Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Naik motor


__ADS_3

Bruuukkk


Seorang wanita tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri didepan supermarket. Beberapa orang yang sedang disekitar area super market langsung berkerumun mendekat.


"Telfon Ambulans cepat!!" Teriak seorang wanita yang ikutan panik. Tak hanya wanita itu, namun yang lainnya pun tak kalah panik.


Jaxton yang hendak membeli minuman disuper market langsung merasa heran, mengapa banyak orang berkerumun dan terlihat panik.


"Tuan, sepertinya telah terjadi kecelakaan." Ucap Asisten pribadinya.


"Kurasa seperti itu. Kau disini saja, biar aku yang keluar." Jaxton pun langsung turun dari mobil dan berusaha menerobos kerumunan orang-orang yang menutupi jalan pintu masuk.


"Permisi, Nona. Bolehkah aku bertanya? Mengapa kalian semua berkumpul disini? Bukankah kalau mau belanja itu didalam?" Jaxton benar-benar heran. Dia fikir mungkin sedang ada sale diluar supermarket, makanya lebih ramai diluar dari pada didalam.


"Ada wanita pingsan." Jawab nona itu, lalu langsung pergi.


"Wanita pingsan?" Gumam Jaxton. Karena penasaran, Jaxton pun mendekat berusaha mendorong orang-orang yang mengerumuni.


Matanya terbuka lebar kala melihat siapa yang pingsan.


"Elma.." Gumam Jaxton dengan raut wajah yang ikutan panik. Pria itu menatap sekeliling dengan tajam. "Apa kalian hanya bisanya menonton? Wanita ini pingsan, kenapa kalian hanya diam saja?" Sentak Jaxton hingga membuat orang-orang itu takut.


Jax pun langsung menggendong Elma dan membawanya menuju mobilnya, dibantu sang asisten yang membukakan pintu.


"Cepat kerumah sakit sekarang!!"


15 menit, mereka sampai dididepan rumah sakit. Saat diperjalanan menuju rumah sakit, Jaxton sempat menelpon dokter yang menangani penyakit Elma kalau Elma pingsan, dan sekarang sedang diperjalanan. Sehingga kini Elma langsung dibawa menuju ruang penanganan.


Jaxton menunggu didepan ruang penanganan dengan gelisah. Pria itu duduk sembari terus menatap pintu ruangan yang tertutup.


Hingga 15 menit, pintu ruang penanganan terbuka. Jaxton bergegas menghampiri dokter yang baru keluar dari ruangan.


"Bagaimana kondisi Elma dok?" Tanya Jaxton penuh kekhawatiran.


"Beberapa waktu yang lalu Nyonya Elma konsultasi, dan saya sudah menyarankan untuk beberapa hari diopnam karena kondisinya tidak baik. Penyakitnya semakin parah, kami sarankan pasien harus mendapatkan penanganan lebih lanjut. Tapi Nyonya Elma selalu menolaknya."

__ADS_1


"Lakukan saja yang terbaik, dok. Nanti saya akan berusaha membujuknya supaya bersedia dirawat." Titah Jaxton.


"Tapi ada satu hal yang harus kami sampaikan. Kalau, keadaan pasien saat ini...Mengalami kritis, kondisinya sangat lemah. Sebagai dokter kami berusaha memberikan yang terbaik, tapi semua tergantung yang diatas."


"Maksudnya?"


Dokter itu nampak diam sejenak menarik nafasnya panjang, lalu membuangnya perlahan. "Umur tidak ada yang tau. Kami memprediksi usia pasien bisa saja tidak akan bertahan lama dengan banyaknya kasus yang sudah terjadi pada penderita penyakit jantung seperti Nyonya Elma. Tapi bisa juga Nyonya Elma akan mampu bertahan dengan bantuan obat-obatan."


Jaxton terdiam mendengarnya. Lidahnya seakan kelu mendengar penjelasan dokter tersebut. Hatinya pun ikut merasakan sakit atas penderitaan Elma. Beban penyakit yang dibawa sangat berbahaya untuk keselamatannya.


"Lakukan saja yang terbaik dok. Berikan pengobatan yang terbaik." Titah Jaxton kepada dokter yang menangani Elma.


"Kami akan berusaha melakukan yang terbaik. kalau begitu saya permisi." Ujar dokter lalu melangkah pergi.


Usai dokter pergi, Jaxton menatap ruangan perawatan Elma. Pria itu masuk melihat kondisi wanita yang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit.


"Bangunlah kawan. Kau mendengarku?" Lirihnya perlahan mengusap punggung tangan Elma yang sudah memucat.


