Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Feeling seorang Ayah


__ADS_3

"Shean...lebih cepat sedikit. kenapa jalanmu lambat sekali?" Teriak Risha dengan kesal.


Motor yang mereka kendarai memang berjalan pelan, bahkan kecepatannya hanya 25km. Bagaimana Risha tidak sebel? Shean sangat hati-hati ketika mengendarai. Terlebih sekarang membawa istri dan calon buah hatinya.


"Sayang, nikmati saja. Cepat atau pelan itu sama saja. sama-sama naik motor kan." Teriak Shean menyahut. Tangan kirinya menarik tangan Risha supaya semakin erat memeluknya. Takut wanita hamil itu jatuh, juga supaya tak kalah mesra dikalangan para pemuda pemudi yang sedang menikmati hari munggu.


"Aku tidak mau tau. Cepatlah tambah kecepatannya!" Teriak Risha tambah kesal lantas menarik tangannya memundurkan tubuhnya sedikit menjaga jarak.


"Hei, apa yang kau lakukan? Nanti kamu jatuh?"


"Biarin!"


"Oke oke. Aku akan menurutimu. Tapi jangan melepaskan pelukannya. Nanti kau jatuh, sayang."


Risha tersenyum lalu kembali melingkarkan tangannya. Dan benar saja, Shean menambah kecepatannya. Risha bisa menikmati semilir angin ditengah ramainya jalan raya Victoria disore hari.


"Bagaimana, sudah puas?" Tanya Shean setelah mereka duduk menepi ditaman.


Risha mengangguk antusias sembari mengukir senyum manisnya. Tangannya melingkar bahu Shean dan bersandar dibahunya.


"Terimakasih. Aku bahagia sekali."


"Your happiness is my priority." Sahut Shean lembut dengan mengusap rambut Brunette sang istri.


Pria itu lalu mendorong pelan tubuh Risha lalu menundukkan tubuhnya, wajahnya tepat berada didepan perut Risha yang masih rata.


"Hay, Baby Girl. Apa kabar, Baby?" Tanya Shean sembari mengusap perut itu dan mendekatkan wajahnya.


Risha mengerutkan keningnya ketika Shean mengucapkan 'Baby Girl'. "Kenapa kau seyakin itu kalau dia Girl? Gimana kalau ternyata Boy?" Protes Risha.


Shean menengadah menatap wajah yang nampak semakin cantik berseri itu. "Dia baby girl. Aku sangat yakin. Karena kamu sangat cantik." Sahut Shean tersenyum.

__ADS_1


Risha mencibirkan bibirnya. "Gombal. Dari mana kamu tau kalau bumil cantik anaknya bakal perempuan?" Risha menaikkan sebelah alisnya.


"Feeling seorang Ayah."


Risha tertawa mendengarnya. "Kamu ada-ada aja."


Shean sangat bahagia ketika bisa melihat wajah cantik itu tertawa lepas. Kebahagiaan yang sempat tertunda kini tercapai sudah. Pria itu duduk kembali lalu mendaratkan kecupan lembut dikening sang istri.


"Aku akan menjaga kalian selalu. Berjanjilah untuk selalu berada disisiku. Jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku." Pinta Shean tulus, kedua tangan Risha digenggam.


"Iya, aku janji. Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi. Tetaplah menjadi Shean yang seperti ini." Sahut Risha, matanya mengembun menjadi saksi betapa bahagianya dia sekarang.


Shean langsung menarik wanita hamil itu kedalam pelukannya. Shean tak menyangka, dia yang dulu menolak wanita itu, justru sekarang keadaan berbalik. Dirinya tak bisa kehilangan wanita itu. Setiap hembusan nafasnya hanya untuk Wanita dipelukannya. Hidupnya akan hampa bila wanita itu tak datang sebagai ibu yasoda untuk Archie.


Risha melepaskan pelukannya. "Em, gimana kalau dia laki-laki?" Tanya Risha dengan nada khawatir. Wanita itu takut jika Shean menginginkan anak perempuan, dan anak yang dikandung laki-laki.


"Tidak masalah. Nanti adiknya pasti perempuan." Sahut Shean enteng.


"Tapi nanti kalau boy lagi gimana?"


