Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Tidak Bisa Egois


__ADS_3

"Apa yang kamu katakan?" Shean mengerutkan keningnya.


"Ya, mari Bercerai. Kamu bisa kembali ke elma." Lirih Risha dengan memalingkan wajahnya kearah lain. ia tak kuasa menatap wajah tampan yang pastinya akan marah mendengar kalimat yang ia lontarkan.


Shea berdiri, menyapu wajahnya dengan kasar menggunakan telapak tangan, lalu mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Ingin rasanya ia menghancurkan barang-barang yang ada dikamar, namun tidak bisa ia lakukan. Yang ada Risha akan ketakutan dan membencinya.


Shean mendekat, berjongkok kembali didepan istrinya, meraih tangan Risha. "Sayang.. Lihat aku." Tangannya terangkat keatas menyentuh pipi Risha, membuatnya menoleh kepadanya. ia dapat melihat, mata cerah yang membuatnya terpikat itu nampak kurang indah karena basah. "Apa kamu tidak sayang padaku? apa kamu tidak mencintaiku?" Tanya Shean bernada lirih.


Jelas Risha mendengarnya, hatinya tersayat saat Shean menanyakan Cintanya. Ini bukan masalah sayang atau tidak. Tapi masalah Archie. Ya, Archie.


Risha mengulurkan tangannya, meraba pipi sang suami. "Kamu tidak perlu bertanya, apa aku mencintaimu atau tidak. Karena kamu, pria pertama yang menjerumuskanku pada Cinta. Shean, lambat laun, Archie pasti akan tau siapa ibu kandungnya. Dan Elma, pasti akan menuntut hak asuh anak. Aku tidak punya apa-apa yang bisa digunakan untuk menahan Archie--..." Ucapan Risha terhenti.


"Kamu punya cinta yang elma tidak punya. kamu--"


"Aku tidak mau memisahkan seorang ibu dari putranya. Dan aku juga tidak mau memisahkan seorang putra dari ayahnya."


"Lalu maksud kamu, kamu mau bercerai setelah itu menyuruhku rujuk kewanita itu?" Suara Shean tak lagi tenang dan pelan. Namun tegas dan disertai kemarahan juga kekecewaan.


Risha mengangguk perlahan. Melihat jawaban istrinya, membuat dada Shean bergemuruh. Bisa-bisanya istrinya lebih mementingkan orang lain dari pada pernikahan mereka sendiri.


Shean berdiri, menarik tangan Risha dan membawa wanita itu menghimpit dinding. Risha memberontak namun tangannya dikunci oleh kedua tangan Shean. Pria itu menatapnya dengan tatapan tajam.


"Sampai kapanpun, tidak akan ada perceraian diantara kita! Kita akan selamanya bersama!" Shean menggertakkan gigi nya.


"aku punya pilihanku sendiri. Kau tidak bisa memaksaku. Bila aku tidak memberimu kesempatan, itu artinya sesuai kesepakatan. kamu bersedia bercerai!!" Sahut Risha tak mau kalah. ia masih berusaha memberontak. "Lepaskan Shean.." Risha menatapnya tajam.


Shean semakin mengeratkan cengkraman tangannya yang membuat Risha merasakan panas dipergelangan tangannya.


Risha sudah berusaha menarik tangannya yang rasanya ingin patah. Ini yang ia tidak suka dari Shean, Pria itu kasar. Selalu memakai kekerasan untuk membuatnya bungkam dan mengalah. Padahal Shean berjanji untuk tidak menyakitinya lagi. Air mata Risha semakin keluar dengan derasnya.


"Shean, kamu mau mematahkan tanganku? Kamu menyakitiku." Lirih Risha dengan suara terisak.


Shean tersadar dari apa yang ia lakukan. Ia menatap tangannya, lalu perlahan melonggarkan tangan Risha yang sudah memerah karena perbuatannya yang selalu saja sulit mengendalikan amarah.

__ADS_1


"Ahhhkkk..." Teriaknya frustasi merutuki perbuatannya yang kelewatan. Rambutnya diacak-acak kembali. Selalu saja ia menyakiti Wanita itu.


Yang tadinya rapi dengan setelan jas kerja lengkap. Kini bahkan jasnya sudah entah kemana, dasinya pun sudah tak menggantung dilehernya. penampilannya acak-acakan.


Pertahanan Risha runtuh, perlahan tubuhnya merosot kebawah, ia menangis sembari mendekap kakinya yang ditekuk menyamai dadanya.


Shean mengepalkan tangannya dengan kuat lalu meninju dinding berulang kali. Tak perduli jari-jari tangannya memar. Dia pun menarik bahu sang istri dengan paksa, lalu memeluknya sembari merutuki perbuatannya.


kecupan berkali-kali ia daratkan dirambut Risha. "Maaf, maafkan aku...Aku tidak bermaksud menyakitimu..." Lirihnya penuh permohonan dari hatinya yang paling dalam.


