
"Hati-hati dijalan..." Ucap Risha sembari melambaikan tangannya.
Shean mengangguk sebagai jawaban sebelum mobilnya meninggalkan pelataran Rumahnya.
Risha masih dihalaman rumah mengamati mobil Shean yang mulai hilang dari pandangannya.
"Ayo Archie. Kita masuk..." Tegur Risha mengejar putranya yang berlarian lantas membawanya masuk.
"Risha." Sapaan seseorang dari gerbang rumah, menghentikan langkahnya. Risha yang sedang menggendong Putranya itu sontak membalikkan tubuh.
Keningnya berkerut ketika melihat siapa yang datang. "Elma."
"Hai, apa kabar?" Sapa Elma setelah berdiri didepan Risha.
"Seperti yang kamu lihat." Jawab Risha berusaha memberikan senyum kakunya. Wajahnya masih menampakkan raut keterkejutan atas kedatangan tamu yang tak terduga.
"Hello, Archie. Masih ingat bibi kan?" Sapa Elma kepada Sikecil yang digandeng Risha. Archie membalas dengan dua kali anggukan lalu tersenyum. Senyumannya manis, mirip dengan Senyumnya Elma. Sedangkan Wajah Archie, 95% mirip Shean.
Keduanya kini duduk diruang tamu. Sedangkan Archie dibawa oleh baby sitternya untuk mandi. Risha seperti tak nyaman akan kedatangan Elma yang tiba-tiba. Wanita itu dari tadi terus saja menanyakan hal yang membuatnya capek untuk menjawab. Seperti sekarang ini, Elma memaksanya untuk bertemu Archie. Wanita itu bilang ingin mendekatkan diri kepada putranya, bahkan menekan kata Putra.
"kamu datang diwaktu yang salah, Elma. Jam segini, setelah mandi Archie langsung tidur." Jelas Risha.
"Tak apa. Aku hanya ingin melihatnya saja..." Kukuh Elma, Wanita itu memasang wajah memelas. Berharap Risha mau menuruti keinginannya.
Dalam hati sebenarnya Risha tidak tega, namun entah mengapa perasaannya seperti tidak enak. Namun kembali lagi, Wanita itu adalah ibu kandungnya Archie.
"Kau lihat, dia sedang tidur." Ucap Risha setelah mereka sampai dikamar Archie.
Elma mendekat kearah ranjang secara perlahan. Ingin rasanya menggapai tubuh mungil itu lalu mendekapnya kedalam pelukannya. Risha menahan tangannya ketika Elma hendak menjangkau tangan Archie.
"Jangan mengganggunya Elma. Putraku sedang tidur!"
__ADS_1
Elma memejamkan matanya sesaat kala mendengar Kata Putraku. Archie itu putra kandungnya, bukan Putranya Risha. Mengapa seolah dia ini orang asing yang tidak ada hubungan apa-apa dengan Archie.
"Sha, mungkin kamu lupa. Aku... ibu kandungnya, aku yang telah melahirkan Archie." Sahut Elma menundukkan kepalanya.
Bukannya merasa bersalah, Risha justru merasa tersinggung. Ucapan Elma menusuk hatinya. Menyadarkan bahwa dia bukanlah ibu kandungnya. Tapi kasih sayang yang dia berikan kepada Archie itu tulus, walau awalnya memang karena perjanjian, namun lambat laun rasa sayang itu tumbuh dengan sendirinya. Archie itu putranya.
Diluar rumah, mobil Shean baru saja berhenti. Pria itu langsung turun, karena ada beberapa berkas pekerjaan yang tertinggal dirumah. Sedikit tergesa - gesa Shea masuk kedalam rumah menuju lantai dua. Lebih tepatnya ruang kerjanya.
Pria itu melirik pintu kamarnya yang tertutup. Jam segini biasanya istri tercintanya sedang menemani putranya dikamar. Hanya mengingat itu saja sudah membuatnya Rindu, padahal belum ada satu jam mereka berpisah. Sebelum mengambil berkasnya diruang kerja, Shean berjalan kekamar sang putra terlebih dahulu.
Pintu kamar Archie tidak tertutup rapat, dan samar ia mendengar suara bising-bising didalam. Dia fikir itu Risha bersama baby sitter Ara, namun ternyata wanita yang sudah ia buang dalam ingatannya sedang bicara dengan Istrinya. Dan wanita itu beraninya menyinggung perasaan Istrinya.
