
"Kalian kan sudah menikah hampir dua tahun. Bulan madu juga sudah. Jadi, kapan kalian mau ngasih Archie adik?"
Seketika Risha dan Shean terdiam. Risha bukannya tidak mau hamil, apalagi anak dari pria yang ia cintai. Namun, hubungan keduanya yang tidak memungkinkan untuk ia mengandung anak dari Shean. Risha takut, takut jika sewaktu-waktu Shean membuangnya. Apa yang Archie alami, ia tak mau anaknya kelak juga mengalaminya. Kekurangan kasih sayang dari salah satu orang tuanya.
Shean menatap wajah sang Istri yang menunduk. Tangan Risha digenggam dengan erat, karena apa yang Risha fikirankan, Shean sudah bisa menebaknya. Selain itu juga Shean memang dulu tidak ingin, jika Risha mengandung. Karena dulu status keduanya itu terhalang kontrak perjanjian, jika Risha mengandung dan melahirkan. Akan sangat sulit dalam waktu dua tahun memutuskan hubungan.
Mengerti kalau pertanyaan Istrinya itu kurang tepat, Tuan Gibran lantas mengalihkan pembicaraan. "Ma, bukannya tadi mama bikin Dessert? Papa sudah lapar." Tuan Gibran mengusap-usap perutnya.
"Ah iya, mama lupa. Ayo kita makan, sambil ngobrol nanti!"
Nyonya Rose berdiri bareng Tuan Gibran. Keduanya berjalan menuju meja makan, disusul Deyna dan Archie. Shean berdiri sembari merangkul bahu Risha lalu mengiringnya menuju meja makan.
.
.
.
Lain tempat, saat ini Jaxton tengah berada disebuah restauran bersama dengan Elma. Tidak janjian, mereka tidak sengaja bertemu. Jaxton yang baru selesai meeting dengan salah satu kliennya direstauran tersebut tak sengaja bertemu dengan Elma yang baru datang.
Keduanya kini duduk berhadapan sembari menyantap makanan dan minuman yang telah dipesan. Sambil mengobrol santai layaknya teman dekat.
"Jadi, apa rencanamu setelah ini?" Tanya Elma.
"Tidak tau. Aku masih belum memikirkannya!" Jaxton nampak tidak semangat saat menjawabnya.
Bagaimana dia bisa semangat jika Wanita yang dia cintai masih disini dengan alasan yang kurang masuk akal. Risha lagi-lagi memberikan Shean kesempatan yang membuatnya patah hati. Dia tahu, karena Risha mengirimnya pesan tersebut.
__ADS_1
"Kamu mencintai Arisha?" Elma menaikan sebelah alisnya. Menatap Jaxton dengan intens mencari kebenaran dari mata pria itu.
Jaxton pura-pura tertawa mendengar pertanyaan Elma. "Memangnya aku berani mencintai istri orang?"
Elma menarik sebelah ujung bibirnya. Bibir bisa berdusta, tapi mata tidak bisa dibohongi.
"Kalau cinta itu buktikan kawan. Jangan dipendam!" Celetuk Elma. Dari sorot matanya, begitu tersirat sesuatu yang aneh.
"Cinta tidak harus memiliki. Arti Cinta yang sebenarnya ialah, Melihat Orang yang kita cintai bahagia. Meski itu bukan bersama kita."
Elma tersenyum sinis. Diwajahnya tak menampakkan bahwa wanita itu menyetujui kalimat Jaxton. "Tapi asal kau tahu, Cinta bisa kita miliki asal mau berjuang. Risha tidak bahagia bersama Shean. Dan itu bisa kamu jadikan alasan untuk merebut Wanita yang kamu cintai!"
Jaxton sungguh tak mengerti maksud dari ucapan Elma. Mungkinkah wanita itu perlahan mendorongnya untuk melakukan hal diluar batas, dengan cara merebut Risha dari Shean. atau bagaimana? Tapi tidak mungkin Elma melakukan hal itu, sedangkan Wanita itu dulu yang meninggalkan Shean.
Elma mendahului Jaxton yang hendak bicara. "Kalau kau mau, aku bisa membantumu. Aku tidak tega dengan Risha yang harus tertawa diatas luka." Elma memasang wajah sedihnya.
"Kenapa diam saja sayang? kamu tidak suka makanannya? kalo tidak suka, kita ganti menu atau makan keluar." Celetuk Shean merasa heran dengan istrinya yang dari tadi hanya mengaduk-aduk nasi goreng dipiringnya.
Risha menengadahkan kepalanya, lantas menggeleng. Menyuapi mulutnya dengan sesendok nasi goreng. Mereka sudah pulang sore hari dari rumah orang tua Shean.
