
"Mana datanya."
Asisten Elvio meletakkan sebuah map coklat diatas meja kerja Tuan Shean. "Kau yakin ini sudah benar?" Tanya Tuan Shean lagi. Ia tak ingin data yang dimintanya itu salah.
"Benar tuan. Detektif kepercayaan kita sendiri yang memberikannya!"
"Lanjutkan pekerjaanmu."
"Baik tuan"
Shean menatap Map Coklat yang dipegangnya. Antara ragu namun ingin tau. Map itu berisi data Mantan Istrinya, Elma Dinara. Shean masih tak percaya, Kepergian Elma karena wanita itu mencintai pria lain. Elma bukan wanita seperti itu. Shean sangat Hafal. Shean bukan pria bodoh yang akan percaya begitu saja dengan Alasan Mantan Istrinya.
"Aku akan mengetahui semuanya sekarang, Sayang." Gumamnya Pelan seraya mengusap Foto Seorang wanita didalam bingkai diatas mejanya.
.
.
.
.
.
Lain tempat.
Matahari tepat diatas kepala hingga membuat cuaca sangat panas disiang hari ini. Risha yang baru saja keluar dari super market membeli perlengkapan bulanan dirumah Shean pun memutuskan mampir ke-kedai Kopi yang tak jauh dari Supermarket. Hari ini Archie tidak ikut, karena Sikecil itu sedang berada di rumah Nyonya Rose.
Hazelnut coffee dingin, nampak segar membasahi kerongkongannya. Beberapa kali tegukan sudah mampu menghilangkan rasa dahaganya, apalagi diluar nampak sangat panas. Bisa dilihat dari pintu kaca yang langsung terhubung keluar, beberapa orang juga mulai masuk kedalam Kedai sekedar singgah menikmati Secangkir Coffe atau Memang sengaja.
"Hai, Nona cantik."
Sapa-an Seorang pria sontak langsung membuat Risha kaget. Wanita itu mendongak, matanya langsung berbinar. "Jaxton."
Tanpa disuruh, Pria itu langsung mengambil tempat didepan Arisha. "Sendirian?" Tanyanya.
Yang ditanya hanya mengangguk. "Kau sendiri?"
"Aku memang selalu sendiri."
"Eh..." Risha mengulum bibirnya menahan senyumnya. Ia tak bermaksud mengingatkan kenyataan, Bahwa Jaxton itu Masih sendiri.
Jaxton celingukan menatap kanan kiri. Dipangkuan Arisha, biasanya kan ada pengawal kecilnya. Namun sikecil itu tak kelihatan batang hidungnya.
"Dimana Pengawal kecilmu itu?" Tanya Jaxton heran.
Risha sempat tak paham, siapa yang Jaxton maksud. Namun detik berikutnya, ia sudah menangkap siapa yang Jaxton maksud. "Archie"
"Ya ya...Dimana dia?" Jaxton mengangguk-angguk. Asal Risha tau, Ia justru bahagia tidak ada Archie bersama Risha. Putra Shean, hanya akan menarik Risha dan sulit melepaskannya.
__ADS_1
"Ada dirumah Oma-nya"
Jaxton menanggapi dengan senyum sekilas. Setelah itu seorang pramusaji pun datang membawa minuman yang tadi sempat ia pesan. Risha sampai kaget, ia hendak pergi namun Jaxton malah menahannya untuk menemani ngobrol sebentar.
"Kapan kau kembali ke Sydney?" Tanya Arisha.
"Belum tau. Setelah pekerjaanku disini Selesai mungkin. Kenapa memangnya?..." Jawab Jaxton berbohong. Sebenarnya beberapa bulan lalu ia sudah hendak kembali ke Sydney. Namun diurungkan, ia ingin menunggu Wanitanya pulang bersama. Jika pun nanti Arisha bukan miliknya, setidaknya dirinya berjanji akan membawa Wanita itu pergi dari pria yang memberinya penderitaan dan hanya memanfaatkannya saja.
Jaxton menggertakkan giginya ketika mengingat kembali Rahasia dibalik Pernikahan Arisha. Jangan difikir Ia tak tahu. Sepandainya Shean menyembunyikan Rahasia pernikahannya, Jaxton tetap bisa melihat dibalik wajah dan sikap Wanita itu. Hanya hitam diatas putih.
"Kau, kapan pulang?"
"Aku?..." Risha menunjuk dirinya sendiri. Ia tersenyum kikuk. "Aku, memangnya pulang kemana? Aku disini bersama suamiku." Imbuh Risha dengan menahan sesak didalam dadanya. Suami? 15 Minggu lagi dirinya akan menyandang gelar status baru, Seorang Janda.
Jaxton menarik kedua tangan Wanita didepannya. Risha hendak menolak, namun Jaxton tetap memaksa. "Kau tidak sendiri, dear. Aku bersamamu" Ucap Jaxton menggenggam erat tangan digenggamannya.
"Maksudnya?" Arisha tidak mengerti.
