Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Mulai Ngidam


__ADS_3

"Permisi ya bu." Ucap Suster sembari menyingkap baju yang dipakai Risha guna mengoleksi gel diperut yang terlihat masih rata itu.


Risha dan Shean nampak tak sabar ingin melihat Calon buah hati mereka.


"Sapa dulu dong anaknya." Ucap Dokter kim.


"Hai sayang. Kesayangannya papa dan mama. Kami mencintaimu, nak." Sapa Shean sembari menatap layar monitor sambil tersenyum.


"Hai, Anak Mama. Sehat selalu ya, Nak. Mama, Papa, dan kak Archie menantimu." Risha meneteskan air matanya kala melihat Calon sang buah hati.


Betapa indahnya nanti hidupnya setelah kehadiran anak mereka, Rumah akan semakin ramai dengan Ulah Archie yang menggemaskan dan Calon buah hatinya bersama Shean.


"Janinnya sehat, pertumbuhannya bagus. Detak jantungnya juga normal. Usianya 10 minggu, atau berjalan 3 bulan ya. Pada trimester pertama ini sangat rentan terjadinya keguguran. Jadi dijaga baik-baik, Calon Papanya juga harus siap siaga menjaga." Ucap dokter kim.


"Siap dok." Jawab Shean dengan cepat.


"Kami akan selalu menjaganya dok." Sahut Risha.


Dokter kim tersenyum sembari mengangguk. "Makan makanan yang bergizi, saya akan berikan resep vitamin dan susu yang bagus untuk bumil."


"Terima kasih dok." Ucap Risha dan Shean bersamaan. Keduanya berdiri setelah dokter kim memberikan secarik kertas yang harus Shean tebus diApotik rumah sakit.


.


.


.


Selama perjalanan pulang, Risha tak henti-hentinya tersenyum sembari mengusap perutnya yang masih rata. Masih tak menyangka saja, didalam perutnya kini telah tumbuh kehidupan baru yang harus dia jaga.


Harap-harap nanti calon anaknya perempuan, jadi lengkap sudah kebahagiaannya bersama Shean. Ada Archie anak laki-lakinya, dan ditambah bayi perempuan. Betapa lengkapnya rumah tangganya nanti. Tapi apapun jenis kelaminnya, mau perempuan atau laki-laki, Risha tetap menyayanginya. Yang paling penting bayinya sehat dan selamat.


"Sayang, nanti kamar sebelah kamarnya Archie kita jadikan kamar Baby, ya." Pinta Risha dengan antusias.


"Ya, terserah kamu saja." Jawab Shean diiringi dengan senyumnya. Wajahnya nampak tak kalah bahagia, justru mungkin lebih bahagia dari sang istri.


Entah mengapa, mendengar kabar Risha hamil kali ini lebih membuatnya tambah semangat. Bila dibandingkan dengan kehamilan Elma dulu, seperti berbeda. Sama-sama bahagia, namun seperti beda rasa.


15 menit, mereka sampai di Kediaman Shean. Shean bergegas turun lebih dahulu lalu berjalan menuju pintu penumpang depan, membukakan pintu untuk sang Ratu.

__ADS_1


"Hati-hati sayang." Shean mengingatkan sembari menuntun sang istri keluar dari dalam mobil.


Risha tak henti-hentinya tersenyum saat diperlakukan bak ratu. Betapa manisnya perlakuan Shean membuatnya tak kuasa untuk tidak mengecup bibir yang menggoda dimatanya. Shean tentu tak menyia-nyiakan kesempatan itu, tangannya langsung aktif merengkuh pinggang sang istri, satunya lagi menarik tengkuknya. Keduanya hanyut dalam cium an yang memabukkan.


Sampai Risha kehabisan pasokan oksigen, barulah Shean menyudahi cium annya. ia tertawa pelan melihat sang istri yang kembang kempis mengatur nafasnya, Salah sendiri sudah memancing jaguar kelaparan.


"Maaf ya." Ucapnya sambil menarik sebelah tangan risha mengalun dilehernya. Sedikit menundukkan tubuh, dalam hitungan detik tubuh Risha melayang membuat Wanita itu terkejut.


"Sheaann!!" Sontak Risha langsung mengalunkan satu tangannya lagi melingkar i leher sang suami. "Turunkan aku, Shean."


"Biar kamu tidak kecapean, sayang. Sudah diam saja." Shean menggendong sang istri ala bridal style, melangkah dengan pelan sebisa mungkin tidak membahayakan sang istri yang sedang berbadan dua.


Risha menyenderkan kepalanya kedada bidang itu, pasrah saja toh Shean juga yang kepengen menggendongnya.


"Kamu yakin, bisa gendong sambil naik keatas?" Tanya Risha ragu dengan menaikkan sebelah alisnya.


