Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Hampa tanpa Archie


__ADS_3

"Kau sungguh tidak apa-apa?" Tanya Jaxton saat melihat wajah yang biasanya cantik dengan lapisan make up, kini pucat seperti tak ada aliran darah yang mengalir ditubuhnya.


Elma mengangguk perlahan. "Sure. Kau tenang saja, kawan." Jawab Elma menyunggingkan senyumnya. "Oh ya, gimana kerjaanmu kalau kau ke Victoria lagi?"


"Kau itu lupa atau bagaimana? Aku itu bos-nya. Jadi tak masalah aku kesana kemari." Sahut Jaxton membenarkan jaket kulitnya dengan sombong. Keduanya pun tertawa bersamaan.


"Oh May God, aku lupa. Sorry..." Elma mengantupkan kedua tangannya berpura-pura memasang wajah bersalah.


"Kau harus lebih mengenalku lagi, Nona Muda.." Goda Jaxton mengedipkan sebelah matanya. Membuat Elma tak kuasa menahan tawanya. Keduanya pun hanyut dalam obrolan manis dengan canda tawaan.


Dikantin rumah sakit, Andrew tersenyum bangga karena sudah berhasil membawa Gadis yang menabraknya untuk duduk berdua menikmati hidangan makan siang yang sudah dipesannya.


Lain dengan gadis itu, ia hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh Pria itu. Walau sebenarnya ia sedikit tidak suka, ada orang yang sok akrab padanya. Tapi biarlah, hiburan sejenak.


"Oh ya, siapa namamu?" Tanya Andrew yang baru sadar jika dia belum tau siapa nama gadis itu. Andrew pun mengulurkan tangan kanannya. "Andrew.."


Gadis itu menghela nafas pelan, lalu menerima jabatan tangan pria didepannya. Ia tersenyum manis, memperlihatkan dua cekungan dipipi kanan kirinya. Astaga, Andrew langsung tak berkedip melihatnya. Jiwa-jiwa playboy-nya mulai tumbuh kembali setelah 2 tahun insyaf. "Liyora..." Jawab Gadis yang ternyata namanya adalah Liyora.


"Nama yang cantik, cocok dengan orangnya." Puji Andrew tersenyum penuh arti.


"Thank you. Tapi aku tidak punya uang receh untuk membayar gombalan mu, Tuan muda." Sahut Liyora menarik tangannya dari genggaman tangan pria yang kurang ajar menahannya. Liyora tersenyum sinis.


Andrew menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dan menyunggingkan senyum kikuknya. Ia merasa tersinggung mendengar kalimat yang dilontarkan Gadis itu, rupanya gadis itu bukan gadis sembarangan. Entah mengapa, justru sikap ketus Gadis itu malah membuatnya tertarik dan tertantang.


"Oh ya, silahkan dimakan..." Ucap Andrew mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Liyora menaikkan kedua alisnya sekilas, lalu mulai menyantap makanan diatas mejanya. Juga dengan Andrew yang diam-diam mencuri-curi pandang gadis cantik yang baru dijumpainya.


.


.


.


Shean melempar jas kerja yang melekat ditubuhnya ke atas sofa didalam kamarnya. Kemudian mendaratkan tubuhnya duduk diatas sofa, melepas sepatu yang seharian ia pakai. Mata hitamnya mengendar keranjang tidur, dimana Risha yang duduk bersandar dikepala ranjang dengan berselonjor kaki. Ditangannya sebuah buku yang Shean yakini adalah buku Novel.


Wanita itu nampak acuh, tak melirik sedikit pun kearah suaminya yang baru pulang kerja. Tak seperti biasanya, jika Shean pulang. Risha akan langsung menyambutnya dengan senyum manis dan wajah bahagia. Lalu menceritakan keseharian Archie dan perkembangan Putranya. Tapi kini, Wanita itu enggan bicara. Risha benar-benar mati rasa.


Shean mendengus kesal mengingat perubahan sikap Risha yang ternyata lama-lama membuatnya gila. Wajahnya diusap-usap berkali-kali lalu berdiri masuk kedalam kamar mandi setelah melepas arloji menaruhnya diatas meja rias dan menggulung Lengan kemejanya sebatas siku.


Setelah pintu kamar mandi tertutup rapat, Buku yang Risha pegang merosot dari pegangan tangannya. Air matanya langsung tumpah kala itu juga. Namun sungguh Risha tak menyesalinya, bersikap acuh pada Shean. Karena itu demi kebaikan hatinya, agar tidak terlalu berharap pada Shean. Yang nyatanya, Hati pria itu bukan dan tak akan pernah menjadi miliknya.


