
"Sebaiknya kamu pergi, Shean.." Lirih Elma sekuat hati menahan air matanya agat tidak tumpah. Wanita itu memalingkan wajahnya kearah jendela kaca, sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan pria yang berstatus mantan suaminya.
Shean mengusap wajahnya bingung. Tidak tau harus berkata apa sekarang, haruskah ia menuntut penjelasan setelah melihat bagaimana keadaan Elma sekarang. "Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya akhirnya.
Elma kini beralih menatapnya, hanya sekilas. Ia pun mengangguk lalu menjawab. "Aku baik-baik saja. Tak usah khawatir"
"Sejak kapan, kamu menyembunyikan Penyakit itu?" Ucap Shean memejamkan matanya yang terasa panas. Ia kehabisan kata-kata untuk sekedar menanyakan, mengapa Mantan Istrinya lebih memilih pergi dari pada menceritakan kepadanya, berbagi suka dan duka padanya.
Sebagai Suami, tentu Shean merasa kecewa. Dia dibohongi, dipermainkan oleh Wanita yang telah ia serahkan seluruh hatinya.
Elma tidak kaget dengan pertanyaan Shean, karena dia pun tau, Pria itu bukanlah orang sembarangan. Dengan sangat mudah, Shean bisa mencari tau sebab dan penyebabnya.
"Kamu tidak perlu tau. Sudahlah Shean, kita tidak ada hubungan apa-apa. Sebaiknya kamu pergi" Usir Elma yang mulai risih dengan Mantan Suaminya. Sekaligus ia enggan diberi pertanyaan yang membuatnya malas menjawab. Bukan apa-apa, sekarang saja ia sedang Menahan rasa nyeri yang mulai mendera ditubuhnya, terutama didalam rongga dada tepatnya dibawah paru-paru sebelah kiri.
Elma sampai berpegangan pinggiran ranjang sebelah kiri dengan sangat erat. Namun Wajahnya berusaha sekuat tenaga terlihat, ia sedang baik-baik saja.
"Apa kamu bahagia, setelah lari dariku?" Shean tersenyum sinis. Pedih rasanya setelah mengetahui Semuanya.
"Kau melupakanku apa yang telah kita lalui bersama. Asal kau tau, apa yang aku rasakan saat mengetahui kau meninggalkan Putra kita dirumah sakit.." Shean memejamkan matanya sejenak kala mengungkapkan isi hatinya.
"Berbulan-bulan aku mencarimu, menunggu kabar keberadaanmu. Archie, seharusnya Putra kecilku mendapatkan kasih sayang darimu. Namun sayangnya, kamu lebih memilih pergi.. Apa kamu memikirkan, bagaimana aku bisa merawat Archie sendirian? Bagaimana Putramu tumbuh tanpa campur tanganmu? Bagaimana...?"
"Cukup Shean!!" Sentak Elma yang mulai pusing dengan Alunan kata-kata yang memporak-porandakan hatinya. Asal shean tau, bukan hanya pria itu yang tersiksa. Namun ia pun sama, dia adalah ibu yang melahirkan Archie. Sebagai wanita, dirinya pun ingin menjadi ibu yang sempurna.
"Kenapa?" Shean tertawa sinis. Tanpa sadar, setetes air matanya luruh, ini yang kedua kalinya ia menangisi seorang Wanita. Arisha, dan Elma.
"Cukup, jangan ucapkan apapun lagi. Kumohon..." Lirih Elma yang akhirnya pertahanannya untuk terlihat kuat runtuk seketika. Ini menyangkut soal anak, Elma tak sekuat itu.
Shean mengacak-ngacak rambutnya, Lalu ia bangkit dari kursi dan beralih duduk dipinggir ranjang yang ditempat Elma. Menatap Wanita yang Entahlah, masih ia cintai atau tidak.
"Mengapa kamu meragukanku, Sebagai Suami, El?" Ucap Shean dengan suara Paraunya. Rambut panjang yang mulai rontok itu diusap perlahan. Setelah menarik nafasnya yang mulai kehabisan pasokan oksigen, Shean mengukir Seurai tipisnya. "Apakah aku tidak pantas, Menjadi Suami untukmu?... Membagi Suka dan duka bersama?" Imbuhnya.
__ADS_1
Elma sontak langsung menggeleng. Tidak seperti itu maksudnya. Shean, suami yang sempurna untuknya. Apapun yang ia inginkan, Shean selalu siap memenuhinya. Dan Shean, pria yang sangat ia cintai. Sangking Cintanya, ia pun tak ingin membuat Pria itu ikut menderita dengan Penyakitnya.
"Shean aku..." Elma menundukkan wajahnya, air matanya sudah tumpah ruah. Bukan hanya sakit ditubuhnya, namun hatinya pun nyeri karena telah melukai Pria yang amat ia cintai. Berpisah dengan Shean, seperti mimpi terburuk untuknya.
