Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Apakah sudah berakhir?


__ADS_3

Lain tempat, Shean sedang dalam perjalanan menuju Restauran yang sudah dijanjikan sebagai tempat Meetingnya siang ini dengan kliennya. Bersama Asisten pribadinya yang duduk didepan sebagai pengemudi, dan dengan santainya Shean duduk dikursi belakang mengamati sepanjang perjalanan yang ia lalui.


Ke 4 roda mobil itu berputar dengan kecepatan sedang, membelah keramaian Victoria di siang hari ini. Shean mengalihkan pandangannya menatap depan, mengamati kendaraan-kendaraan didepan mobilnya.


Dua orang yang membuatnya nampak tak asing dipinggir jalan yang hendak masuk kemobil, membuat Shean memperjelas penglihatannya. Tiba-tiba saja darahnya seperti mendidih, tangannya mengepal kuat seolah ingin menghancurkan wajah pria yang bersama Wanitanya.


"Berhenti!" Hardiknya hingga suaranya membuat Asisten Elvio terkejut. Mobil pun langsung berhenti. Tanpa menunggu lama, Shean langsung membuka pintu mobil dengan kasar dan keluar.


Langkahnya sangat cepat, hingga mampu menggapai tangan wanitanya yang berjarak 5 meter darinya.


"Mau kau bawa kemana Istriku?" Suara bariton dari arah belakang menghentikan langkah keduanya. Risha langsung menoleh kebelakang karena tangannya pun tertarik seiring tubuhnya yang mengikuti gerakannya.


Shean mencengkram pergelangan tangan Risha sangat kuat, membuat Risha meringis pelan. Tatapan setajam pedang langsung menusuk kekornea mata Jaxton. Bukannya takut, Jaxton malah ikut menatap Shean dengan tatapan yang sama.


"Shean, lepaskan tanganku..." Lirih Risha mencoba melepaskan tangannya yang terasa panas karena cengkraman tangan Shean yang luar biasa kuatnya.


Shean mengalihkan tatapannya kepada wanita yang masih berstatus sebagai istri sah nya. "Kau melanggar janji kita!" Suara Shean pelan namun menekan. Dari nadanya terdengar pria itu menyimpan amarah yang berusaha ditahan saat melihat Wanitanya hendak pergi bersama pria lain.


Wanitanya? Sejak Menjadi Istrinya, Shean sudah meng 'klaim' Risha menjadi miliknya. Sampai Mereka benar-benar lepas nanti.


"Aku tidak melanggarnya." Kilah Risha sekuat tenaga masih berusaha melepaskan cengkeraman tangan Pria itu.


Shean berdecih lalu menatap Jaxton dengan tatapan mematikan. Seolah Jaxton adalah musuh terbesarnya yang sudah berani masuk kedalam wilayah kekuasaannya. Dan Shean tak akan membiarkan penyusup menghancurkannya dan mengambil apa yang dia miliki.


"Saya sudah peringatkan padamu. JAUHI ISTRI SAYA!" Tegas Shean menekan kalimat terakhirnya sembari menunjuk kepada Jaxton.


Jaxton sama sekali tidak takut akan apapun yang lawan bicaranya ucapkan. Yang dia inginkan hanyalah Risha segera Bercerai dari Shean. Karena Shean hanya bisa memberikan Penderitaan untuk wanita itu.


"Kalau aku tidak mau, kau mau apa?" Seringai tipis terukis dibibir pria itu, menatap Shean dengan tatapan menantang.


Shean semakin mengepalkan kedua tangannya kuat kala mendengar Ucapan Jaxton yang sudah berani bermain-main dengannya. Namun Risha, wanita itu semakin meringis sakit saat merasakan salah satu Pergelangan tangannya seperti ingin dihancurkan oleh Shean.


"Shean, lepas. Kau menyakitiku..." Lirihnya dengan suara tercekat. Sekuat tenaga menahan air matanya yang ingin luruh.

__ADS_1


"Lepaskan Risha. Kau menyakitinya!" Sentak Jaxton dengan tatapan tajamnya kepada Shean. Pria itu menahan emosi yang menggebu saat melihat wanita yang dicintainya disakiti didepan matanya.


"Jangan ikut campur dalam urusan kami! Dia Istriku!"


Elma dan Andrew yang masih didekat mereka nampak menatap satu sama lain. keduanya sebenarnya tidak ingin ikut campur dalam urusan mereka, tapi jika mereka tak ikut turun tangan Shean bisa murka karena Jaxton tidak mau mengalah. Terlebih dari sorot mata tajam Shean sangat menyimpan kebencian untuk Jaxton.


"Shean, lepaskan Risha..." Elma melepaskan cengkeraman tangan Shean itu dengan paksa, hingga refleks Shean langsung melepasnya.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Elma. Risha hanya menjawab dengan gelengan pelan dan mengusap tangannya yang memerah dan terasa panas kebas.


Elma menoleh kepada pria yang berstatus sebagai mantan suaminya. Pria yang sampai sekarang masih terjaga namanya dengan indah didalam hatinya. Selama mengenal Shean, pria itu tidak pernah bersikap kasar padanya. Sikap yang ditunjukkan Shean padanya itu penuh kasih dan sayang.


