Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Luka Lara Risha


__ADS_3

Pukul 10 malam, Shean terbangun dari tidurnya. Pria itu merasakan kepalanya yang sedikit pusing, dengan terpaksa ia pun beranjak duduk mengumpulkan kesadarannya. Matanya mengendar kesisinya diatas ranjang, kosong. ia menoleh jam Weker diatas nakas rupanya sudah malam.


Shean masih belum ingat betul apa yang terjadi padanya. Yang diingat hanya dirinya bertemu Andrew saat mengunjungi Bar pria itu, ia mabuk setelah itu.. Risha. Netra hitamnya menatap sampingnya, kosong. Nampak ranjang yang ia tempati berantakan, bahkan bantal dan guling pun sudah jatuh dibawah, pun juga dengan pakaiannya. Shean sadar, saat ini ia tak memakai apapun. Buru-buru pria itu turun dari ranjang mengambil celana kolor dan memakainya.


Saklar lampu sudah dihidupkan, ia pun dapat melihat Pintu kamar mandi tertutup dan suara gemericik air menyapa keindra pendengarannya. Ia menghela nafas lega, karena ternyata Istrinya sedang dikamar mandi. Shean berjalan kearah ranjang, mengambil gelas berisi air putih dan meneguknya sampai tandas. Rasa nyeri ditangan kirinya pun teras, bekas darah sudah mengering. Ia duduk dibibir ranjang mengecek ponselnya sembari menunggu Arisha keluar kamar mandi.


10 menit.


20 menit.


25 menit.


30 menit.


Shean mulai gusar, ia melirik kearah pintu kamar mandi yang masih tertutup, bahkan suara air mengalir masih terdengar. "Apa yang dilakukannya sampai selama ini?" Gumam Shean menautkan kedua alisnya. Ia menghela nafas, dengan tak sabar pria itu berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.


Tok Tok


Dua ketukan, tak ada jawaban.


"Ar, kamu belum selesai?" Ucap Shean lumayan keras seraya mengetuk pintu. Namun tak ada jawaban sama sekali.


Shean pun kembali mengetuk lagi dan memanggil Wanita didalamnya dengan suara meninggi lantaran kesal karena tak ada jawaban apapun yang keluar.


Tanpa sengaja tangannya menyentuh daun pintu dan menekannya kebawah. Pintu terbuka, rupanya Risha tak mengunci pintu. Shean mendengus kesal, kenapa tidak dari tadi ia membuka kalau pintu ternyata tidak dikunci.


Tanpa disuruh masuk pun, Shean langsung masuk kedalam mengecek apa yang dilakukan Wanitanya didalam kamar mandi sampai bermenit-menit. Entah dari kapan. Pandangan pertama yang dilihat dibathtub, kosong. Matanya pun langsung tertuju ke ruang kaca dimana Suara air shower terdengar. Samar-samar matanya melihat Wanita duduk dibawah guyuran air, siapa lagi kalau bukan Istrinya. Seteleh mencuci tangannya yang terasa nyut-nyutan, ia pun mendekat ke dinding kaca. Matanya membulat menyempurnakan penglihatannya pada apa yang dilihat.


"Sayang.. Kau belum selesai?"


Dua ketukan dipintu kaca, tak ada jawaban.Bahkan Wanita itu tak beranjak atau menoleh sedikitpun. Perasaan Shean jadi tidak enak. Ia pun menggeser pintu kaca, namun Risha tak menyadarinya. Pandangan yang Shean lihat, tubuh wanita dibawah air sudah pucat, Buru-buru Shean mematikan Keran Shower dan menundukkan tubuhnya mengecek.


"Sayang..." Shean memegang pundak Risha, namun wanita itu tak bergeming. Dan saat itulah Shean baru sadar, bahwa Risha ternyata Pingsan entah sejak kapan. Pria itu sangat cemas dan khawatir, dengan cepat ia pun menggendong Istrinya dan membawanya keluar kamar mandi. Tubuh polos tanpa sehelai benang yang sudah berubah pucat itu pun dibaringkan diatas ranjang setelah tubuhnya dikeringkan dengan handuk yang sempat shean ambil. Tubuh polos itu langsung didekap dengan selimut hangat mengurangi rasa dingin yang menjalar diseluruh tubuh Risha.

__ADS_1


"Ar...Sayang, buka matamu.." Lirih Shean seraya menggosokkan telapak tangannya lalu menggengam kedua tangan pucat risha. Risha tetap tak membuka matanya, membuat Shean dilanda ketakutan luar biasa. Terlebih seteleh netra hitamnya menangkap banyak bekas ****** dileher bahkan sampai diperut, Pria itu sadar apa yang telah ia lakukan.


"Sayang...Ar, kamu dengar aku?"


Tak ada jawaban. Shean pun beranjak berdiri masuk kekamar mandi mengambil ember kecil lalu mengisinya dengan air hangat dan handuk kecil.


