
Suara ketukan dipintu membangunkan Risha dari mimpi indahnya. Wanita itu membuka matanya secara perlahan, menyesuaikan cahaya mentari yang masuk melalui celah jendela kamarnya.
Tok tok tok
Ketukan kembali terdengar. Lama-lama Risha jadi kesal, karena orang dibalik pintu begitu tidak sabar.
Apakah dia tidak punya sopan santun? Dasar tidak sabaran! Risha mengumpat dalam hati untuk siapapun orang yang sudah mengganggu tidur nyenyaknya. Ia pun bergegas turun dari ranjang.
Handle pintu kamar ditarik, menampakkan Pria tampan dengan balutan jas abu-abu. Jangan lupa ditangannya membawa sebuket bunga Mawar Merah dengan wangi khas yang menyeruak keindra penciuman keduanya.
"Good Morning, My Love." Senyum manis seindah cuaca hari ini yang terang benderang ditampilkan. Risha sampai tidak percaya dengan apa yang dilakukan pria dihadapannya.
Ini bukan Shean, sungguh. Siapakah dia? Risha menatap dengan pandangan geli sekaligus ngeri.
"Shean?" Risha bertanya dengan nada tak percaya.
Shean menyerahkan sebuket bunga Mawar Merahnya kepada Wanita pujaan hatinya. Risha sungguh tak mengenal pria didepannya, sungguh aneh sekali. Shean bukan pria yang ia kenal seperti biasanya. Tapi dia tetap menerimanya dan menghirup aroma wangi dari bunga tersebut.
"Bagaimana tidurmu semalam, Nyenyak?" Tanya Shean dengan lembut. Dan hanya dibalas anggukan oleh Risha.
Ya, walaupun mereka tidur terpisah masih dikamar yang berbeda, Namun hatinya sedikit merasa lega. Setelah bersedia untuk memberikan satu kesempatan untuk Shean membuktikan ucapannya.
"Kamu yang masak semua ini?" Tanya Risha tak percaya. Satu persatu makanan diatas mejanya membuatnya meneguk ludah. Bukan karena lapar, namun tak menyangka. Seorang pengusaha Ternama Tuan Shean Elza Winara bisa memasak. Oh may God?
Shean tersenyum sembari menuangkan segelas air putih untuk sang Ratu. Risha menerimanya.
"Ini?" Bunga mawar merah itu Risha tunjuk.
"Mawar merah katanya melambangkan cinta. jadi aku membelinya untukmu. Kamu cantik walaupun bangun tidur!"
"Uhuk Uhuk..." Risha tersedak mendengar gombalan maut dari Shean. Sejak kapan pria itu pandai bicara seperti itu? Bukannya hatinya berbunga-bunga mendengar kata pujian dari sang Suami, Justru Risa bergidik ngeri.
"Pelan-pelan, Sayang." Dengan cekatan, Shean mengusap pelan punggung Risha.
Risha semakin merinding dengan perlakuan Pria itu. Telapak tangannya meraba kening pipi Shean, mengecek suhu tubuhnya. Normal! Tidak panas.
"Kamu sakit?" Tanya Risha.
__ADS_1
"Ya sayang. Aku sakit." Jawab Shean memasang wajah memelas.
Wajah Risha timbul khawatir. Suhu tubuh Shean normal. Apa jangan-jangan Suaminya mengidap penyakit dalam yang dari luar tidak nampak?
"Kamu sakit apa Shean? kenapa tidak mengatakannya padaku?" Tanya Risha dengan khawatir. Ia langsung menyentuh pipi Shean kembali, memeriksa lagi. Kali saja tadi tangannya salah periksa.
"Aku sakit karena memikirkan kamu. Aku Meriang sayang. Merindukan kasih sayangmu!"
"Awww" Shean meringis sakit saat bahunya dicubit Risha.
"Keterlaluan." Risha mengumpat kesal. Bisa-bisanya ia terpengaruh dengan ektingnya Shean. Ia menatap tajam pria itu.
"Keluar dari kamarku!"
Shean membelalakkan matanya. Acara sarapan pagi bersama belum dimulai. ia juga belum mesra-mesraan sekedar menyuapi wanitanya, begitu dengan Risha yang akan menyuapinya. Namun Istrinya malah sudah mau mengusirnya. Gagal dong impiannya dipagi ini.
"Sayang.. kita belum sarapan."
"Aku tidak perduli!"