Tapi entah mengapa, sekarang, tatapan mata hitam itu tidak menyiratkan akan adanya setitik rasa cinta yang biasanya tersirat luar biasa.


"Kau tidak bisa bersikap seperti itu pada Risha. Ini semua hanya salah paham..." Ucap Elma.


"Apapun yang ku lakukan, bukan urusan kalian. Ayo kita pulang!" Shean menarik kembali tangan istrinya, kali ini tidak seperti yang tadi, kasar.


Dengan gerakan cepat, Jaxton menarik sebelah tangan Risha hingga membuat wanita itu tertarik kearahnya. "Jangan pergi dengannya.." Ucap Jaxton penuh harapan, kala Risha menatapnya dengan pilu.


Shean semakin geram dengan pria yang membuat darahnya semakin mendidih. Dengan cepat, Risha tertarik lagi kepadanya. Dan terjadilah tarik menarik antara Shean dan Jaxton merebutkan satu wanita yang membuat hati keduanya resah.


Risha semakin pusing dengan kedua pria yang sedang memperebutkannya. Bahkan teriak-teriaknya menghentikan dua pria itu sama sekali tak dihiraukan.


"Heh, hentikan. Apa-apaan sih kalian!" Andrew berusaha menghentikan kedua pria yang seperti anak-anak itu. Namun baik Shean ataupun Jaxton tidak ada yang mengalah.


Elma Menarik tangan Jaxton menghentikan perbuatan pria itu. Sedangkan Andrew menahan Shean sehingga tarikan keduanya lepas. Risha menarik nafas dalam dan mengeluarkannya, dua pria itu benar-benar membuat kepalanya serasa mau pecah.


"Lepas!!" Hardik Shean mengibaskan tangan Andrew yang menahannya dan mendorong tubuh pria itu mundur dari hadapannya.


"Ayo kita pulang!" Ucap Shean pelan namun menekan, diraihnya lagi tangan Risha namun dengan cepat Risha menolak. Shean sudah kehilangan kesabarannya.


"Kau pantas bahagia. Ikutlah bersamaku.." Sahut Jaxton dengan harap Risha mau mengikuti ucapannya.

__ADS_1


Shean mengepalkan kedua tangannya dengan emosi yang tertahan. Lalu menuding pria yang dengan beraninya mengusik miliknya.


"Jaga bicaramu, Atau saya akan menghancurkanmu sekarang juga!" Gertak Shean.


Jaxton tersenyum sinis. "Kau fikir aku takut? Kau pecundang, kau tidak bisa membuat Camelia-ku bahagia. Kau terus saja menyakitinya. Lepaskan dia, aku bisa membuatnya bahagia!" Ucap Jaxton tanpa takut sedikitpun dengan tatapan yang seperti ingin membunuhnya sekarang juga.


Sedangkan Risha tak mampu berbicara sedikit pun. Ucapan Jaxton membuatnya bingung dan sikap Shean membuatnya pusing. Risha tak bisa berfikir apa-apa sekarang, jalannya benar-benar buntu.


"Kau..." Shean bersiap untuk melayangkan pukulan kepada jaxton, namun belum sempat tangannya melayang kewajah sasarannya, Risha sudah Menahannya.


"Jangan pukul Jaxton! kalau kau memukulnya, pukul juga aku!"


"Minggirlah dari hadapanku. Jangan lindungi dia!"


Shean ingin sekali menghajar pria itu, namun Risha terus melindunginya dan terang-terangan menentangnya. Dan yang dilakukan Istrinya sungguh sudah membuat hatinya disayat seribu pisau.


Namun Shean menahan diri untuk tidak berbuat gegabah menghancurkan Jaxton didepan wanitanya.


"Kalau kamu masih menganggap dirimu istriku. Pulanglah bersamaku sekarang, atau pilih dia." Ucap Shean pelan tapi setiap kalimatnya menusuk hati Risha. Kemudian Pria itu berbalik dan berjalan menuju mobilnya dimana Asistennya dilarang turun.


Risha kalut. Wanita itu merasa ada yang nyeri dalam dirinya saat Shean memberinya pilihan yang dalam arti, Shean sudah siap melepasnya. Apakah sudah berakhir?


"Shean..." Panggilnya pelan yang pasti Pria itu tak mendengar karena Shean sudah hilang Dibalik pintu mobil.


"Mel... Jangan ikut dengannya." Jaxton menahan tangannya dengan segala harapan yang begitu besar.


Risha menoleh, melihat tangannya yang ditahan. Lalu melepasnya perlahan dan mendorong tangan itu pelan.


"Jax, aku masih istrinya...Maaf." Setelahnya, Risha langsung berlari menyusul Shean dan masuk kedalam mobil. Meninggalkan Jaxton yang kecewa.


Mengapa kamu masih memilihnya setelah dia sudah melepasmu, Mel. Aku masih menantimu disini, bersama cintaku...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2