Risha langsung memberengut kesal. "Enak aja. Kamu fikir aku kucing?" Protesnya tidak terima.


"Aku bercanda sayang. Mau dia Boy atau Girl tidak masalah buatku. Yang penting kalian berdua sehat dan selamat." Ucap Shean tulus. Tangannya bergeraklah keatas merapikan anak rambut Risha yang berantakan karena terpaan angin.


Risha menangkup kedua pipi sang suami. "Utututu...Lomanticnyaaaa babang cuami..." Ucap Risha mengecilkan suaranya hingga terdengar cadel.


Bagaimana Shean tak gemas dengan tingkah bumil satu ini. Hampir saja Shean ingin mendaratkan kecupan di bibir manis itu sebelum Risha menahannya.


"Ini ditempat umum, babang suami. Jangan aneh-aneh." Risha tersenyum, tangannya masih menahan pipi Shean supaya tidak mendekatinya.


"Baiklah, kalau begitu aku ku tagih nanti malam. Sekarang sebaiknya kita pulang. Sudah mau gelap."

__ADS_1


"Ya baiklah." Risha berdiri dengan dituntun Shean, lalu keduanya sama-sama jalan menuju motor yang tadi diparkiran didepan taman.


...*****...


"Aku baik-baik saja. kenapa harus disini?" Protes elma.


"Kau tidak baik-baik saja. Menurutlah, aku akan menjagamu."


Elma menghembuskan nafasnya kasar. Wanita itu sudah sadar, tapi langsung minta pulang ketika tau tempat yang dia tiduri. Baginya dia sehat dan rumah adalah tempat terbaik.


"Aku mau pulang drew. Kenapa kau memaksaku sih?"


"Menurutlah, supaya kondisimu membaik. Aku sangat menghawatirkanmu. Kenapa kau mengganti nomermu?" Kesal Andrew.


Saat dia pergi ke Indonesia untuk perjalanan bisnis, Nomer ponsel Elma malah tidak aktif. bagaimana dia tidak khawatir dengan keadaannya. Dan bagaimana dia bisa tau kalau wanita itu dirawat di rumah sakit, karena dokter yang menangani Elma memberitahunya.


Dokter kim dan Andrew sering bertukar pesan, namun hanya membahas seputar kondisi Elma. Apa yang baik dan apa yang tidak baik untuk Elma. Dokter juga memberitahukan penyakit Wanita itu yang tambah parah, namun pasien tidak mau dirawat. Disaat seperti ini, yang dibutuhkan Elma adalah dukungan dari orang-orang yang dia sayang.


"Dre, aku baik-baik saja. Tenanglah, kau tak perlu khawatir." ujar Elma berusaha tersenyum dan baik-baik saja. Walau sebenarnya dia tengah menahan rasa sakit yang terus hadir setiap saat. Menggerogoti tubuhnya, dan nyawanya bisa saja diambil saat ini juga.


"Menurutlah, aku akan selalu ada untukmu." Ucap Andrew dengan tulus. Memang itu janjinya dulu, dia yang membantu Elma kabur dari Shean. Maka kini Pria itu akan berusaha menggantikan sosok Shean untuk menjaganya.


Elma mengangguk perlahan. "Terimakasih. Aku juga minta maaf, karena aku, persahabatanmu dengan Shean kini renggang."


Ya, usai Shean tau Andrew ikut dalam misi Elma saat melarikan diri, pria itu kecewa kepada sahabatnya. Shean masih menyimpan amarah terhadapnya, pria itu bahkan masih memblokir nomer kontak Andrew.


"Aku tidak menyalahkanmu. Lambat laun Shean pasti memaafkanku. Sudahlah, janganlah dibahas tentang itu."


"Apa Shean bahagia?" Tanya Elma pelan.


Andrew sekilas tersenyum, tangannya mengusap punggung tangan Elma. "Shean sudah bahagia bersama keluarganya. Jadi sekarang kau pun harus bangkit. Jadilah Elma yang ku kenal seperti dulu." Ucap Andrew.

__ADS_1


Elma perlahan mengangguk. Walau ia ragu untuk melawan rasa sakit dari penyakitnya. "Aku janji akan berusaha."


Bersambung...


__ADS_2