
"Tidak usah menyangkut pautkan dengan Putra kalian! Aku tau kemana arah tujuanmu. Kamu sengaja ingin menyadarkanku, bahwa Wanita itu yang berhak atas Archie, kan?"
Shean menyapu wajahnya berkali-kali. Jawaban Risha sama sekali tidaklah benar. Itulah salah satu alasannya tidak ingin mempertemukan Elma dengan Archie seperti ini. Risha jadi berprasangka bahwa dia sengaja membawa Elma kerumah.
"Risha, percayalah. aku terpaksa membawanya kesini!" Ucapan Shean bak suami yang begitu mencintai istrinya.
"Kamu membawanya tanpa izinku. Ralat, kamu tidak perlu izin siapa-siapa untuk membawa siapapun masuk kedalam rumah. Tapi setidaknya hargai aku yang masih berstatus istrimu. Dan dirumah yang masih aku pertahankan ini, kamu bermesraan dengannya. Kamu mau merendahkan harga diriku didepan Pelayan dirumahmu, Shean?" Risha mulai tak bisa menguasai amarahnya yang selalu dia tahan dari tadi.
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Elma datang kekantor, memohon padaku supaya bisa bertemu Archie."
"Jika dia mau bertemu putranya, itu tidak ada yang salah Shean. Yang salah cuma satu, alasan kamu tidak masuk akal! Buat apa dia kekantormu, sedangkan dia tau rumahmu?"
kali ini Shean diam. Ucapan Istrinya itu memang masuk akal. Terasa aneh Elma datang kekantor, sedangkan Wanita itu tau alamat rumahnya. Entah dia mengizinkan nya bertemu Archie atau tidak, tidak seharusnya Elma datang kekantor.
"Oke oke. Aku yang salah, Sorry. Tapi turunlah, Elma ingin bertemu denganmu." Ucap Shean akhirnya. Baru kali ini dia mengalah setelah hubungan keduanya diterjang badai yang begitu dahsyat. Dan itu semua penyebabnya dari dirinya sendiri.
"Aku capek. Lain kali saja!" Ketus Risha.
"..."
Sebelum Shean berkomentar, Risha sudah lebih dulu berbaring menarik selimut membungkus tubuhnya. Shean menghela nafas panjangnya, lalu beranjak berdiri keluar dari kamar tamu yang Istrinya tempati.
.
.
.
"Maaf, tapi lain kali saja kamu bertemu dengan Risha. Dia sedang istirahat." Ucap Shean setelah sampai diruang tamu.
Elma nampak kecewa, namun wanita itu memaklumi. Karena Risha itu ibu rumah tangga, juga mengasuh putranya.
"Kalau begitu aku titip salam untuknya. Terima kasih sudah mengizinkan ku bertemu Archie.."
__ADS_1
Shean hanya mengangguk lalu mengantar mantan istrinya keluar rumah. Archie sudah dibawa keatas oleh Baby sitter Ara.
"Lain kali, tolong jangan datang kekantor ku lagi!" Ucap Shean dengan tegas. Itu seperti sebuah perintah bukan Permintaan.
"Maaf. Aku tidak akan mengulanginya!" Jawab Elma dengan kepala menunduk. Itulah yang dulu menjadi kelemahan Shean terhadap wanita itu. Shean paling tidak bisa melihat Elma merasa bersalah, dan akhirnya dia yang akan mengalah.
Sekilas ingatan tentang masa lalu muncul dibayangannya, segera Shean membuangnya jauh-jauh.
"Ya, bagus kalau begitu!" Sahut Shean dengan nada ketus.
"Aku pamit, Bay..." Ucap Elma melambaikan tangannya sebelum masuk kedalam mobilnya.
Shean masih mengamati mobil yang perlahan hilang dari pandangannya, ditelan pagar yang menjulang tinggi sebagai pembatas antara rumahnya dengan jalan dan pelindung penghuni dirumahnya. Pria itu lalu masuk kedalam rumah.
Grebbbb
Tubuh Risha sedikit terpental keatas, Seperti baru saja terjadi gempa yang membuat ranjangnya seperti tertimpa benda berat dengan tiba-tiba. Risha langsung membuka selimutnya dengan raut terkejut sekaligus takut. Namun ketakutan itu lenyap, kala bukan gempa yang menghampirinya, ternyata Shean sudah berbaring disampingnya dengan senyum manisnya.
"Gempa dahsyat sayang!"
"Kenapa kau kesini? pergi, aku mau tidur!" Ketus Risha secara terang-terangan mengusir pria itu.