Hanya beberapa sendok, Risha langsung menyeka ujung bibirnya dengan tisue lalu berdiri. "Aku sudah kenyang. Aku kekamar dulu ya!" Tanpa jawaban Shean, Wanita itu langsung mendorong kursi kebelakang dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan.
Shean hendak protes, namun akhirnya hanya helaan nafas panjang yang ia keluarkan. Pria itu pun menyudahi makan malamnya beranjak berdiri menyusul Risha.
Archie sudah tidur saat Risha mengecek kamar sikecil itu. Wajah polosnya yang tidur nampak damai membuat hatinya tenang. Dengkuran halus terdengar begitu merdu ditelinganya. Pertanda sikecil itu nyaman dengan tidurnya.
Satu kecupan lembut mendarat dipipi Archie sebelum Risha meninggalkan kamar Putranya. Tubuhnya langsung dia rebahkan diatas ranjang king sizenya setelah Risha sampai dikamar. Pintu kamar mandi tertutup dan Risha sudah bisa menebak siapa didalamnya.
__ADS_1
Ceklek.
Suara pintu kamar mandi terbuka. Shean keluar dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana kolor pendek. Pria itu langsung berjalan mendekati ranjang dan duduk dipinggiran ranjang dengan kaki menjuntai kelantai.
Diraihnya ponsel diatas meja nakas lalu menyalakannya. Mengecek aplikasi WhatsApp sekaligus pekerjaannya. Tak berselang lama, Shean langsung meletakkan ponselnya kembali diatas meja nakas lalu menoleh kebelakang, dimana Risha sudah berbaring membelakanginya.
Shean tak mau ambil pusing, dia pun ikut merebahkan tubuhnya dibelakang Wanitanya. Lalu mendekatkan dirinya tepat dibelakang Risha, mengangkat salah satu kakinya melingkari kaki Risha lalu menarik Wanita yang membelakangi nya itu mundur kepelukannya.
"Jangan memikirkan sesuatu yang berlebihan. Nanti kamu sakit!" Bisik Shean sembari mengangkat kepalanya tepat dias kepala Risha, mendaratkan satu kecupan dikening.
Risha menggelengkan kepalanya pelan. Tidak membenarkan ucapan Shean walau memang kenyataannya, dia sedang memikirkan pertanyaan yang dilontarkan Mama Rose. Mengandung benih Shean. Rasanya hatinya masih ragu untuk mempercayai Shean, apakah pria itu benar-benar mencintainya ataukah Shean hanya pura-pura karena melihat putranya yang sangat kecanduan pada dirinya?
Tanpa sepengetahuan Shean, Risha sebenarnya juga selalu mengkonsumsi obat pencegah kehamilan setelah berhubungan dengan pria itu. Hanya berjaga-jaga saja, karena statusnya sebagai istri Shean itu hanya sementara. Jika dirinya hamil, dia juga tidak tahu, bagaimana nasib anak mereka kelak. Mungkinkah Shean tetap memantapkan berpisah ataukah melanjutkan pernikahan. Dirinya juga tidak mau, apa yang terjadi pada Archiello terjadi juga pada Calon anak kandungnya.
Orang bilang, Anak bisa menjadikan hubungan orang tuanya semakin erat. Dan tali cinta semakin kuat. Apakah itu artinya, Risha pun harus kembali percaya dengan kata-kata itu?
"Shean..." Panggilnya dengan suara lirih.
"Ya sayang."
"Kamu...tidak meminta anak padaku kan?" Risha terbata ketika mengatakannya. Pertanyaan konyol macam apa itu?
Shean tersenyum sembari mencium aroma Jasmine dari rambut Istrinya. "Tentu saja aku ingin. Kita sudah menikah dua tahun. Tapi sampai sekarang, kenapa belum ada tanda-tanda?" Shean mengerutkan keningnya nampak berfikir sesuatu.
Risha menelan salivanya mendengar pertanyaan Shean. Terlebih ketika sebuah tangan merayap masuk kedalam baju tidurnya, meraba kebagian perutnya yang rata dan mengusapnya. Jantungnya berdegup kencang. Shean hanya tersenyum dibelakangnya sambil menyembunyikan wajahnya dibelakang lehernya.
Bersambung...
__ADS_1
Marhaban ya ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa untuk semua Readers² Mom For ARCHIE.🙏🙏 Semoga dibulan yang suci ini, kita senantiasa diberikan kesehatan dan rejeki yang berkah. Aamiin Aamiin...Yarabbal alamin.🤲