
Pyaaarrrrr
Suara gelas kaca yang pecah langsung menggema didalam kamar mewah itu. Dengan emosi yang tersulut setelah mendengar ucapan Risha yang berani menantangnya, Shean pun mengambil gelas yang tersimpan diatas meja nakas melemparkannya Kelantai.
Risha yang terkejut langsung memejamkan matanya. Beberapa saat terdengar suara tangisan yang menggema dikamar yang kedap suara itu. Archie yang tidur didalam kamar yang sama dengan Shean langsung menangis karena tidurnya terganggu dengan suara pecahan gelas.
Risha menoleh kebelakang, tanpa mengindahkan tatapan tajam yang masih mengarah padanya, risha berjalan cepat menghampiri putranya. Namun langkahnya yang hanya tinggal satu langkah terhenti saat suara bariton Shean menghentikannya.
"Jangan Sentuh Putraku!" Hardik Shean dengan suara baritonnya.
Langkanya mendahului Risha, lalu menggendong Putranya yang menangis. Archie yang meronta tak dihiraukan. Jika Risha mantap dengan pilihannya, maka dia pun bisa mengambil tindakan sendiri.
"Kau mau membawa Archie kemana?" Hardik Risha berusaha menahan tangan Shean yang hendak keluar kamar membawa Archie.
Shean menepis tangan yang biasanya dia genggam itu dengan kasar. "Bukan urusanmu!"
"Kalau begitu, jangan bawa Archie." Sahut Risha tak mau kalah.
Shean menyeringai dan menatap Risha dengan sinis.
"Memangnya siapa kau berani melarangku?"
"Aku..."
"Kau itu hanya pengasuh! Tidak pantas disebut sebagai ibunya Archie. Karena aku menikahi mu hanya untuk kebahagiaannya Archie!"
Duaarrr
Seperti ditusuk ribuan panah, hati risha seperti tersayat mendengar ucapan lantang Shean yang ternyata, sampai sekarang masih menganggap bahwa dia hanyalah pengasuh, setelah semua yang telah dia lakukan untuknya. Semuanya, telah dia berikan, masa depannya, dan harga dirinya. Namun balasannya, Shean tetap saja menjadi orang yang sangat jauh untuk digapai.
"Aku masih mempertahankanmu disini karena kau harus tetap menjalankan tugasmu sesuai kontrak yang tertulis." Imbuh Shean lagi.
Risha merasa, dirinya berada dititik terendah sebagai seorang wanita. Shean, bukan hanya menghancurkan hatinya, harga dirinya pun juga diinjak-injak.
Air mata yang mengalir tanpa bisa dicegah, dihapus dengan paksa. Bukan hanya Shean yang bisa tegas, ia pun juga bisa menjadi wanita kuat.
"Baik, jika itu yang kamu inginkan! Jangan pernah menyesalinya suatu saat nanti. Ingat itu!" Ketus Risha dengan ekspresi yang serius.
"Tidak akan pernah!" Sahut Shean, lalu melangkahkan kakinya pergi keluar dari kamar.
Risha ingin sekali menahan, namun usahanya pasti akan sia-sia.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Hidup di rumah yang sama, namun tidak saling menyapa. Itu sudah terjadi hampir 2 minggu dirumah tangga Shean dan Risha. Keduanya sama-sama tidak ada yang bertegur sapa, Shean memilih acuh dan Risha pun sama.
Waktu semakin cepat berlalu. Tidak terasa, pernikahan Mereka sudah memasuki bulan ke 23. Yang artinya, tinggal 1 bulan saja waktu yang tersisa untuk Risha dirumah Shean.
Semenjak pertengkaran mereka malam itu, Shean mulai membatasi ruang waktunya dengan Archie. Ia hanya diberi waktu 3 jam saat siang hari, dan saat menidurkannya. Selebihnya, Pengasuh baru yang disewa Shean-lah yang bertanggung jawab. Bukannya bahagia, Risha malah sedih. Karena dengan itu, Waktunya yang tersisa dengan Archie sangat berkurang.
Seperti sekarang ini, Sikecil itu merengek saat Ara pengasuh barunya itu beralih mengambilnya. Archie menangis saat Ara berusaha memisahkannya dari Risha. Walaupun Risha tidak punya banyak hak atas Archie, setidaknya dialah yang 2 tahun kurang ini menjadi ibunya.
"Biarkan Archie bersamaku terlebih dahulu." Pinta Risha dengan melas, sangat tak tega melihat putranya menangisinya seperti itu. Padahal mereka masih berhadapan diruangan yang sama. Bagaimana jika nanti mereka berbeda tempat tinggal.
"Maaf Nyonya, tapi ini sudah perintah Tuan Shean." Jawab Ara. Sejujurnya dia merasa iba pada Risha dan Anak asuhnya, tapi mau bagaimana lagi.. Ara hanyalah Baby sitter yang hanya dibayar untuk mematuhi perintah dari orang tua Anak asuhnya.
"Hiks hiks... mama..." tangisan Archie benar-benar menyayat hati Risha sebagai seorang ibu. Shean sangat kejam terhadapnya, jika tugasnya disini untuk merawat Archie, mengapa waktunya sekarang harus dibatasi. Apakah dia harus mengalah lagi, setidaknya sampai Kesepakatan mereka telah usai nanti.