"Istriku tidur disini. mengapa aku harus tidur sendirian?" Ucap Shean dengan nada menggoda.
"Kamu yang keluar, atau aku yang keluar?"
"Tidak. Aku mau tidur bersama istriku!"
"Sheaann!!"
Risha benar-benar jengkel dengan sikap Shean yang berubah. Lebih mengerikan, dia takut terjerumus kemasa yang lama.
"Dosa jika seorang istri menolak tidur dengan suaminya."
__ADS_1
Yaampun, Risha ingin sekali menenggelamkan Pria itu ketelaga. Sikapnya yang berubah-ubah membuatnya pusing keliling. Kadang baik kadang juga membuatnya dongkol.
Shean itu seperti mempermainkannya dengan alasan yang naif. Perceraian mereka hanya tinggal waktu sebentar lagi, lalu mengapa Shean bersikap seperti ini?
"Kenapa dengan tanganmu?" Tanya Shean cemas kala melihat tangan Risha terdapat bekas goresan di satu bagian yang seperti cukup dalam. Namun sudah kering darahnya karena sudah diobati.
Risha buru-buru menarik tangannya kebelakang. Shean langsung bangkit dan meraih tangan Istrinya, namun Risha menolak. Dengan paksa Shean menariknya, tetap saja Risha keras kepala.
"Sini aku lihat!" Sentak Shean dengan suara yang sedikit meninggi.
Risha menggeleng keras. "Tidak perlu, tanganku tidak kenapa-kenapa. Keluarlah dari kamarku!" Tolaknya dengan nada yang tak kalah tinggi.
"Awww..." Risha memekik sakit saat Shean dengan sengaja menekan luka dibawah ibu jarinya, luka yang paling dalam dari goresan pecahan gelas itu. Dengan cepat Shean menarik tangan Risha kedepan, dan mendapati tangan itu sudah mengeluarkan darah.
"Kau bilang tidak apa-apa. Jika ini dibiarkan bisa infeksi!" Shean mulai marah. Ia meraih tisu diatas meja nakas dan menyeka darah yang keluar. Lalu menekan luka itu lagi, membuat Risha semakin meringis merasakan Nyeri dan sakit dan juga pria itu yang marah-marah membuat telinganya panas.
Air mata Risha langsung luruh karena menahan pedih akibat lukanya yang ditekan Shean. Sejujurnya luka dihatinya lebih perih dibandingkan luka ditangannya. Karena sikap Sheanlah yang membuatnya sakit, dia takut hatinya kembali luluh. Perlakuan Shean serentak membuatnya terlena, dan itulah sebabnya air matanya tak bisa ditahan.
"Sudah, cukup, Shean!!" Sentak Risha mengibaskan tangan pria itu, lalu menatap tajam Shean yang terkejut dengan penolakannya. "Tidak usah sok perduli padaku! Aku tidak suka! Harus kamu tahu, Sakit ini tidak sebanding dengan sakit yang kamu berikan, disini!" Risha menunjuk dadanya sendiri.
Shean membeku, tak mampu berucap sepatah kata. Karena ucapan Risha menamparnya keras-keras, membuatnya sadar, yang terluka dari pernikahan ini adalah Wanita didepannya. Wanita yang malang, karena dirinya Risha harus menanggung penderitaan. Andaikan dulu dia membantu dengan tulus tanpa adanya kontrak dan pernikahan, mungkin ini semua tak kan terjadi.
Archie masih ada cara lain untuk mengatasinya, Tapi Luka batin Risha karena dirinya, sulit untuk disembuhkan. Walaupun beribu maaf dia keluarkan, itu tidak cukup.
Harusnya dia bisa bersikap lebih dewasa dalam mengambil keputusan besar. Bukannya malah ingin mengembalikan masa lalu dan membuat batas waktu antara mereka. Sebagai Pria yang pernah gagal dalam berumah tangga, harusnya dia bisa menjaga semua ini, bukannya malah mau mengulangi hal yang sama.
"Ar..." Shean menyentuh tangan Istrinya dengan perasaan yang amat menyesal.
Tapi dengan cepat Risha menepisnya. Risha langsung beranjang berdiri dan melangkah untuk keluar kamar, namun langkahnya kalah cepat dengan Shean yang langsung menariknya dan mendekapnya, detik berikutnya tubuhnya terpental diatas ranjang bersamaan dengan dekapan pria itu yang tak terlepas.
"Jangan pergi..."
Bersambung...
__ADS_1