamu dan kak Shean? Kenapa tidak ada wajahku diwajah mereka?" Deyna mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Gadis itu berharap salah satu keponakan twins nya ada yang menuruni wajah cantiknya, namun sayangnya sama sekali tak ada. Keduanya perempuan, yang satu lebih ke Shean, dan satunya ke Risha. Tapi kebanyakan ke Shean, hanya mata dan bibirnya saja yang mirip Risha.
Semua orang diruang rawat Risha langsung tertawa mendengar keluhan Deyna. Shean menonyor kepala adiknya itu.
"Kak, kenapa kau menonyor kepalaku?" Ketus Deyna kesal sambil mengusap kepalanya.
"Kau itu bodoh atau gimana? Mereka itu anak-anakku. Jelas harus mirip Aku. Kalau mirip denganmu aku malah akan memusuhi mereka."
"Kau itu menyebalkan sekali, kak! Aku sudah titip wajahku ke kak Risha, bahkan setiap malam aku mengirim fotoku padanya, supaya kak Risha selalu mengingatku. Tapi kenapa hanya wajahmu yang dicetak?"
"Kalian berdua benar-benar seperti kucing dan tikus." Sahut Vena geleng-geleng kepala.
Ya, hubungan Vena dan Risha juga Shean sudah membaik. Vena sudah menganggap Risha sebagai kakak iparnya, menerima Risha dengan tulus. Bahkan setiap hari, gadis itu selalu datang bersama deyna untuk membantu menjaga kakak iparnya dan Archie ketika Shean sedang bekerja.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" Tanya Nyonya nita. Risha melahirkan secara Operasi, dua hari sebelum jadwal Risha dioperasi, Nyonya nita datang ke Victoria. Dia tahu karena Shean dan Risha yang memberitahunya. Apalagi Risha yang bersikukuh sebelum Operasi SC minta ditemani ibunya.
"Sudah membaik. Hanya sedikit sakit dan ngilu." Jawab Risha. Tadi memang tidak sakit, tapi semakin lama ia baru merasakan sakit.
"Tidak apa-apa. Dulu ibu melahirkan adikmu juga SC. Memang sakitnya SC itu setelah. Tapi sakit itu hilang saat melihat Wajah yang mungil itu nanti." Sahut Nyonya Nita.
Risha mengangguk. Dia sangat bahagia, rasa sakitnya itu memang menghilang saat menyaksikan seluruh keluarganya kumpul dengan wajah bahagia menyambut kedatangan Baby Twins. Sayang sekali, yang tidak hadir hanya papanya, papa Arga sempat datang kemarin sebelum operasi, Beserta Istri dan anaknya. Mereka meminta maaf dan berpamitan untuk pergi ke Indonesia. Risha memang tidak suka dengan ibu sambungnya, tapi biar bagaimanapun, semuanya telah terjadi.
Ibunya pun sudah ikhlas, mungkin ini takdir. Dia harus menerima kalau Ayah dan ibunya telah berpisah. Begitu pula angga. Risha berusaha menerima Nyonya Yuni sebagai mama sambungnya, dan Lisa sebagai adiknya. Dan semua itu dia lakukan karena permintaan Nyonya Nita, ibu kandungnya.
Dan setelah semua ini, rasanya hidupnya sudah tenang. Bayangan ayahnya yang meninggalkannya pun tak lagi ada, hidupnya terasa damai.
"Kak, siapa nama Baby twinsnya?" Sicerewet Deyna kembali bertanya.
"Oh iya, siapa nama cucu-cucu cantikku ini?" Tanya papa gibran yang tengah menggendong satu cucu perempuannya. Sedangkan yang satunya digendong Nyonya Nita.
Shean menatap Risha begitu pula Risha. "Yang digendong papa yang lahir duluan, namanya Shera Airish Winara." Jawab Risha.
"Dan yang digendong papa namanya Sheza Airish Winara." Sahut Shean.
Semuanya tersenyum mendengar nama yang indah itu.
__ADS_1
"Shera dan Sheza. nama yang cantik. Selamat bos, kau pemenangnya. Selamat menjadi anak laki-laki satu-satunya." Ucap Angga kepada Archie yang duduk disofa menikmati es krimnya. Semua orang yang mendengar pun tertawa, ya benar, Archie sekarang anak laki-laki satu-satunya. Kesayangan Mama Risha dan papa Shean tentunya.
"Kak kemarin aku memberimu inspirasi nama--..."
"Dey, diam. Kau itu cerewet sekali!" Sahut vena cepat memotong ucapan adiknya yang terus saja berkomentar ini dan itu.
Deyna melipat tangannya didada mengerucutkan bibirnya. "Ah, kau dan kak Shean memang sama saja. Menyebalkan!"
Malam harinya pun tiba. Semua keluarga Shean dan Risha pulang kerumah, yang berjaga dirumah sakit hanyalah Shean dan diluar ada beberapa bodyguard yang berjaga. Shean hanya antispasi saja, karena dia takut masa lalu terulang kembali.
Sebenarnya Ibu Nita ingin menemani Risha, namun Risha menolak dan menyuruhnya pulang kerumahnya bersama deyna dan Vena, juga orang tua Shean.
"kau mau sesuatu sayang?" Tanya Shean.
"Tidak ada. Shera dan Sheza anteng kan?" Tanya Risha menatap dua box bayi.
"Tentu saja. Mereka ditemani papa dan mama nya." Shean tersenyum.
Risha hendak bergerak mencari posisi nyaman, namun ia meringis saat merasakan perut bawahnya sakit.
"Jangan banyak bergerak sayang. Sakit ya?" Tanya Shean khawatir sekaligus kasihan melihat wajah cantik alami tanpa polesan apapun itu nampak menahan sakit. Dengan wajah polos seperti itu, Risha malah semakin cantik, bibirnya pink alami dengan rambut yang tergerai namun tidak rapi.
"Aku tidak menyangka ternyata sesakit ini." Risha masih meringis sambil menatap Shean dalam. Tatapan matanya seolah mengisyaratkan ini semua karena Shean.
Shean membuang nafasnya pelan. ia menyadari tatapan mata itu. Salah satu tangan risha diraih dan dicium. "Maafkan aku. Melihat perjuangan kamu hari ini, aku malah semakin mencintai kamu sayang." Ujar Shean pelan. ia sungguh tak tega, jika bisa ia ingin menggantikan dirinya.
"Jangan pernah berfikiran untuk meninggalkanku, apapun yang terjadi."
"Jadikan aku yang terakhir, dan berikan tanganmu hanya untukku. Aku akan menemanimu dalam segala kondisi apapun..." Pinta Risha.
"Aku akan memberikan seluruh jiwa dan ragaku untukmu. Bahkan satu hembusan nafasku, hanya tercipta untukmu."
"Gombal." Risha tersenyum. Shean berdiri lalu menghujami wajah cantik itu dengan ciuman bertubi-tubi. Hari-hari yang indah dengan bumbu-bumbu rumah tangga akan dilalui bersama.
...Ending!!!...
__ADS_1