Anak tangga menuju lantai dua itu banyak, takutnya Shean tidak kuat malah jatuh. Lebih baik dia diturunkan dan sama-sama naik keatas, dari pada berakibat fatal.


"Kamu meragukan suamimu ini?"


"Bukan ragu Shean. Aku tau kamu kuat, tapi nggak lucu kalau kita berdua jatuh nanti." Risha masih fikir-fikir. Mencegah lebih baik dari pada mengobati, bukan?


"Sudah, jangan khawatir. Suamimu ini kuat. Jangankan menggendong sampai lantai atas. Menyusuri jembatan Harbour saja aku mampu." Shean terkekeh pelan.


"Waaww...Aku pegang kata-kata kamu ya. Saat berkunjung ke Sydney nanti, aku ingin kamu menggendongku menyusuri Jembatan Harbour. Awas saja kalau kamu tidak mampu." Sahut Risha dengan serius.


"Iya sayang. pejamkan matamu kalau takut."


Risha menurut, Shean mulai menaiki anak tangga yang membuat jantungnya berdetak dengan cepat. Sepanjang menaiki anak tangga, Risha tak henti-hentinya berdoa.


Ternyata Shean membuktikan ucapannya, mereka sampai di dalam kamar. Risha masih tak menyadari jika dia sudah didepan ranjang.


"Rupanya aku ini sangat nyaman ya sayang. Sampai-sampai kamu ingin selalu memelukku terus. Lihat, kita sudah sampai."


"Hah?" Risha sontak membuka matanya. Benar saja ruangan yang dilihat adalah kamarnya. Shean patut diacungi jempol ternyata.


"Turunkan aku!"


Shean menuruti, menurunkan sang istri dengan amat pelan diatas ranjang. Seolah Risha ini adalah porselen kaca yang mudah pecah, sehingga Shean harus menaruhnya dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


"Kalau begitu, nanti kalau aku mau naik turun tangga kamu yang gendong ya. Ternyata enak juga!" Dikasih hati malah minta jantung. Risha menahan tawanya.


"Sesuai keinginanmu, My Queen." Jawab Shean pasrah. Dia lantas ikut duduk didepan sang istri.


"Mau ngapain?" Risha menahan kepala Shean yang hendak bantalan dipahanya.


"Capek sayang."


"Duduk Shean!"


"Sebentar saja." Shean memejamkan matanya sejenak.


"Aku pengen jus mangga. Ayo buatkan!" Pinta Risha memelas.


Shean langsung membuka matanya, lalu duduk. "Kamu ngidam?" Kedua alisnya terangkat.


Dia lupa, Wanita hamil biasanya selalu ngidam. Semua keinginannya harus dituruti. Inilah yang membuatnya kepikiran. Dulu waktu Elma hamil, semua keinginannya dijadikan kata Ngidam. kalau tidak dituruti anaknya bisa ileran. Permintaan Elma sangat aneh-aneh. Membuatnya Pusing keliling.


Kalau soal makanan, tidak masalah. Tapi kalau yang aneh-aneh, Shean sepertinya tidak sanggup. Lebih parahnya, satu, Makan durian. Jangan sampai Risha meminta itu seperti Elma dulu.


"Cepetan, aku haus. Gulanya satu sendok teh saja, tidak usah susu."


"Iya sayang. Hanya itu saja, kan?" Tanya Shean sedikit cemas.


"Emmm... sepertinya hanya itu. 5 menit harus jadi, cepet." Risha mendorong tubuh kekar itu untuk segera pergi.


Shean dengan cepat bergegas turun kedapur, membuatkan pesanan sang istri. Masuk dalam batas, jadi dia semangat membuatnya.


Bersambung...


Minal Aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin šŸ™šŸ™šŸ™


Untuk semua pembaca setiaku, Aku minta maaf yang sebesar-besarnya jika punya salah sama kalian semua. Baik itu dari kata-kata maupun tulisan.


Semoga dibulan yang suci ini, semua kesalahan kita diampuni sama yang maha kuasa. Aamiin...


Maaf karena dua minggu tidak up bab baru, karena ada banyak kerjaan didunia real. Insyaallah jika suasananya sudah normal kembali, bisa up seperti biasa. Sampai Karya ini tamat.


Aku mau ngucapin banyak-banyak terimakasih yang sebesar-besarnya untuk kalian semua. karena masih ada yang mau menunggu karya amburadul ini. Semoga kita diberikan kesehatan, kelancaran rejeki dan umur yang panjang dan berkah. Aamiin, aamiin ya rabbal alamin...

__ADS_1


Happy Eid Mubarak untuk kalian semua. Walaupun terlambat wkwkšŸ™šŸ™šŸ¤­šŸ¤­


__ADS_2