Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Gugatan perceraian


__ADS_3

Sepanjang perjalanan dalam mobil, tak ada siapapun yang bersuara. Risha maupun Shean sama-sama diam, begitu pula Asisten Elvio yang sudah tau dibalik sikap atasannya tersebut karena apa.


15 menit, mereka sampai dipelataran Kediaman rumah Shean. Mobil sudah berhenti lebih dari 5 menit, namun tak ada satupun antara Shean dan Risha yang keluar. Keduanya masih sibuk dengan fikirannya masing-masing. Sehingga kini Asisten Elvio bingung harua ngapain.


Pria itu menarik nafasnya perlahan lalu membuangnya. Lalu menoleh kebelakang dimana dua orang dibelakangnya sedang menatap luar jendela kacanya masing-masing.


"Ekheemm... Tuan, Nyonya, Kita sudah sampai. Apa kalian tidak berminat untuk turun?" Tanya Asisten Elvio pelan, namun cukup menyadarkan dua manusia yang sedang melamun itu.


Shean dan Risha sontak langsung menoleh kanan kiri, dan benar saja. Mereka sudah berada didepan rumah. Tanpa menunggu lama lagi, keduanya langsung turun dari dalam mobil.


"Mama..."


Suara kecil langsung mengalun merdu ditelinga Risha saat masuk keruang keluarga. Archie sedang berjalan menuju kearahnya dengan langkah kecilnya, namun ditahan oleh Baby sitter Ara yang dengan cepat menahan Sikecil itu dan menggendongnya.


Risha ingin sekali mendekat dan mengambil Putra tirinya, namun diurungkan, karena ia tahu Shean tidak akan mengijinkan. Terlebih setelah pertengkaran mereka tadi bersama Jaxton.


Sedangkan Shean, pria itu menghela nafas beratnya. Matanya mengkode Baby sitter Ara untuk menurunkan Putranya. Archie dengan cepat langsung berjalan kearah Risha, tapi lain Risha yang tidak fokus pada putranya justru malah memilih melangkah pergi menuju kamarnya dengan langkah cepat.


"Mamaa..." Teriakan kecil itu tak dihiraukan Risha.


Langkah Archie kalah cepat, karena Risha sudah sampai dilantai atas. Dengan cekatan, Shean langsung menggendong Putranya yang menangis.


Ini semua salahnya karena sudah memberikan jarak antara Istri dan Putranya. Tapi semua itu dilakukan, supaya saat Risha benar-benar meninggalkannya nanti, Archie sudah terbiasa. Apapun yang dilakukan Shean, semua itu bentuk kasih sayangnya kepada putranya.


.


.


.


...Di matamu, aku tak bermakna....


...Tak punyai arti apa-apa......


...Kau hanya inginkanku saat kau perlu,...

__ADS_1


...Tak pernah berubah......


...Kadang ingin kutinggalkan semua....


...Letih hati menahan dusta......


...Di atas pedih ini, aku sendiri....


...Selalu sendiri......


Suara alunan lagu yang diputar dengan suara sedang terdengar begitu merdu dikamar yang remang-remang itu. Risha sengaja memutarnya, mengurangi rasa sepi dikamar yang hanya ada dirinya, karena sekarang dia dan Shean sudah berbeda kamar. Risha lebih memilih tidur dikamar tamu, bersebelahan dengan kamar Utama.


Tak ada yang biasanya rewel dengan tingkahnya yang penuh drama. Yang ada hanya sunyi dan sepi, karena Archie pun sekarang sudah berpindah tangan kepada Pengasuhnya.


Setetes air mata jatuh dipelupuk matanya kala mendengar lantunan lagu yang begitu Risha hayati. Lagu itu seperti menceritakannya, perasaannya yang dipendam. Apapun yang dia lakukan, seperti tak ada setitik yang begitu Shean ingat. Shean tak bisa melihat, hatinya yang sesungguhnya. Andai, Shean mau membuka hati untuknya, pasti mereka akan bahagia. Namun itu hanyalah sebuah angan yang akan ia simpan sebagai kenangan.


Mata coklat itu perlahan tertutup, beberapa hari tak tidur dengan teratur membuat Risha dirundung rasa lelah. Hingga kesadarannya mulai hilang dan terbang kealam Mimpinya.


