Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Penyesalan Shean


__ADS_3

Tidak ada yang lebih indah selain jatuh cinta.


Tidak ada juga yang lebih menyakitkan dari pada patah hati.


Andaikan aku bisa memutar kembali waktu, aku menyesal pernah mengenalmu.


*


*


*


Braakk...


Risha menutup pintu sekeras mungkin setelah Pria yang menorehkan luka di hatinya kini keluar dari kamar dengan raut wajah yang benar-benar kacau dan frustasi.


Tubuhnya yang bergetar tak mampu menahan beban hingga perlahan tubuhnya merosot kebawah dibalik pintu. Kakinya menekuk menjadi penumpu Tangan. Tubuh ramping itu beringsut menyembunyikan Wajahnya kebawah.


Brak...


Prang...


Pyaarrr...


Suara peralatan diatas meja makan kini berhamburan jatuh diatas marmer. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Shean. Dengan ketakutan semua pelayan yang tadi mengerjakan tugas rumah pun langsung bubar kekamar masing-masing karena tak ingin menjadi sasaran kemarahan sang Majikan.


"Apa yang telah aku lakukan?" Gerutu Shean dengan amarahnya. Ia benci, namun tak tau pada siapa.


Braakk


Suara meja kaca kembali digebrak dengan Keras hingga kaca itu terlihat seperti membuat garisan tidak lurus.


Shean meluapkan segala Kemarahan pada dirinya sendiri. Ia benci, benci dirinya yang sudah gagal dalam menjalin rumah tangga. Sebagai suami, dia tak pernah tau, Rasa sakit yang diderita Elma, penderitaan elma. Dan sekarang kebodohannya terulang liwat Arisha, Wanita yang sudah masuk kedalam hatinya. Ia menyakiti Wanita itu.


Tak bisa dibayangkan, seperti apa rasa sakit yang dialami Istrinya itu kala ia menyebut nama wanita lain saat Bersamanya. Risha, apakah masih pantas meminta maaf pada wanita itu, setelah semua yang telah ia lakukan.


Dengan mengumpulkan keberanian dan Keraguan, Shean pun berjalan menuju lantai atas dimana Istrinya berada. Pintu bercat putih itu pun sudah berada didepan matanya. Ia ragu untuk mengetuk. Namun akhirnya tetap memgetuk.


"Sayang..." Panggil Shean pelan.

__ADS_1


Tok Tok Tok


"Sayang.. Buka pintunya, pliss.." Pinta Shean dengan penuh permohonan. Ia menyesal, sungguh. Tak pernah ada niatan akan melakukan hal sekeji itu pada Istrinya sekarang.


"Ar. Aku tau kamu dibalik sini..Ku mohon, buka sebentar.." Sebagai lelaki, Ia tak pernah mengeluarkan air matanya. Namun kini, Entah kenapa, Shean sangat lemah. "Aku minta maaf, sayang. Tolong buka pintunya. Kita perlu bicara.." Imbuh Shean yang Akhirnya Frustasi. Kakinya lemas hingga tubuhnya pun merosot kebawah bersandar pada pintu kamar yang masih tertutup.


Suaranya tentu saja terdengar sampai ketelinga Risha yang memang tak ingin melihat pria yang berstatus Suaminya.


Pukul 4 pagi. Risha membuka matanya yang terasa berat. Kantung matanya bahkan sedikit membesar dan membengkak karena semalaman menangis. Ia berdiri hendak keluar kamar, berniat mengambil Minuman didapur untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.


Ceklek Ceklek


Pintu ditarik kedalam, dalam waktu yang sama Shean hampir saja tersungkur kebelakang, namun pria yang tak tidur semalaman itupun langsung berdiri, mengukir senyum manis menyambut Istrinya yang matanya membengkak. Itu semua Karenanya.


"Sayang..."


Risha kaget, ia fikir Shean sudah pergi dari depan kamar. Rupanya pria itu malah tidur menunggunya disana.


Dengan Kesal, ia menghela nafas panjang. Kembali hendak melangkahkan kakinya melewati Suaminya, namun pria didepannya menahan tangannya hingga membuatnya terkejut.


"Lepass..." Sentak Risha mengibaskan tangan Shean.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Lepass..."


Shean menarik Wanita yang memberontak itu kedalam pelukannya. Tak perduli pukulan yang dilakukan Arisha supaya terlepas darinya. Justru Shean semakin memeluknya erat.


"Lepas shean. Aku tidak mau!" Hardik Risha dengan suara bergetar menahan tangisannya yang ingin pecah. "Lepass lepass..." Ia kembali memberontak dan memukul punggung pria itu, namun Shean tak bergeming. Hingga membuatnya menyerah dan menumpahkan segala Kepedihan hatinya didada Shean.


