Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Saudara perempuan


__ADS_3

.Brak


Suara gebrakan meja terdengar begitu nyaring diruang VVIP didalam Bar hingga menusuk ketelinga dua pria didepan Shean. Kedua Pria berbeda status itu langsung menatap satu sama lain.


Shean mengambil gelas kaca diatas meja, lalu meremasnya hingga gelas itu pecah digenggam tangan kirinya. Rasa sakit yang mulai menjalar seiring tetesan darah yang merembes menetes dari telapak tangannya pun begitu ngilu bagi dua pria yang duduk didepannya dengan raut Campur aduk.


Rambutnya sudah acak-acakan, kancing kemeja bagian dadanya sudah terlepas, Pria itu terlihat sangat mengerikan. Asisten Elvio dan Andrew Smith menelan ludahnya sendiri ketika menyaksikan sebegitu menyeramkannya Tuan Shean Elza Winara yang sedang Mabuk.


Shean mengibaskan tangan kirinya, hingga tetesan darah pun mendarat dilantai Marmer. Netra elangnya lantas menatap Wine kedua didalam botol yang masih tersegel rapat. Matanya yang sayu mengerjap pelan, Fikirannya sudah kacau dan tak terkendali. Ia lantas mengulurkan tangan kanannya untuk mengambilnya. Namun tenaganya kalah cepat, karena Andrew ternyata sudah lebih dulu merenggutnya.


"Kembalikan.." Sentak Shean dengan Suara seraknya, menatap Andrew, sahabat lamanya yang hampir dua tahun lalu menghilang tanpa kabar.


"Cukup, Shean. Kau sudah tidak waras!"


Shean tertawa mendengarnya. "Aku, tidak waras? Ya ya...Aku memang sudah tidak waras. Ha ha... Aku memang sangat bodoh. Aku pria bodoh.. Aku suami yang bodoh, asal kalian tau..." Racaunya diringi kekehan. Ia lantas kembali menatap tajam Pria yang mengganggu kesenangannya.


"Kembalikan Minumanku."


"Ayo pulang."


Andrew berdiri lantas menarik sahabatnya yang sudah mabuk berat, Bukannya menurut Shean malah mengibaskan tangan Andrew dan mendorong tubuh pria itu, untung saja Andrew dengan cepat mampu menahan tubuhnya. "Jangan berani, menyentuhku.."


"Tuan, ayo kita pulang." Asisten Elvio yang sempat hendak membersihkan darah ditangan Shean pun langsung memapah secara paksa Tubuh bosnya yang sedang dalam keadaan buruk, bahkan sangat buruk.


Dibantu Andrew, akhirnya ketiga pemuda itu sampai diparkiran mobil. Walau sangat susah karena tubuh Shean yang berat terlebih pria itu mabuk dan memberontak. Shean langsung disandarkan dikepala kursi penumpang belakang.


"Tuan Andrew mau sekalian bareng?"


"Bawa pulang Bosmu. Saya ada urusan lain"


Mobil perlahan bergerak meninggalkan Bar milik Andrew, pria berusia 32 tahun itu. Andrew masih memperhatikan mobil hitam yang mulai hilang dari pandangannya. Terbesti rasa kasihan dan bersalah yang teramat pada diri pria tampan itu. "Maafkan aku Shean."


Andrew langsung bergegas masuk kedalam mobil dan melanjukan Mobil sport hitamnya membelah keramaian Victoria menuju kesatu tempat.


...*****...


Rumah sakit.

__ADS_1


Nampak seorang Wanita duduk dengan gusar dikursi penunggu didepan Ruang IGD. Ia adalah Arisha, Wanita yang 2 jam yang lalu mengantar elma kerumah sakit karena wanita itu Pingsan.


Tak berselang lama, pintu IGD pun terbuka. Mendengar suara 'Ceklek' Arisha lantas langsung menoleh dan berdiri. Menghampiri seorang dokter dan suster yang bertugas menangani Elma.


"Anda keluarga pasien?"


Risha terdiam sejenak, lantas mengangguk. "Iya, dok. bagaimana kondisi Saudara saya, dok?"


"Saudara anda adalah pasien dokter Zayn. Karena saat ini dokter Zayn sedang di Singapura, jadi sementara waktu.Saya yang akan menanganinya.."


Risha mengernyitkan keningnya kala tiba-tiba dia mengingat sesuatu, sebuah nama yang begitu tidak asing. 'Dokter Zayn' Ya, Wanita itu mengingatnya. Tapi tunggu dulu, bukannya dokter Zayn itu Dokter Spesialis kanker? Risha semakin bingung.


"Tapi, gimana dengan kondisinya dok?" Risha bertanya dengan raut ketegangan.


"Keadaannya kurang stabil. Pasien harus melakukan perawatan intensif lebih lanjut, untuk memastikan keadaannya. Itu dikarenakan..."