Selesai Makan malam tanpa adanya kata yang membuat ruang makan hening, Arisha langsung masuk kedalam kamar, sedangkan Shean masuk kedalam ruang kerjanya.


Bukan melanjutkan pekerjaannya, namun menenangkan fikirannya yang kacau. Karena sikap Istrinya itu tak kunjung berubah. Risha kini nampak tengah menidurkan Sikecil kesayangannya yang sampai sekarang masih terjaga, padahal biasanya jam 8 malam Archie sudah terlelap damai.


"Ayo Archie, pejamkan matanya sayang.." Ucap Risha dengan tulus penuh kesabaran. Semakin hari, Putra kecilnya itu semakin aktif dengan tingkahnya. Kadang kala Risha sampai kuwalahan menjaganya.


"No No... Mama..." Tolak Archie dengan suara kecilnya. Bagaimana Risha tak gemas dengan Sikecil itu.


Sayang sekali, Pria kecil itu bukan Anak kandungnya. Risha membelai Rambut putranya dengan penuh kasih sayang. Sangat tulus ia menyayangi Archie, karena Sikecil itulah yang menariknya berada dititik sejauh ini. Risha memejamkan matanya rapat, kala mengingat sebentar lagi bisa dipastikan mereka akan berpisah.

__ADS_1


Andai, andai Archie itu putra kandungnya. Pasti ia akan menjadi ibu yang sangat bahagia. Risha tak bisa membayangkan, gimana nanti jika perpisahannya dengan Shean. Itu artinya, bukan hanya patah hati yang dirasakannya karena bercerai dari Shean, namun juga Berpisah dari Pria kecil yang sudah dianggap Putranya sendiri. Risha tak bisa membayangkan betapa hampanya dirinya nanti tanpa Archie. Tapi itu semua sudah menjadi konsekuensinya saat menerima surat perjanjian dari Shean.


Risha menghela nafas beratnya. Lalu membawa Archie untuk berbaring kembali bersama dirinya. "Sini tidur sama mama. Mama bacain dongeng ya.." Ucap Risha pelan dengan mata berkaca-kaca. Menatap wajah tampan yang selalu membuatnya Rindu. Disisa waktu yang ia punya bersama Archie, Risha akan memanfaatkan sebaik mungkin.


"Mau dongeng apa sayang?" Tanya Risha.


"Lapu zel..." Jawab Archie dengan suara cadelnya. Rupanya Archie candu mendengar cerita Rapunzel yang pernah Mama tirinya itu bacakan.


"Rapunzel?"


"Iya mama..."


Risha tersenyum lalu dengan penuh semangat mulai membacakan kisah Rapunzel dari buku dongeng koleksi putranya.


Shean mengusap wajahnya berkali-kali saat setelah membaca kembali surat yang ia berikan kepada Risha hampir 2 tahun yang lalu. "Huufftttt" Helaan nafas berat terdengar.


"Risha...Apa aku mencintainya?" Gumamnya sambil menatap berganti foto pernikahannya ditangan kanan dan Surat perjanjiannya ditangan kiri.


"Kenapa aku tidak rela. Kenapa aku takut, takut dia pergi... Sedangkan Elma? Mengapa namanya terasa hambar?" Surat perjanjiannya dilepaskan dari tangannya lalu melihat secara teliti sepasang pengantin yang terlihat bahagia didalam foto berbingkai hitam. Andai dulu ia tak segegabab itu untuk membuat perjanjian, mungkin sekarang...


Pukul 10 pm.


Setelah lelah bergulat dengan batinnya, Shean akhirnya memutuskan keluar dan masuk kedalam kamarnya.


Setelah mengecek putranya yang tertidur pulas, Risha langsung memindahkan Sikecil itu ke ranjang kecilnya. Memastikan Archie nyaman kembali. Jam 10 malam, namun matanya tak ada tanda-tanda mengantuk. Sepertinya ia rindu angin malam, Risha memutuskan menuju balkon kamar sekalian menenangkan suasana hatinya yang masih kurang membaik.

__ADS_1


Semilir angin mulai menyapa kulit-kulitnya yang hanya tertutup gaun tidur malam warna hitam yang sangat cocok dikulit putih mulusnya. Berkali-kali Risha menghirup udara yang menyejukkan hidungnya. Matanya mendongak keatas menyaksikan bulan separuh yang dihiasi bintang-bintang kecil diatas sana.


Bersambung...


__ADS_2