Shean ikut merasakan, apa yang dirasakan Wanita dipelukannya.


"Maafkan aku, sayang.." Lirih Shean mengusap Rambut Coklat yang nampak berantakan itu pelan.


"Kamu jahat shean.." Lirih Risha disela isakannya. Ia memejamkan matanya hingga air matanya kembali tumpah ruah didada pria itu.


Beberapa menit, keduanya melepas kesedihan dihati masing-masing. Shean baru melepaskan pelukannya saat merasakan Wanitanya mulai tenang. Tangannya mencengkram bahu Risha namun tak menekan.


"Aku bisa menjelaskan Semuanya.."


"Aku sudah mengetahuinya. Tak ada yang perlu dijelaskan." Sahut Risha dengan Acuh. Ia memalingkan wajahnya, malas menatap Pria dihadapannya. "Lagian, sebentar lagi kita akan berpisah. Tak ada hak untukku padamu!"

__ADS_1


Bila biasanya Ia yang mengingatkan, kini gantian Risha yang langsung menusuk kedalam hatinya. Tak bisa dipungkiri, ia takut. Shean takut itu terjadi.


Dengan berat hati, ia melepas Wanita itu. Risha langsung melangkahkan kakinya pergi. Sedangkan Shean, tubuhnya terasa lemas untuk melangkah kedalam kamar.


*


*


*


Pukul 9 pagi, Risha sudah rapi dengan Long dres sebatas dada dan sebatas siku tangan. Lehernya yang nampak beberapa bekas ****** pun ditutupi dengan rambutnya yang tergerai. Selesai dengan make up sederhana yang menutupi wajah pucatnya, Risha menyambar tas yang sudah ia siapkan lalu memasukkan ponsel kedalamnya. Wanita berparas cantik dengan penampilannya yang menawan itupun melangkah pelan dengan anggun menggunakan High heels setinggi 5Cm sebagai alas kakinya.


Ia akan membuktikan kepada Suaminya, bahwa dirinya juga bisa lebih unggul dari Mantan Istri Pria itu. Risha tidak lemah, hanya ia menunggu saat, saat dimana keadilan akan jatuh padanya. Dan kini, Sebentar, ya sebentar lagi, dia akan bebas. Kebebasan akan ia raih, dalam waktu sebentar lagi. Setelah ini tak ada lagi air mata karena menangisi Pria yang berbanding balik dengan hatinya, tak ada lagi Risha yang mengalah dan menyerah pada pria yang menjeratnya.


"Kau mau kemana?" Tanya Shean yang baru masuk dari dalam Balkon. Pria itu lumayan segar setelah mandi, walau wajahnya terlihat kurang tidur.


Risha berdehem, lantas menjawab. "Bukan urusanmu!" Jawabnya dengan Ketus. Bahkan sama sekali Risha tak menatap pria yang berdiri tak jauh darinya.


Shean nampak gregetan dengan sikap acuh istrinya. Namun ia tak bisa menyalahkan dibalik sikap Arisha, karena Wanita itu menyimpan Luka yang ia sebabkan.


Ia menarik nafas dalam dan memejamkan matanya, lalu membuangnya perlahan. "Kau masih istriku, Tentu itu menjadi urusanku.." Sekuat tenaga, Shean berucap pelan.


Risha memutar bola matanya malas.


"Hitam diatas putih kalau kau lupa. Coba kau baca ulang perjanjian yang telah kau buat." Sahut Risha.


Sial. Shean menggerutu dalam hati. Ia kalah dengan Wanita yang berstatus Istrinya.


"Aku antar." Tawar Shean, harap-harap Risha bersedia.


"Tidak perlu! Aku tau kau sibuk, mantan istrimu dirumah sakit. Kau tidak akan punya waktu untukku.." Sahut risha, kini ia menatap wajah Suaminya. Melihat seperti apa reaksi Shean, kala memgetahui Mantan Istrinya dirawat dirumah sakit.


Tepat dugaan Risha. Shean langsung terhenyak memdengarnya. Shean, akan kalah jika menyangkut Elma. Karena Elma, ada Archie, yang memberikan seorang malaikat kecil untuknya.


Shean terdiam sejenak, mencerna kata-kata Istrinya. Lalu tangannya mengusap wajah tampannya berkali-kali. "Pergilah, Hubungi aku jika ada apa-apa." Ucap Shean sebelum akhirnya masuk kedalam Ruang Walk in closet.


Meninggalkan Risha yang kembali didera rasa kecewa yang tiada tara. Tak ada harapan apapun dipernikahan ini, Harapannya benar-benar semu. Dengan berat hati, ia pun melangkah meninggalkan Kamar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2