Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Kepergian Elma


__ADS_3

Berkat kedua pria yang tak berhenti mendukungnya, Elma akhirnya bisa bangkit kembali. Semangatnya untuk pulih membuatnya kini diizinkan untuk pulang dari rumah sakit setelah 2 Minggu dirawat. Menjalani serangkaian pengobatan untuk membuatnya bisa bertahan hidup lebih lama. Meski ia tahu, dengan penyakitnya ini dia akan sulit untuk hidup normal seperti dulu. Tapi tidak masalah, di sisa-sisa hidupnya yang kapan saja bisa berakhir ini, Elma akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.


"Aku sudah siapkan semua kebutuhanmu. kalau ada apa-apa langsung telpon." Ucap Andrew sebelum meninggalkan Elma.


"Terimakasih. Aku sudah banyak merepotkanmu..."


"Tidak sama sekali." Sahut Andrew mengusap rambut Elma pelan, lalu membawa wanita itu kepelukannya sebentar. "Semangat. Kamu tidak sendiri.." Imbuhnya dengan pelan. Elma membalas dengan anggukan.


Usai kepulangan Andrew, Elma langsung masuk kedalam kamarnya. Ada hal yang harus dia lakukan. Membereskan barang-barangnya, karena beberapa hari lagi, dia akan pindah. Ya, setelah banyak berfikir wanita itu memutuskan akan pergi ke London. Tempat dimana keluarga dari ibunya tinggal. Hanya merekalah yang sekarang dia butuhkan untuk tempatnya bersandar menikmati sisa hidupnya.


Bibi dari adik mamanya itu sudah sering menghubunginya untuk pulang ke London, setelah perceraiannya dengan Shean tercium sampai sana. Karena Shean sudah mengumumkan kepada dunia, Nyonya Arisha Camelia Winara. Harapannya kini tidaklah banyak, dengan sisa waktu yang dia punya, Elma hanya ingin orang-orang yang dia sayangi hidup bahagia. Terutama Archie, Putranya yang telah dia tinggalkan. Rasanya kini jauh lebih tenang, karena dua pria yang dicintainya sudah bersama orang yang tepat.


Jikapun Tuhan mengambilnya sekarang, Elma pun pasrah. Karena ia sudah bisa melihat kebahagiaan diwajah Shean. Pria yang dulu begitu dia cinta, namun kini biarlah cinta itu ia bawa sampai mati.


*****


"Apa aku terlihat kurus? sehingga kau terus saja menyuruhku makan?" Protes Risha dengan kesal.


Bagaimana tidak, sudah beberapa hari mood makanya itu memburuk. Seharian lahap makan, tapi paginya muntah. Habis sarapan muntah lagi. dan hanya waktu siang dan malam saja yang terlihat baik-baik saja. Untuk itu Shean memanfaatkan waktu untuk menyiapkan makanan sang istri, karena sekarang Risha sangat susah untuk makan.


"Buat apa aku makan kalau besoknya aku buang?" Itulah yang sering Risha ucapkan. Mual dan muntah dipagi hari terkadang membuatnya tak nyaman. Aktivitasnya juga terganggu. ia jadi cepat lelah dan terkadang disertai pusing. Sudah konsultasi dengan dokter, dan dokter mengatakan kalau semua itu hal biasa yang sering terjadi pada ibu hamil.


"Kenapa berfikiran seperti itu? sudah jelas kalau kurus itu tidak baik untuk calon anak kita."


"Tapi aku tidak ingin makan. Aku ingin makan yang lain." Sahut Risha.


"Apa?" Tanya Shean.


"Nasi goreng. Aku ingin makan nasi goreng dijalan depan. Tapi jualnya malam hari..." Risha memanyunkan bibirnya. Tiba-tiba ia ingin sekali makan nasi goreng didepan komplek rumah Shean. ia belum pernah mencobanya sama sekali. Tapi melihat dari ramainya pengunjung membuatnya ingin mencobanya.

__ADS_1


"Walaupun siang hari pun, aku tidak akan mengizinkan. Makanan dipinggir jalan itu tidak sehat."


"Siapa bilang?" Risha mengerutkan keningnya.


"Aku melihatnya. Tempatnya itu dipinggir jalan, banyak debu sayang. Kita cari resto aja ya..." Ucap Shean.