"Dokter, pasien sudah siuman.." Ucap seorang suster yang baru keluar dari ruang IGD.


Dokter Ayden dan Risha pun sontak menoleh. Dokter Ayden mengangguk. "Bawa pasien keruang perawatan yang sudah disiapkan."


"Setelah pasien dipindahkan keruang perawatan, Nyonya bisa menjenguknya."


"Baik dok, terima kasih."


"Sama-sama"


.


.


.


Risha duduk menatap Wanita yang terbaring diatas branker rumah sakit dihadapannya. Wanita yang beberapa minggu ini tidak pernah menampakkan diri didepannya, kini terbaring didepannya dengan wajah pucat dan tak bertenaga. Risha tak pernah menyangka, Elma bisa seperti itu.


Begitu pula elma yang merasakan ketegangan ketika dihadapkan dengan Istri Mantan Suaminya. Dari sekian banyak manusia dibumi ini, kenapa harus Arisha yang menolongnya. Bukannya menolak bantuannya, namun ia merasa takut, takut kapan saja Shean datang dan meminta jawaban dari semua yang telah terjadi dimasa lalu.


Risha menarik nafas dan mengeluarkannya dengan berat. "Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya memecahkan keheningan yang beberapa saat lalu tercipta setelah suster dan dokter keluar dari ruang perawatan.

__ADS_1


"Ya, aku sudah baik-baik saja. Mungkin besok juga sudah pulang." Jawab Elma bersikap baik-baik saja. Walau kini ia sedang menahan Gejolak menyakitkan yang menggerogoti tubuhnya.


"Jika masih sakit, jangan dipaksakan. Dokter bilang kamu masih butuh perawatan.."


Elma nampak memggelengkan kepalanya pelan. "Aku sudah baik-baik saja, Sha!"


Risha terdiam sejenak, menimang kembali ucapan dokter Ayden. Ia harus menanyakan langsung kepada Elma, apa yang terjadi dengan Wanita itu.


"Kamu, kenal Dokter Zayn?" Tanya Risha Penasaran.


Elma nampak gugup ketika mendengar pertanyaan Wanita yang lebih muda darinya. "Dok dokter Zayn? Si siapa dia? aku tidak mengenalnya." Jawab Elma Berbohong. Karena sebelumnya ia mengenal Dokter Spesialis kanker yang menangani penyakitnya itu.


"Kamu yakin?" Risha menyinggungkan senyum misteriusnya.


Elma hanya mengangguk menanggapi. Jujur saja, ia lelah dengan tubuhnya. dengan Jiwa raganya.


Risha menyeringai. Lantas mengambil Sesuatu didalam tasnya. "Maaf, aku memang lancang. Tapi satu hal yang harus kamu tau. Aku sudah tau Apa yang saat ini menimpamu, Elma Dinara.." Risha mengambil sepucuk surat dan memamerkannya kepada Elma, yang mana membuat Wanita terbaring lemah itu langsung membulatkan matanya.


Elma hendak merebutnya, namun Risha langsung menurunkan tangannya.


"Da dari mana kamu mendapatkannya?" Tanya Elma dengan suara Tercekat. Dadanya naik turun, keringat dingin mulai menetes. Ia takut, sungguh takut, Surat Hasil pemeriksaannya Bulan lalu yang tertinggal dimobil, kini berpindah berada ditangan Istri Shean.


"Kamu tidak perlu menyembunyikannya lagi, Elma. Apa Jaxton tau soal ini?"


"Itu palsu. Surat itu palsu, Sha.. Jangan percaya."


Risha menggeleng keras. "Ya, kau benar. Surat ini palsu.. Tapi harus kau tau, Dokter Ayden dan Dokter Zayn tidak pernah berbohong!"


Elma memejamkan matanya yang terasa panas. Istrinya Shean sekarang ternyata bukanlah orang sembarangan, Arisha punya rasa ingin tau yang begitu besar. Terlebih menyangkut dirinya. Apa Arisha sudah tau, kalau sebenarnya dirinya adalah mantan Istri Shean?


"Elma..." Panggil Risha pelan seraya meraih tangan Wanita didepannya. Elma pun langsung membuka matanya pelan dan menatap Risha. "Kau tidak sendiri.." Ucap Risha tulus, Elma mengingatkannya pada Nyonya Nita.


"Rahasiakan ini, plis..." Pinta Elma penuh harap.


"Tentu." Risha mengangguk dan tersenyum. Ia pun berdiri dan memeluk wanita yang sudah ia anggap saudaranya sendiri. Meskipun ia kesal dengan elma, merasa cemburu dan masih banyak lainnya. Tapi saat dihadapkan dengan wanita itu dalam keadaan seperti ini, rasanya ia menyesali semuanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2