Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Penolakan Archie terhadap Elma


__ADS_3

Tap tap tap


Suara sepatu high heels setinggi 7 cm membentur lantai menimbulkan suara yang mengiringi setiap langkah Wanita cantik nan anggun itu. langkah kakinya seirama dengan gerakan tubuhnya yang bak model papan atas. Wanita yang terbalut dress selutut berwarna biru muda itu berjalan kearah bagian resepsionis.


"Selamat siang..." Sapa-nya kepada dua wanita yang bertugas.


"Selamat siang juga, Nona. Ada yang bisa kami bantu?"


"Saya ingin bertemu Tuan Elza, apakah bisa?" Tanya wanita itu.


"mohon tunggu sebentar, Nona. kami akan menghubungi Presedir terlebih dahulu."


Tak butuh waktu lama, salah satu resepsionis itu langsung membuat panggilan telepon.


"Nona, mari ikut saya. Presedir mengizinkan Anda untuk masuk!"


"Terimakasih." Sahut wanita itu. Lalu dia pun mengikuti kemana langkah Wanita didepannya itu menunjukkan jalan menuju lantai atas.


.


.


.


Shean menatap malas wanita yang duduk didepannya. Pandangannya teralih menghadap layar laptop yang kosong, mati karena pekerjaannya telah usai.


"Rupanya kau masih berani menginjakkan kakimu dikantorku." Ketus Shean mencibir.


Wanita yang duduk didepannya itu hanya tersenyum sekilas, tetap memasang wajah ramah. Walaupun sebenarnya ucapan Shean itu seperti sindiran yang mengembalikannya kepada masa lalu.


"Kau jangan salah paham, tuan Shean. Aku kesini hanya ingin meminta satu hal padamu?" Ucap Wanita itu.


"Saya tidak punya banyak waktu. Langsung to the poin saja!" Sahut Shean dengan suara ketusnya.


Elma, ya wanita itu adalah Elma Dinara. Elma membuang nafasnya perlahan, lalu menatap pria yang sudah menjadi mantan suaminya. Mantan, namun namanya masih terukir indah didalam hatinya sampai kini.


"Aku ingin...bertemu dengan Putraku!"


Shean tersenyum sinis, dengan pandangan mengejek ia menatap wanita yang masih sangat cantik itu.


"Putra mana yang kau bicarakan?"


"Shean...Aku ibunya Archie. Izinkan aku bertemu dengannya!" Sahut Elma penuh harapan.


2 tahun bukan waktu yang sebentar untuk ia harus menahan kerinduan pada putra kecilnya. Meski ia ingat, siapa yang telah memutuskan pergi, tapi waktu itu keadaannya berbeda. Elma sadar, jika statusnya dengan Shean sekarang sudah tidak seperti dulu, tapi Archie tetaplah putranya. Dan dia masih punya hak untuk Sikecil itu.


"Tidak bisa. Ketika aku membaca surat yang kamu tuliskan, saat itu bagiku ibunya Archie sudah tiada. Jadi, silahkan kamu pergi dari sini!" Shean berdiri lalu membenahi laptop-nya dan berkas-berkas pekerjaannya. Pria itu bersiap untuk pulang cepat kerumah.


Begitu pula Elma yang langsung ikut berdiri menghentikan langkah pria yang hendak keluar dari pintu.

__ADS_1


"Shean, aku mohon..." Ucap Elma dengan suara yang tercekat, tangannya berusaha menahan bahu pria yang bersikeras untuk pergi.


"Lepas!" Shean mencoba melepaskan tangan yang menahan sebelah bahunya.


"Aku tahu kamu punya hati Shean. Kamu tidak akan setega itu padaku. Aku mohon..." Air mata jatuh dipelupuk matanya, begitu besar kerinduannya kepada sang putra.


"Lepas, Elma!" Suara Shean sedikit meninggi. Jujur saja, hatinya mulai iba pada Wanita itu. Biar bagaimanapun, Elma pernah menjadi Wanita yang sangat Spesial didalam hatinya. Tapi itu dulu, dulu...Tidak untuk sekarang. Sebelum ada satu nama yang kini mengisi hatinya.


"Aku akan bersujud dikakimu jika itu bisa membuatmu mengizinkanku bertemu, Archie, Shean." Lirih Elma.


"Kau jangan gila!" Sentak Shean saat Elma sudah nekat, melepaskan tangannya lalu berjongkok dibawahnya.


"Elma, berdirilah!" Suara Shean terdengar geram. Ia berusaha mendorong wanita yang bersimpuh dibawahnya, namun Elma tetap saja keras kepala.


"Oke, baiklah. Aku akan mengizinkanmu bertemu Archie!" Ucapnya akhirnya. ia tidak setega itu membuat Wanita yang telah melahirkan Putranya bersimpuh padanya seperti itu.


Elma menengadahkan kepalanya menatap dengan samar wajah pria tampan yang berdiri didepannya. "Kamu serius?"


"Berdiri!"


...~**_**~...