"Elma!!" Tegur Shean berdiri dipertengahan pintu sembari menatap tajam mantan istrinya.
Elma dan Risha langsung menoleh, keduanya sama-sama terkejut akan kedatangan Shean. Elma sudah mewanti-wanti datang saat Pria itu kerja. Kenapa sekarang bisa pulang lagi.
"Shean..." Lirih Risha dan Elma bersamaan. Risha memalingkan wajahnya sebentar, menghapus sudut matanya yang tiba-tiba meneteskan air mata.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Sentak Shean setelah mereka diluar kamar Archie. Risha pun berjalan mengikutinya.
"Aku...Aku hanya ingin bertemu putra kita, Shean. Apa itu salah?" Jawab Elma dengan mata berkaca-kaca.
Shean menghela nafasnya. "Kamu sadar tidak, apa yang tadi kamu katakan kepada Wanita yang telah merawat Putraku?"
"Memang kenyataannya benar, kan. Aku ibu kandungnya Archie. Risha melarangku bertemu, seolah aku adalah orang asing yang baru kalian kenal!"
Shean dan Risha tak menyangka, Elma bisa mengucapkan kalimat seperti itu. Elma yang biasanya Lembut, baik, tidak seperti elma yang dikenal.
"Lebih baik kamu pergi dari sini!" Tegas Shean. Pria itu tidak mau, jika elma lama-lama disini malah menimbulkan masalah. ia kan lagi proses baikan dengan sang istri.
Elma merasa marah dengan ucapan Shean. Namun dengan terpaksa wanita itu pun pergi. "Maaf, mengganggu waktu kalian." Selepas bicara, elma melangkah menjauh menuruni anak tangga.
__ADS_1
Setelah kepergian Elma, Shean menatap wajah istrinya. "Maaf..." Ucap Shean dengan pelan. Baru saja ingin meraih tangan Istrinya, Risha sudah berlalu pergi.
Kamar adalah tempatnya meluapkan kesedihan. Risha duduk ditepian ranjang. Sedih bukan hanya karena ucapan elma. Namun mengingat, elma adalah ibu kandungnya Archie yang lebih berhak atas Archie. Jika Archie menginginkan Ibu kandungnya, ia bisa apa nanti.
Ceklek.
Shean membuka pintu kamar secara perlahan. Risha langsung mengusap air matanya yang lancang sudah keluar tanpa permisi.
"Kamu nangis?" Tanya Shean ketika menyadari mata Wanita didepannya berair. ia berjongkok tepat didepan Risha.
"Tidak." Risha menengadahkan kepalanya keatas, menatap langit - langit kamar sekejap. lantas kembali menunduk.
"Shean--..."
"Jangan dengarkan ucapan Elma. Bagiku, kamu adalah ibunya Archie. Tidak harus melahirkannya untuk mendapat gelar Archie putramu. Yang Putra kita tahu, kamu adalah ibunya..." Ucap Shean sembari menggenggam kedua tangan Risha. Menguatkan wanitanya.
"Sebagai seorang ibu, aku pun juga merasakan apa yang Elma rasakan. Aku berat berpisah dengan Archie. Tapi elma ibu kandungnya yang lebih berat meninggalkannya. Bila dulu dia punya alasan tersendiri yang tidak ingin membuatmu sedih, tapi kini dia sudah sehat dan menginginkan Putranya kembali!" sahut Risha sekuat tenaga menahan tangisnya. "Aku tidak bisa egois, Shean..." Imbuhnya.
"Sayang...jangan pikirkan orang lain. Dia saja tidak memikirkan kamu!"
"Archie butuh ibu kandungnya."
Shean berdiri beralih duduk disamping Risha, mengusap rambut Brunette yang tergerai indah dengan bebasnya. "Siapa bilang? saat Elma meninggalkan kami, Archie sudah tidak membutuhkannya. Kamu ingat, kamu yang datang dengan sendirinya. Archie seolah magnet yang menarikmu mendekat. Ini adalah takdir kita." Jelas Shean.
Risha terdiam, mencerna dengan baik kata-kata Shean. Namun tetap saja logikanya tidak sejalan.
"Shean aku..." Ucapannya terhenti. ia menarik nafas dalam-dalam sembari memejamkan matanya. lalu membuangnya perlahan. menarik tangannya dari genggaman Shean.
"Mari Bercerai saja. Kurasa aku tidak bisa memberikanmu kesempatan lagi!"
Bersambung...
__ADS_1