.
.
.
Lain tempat, Keadaan Elma kini sudah stabil. Wanita itu sudah mulai beraktivitas kembali, dan bisa menikmati hari-harinya seperti biasa. Jika biasanya 1 Minggu sekali harus kontrol kerumah sakit, kini menjadi 2 Minggu sekali.
Seperti sekarang ini, setelah selesai dari rumah sakit, Elma langsung meminta kepada Andrew untuk mengulur waktu berkendaranya. Suasana yang cerah dan Angin yang semilir membuatnya betah diluar, sudah lama dia tak bisa menikmati waktu seperti ini semenjak dirinya dirawat dirumah sakit.
Kaca mobil yang dibuka, membuat Elma bisa menyaksikan sepanjang jalan disampingnya. Udara yang segar dihirup guna mengisi pasokan oksigen nya yang merindukan udara bebas seperti itu.
"Berhenti sebentar!" Ucapnya tiba-tiba.
Driver yang penurut, Andrew langsung mengurangi kecepatannya dan mobil mulai berhenti disebrang Halte.
"Kenapa?"
Tatapan Elma tertuju kearah halte, dimana seorang Wanita berdiri sesekali menoleh kanan kiri.
"Bukankah itu, Arisha?" Tanya Elma menunjuk kehalte. Andrew langsung mengikuti arahan tangan Elma, dan benar saja. Matanya menangkap sesosok wanita cantik berparas anggun dengan balutan dress selutut bewarna peach tanpa lengan. walaupun memakai kaca mata hitam, tapi Elma masih sangat ingat ciri-ciri Istri dari mantan suaminya tersebut.
Keduanya sama-sama turun dari mobil dan berjalan menuju topik utamanya.
"Arisha..." Panggil elma berteriak, saat melihat wanita itu hendak berjalan pergi.
Merasa namanya terpanggil, Risha langsung menoleh kebelakang. Menurunkan sedikit kaca matanya lalu mengintip gerangan yang memanggilnya. "Elma, andrew?" Gumamnya.
Risha tersenyum kaku saat Andrew dan Elma sudah berdiri didepannya. Risha membuka kaca matanya, bersikap seramah mungkin kepada dua sahabat Shean.
"Hai, apa kabar?" Sapa Elma tersenyum senang. Sudah sangat lama Mereka tidak bertemu.
"Baik. kau sendiri?" Jawab Risa bertanya balik.
__ADS_1
"Fine."
"Kau mau kemana?" Sahut Andrew.
"Aku mau kekantornya Shean. Mengantar makan siang.. ." Risha menunjukkan paper bag berisi makanan yang dibawa dari rumah, masakannya sendiri. Spesial untuk Shean.
"Tumben tidak bawa mobil?" Tanya Elma celingukan menoleh kanan kiri.
Risha tersenyum kikuk. Semenjak hubungannya dan Shean renggang, Risha jarang keluar rumah. Dan saat keluar pun, ia lebih memilih menggunakan mobil umum dari pada mobil pribadi yang sudah Shean fasilitas kan.
Sebuah mobil berhenti didekat mereka, Ketiganya sontak menoleh bersamaan.
"Jaxton."
Keduanya bergumam bersama.
Pria tampan dengan alis tebal itu berdiri disamping mobil melambaikan tangannya dan tersenyum ramah.
"Kau dari mana?" Tanya Risha setelah mereka bersitatap.
"Dari sana, lalu mampir kesini..." Canda Jaxton terkekeh pelan. Ketiga manusia itu pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hai kawan, apa kabar?" Sapa Jaxton kepada Andrew diringi tepukan pelan dibahu kirinya.
"Seperti yang kau lihat!"
Sedikit perbincangan dipinggir jalan itu, Risha akhirnya memutuskan pergi. Kalau tidak, makan siang untuk Shean bisa dingin nanti.
"Ayo kuantar." Tawar Jaxton.
"Tidak perlu. Mobil penggantiku sebentar lagi datang." Tolak Risha, bisa tambah runyam jika Jaxton mengantarnya. Sebenarnya tadi mobil pesanannya sudah datang, tapi tiba-tiba mogok diperjalanan. Jadi kini dia menunggu mobil pengganti.
"Waktu pulang ke Sydney, ibumu menitipkan sesuatu kepadaku."
"Benarkah?" Risha bertanya dengan binar bahagia. "Yasudah, aku ikut denganmu kalo begitu." Risha berubah fikiran.
Jaxton tidak berbohong. Memang saat dia ke Sydney, ibu risha menitipkan sesuatu saat dia berkunjung kekediaman Nyonya Anita.
"Kami duluan ya." Ucap Jaxton kepada Andrew dan Elma.
"Hati-hati dijalan." Seru elma. Sedangkan Andrew hanya menyaksikan tanpa ekspresi, wajahnya hanya terlihat datar saja.
Risha dan Jaxton pun meninggalkan mereka dan berjalan bersama menuju mobil hitam sport milik pria itu.
"Mau kau bawa kemana istriku?" Suara bariton dari arah belakang menghentikan langkah keduanya.
Bersambung...
Maaf ya, 3 hari tidak up. Sibuk banget soalnya. Apalagi nulis ini juga untuk mengisi waktu kosong aja😁😁😁
__ADS_1