"Bangunlah, ar..." Ucap Shean sembari memeras handuk kecil yang telah dicelupkan diair hangat lalu menempelkannya dikening Sang istri yang masih pucat. AC ruang kamar pun sudah dimatikannya. Segala cara sudah ia lalukan supaya Risha sadar, namun wanita itu tetap saja tak ada reaksi sadar, walau tubuhnya sudah lumayan hangat.


Shean yang lelah menunggu akhirnya merebahkan tubuhnya disamping Istrinya, lalu mendekap tubuh Ramping itu kedalam pelukannya.


.


.


.


Jam 2 dini hari, Risha merasakan tubuhnya sesak dan tak bisa bergerak. Kepalanya sedikit pusing, bukan sedikit namun lebih banyaknya. "Engh..." Ia pun menggeliat dan mendorong tubuh kekar yang memeluknya sangat erat. Shean yang sebenarnya tidak tidur pun langsung membuka matanya lalu mengecek disampingnya.


Shean duduk lalu membelai rambut Coklat itu. "Kepalamu pusing?"


Risha mengangguk Pelan. Namun beberapa saat ia tersadar sesuatu. "Elma.." Ia pun langsung mendorong tangan yang bersemayam dirambutnya, lalu beranjak duduk. Aneh, ia tadi Bugil kenapa sekarang Baju tidur berbahan baby Terry sudah melekat walau tanpa Dalam an, ia bisa merasakannya.


"Tidak usah sok khawatir padaku, shean." Ucap Risha pelan namun menekan. Ia duduk menahan kepalanya yang terasa ditusuk-tusuk.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" Tanya Shean dengan bodohnya.


Risha tersenyum sinis, ia tak berniat menjawab. Rasa pusing dikepala semakin menjadi ketika melihat kembali pria yang telah menoreh luka didalam hatinya. Risha muak dengan Shean.


Ia pun beranjak hendak turun dari ranjang namun tangannya ditahan oleh Shean.


"Kau mau kemana? Kau masih sakit."


"Lepass." Dengan mengumpulkan sisa tenaganya, risha mengibaskan tangan Shean dan berdiri melangkah pergi.

__ADS_1


Shean tak habis fikir dengan Istrinya. Kadang baik, kadang nurut, kadang juga membuatnya dongkol seperti sekarang ini. Dengan gerakan cepat ia pun turun dan berjalan cepat menarik tangan Risha.


"Kau sakit, ayo istirahat." Ucap Shean dengan tegas menarik tangan Risha.


"Lepas shean.." Risha Memberontak. Tubuhnya langsung terduduk dibibir ranjang. "Kau..." Tangannya menunjuk Shean dengan tatapan Amarah dan kecewa ia menatap Suaminya. "Tak usah sok perduli padaku."


"Kau itu kenapa sih?" Shean frustasi. Ia mengacak rambutnya sendiri. Bukan hanya risha yang menjadi masalahnya, namun.. Mantan Istrinya sekarang.


"Aku benci kamu!" Hardik Risha dengan suara kerasnya setelah ia berdiri didepan pria yang lebih tinggi darinya. "Kamu Menjijikkan Shean."


Shean mengepalkan tangannya, berani sekali Ada orang yang menghinanya. Terlebih itu hanya seorang wanita biasa. Yang bisa kapan saja Shean singkirkan.


"Apa salahku?" Tanya Shean menahan emosi.


Tanpa menjawab, risha langsung berlalu pergi. Namun lagi-lagi tangannya ditarik hingga ia kembali berdiri didepan Shean. "Kau jijik padaku? Tapi kau tidak jijik berdua'an dicafe bersama pria lain?" Kini Shean yang bertanya, ucapannya pelan namun begitu menusuk kedalam hati Risha.


Risha tak menyangka, lagi dan lagi Shean mengawasinya. Namun itu dulu, ia akan takut. Sekarang, Risha tak kan takut dan mengalah lagi. Sudah cukup semuanya, ia akan segera mengakhiri semuanya.


Bibir semanis madu itu menarik kedua sudutnya. "Tidak sama sekali?" Jawa Risha dengan lantangnya. Pusing dikepalanya lumayan berkurang lantaran berdebat dengan Shean.


Shean mengepalkan tangannya kuat, tangannya yang mencengangkan bahu Risha pun semakin mengerat membuat wanita itu meringis. "Kurang ajar. Kau itu tak ada bedanya dengan..."


"Dengan siapa? Dengan Elma?" Ucap Risha memotong ucapan Shean dan menatap Pria didepannya penuh kebencian. "Jangan bandingkan aku dengan Siapapun. Karena Aku dan mantan istrimu, jelas sangat berbeda!"


Shean terdiam dan menatap tak percaya atas pendengaran yang didengar. Ia menggeleng samar, dari mana Risha tau?


"Kenapa kau diam saja? Asal kau tau.." Risha memejamkan matanya sejenak "Aku lebih jijik, ditiduri oleh pria yang menyebut nama wanita lain saat Menikmati Tubuhku!"


Duarrrr...


Tubuh Shean tiba-tiba lemas mendengarnya. Ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Risha, tidak, dirinya tak mungkin melakukan itu. Tidak..


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2