Risha semakin terisak didalam pelukan pria itu, namun tak ada niatan untuk membalas pelukannya. Juga tidak menolaknya.


"Aku mohon, jangan pikirkan orang lain. Jika Archie sudah besar nanti, Putra kita pasti akan mengerti. Sayang, kamu tidak kasihan padaku?" Shean melonggarkan pelukannya, memegang bahu kanan kiri Istrinya. Menatap wajah cantik itu. "Aku sangat mencintaimu."


Setetes air mata kembali jatuh dipipi Risha saat mendengar ungkapan rasa Cinta Shean. Harusnya dirinya bahagia. Tapi entahlah..


Shean menundukkan kepalanya, keningnya menempel dikening Risha. Wanita itu memejamkan matanya. "Jangan tinggalkan aku. Jangan membuatku kehilangan wanita yang aku cintai kedua kalinya. Sayang..."


Risha mengangguk perlahan. Lalu melingkarkan tangannya di punggung Shean. Tentu saja Shean tak akan melepaskan kesempatan ini. Dia berjanji akan mencintai Risha, tak akan menyakiti wanitanya.


Risha melonggarkan pelukannya lalu mundur sedikit. "Ini yang terakhir. Kamu harus selalu mengingatnya. Jika suatu saat nanti kamu mengingkarinya lagi, Aku janji akan pergi saat itu juga. Aku tidak akan mendengarkan apa yang kamu katakan lagi." Ancam Risha.


"Jika aku mengingkarinya, maka aku yang akan menjauh darimu. Terkecuali kalau kamu yang memintaku!" Sahut Shean.


Risha menarik nafasnya perlahan dan membuangnya.


"Minggir, aku mau kedapur!" Risha mengibaskan tangan pria itu yang masih menahan tangannya.


"Buat apa kedapur? Ada banyak pelayan dirumah ini. Apa gunanya mereka kalau sang Nyonya turun tangan?" Shean mengerutkan keningnya.


"Tanganku capek kalau aku tidak bergerak. Dan lebih baik kamu kekantor saja. Bukankah kamu harus kerja, kenapa pulang lagi?"


"Ada berkas yang tertinggal. Dann.. Itu tidak penting untuk sekarang. Karena, ada yang lebih penting dari urusan pekerjaan." Shean menyeringai, menatap sang istri dengan tatapan menggoda.

__ADS_1


"Apa?" Risha tak mengerti.


"Kerja keras yang menguras tenaga lalu berkeringat berdua." Tanpa aba-aba Shean langsung mendorong Risha mundur hingga wanita itu ambruk diatas ranjang dengan raut terkejut.


Risha mengumpat berkali-kali. Namun Shean hanya terkekeh pelan seakan tak mendengar umpatan Wanita dibawahnya. "Cukup nikmati jangan protes." Shean tertawa pelan.


"Siksaan disiang hari!" Gumam Risha dengan kesal yang membuat Shean semakin tak tahan dengan tingkah lucu istrinya. Dia langsung melahap habis rasa madu yang berasal dari sang istri.


*


*


*


Sore harinya, Risha baru bangun. Tubuhnya terasa pegal linu, karena Shean baru berhenti setelah membolak balikkannya seperti ikan bakar. Dia melihat jam dinding, sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore.


"Yaampuunnn...sudah mau malam." Risha bergegas bangun. ia belum mandi, dan Archie pasti seharian mencarinya. "Shean benar-benar keterlaluan."


Bahkan pria itu sudah tak ada disampingnya. Kenapa tak membangunkannya? Huh, Risha menggerutu dalam hati.


Selesai mandi ia langsung memakai setelan baju tidur panjang. Karena sudah beranjak malam, Risha tak memakai riasan apapun diwajahnya. Rambutnya sudah langsung dikeringkan menggunakan hair dryer.


"Kamu sudah bangun?" Tanya Shean yang tiba-tiba sudah muncul diambang pintu kamar.


"Kenapa tidak membangunkanku?" Risha mengerucutkan bibirnya. Wanita itu duduk dikursi meja rias.


Bukannya menjawab, Shean malah berjalan mendekat, lalu memeluk sang istri dari belakang. Satu kecupan ia daratkan dipipi Risha. "Kamu terlihat lelah. Maka dari itu aku tidak tega membangunkanmu." Shean mengedipkan sebelah matanya menatap dirinya di cermin. Ah lebih tepatnya menatap sang istri yang sudah bersemu merah dipipi.


"Dasar, nyebelin!"


Shean tertawa pelan. Lalu ia teringat sesuatu. Pria itu mendekatkan bibirnya ketelinga sang istri namun matanya tetap kekaca rias.


"Jangan mengkonsumsi pil itu lagi."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2