"Biarkan aku yang memakaikannya baju." Pinta Risha. ia berdiri didepan kamar mandi dikamar Archie, menunggu Putra kecilnya mandi ditemani Baby sitter Ara.


"Em, anu nyaa...Biar saya saja." Tolak halus baby sitter ara, sebenarnya Kasihan kepada sang majikan, namun itu sudah perintah Tuan Shean. Shean masih membatasi ruang untuk Risha bertemu Archie.


Dengan berat hati, Risha akhirnya mengalah. Karena percuma juga memaksa orang yang sudah sangat patuh pada Shean. Risha memilih berbalik, melangkah meninggalkan kamar Putranya dengan kesedihan yang ia pendam.


Suara pesan masuk diponselnya. Sembari duduk ditepi ranjang, ia membuka ponselnya. Mengecek siapa yang mengirim pesan.


Risha mengernyitkan keningnya ketika nomer tak dikenal masuk keponselnya.


Hai, apa kabar?


Isi pesan tersebut.


Risha tak membalas. ia lebih memilih mengabaikannya. 2 menit, ponselnya kembali berdenting.


Melia^_^


Seketika kedua mata Risha menyipit. Wanita itu merasa tidak asing dengan panggilan itu.


"Jaxton?" Gumamnya sambil mengetik jawaban kepada pengirim pesan itu.


Hahaha. Ku kira kau sudah lupa denganku


Risha tersenyum lebar, lalu tangannya menekan tombol Call. Tak butuh waktu lama, panggilan telepon langsung terhubung.


"Halo" Sapaan dari sebrang teleponnya.

__ADS_1


"Jaxton.."


"Apa kabar, kawanku?"


"Dari mana kau mendapatkan kontakku?" Risha mengernyitkan keningnya.


"Jangankan kontakmu, aku tau semua tentangmu. kau lupa siapa aku?" Jawab Jaxton diiringi kekehan.


"Kau..."


"Sudah dulu ya, aku masih punya pekerjaan. Jangan lupa Save kontakku, supaya kau bisa memandang fotoku ketika kau merindukanku!" Sahut Jaxton dengan suara yang menggoda.


Risha seketika tertawa mendengar ucapan pria yang terlalu percaya diri itu.


"Kau terlalu PD, tuan muda. Yasudah, pergilah sana!"


"Baayyyy..."


"Baayyy..."


Panggilan terputus. Risha langsung menyimpan nomerJaxton kedalam kontaknya. Tak perduli jika dulu ia menolak ketika Jaxton meminta nomernya karena ia menjaga perasaan Shean. Kini baginya, semua yang sudah ia lakukan dimata Shean tak ada artinya.


Rasa haus mengundangnya untuk turun kedapur. Dengan malasnya, Risha turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya keluar kamar. Karena ternyata stok air minum didalam kamarnya sudah habis, jadi ia berniat mengisi stok.


Archie menggelengkan kepalanya keras saat ada wanita asing yang hendak menggendongnya. Pria kecil itu langsung membalik badan merangkul leher papanya dan menyembunyikan wajahnya didada Shean.


"Archie, kau tidak mau bibi gendong?" Tanya Elma pelan. Wajahnya menampakkan kesedihan ketika putra kandungnya menolaknya sendiri, padahal beberapa waktu yang lalu saat mereka bertemu, Archie terlihat akrab padanya.


"Aku tidak pernah mengajarinya untuk menolakmu, Elma. jadi, jangan salahkan aku jika putraku menolak!" Sahut Shean.


Elma membuang nafasnya perlahan. Tangannya terulur keatas membelai rambut Coklat putranya. Sebisa mungkin, Elma mengulas senyumnya. Disini tidak ada yang bisa disalahkan, jika pun yang harus disalahkan karena Putranya tak mengenalinya itu dirinya sendiri.


Salah satu pelayan dirumah besar itu datang dengan membawa minuman dan cemilan, lalu meletakkannya diatas meja. Atas permintaan Shean, pelayan itu langsung pergi setelah berpamitan.


Elma masih berusaha merayu putranya, barangkali Archie mau mencarikan hatinya setidaknya tersenyum padanya.


"Jangan memaksa putraku, jika ia tak mau?" Ketus Shean yang mulai kesal.


"Dia juga putraku, Shean." Sahut Elma pelan. sebisa mungkin menjaga kata didepan putra mereka.


Shean hanya mendengus. Yang dikatakan Elma memang benar adanya.


"Sini nak..." Elma meraih tubuh putranya dan menggendongnya paksa.


Rontaan Archie membuat Shean tambah kesal, ia langsung menahan tubuh kecil putranya. Bukannya menahan Archie, ia malah salah menarik tangan Elma. Sehingga wanita itu tertarik semakin merapat padanya. Refleks Elma langsung menatapnya begitu pula dengannya. Kontak mata keduanya menimbulkan getaran yang tak seharusnya masih terjadi.


Pyaaaarrrrrr


Suara teko dan gelas kaca yang pecah berserakan diatas lantai dianak tangga terakhir, mengagetkan dua manusia itu. Keduanya sontak langsung menoleh kearah sumber suara.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2