Shean maju mendekat, lalu merengkuh wanita yang tubuhnya mulai habis digerogoti Penyakitnya itu kedalam pelukannya. Elma tidak menolak, tidak juga membalas pelukan Mantan Suaminya. Hanya isak tangis yang mulai terdengar.
.
.
.
.
.
Risha memejamkan matanya dan menahan gejolak hatinya yang berdetak sangat cepat. Dadanya bergemuruh tidak karuan, tenggorokannya seakan kering dan tak mampu mengucap sepatah kata. Datang diwaktu yang tidak tepat, harusnya tidak sekarang dia menyaksikan Pria yang berstatus suaminya kini memeluk wanita lain. Bukan Wanita lain, tapi Wanita yang memang masih menjadi Permaisuri dihati Shean. Ya, Risha akui itu.
Risha mengeratkan gendongan tangannya yang memeluk Putra tirinya. Setelah menarik nafas perlahan, tangannya menarik pintu perlahan supaya tertutup. Ia berbalik tersenyum tipis kepada pria yang ia tabrak kemarin. Rupanya Pria itu adalah sahabatnya Shean dan Elma. Dunia itu memang sempit bukan?
Andrew tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebenarnya ia pun menyaksikan bagaimana Shean memperlakukan Elma, Istri mana yang tak terluka melihat Suaminya masih mencintai Mantan Istrinya. Namun apa yang bisa ia lakukan, Perpisahan Elma dan Shean itu juga campur tangannya.
"Aku, titip ponselnya saja.. Sepertinya Putraku tidurnya kurang nyaman!" Ucap Risha berbohong. Risha tak ingin terlihat Rapuh Menyaksikan bagaimana Shean Berbanding balik memperlakukannya dihadapan Andrew.
"Kau yakin?"
Risha menjawab dengan anggukan, lalu merogoh ponsel ditasnya dengan susah payah. Benda kotak panjang berbentuk pipih itu diserahkan kepada Andrew.
"Sampaikan saja salamku pada elma, nanti."
"Baiklah. Hati-hati dijalan.. Ayo kuantar kedepan."
__ADS_1
Risha mengangguk, keduanya lantas berjalan menuju lift. Andrew melirik wanita yang berstatus Istri sah dari sahabatnya. Jujur, dia merasa bersalah pada Risha. Wanita polos yang harus terjebak dengan Shean, karena Archiee membutuhkannya sebagai ibu pengganti.
Risha diam saja, Kejadian beberapa menit lalu dimana suaminya memeluk Elma, masih terbayang difikirannya. Bahkan saat memejamkan mata pun, Bayangan Mereka masih hadir bergeliyaran.
Ting.
Pintu lift terbuka, Keduanya langsung keluar menuju Luar rumah sakit.
"Aku pulang dulu, maaf tidak bisa menjenguk Elma langsung." Ucap Risha.
"Tidak apa-apa. Terima kasi juga, aku tidak tau kalau sampai tidak ada kau yang membawanya. Entah seperti apa nasib Sahabatku itu.."
"Jikapun bukan Elma, aku pasti juga akan menolongnya. Santai saja.." Sahut Risha sedikit mendongak menatap Wajah pria tampan didepannya.
Seper sekian detik, Andrew dibuat tak berkedip oleh mata yang membuatnya tertarik. Sialan, Itu milik Shean. Pria itu memejamkan matanya dan menggeleng samar. "Dia itu istrinya Shean, ingat!" Batinnya dalam hati.
"Sekali lagi terima kasih."
Risha mengangguk lantas melangkah pergi. Namun langkahnya kembali diurungkan, ia berbalik badan dan menghampiri Pria yang masih berdiri menatapnya dengan kebingungan.
Risha menatap kanan kiri, setelah menarik nafas dan mengeluarkannya. Ia menatap Andrew. "Kumohon, jangan katakan pada Shean jika aku kesini." Pintanya dengan hati-hati.
Andrew mengernyitkan keningnya sejenak, lantas mengangguk. Rupanya itu penyebab Risha balik lagi.
Tangannya dengan berani menepuk pelan bahu Risha. mengukir senyum ramahnya, namun ia kasihan dengan istri sahabatnya. jelas sekali terlihat pancaran kecewa dan patah hati dari mimik wajah Ayu itu.
"Are you okay?" Tanya Andrew.
Pertanyaan apa itu? Risha tertawa dalam hati. Ada yang menanyakan dirinya, bagaimana kabar hatinya sekarang? ia pun tak tau seberapa kuatnya hatinya sekarang.
Hanya anggukan kecil yang dijadikan jawaban, sedangkan hatinya berteriak bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Bersambung...