Wanita itu menggeleng cepat. "Aku tidak mau. Aku mau nasi goreng itu." Risha merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Shean membuang nafas panjangnya, kedua telapak tangannya menyapu wajahnya berkali-kali. "Ngambek lagi." ia tak habis fikir dengan bumil satu ini. Untung Cinta.


"Sayang..." panggilnya lembut. tangannya menarik selimut itu, namun Risha menahannya kuat. "jangan begini. Kamu mau anak kita disini kelaparan?" Shean meraba perut Risha yang tertutup selimut.


Tak ada jawaban.


"Kita cari resto yang menjual nasi goreng terlezat, bagaimana?" Tawar Shean berusaha membujuk.


Masih tidak ada jawaban.


Shean membuang nafasnya kasar saat lagi-lagi Risha tetap diam tak menjawab. Oke, dirinya harus mengalah lagi.


"Kita beli nanti malam. Aku janji. Tapi sekarang kamu makan makanan ini ya... Aku sudah susah payah membuatnya, sayang..." Ucap Shean lemah.


"Kamu janji?" Ajaib. Risha langsung membuka selimutnya.


"Janji."


Shean menautkan jari kelingkingnya kejari kelingking Risha. Wanita itu tersenyum, dan wajahnya kembali bahagia. Risha bahagia dengan ini, ia merasa dihargai dan dimanja. Shean nya benar-benar mencintainya.


kecupan berkali-kali Shean berikan diwajah Risha, sama sekali wanita itu tak menolak. "Aku lapar, ayo cepetan suapin!" Risha menjauhkan wajah Shean dari wajahnya.

__ADS_1


Shean tertawa pelan. "Wanita memang gampang berubah." Gerutunya.


"Mau nyuapin atau nggak?" Kesal Risha, ia mendengar apa yang diucapkan Shean, walau pelan.


"Iya sayang..." Shean mulai menyuapi makanan wanita hamil itu.


*


*


*


*


*


Beberapa hari kemudian. Elma sudah siap untuk terbang ke London. Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Sebelum pergi dia mampir ke Gret Ocean Road.


Pantai yang dulu sering dikunjungi bersama Shean. Pertama kali Elma mengunjungi Victoria, Pantai ini yang dia ingin kunjungi. Dan sekarang terakhir kalinya ia menginjakkan kakinya pantai tersebut.


Elma berjongkok diatas pasir pantai, mengambil pasir putih itu, lalu membuangnya langsung. Ia berdiri lagi, menatap air laut lalu tersenyum. "Aku bahagia mengenalmu. Terimakasih sudah hadir dalam hidupku meski sekarang tidak lagi. Karena aku yang telah membangun dinding pembatas untuk kita sendiri. Bahagialah dengan pemilik hatimu yang sekarang..." Elma.


Usai menikmati sejenak keindahan didepan matanya, Elma memutuskan untuk pergi. 20 menit lagi ia akan meninggalkan Negara ini.


Dalam perjalanan Elma mengetik rentetan baris pesan kepada seseorang.


Hai teman, Apa kabar? Masih mengingatku kan? Atau kamu sudah lupa? Tapi tak masalah jika kau melupakanku. Risha bagaimana dengan kandunganmu? Apa kau merasa mual, muntah, atau apa? Teruslah buat Shean kewalahan ya... Aku sangat mendukungmu.


Darimu aku belajar banyak hal, seberat apapun masalah yang kita hadapi, jangan pernah menyerah. Dan aku akan melakukannya. Aku tidak akan menyerah dengan hidupku, tapi aku pasrah bila kapan saja waktunya tiba aku akan pergi. Aku dulu tidak tenang karena jika aku pergi aku akan meninggalkan dua orang yang aku cintai. Tapi sekarang aku bisa tenang, mereka bersama orang yang tepat. Risha...Maafkan aku, aku pernah berniat ingin mengambil apa yang aku miliki kembali, tapi aku sadar sekarang. Aku yang meninggalkan mereka.

__ADS_1


Aku ingin meminta satu yang terakhir kalinya, kumohon turuti ya. Jaga Archie, Kau yasodanya. Kau ibunya, kau berhak atas dirinya. Dan cintai Shean, jangan pernah meninggalkannya apapun yang terjadi. Hanya itu saja pintaku.


Terimakasih untuk itu, semoga kalian selalu bahagia. Aku akan pergi menjauh untuk selamanya. Nice to meet you...


__ADS_2