Arghhh


Diraihnya ponselnya diatas meja, lalu membuka aplikasi WhatsApp, mencari satu nama dan menekan tombol call.


Tak butuh waktu lama, telepon langsung terhubung.


"Hallo tuan, selamat malam..." Sapa Asisten Elvio disebrang sana.


"Lakukan seperti yang sudah kita rencanakan. Besok saya mau kabar baiknya sudah ada!"


"Baik tuan." Jawab Asisten Elvio dengan patuhnya, walau sebenarnya pria itu ingin sekali mengeluh, karena selama sebulan jarang sekali istirahat. Shean memberinya banyak kerjaan tanpa tanggung-tanggung.


Telpon langsung dimatikan sepihak oleh Shean. Seurai tipis terukir dibibir pria itu.


"Jaxton Ellard...Kau salah sudah bermain-main denganku!" Gumam Shean tersenyum sinis.


.

__ADS_1


.


Pagi harinya, Ruang makan dimana Shean dan Risha sedang berada itu sepi. Risha memilih diam tanpa kata, pun dengan Shean yang sesekali melirik Istrinya yang duduk didepannya. Hanya suara sendok dan garpu yang beradu diatas piring beling itu.


Hanya dua suap steak daging yang masuk kedalam mulut Risha, setelahnya Risha malas. Jangankan makan, keluar kamar pun ia enggan. Bertemu Shean hanya mengingatkannya pada lara yang ia simpan.


Jika bukan karena satu alasan, maka Risha tidak akan turun untuk ikut sarapan.


"Aku pinjam KTP mu."


"Buat apa?" Shean menyatukan alisnya, Permintaan Risha membuatnya bingung. Buat apa wanita itu meminta KTP nya.


"Bukan hanya KTP. Aku juga minta Buku nikah kita, untuk perlengkapan Syarat pengajuan gugatan perceraian."


Uhuk Uhuk Uhuk


Shean langsung tersedak mendengar kalimat Risha yang membuatnya terkejut. Tubuhnya terasa lemas, kala mendengar kata Gugatan perceraian. Risha mau mengajukannya?


"Waktunya masih tiga minggu lebih. Tak usah khawatir!" Sahutnya, namun hatinya berkata lain. Ingin rasanya ia menjawab, Aku tidak ingin cerai. Tapi tak bisa keluar.


"Setidaknya berikan saja KTP dan buku nikahnya. Jika kamu sibuk, aku yang akan mengurus semuanya!" Kukuh Risha tetap pada pendiriannya.


Brak


Gebrakan keras membuat Risha terlonjak kaget, namun sekuat tenaga menahan diri, matanya terpejam kuat lalu terbuka. Pandangan pertama yang dilihat, Shean sudah berdiri menatap tajam padanya.


"Aku yang memutuskan semuanya! Jangan mengambil keputusan apapun tanpa seizinku!" Hardik Shean dengan suara meninggi. Setiap kata dari ucapannya mengandung amarah tersendiri.


Tanpa takut, Risha berdiri menatap Shean tak kalah tajamnya. lalu berkata.. "Selama ini aku selalu mengalah padamu. Semua yang aku lakukan, tak ada artinya dimatamu. Aku juga punya hak, atas keputusan pernikahan ini! Aku juga punya hati yang tidak akan selamanya bisa kamu tindas, asal kamu tahu itu!" Risha meralat ucapannya, menarik nafas pelan dan mengeluarkannya. Matanya terpejam sejenak, menikmati rasa sakit dihati, lalu kembali berkata. "Jika apa yang aku lakukan sekarang menurutmu aku ingkar perjanjian, maka aku putuskan. Aku akan mengembalikan semua uang yang sudah kamu keluarkan dari biaya pengobatan ibuku sampai dana yang sudah kamu sumbangkan untuk perusahaan Ayahku!!"


Ribuan panah seperti menusuk hati Shean. Tak pernah terlintas pemikiran seperti itu sama sekali, yang dikatakan Risha tidaklah ia inginkan. Namun selalu saja hatinya tak mampu berkata benar.


"Baik. Jika itu yang kamu inginkan!"


Bersambung...

__ADS_1


^^^Utopia, Serpihan hati.^^^


__ADS_2