
"Ar..." Shean menyentuh tangan Istrinya dengan perasaan yang amat menyesal.
Tapi dengan cepat Risha menepisnya. Risha langsung beranjang berdiri dan melangkah untuk keluar kamar, namun langkahnya kalah cepat dengan Shean yang langsung menariknya dan mendekapnya, detik berikutnya tubuhnya terpental diatas ranjang bersamaan dengan dekapan pria itu yang tak terlepas.
"Jangan pergi..." Lirih Shean, suaranya terdengar berat.
Risha sempat memberontak, tapi tenaganya kalah kuat dibandingkan tenaga Shean. Suara isak tangis mulai terdengar, Risha menumpahkan seluruh perasaan yang dia pendam didalam hatinya. Muak, benci, marah, untuk Shean ia tumpahkan liwat air mata yang semakin deras seirin dekapan Shean yang semakin erat dibelakangnya.
Dirasa Risha mulai tenang, Shean membalik tubuh itu menghadapnya. Wajah cantik yang berurai air mata itu diusap perlahan. Satu kecupan lembut Shean berikan di kening Istrinya.
Berkali-kali ucapan kata maaf ia ungkapkan, tapi bagi Risha rasanya semua itu sudah terlambat. Yang Risha inginkan sekarang hanyalah lepas dari pernikahan ini. Karena itu sudah perjanjian diawal pernikahan.
Matahari mulai muncul, namun masih tak membuat kedua mata Shean terpejam. Walau sedetik pun, ia tak membiarkan matanya tertutup. Tubuh ramping yang membelakanginya itu tak lepas dari pelukannya. Shean takut jika dirinya menutup mata, itu kesempatan bagi Istrinya untuk kabur. Tidak, dia tidak akan membiarkan Wanita didekapannya ini pergi. Meski kontrak sebentar lagi akan selesai.
Egois, ya katakan saja begitu. Tapi penyesalan memang selalu datang terlambat. Perasaan yang selalu ia tepis lantaran harapan pada cintanya yang telah pergi akan kembali lagi, kini Shean sadar telah memilikinya. Risha yang kini menempati ruang hatinya.
Risha membuka matanya yang terasa kantuk, karena semalaman ia memang hanya memejamkan mata. Ia merasakan tubuhnya tak bisa bergerak, karena tangan yang senantiasa melingkari pinggangnya tak kunjung turun.
Risha menggeliat. "Lepas..." Lirihnya.
Shean tak mengubris. Ia sungguh takut jika Wanitanya itu akan pergi meninggalkannya ketika ia lengah.
"Shean." Sentak Risha dengan menahan suaranya supaya tidak terlalu keras.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi walau sebentar saja, Sayang. Tidak akan."
__ADS_1
Risha mendengus kesal. Ia kembali menggeliatkan tubuhnya, Rasa ngilu dipusarannya semakin menusuk-nusuk hingga ke perut bawah. Risha tak tahan dengan itu.
"Shean, aku butuh kamar mandi. Kumohon lepaskan aku!" Risha benar-benar tidak tahan dengan rasa itu. Semalaman sudah ia tahan.
"Aku tidak percaya."
"kau menyiksaku Shean." Risha memejamkan matanya, jari-jari kakinya menekuk menegang menahan beban dalam tubuhnya. "Kalau kau tidak percaya, kau bisa ikut!" Masa bodoh jika Shean menyetujui ucapannya. Yang pasti dia butuh kamar mandi sekarang untuk membuang beban penderitaan itu.
Risha menghembuskan nafas lega, setelah penderitaanya berhasil ia buang. Ia menatap Shean yang masih menunggunya berdiri didepan pintu kamar mandi. Bahkan pintu kamar mandi saja tidak boleh ditutup, keterlaluan memang pria itu! Risha mengumpat dalam hati.
Dengan rasa kesal, ia berjalan menuju pintu keluar setelah membersihkan diri dan mencuci wajahnya.