"Lupakan saja" Jaxton tersenyum lantas melepaskan Tangan wanita itu. Ia menyedot Hazelnut coffee miliknya.
Risha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Em, ngomong-ngomong.. Selama aku di sini, kau tidak kehilangan kariawan terbaik kan?"
"Dan kau kariawan itu. Kau sangat kejam.." Jaxton memasang Wajah Memelasnya. Bibirnya mengerucut membuat Risha gemas melihat tingkahnya.
"Kau sangat imut, bos tampan..."
"Itu sih aku tidak mau tau..." Ucap Risha diakhiri kekehan.
Bukannya marah, Jaxton justru tertawa. Ia begitu rindu bercanda dengan Wanita didepannya. Begitu pula Risha, Rasanya lama sekali dirinya tidak pernah tertawa lepas tanpa memikirkan apapun seperti sekarang ini.
"Kau yakin tidak mau kuantar?" Tanya Jaxton sekali lagi. Saat ini mereka sudah ada diluar Kedai kopi, setelah 1 jam menghabiskan waktu mengulangi masa lalu.
Arisha menggeleng lantas tersenyum ramah.
"Tidak jax. Aku bawa mobil dan supir."
"Oh ya, aku lupa. Kau itu kan, Nyonya Shean.."
Arisha terkekeh pelan. "Nah, itu kau tau. Sudah, Aku pulang dulu ya.." Risha Melambaikan tangannya hendak pergi. Namun langkahnya kembali terhenti ketika Jaxton menahan pergelangan tangan kirinya.
Wanita itu lantas menoleh dan mengernyitkan keningnya. "Ada apa lagi?"
Jaxton mengulurkan ponsel ditangannya. "Tulis Angka Kontakmu..."
Risha terhenyak mendengarnya. Sim Cardnya, Shean yang beli. Hanya Shean, Nyonya Anita dan Keluarga Sheanlah yang punya. Jika Shean tau ia menyimpan nomer Jaxton, apa yang akan terjadi nanti.
"Jax, Sorry.."
__ADS_1
"Aku hanya perlu Nomermu. Tidak perlu kau simpan." Sahut Jaxton penuh harap.
Risha masih menimang-nimang Fikirannya. Melihat Wajah Jaxton yang nampak berharap membuatnya tak enak menolak. Ia pun mengangguk dan mengambil ponsel Pria itu. Menulis 10 angka digit lalu menyerahkannya lagi kepria didepannya.
"Thanks."
"Sudah kan. Aku pergi ya..."
"Hati-hati, dear."
Risha langsung melangkah pergi meninggalkan Jaxton yang lega karena sudah berhasil mendapatkan Kontak Wanita itu.
.
.
.
.
.
"Langsung pulang, Nyonya?" Tanya Supir yang ditugaskan Tuan Shean untuk Mengantar Jemput Sang Istri.
"Iya, Paman. Archie katanya diantar mama Rose nanti."
Mobilpun perlahan berjalan membelah keramaian Victoria. Risha duduk berdiam sembari memperhatikan jalanan disamping kanannya liwat kaca mobil. Saat melewati sebuah mobil merah dipinggir jalan, Alisnya tiba-tiba menaut. Ia seperti melihat Sesuatu yang tidak asing.
"Paman berhenti sebentar." Titahnya, Mobil itu langsung berhenti dengan perlahan.
"Ada apa, Nyonya?"
"Tunggu disini sebentar."
Dengan gerakan cepat, Risha langsung membuka pintu mobil dan keluar. Ia kembali menyipitkan matanya saat melihat mobil yang nampak dikenalinya. Itu mobil Elma. Plat nomernya, Risha masih ingat. Ia celingukan menatap kanan kiri, tidak ada siapapun. Risha mulai mendekat, samar-samar ia melihat bayangan didalam mobil.
Tiga kali ketukan dikaca mobil, tak ada jawaban dari dalam. Risha kembali mengetuknya.
Detik berikutnya, Pintu terdorong pelan dari dalam. Risha mundur kesamping sedikit. Herannya tak ada yang keluar, karena penasaran tangannya pun menarik pintu mobil.
"Tolong..."
Terdengar Suara lirih yang langsung membuat Risha membuka pintu mobil. Matanya langsung membulat saat melihat Wanita yang bersandar dikursi mobil sambil memegang dadanya dengan raut kesakitan. Keringatnya menetes seiring remasan didada yang semakin kuat karena menahan Rasa sakit.
"Elma."
Risha Syok melihatnya. Ia langsung menutup mulutnya yang mengangga sangking kagetnya melihat Wanita didepannya.
Elma membuka matanya pelan ketika samar-samar mendengar Suara yang tidak asing. Ia pun tak kalah Terkejut. "Risha.." Suaranya tercekat. Namun berusaha mengumpulkan kesadaran dan menahan Rasa yang menyakiti tubuhnya.
__ADS_1
Didetik berikutnya, Tubuhnya langsung lunglai disandaran kursi matanya terpejam dan kesadarannya hilang.
Bersambung...