"Lihatlah, aku sudah membuatkan lasagna kesukaanmu. Kamu mau mencobanya. Ayo buka mulutmu..." Shean mencoba mengalihkan pembicaraan sembari menyodorkan sepotong lasagna kemulut sang istri.
Noda makanan yang menempel disudut bibir Risha segera Shean usap menggunakan ibu jarinya. Uhh, sungguh manis perlakuannya. Jantung Risha berdebar, Risha merasakannya lagi.
Lasagna, dan beberapa makanan penutup telah Risha santap bersama Shean. Impian Shean terwujud.
Keduanya kini duduk disofa dengan perut kenyang sekaligus bahagia. Risha meraih kembali Buket bunga mawar merahnya.
"Kamu suka? Kalau kamu suka, setiap pagi aku bisa memberikannya!" Kata Shean.
Risha tersenyum. "Ya, aku menyukainya. Tapi jika kamu mau memberikan bunga lagi untukku, kurasa tidak perlu. Karena aku tidak suka mawar merah!"
Mawar merah melambangkan cinta, dan cinta juga bisa terbagi. ia ingin ketulusan dan kesucian dalam hubungan. Cinta saja tidak cukup bila tidak ada ketulusan. Karena orang bisa menggunakan kata Cinta untuk melukai seseorang.
Shean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. ia mana tau soal itu. Karena dulu, Elma selalu memintanya membelikan mawar merah. Kesukaan Wanita itu. jadi ya Shean pikir, wanita memang menyukai Mawar merah.
"I-iya. Nanti aku akan menggantinya." Jawab Shean terbata.
__ADS_1
.
.
.
Pukul 10 pagi. Shean membawa Istri dan putranya menuju kekediaman orang tua Shean. Jika diingat, memang sudah lama mereka tidak berkunjung kesana.
Nyonya Rose sangat senang sekali ketika anak dan menantunya datang berkunjung. Terlebih Cucunya yang begitu dirindukan. Begitu pula Tuan Gibran dan Deyna.
Kelima orang itu kini duduk diruang tengah dengan Archie yang bermain sendiri diantara mereka.
"Gimana kabar kalian?" Tanya Nyonya Rose.
"Kami baik ma." Shean menjawab.
"Isshh...kenapa kalian baru kesini sih. Aku kan kangen sama Archie." Protes Deyna mengerucutkan bibirnya sambil mengajak keponakannya bermain bonekah pink kesayangannya.
"Kurasa aku tidak mengunci pagar rumah untukmu!" Jawaban Shean mendapatkan cubitan dipinggang. Shean menoleh kepada sang istri yang melotot padanya.
Deyna nyengir. gadis itu memang akhir-akhir ini sibuk dengan urusan pendidikan. Begitu pula Tuan Gibran dan Nyonya Rose yang bolak balik keluar negeri karena urusan pekerjaan.
"Bagaimana pekerjaanmu, Shean?"
"Semua baik pa. Bahkan aku tiga kali memenangkan tender dengan pesaing pengusaha ternama dari luar Australia."
Papa Gibran menepuk dua kali salah satu bahu putranya. "Papa bangga padamu. papa yakin kamu Pria sukses dan bertanggung jawab!" Tidak bisa diungkapkan dengan cara apapun untuk menyalurkan rasa bangga dan bahagia kepada putra satu-satunya tersebut. Shean anak yang tegas, kuat, mandiri, namun sikapnya dingin. Itulah yang membuat Tuan Gibran percaya dan yakin, Putranya itu mampu memegang kendali pada saat ia pensiun nanti.
Umurnya mulai bertambah, tidak lagi muda untuk mengejar harta dunia. Anak-anaknya sudah cukup dewasa untuk menggantinya. Diusia yang mulai renta menua itu, Tuan Gibran dan Nyonya Rose hanya ingin hidup damai tenang tentram dan nyaman. Bersama Anak mantu dan cucunya.
"Oh ya sayang. Mama boleh bertanya tidak?" Nyonya Rose menatap Risha. Pertanyaan sedikit ragu. Namun dalam hati ia antusias.
"Iya ma, ada apa?" Jawab Risha setelah menoleh kepada Suaminya.
"Kalian kan sudah menikah hampir dua tahun. Bulan madu juga sudah. Jadi, kapan kalian mau ngasih Archie adik?"
Bersambung...
__ADS_1
Tolong tinggalkan jejak kalian ya. Like komen subscribe itu tidak bayar kok. jadi jangan pelit-pelit kepada Othor amatir ini. Ditambah Vote Othor juga tambah happy...
Makasih untuk partisipasinya. semoga kita selalu sehat wal afiat, Aamin...