Nasib Wanita itu sangatlah malang. Pertama terpaksa meninggalkan suami dan putranya yang masih bayi karena tidak ingin menyusahkan Shean dengan penyakitnya. Dan sekarang penyakitnya semakin parah. Dan dokter bahkan sudah memvonis usianya tidak akan lama lagi.


"Haiiissss...Kenapa kau terus saja mengikutiku?" Liyora menatap jengah pria yang tak ada lelahnya menguntitnya dalam beberapa hari ini.


Andrew tersenyum tanpa dosa. Menguntit gadis cantik didepannya sekarang adalah hobi baru. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di Indonesia, Andrew langsung terbang kembali ke Victoria. Karena dia khawatir dengan Elma, namun justru dipertemukan dengan gadis yang mengguncang hatinya. Membuatnya semakin penasaran untuk mendapatkan Liyora.


"Makan malam denganku. Maka aku tidak akan mengikutimu lagi." Ujar Andrew to the poin.


Ya memang seperti itu sikap Andrew yang blak-blakan jika tentang wanita. Seorang Casanova kelas atas yang sekarang mulai sedikit insyaf.


"Aku tidak bisa. Tolong jangan mengikutiku lagi!" Tolak Liyora dengan tegasnya.


Gadis itu lantas langsung melangkahkan kakinya kembali, namun lagi-lagi Andrew mengikutinya membuatnya semakin jengah.


Liyora menghentikan langkahnya lalu berbalik badan. "Apa maumu sebenarnya tuan?"


"Nomer ponselmu." Andrew tersenyum manis sembari menyodorkan ponsel miliknya.

__ADS_1


Dengan terpaksa Liyora mengambilnya. Lalu menekan angka-angka miliknya. "Dengar, aku sudah memberikan nomerku. Jangan ikuti aku lagi!"


"Kau tidak menipuku kan?" Tanya Andrew sembari menekan tombol call yang membuat Ponsel Liyora berbunyi.


"Thank you."


Muak lama-lama bersama dengan pria itu, Liyora akhirnya melenggang pergi dengan cepat. Andrew terus tersenyum mengamati gadis yang mulai hilang dari pandangannya. Memikirkan Liyora membuatnya kehilangan akal sehat sepertinya.


Dikediaman Shean, saat ini tengah terjadi keributan antara sepasang kekasih. Shean sudah bernafas lega ketika Risha berhenti meminta permintaan yang tidak ada hentinya. Mulai dari makanan dan hal yang aneh-aneh.


Dan kini, Risha meminta untuk jalan-jalan menggunakan Motor koleksi Shean yang sudah lama disimpan di garasi.


"No sayang. Aku akan membawamu jalan-jalan tapi naik mobil."


"Aku tidak mau. Ayolah, aku ingin naik motor itu." Sahut Risha dengan mimik wajah memelas.


Shean sangat menjaga dan mengutamakan keselamatan Risha, untuk itu dia tidak akan mengijinkan sang istri untuk pergi naik motor. Banyak angin dan debu jalanan. Itu tidak baik untuk kesehatannya.


"Sayang..." Panggil Shean pelan mengusap rambut Istrinya. Wanita itu duduk diujung ranjang dengan wajah yang ditekuk.


Risha menundukkan kepalanya mengusap perutnya yang masih rata. "Maafkan mommy ya, debay... Mommy tidak bisa menuruti keinginanmu kali ini. Semoga nanti kalau kamu sudah lahir tidak ileran, kalaupun kamu ileran... Salahkan saja Daddymu yang tidak menuruti mu." Ucap Risha dengan suara yang sedih.


Kalau sudah seperti ini, Shean harus bagaimana? Pria itu akhirnya bangkit dan berdiri didepan sang istri.


"Ya ya ya. Baiklah. Ayo, kita jalan-jalan menggunakan motor." Sahut Shean pasrah.


"Tidak usah. kamu tidak ikhlas. nanti malah kenapa-napa dijalan." tolak Risha.


"Tidak sayang. Aku ikhlas kok. Ayo... kamu siap-siap dan jangan lupa pakai jaket. Aku siapkan motornya dulu."


Dengan cepat Risha langsung berdiri. Wajahnya nampak berseri bahagia.


"Terimakasih. Aku mencintaimu!" Risha berjinjit mengecup pipi sang suami sebelum berjalan cepat menuju lemari pakaian.


Shean hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lantas berjalan keluar kamar menyiapkan permintaan sang istri yang sedang ngidam naik motor.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2