"Ada apa lagi sih?" Dari nada Risha seperti sangat menyimpan amarah untuk pria yang mencekal salah satu Pergelangan tangannya.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan! Dan aku tidak mendiamkan siapapun!" Risha menyanggah.
"Harus dengan cara apa aku meminta maaf, Sayang?"
"Ngelantur kalo ngomong. Memangnya kamu salah apa, sampai minta maaf? Kamu tidak pernah salah, yang salah itu aku. Karena sudah berani menaruh hati dipernikahan yang hanya bersifat sementara ini!" Terang Risha, matanya tak lepas dari mata hitam setajam elang yang sialnya membuat hatinya berdebar. Tapi tidak untuk kali ini, yang justru ia benci dengan pandangan itu.
"Kamu tidak salah sayang. Aku yang salah. Seharusnya kita memang memulainya dari awal, tapi dari awal aku justru malah sudah membuat dinding diantara kita. Maafkan aku..." Shean meraih tangan Istrinya yang satu lagi, lalu menggenggam kedua tangan itu.
Risha memejamkan matanya sejenak, sembari berkata. "Tapi aku ingin pulang. Ke Sydney..."
Shean terdiam. ia mengerti maksud dari kalimat istrinya. Ingin pulang dalam arti Risha tetap ingin berpisah. Shean menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau kehilangan wanita dalam hidupnya untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Kedua tangan yang ia genggam itu diangkat keatas, lalu mencium punggungnya. Risha memalingkan wajahnya kearah lain. "Berikan aku satu kesempatan. Aku akan membuang perjanjian kita, kita bisa memulainya dari awal." Ucap Shean penuh harapan.
Risha menarik tangannya, tapi Shean tak membiarkan kedua tangan wanitanya terlepas. "Aku tidak bisa, Shean!"
"Apa yang harus aku lakukan, supaya kamu mau menerimaku kembali? Katakan sayang!" Tanya Shean.
Risha diam. Tidak ada yang bisa Shean lakukan, karena entah mengapa hatinya seperti menolak. Namun hati kecilnya masih ada harapan untuk pria itu. Biar bagaimanapun, Shean adalah pria pertama yang mengenalkan nya pada perasaan yang tak seharusnya ada. Tapi Shean juga yang membuatnya percaya, bahwa pria itu sama saja. Bukan hanya Ayahnya yang berkhianat dan meninggalkannya, Shean juga bertindak semena-mena padanya. Haruskah ia memberikan satu kesempatan lagi?
"Sayang..."
Risha menghirup udara mengisi pasokan oksigen dalam tubuhnya, lalu membuangnya cepat. Mata setajam elang itu ditatap mencari kejujuran dan kesungguhan Shean dalam ucapannya untuk memulai hubungan keduanya menuju jalan yang baik. Dan ia tak menemukan kebohongan. Namun mengambil keputusan seperti ini, dirinya juga butuh waktu dalam berfikir.
"Berikan aku waktu, Shean. Aku butuh ketenangan untuk berfikir kedua kali! Dan, aku butuh pembuktian darimu!"
Shean menarik sudut bibirnya keatas. "Baiklah, aku akan berikan kamu waktu. Lima bulan lagi untuk kamu bisa memutuskan, langkah apa yang selanjutnya kita bawa dalam rumah tangga ini!" Ucap Shean. Dalam hati ia bersorak, dalam waktu 5 bulan yang artinya masih lama untuk dia bisa membuat Wanita didepannya kembali kepelukannya.
Risha mengerutkan keningnya. "Aku tidak setuju jika lima bulan. Dua minggu, karena itu waktu kontrak kita selesai!"
"Tidak bisa begitu. Itu terlalu cepat."
"Ya atau tidak? Pilihan ada padamu. Jika kamu setuju dalam waktu dua minggu bisa membuatku percaya padamu, maka aku akan bersedia. Itupun jika hatiku masih menginginkanmu...Tapi kalau tidak, jangan lagi memaksaku!" Ucapan sungguh-sungguh. Bukan sekedar gertakan semata.
Shean menghela nafas panjangnya dengan pasrah.
Bersambung...
__ADS_1