Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Keinginan Risha


__ADS_3

Setelah menidurkan Archie diranjangnya, Risha langsung keluar dari kamar. Kepalanya mulai berdenyut pusing kembali, karena sebenarnya tubuhnya belum vit 100%.


"An, tolong ambilkan obat pusing ya." Titah Risha setelah duduk dikursi meja makan. ia meraih gelas berisi air hangat yang sudah disiapkan pelayan atas perintahnya dan meneguknya beberapa kali. Tubuhnya terasa lemas, kepalanya terasa sakit.


Dengan terburu-buru Anja datang membawa nampan berisi beberapa obat. "Ini, Nyonya..." Ucapnya, lalu meletakkan diatas meja.


Risha mengambil satu kapsul obat yang diyakini pereda rasa sakit kepala, lalu meminumnya. Setelah selesai ia menumpu tangannya diatas meja.


"Nyonya mau saya pijat?"


Risha mengangguk lantas menundukkan kepalanya Menyembunyikan Wajahnya diatas tangannya. Menikmati pijatan lembut yang membuat sakit dikepalanya sidikit berkurang.


Lain tempat, Shean keluar dari kamar rawat Elma, Setelah Wanita itu tertidur dipelukannya. Andrew yang duduk berjaga diluar pun langsung berdiri saat mendengar suara pintu dibuka.


"Aku ingin kita bicara!" Ucap Shean dengan nada ketus. Mata setajam elangnya menatap Andrew, Sahabat masa kecilnya.


Dengan langkah cepat, Shean berjalan menjauh dari ruang rawat Elma dan berhenti ditempat yang lumayan sepi dari pengunjung rumah sakit. Pria itu menatap tajam Andrew yang nampak tak bertanya-tanya, untuk apa sahabatnya mengajak bicara. Karena pria itu sudah bisa menebak, apa yang sedang ingin dibicarakan oleh Shean.


"Kenapa kau membawa lari Elma?" Tanya Shean dengan suara pelan namun menekan. Ia masih waras dengan tidak bicara keras, lantaran sekarang mereka sedang dirumah sakit yang tak mau menimbulkan perhatian para orang yang liwat walaupun lorong itu lumayan sepi.


"Kau sudah tau sendiri jawabannya!"


Shean mengepalkan kedua tangannya erat, andai tidak dirumah sakit. Sudah pasti wajah Pria didepannya akan hancur ditangannya.


"Kau penghianat!!" Tuding Shean dengan amarahnya. Andrew menunduk, bukan takut pada Shean. Namun ia menyadari kesalahannya, yang telah mengikuti kemauan Elma untuk membawanya pergi menjauh dari Shean.


"Shean, kau harus mendengar penjelasanku..."


"Aku tidak butuh penjelasan penghianat sepertimu." Ketus Shean, lalu dengan kesal pria itu pergi begitu saja meninggalkan Andrew. Lama-lama adu mulut dengan Andrew, bisa-bisa ia naik darah.

__ADS_1


Andrew mengacak-ngacak rambutnya yang rapi, tembok yang tak bersalah pun ditinju dua kali lalu menendang kursi penunggu. Beberapa orang yang liwat pun memandang ngeri dengan pertanyaan-pertanyaan yang disimpan.


Shean mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah ramainya jalan dijam makan siang ini. Banyak kendaraan roda 2 dan 4 yang ia lalui, namun tak ada niat pun untuk mengurangi kecepatannya.


30 menit, Mobil hitamnya sampai dipelataran rumah mewahnya. Dengan langkah cepat, pria itu berlari masuk kedalam rumah.


Secara bersamaan saat ia hendak membuka handle pintu, pintu terbuka dari dalam. Menampakkan Risha yang berdiri dengan wajah pucat namun ditutupi Make up tipis dan lipstik warna merah sedikit mencolak. Wanita itu menatap Shean dingin, lain dengan Shean yang menatapnya dengan pandangan memuja. Wanita didepannya nampak begitu dewasa, dan Shean baru menyadarinya.


"Kamu, mau kemana?" tanya Shean pelan dengan tatapan sayu, setelah pria itu kembali sadar untuk tidak memuja wanitanya terlalu lama. Karena kenyataannya memang Istrinya itu cantik dilihat dari sebelah manapun.


"Tidak perlu tau aku mau kemana. Yang penting aku masih pulang." Jawab Risha tanpa ekspresi.


Shean tersentak mendengar jawaban yang tidak pernah dia sangka akan keluar dari mulut Istrinya. Sangat berbeda dari sikap Risha yang biasanya, Wanita yang lembut penurut dan penuh kasih sayang. Kini berubah menjadi Wanita dingin, angkuh, dan sangat berbeda. Dan Shean sadar, itu semua karena dirinya yang telah merubah Istrinya.


"Mengapa kamu bicara seperti itu, sayang."


Risha tersenyum sinis mendengar kata 'sayang' yang terucap. Sejak kapan pria itu menyayanginya? yang Shean tau kan hanya kenyamanan putranya. Shean hanya bisanya nyakitin hatinya tanpa bertanya, sudah sedalam apa lukanya.


Deg


Shean kembali Tersentak mendengarnya. Namun hanya sejenak rasa keterkejutan itu hadir, karena shean pun sudah menerka. Kalau Risha sudah pasti curiga saat ia dibebaskan keluar tadi pagi. Tapi bukan itu jawaban yang Shean inginkan dari Istrinya.


Shean yang diam membuat Risha mendengus kesal, Wanita itu pun berjalan melewati Suaminya.


"Aku tidak mengizinkanmu pergi?" Titah Shean menahan sebelah tangan Risha kala wanita itu hendak melintasi nya.


"Lepas Shean.." Ucap Risha tanpa menoleh kebelakang. beberapa saat ia mengibaskan tangannya, namun Shean tak juga bergeming.


"Shean lepaass..." Lirihnya lagi. Detik berikutnya, tubuhnya melayang karena Shean menggendongnya ala bridal style, membopong Wanitanya masuk kedalam rumah menuju kamar.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Risha terus meronta, namun Shean tak ada niatan sedikit pun untuk menurunkannya. Hingga tubuhnya berakhir jatuh diatas ranjangnya. Risha memperbaiki posisinya yang berbaring tak teratur diatas ranjang, Kepalanya yang pusing kini bertambah pusing saat tubuhnya terpental diatas ranjang. Baru saja ia mengatur nafasnya dan menetralisir rasa Pusing dikepala yang berusaha ia tahan, Ia pun dikejutkan dengan Shean yang melepas Jaket dan kaosnya juga celana jeans-nya. Meninggalkan Celana Pendek saja.


"Apa yang kau lakukan?" Hardik Risha kala Pria itu dengan cepat menarik tubuhnya mendekapnya erat. "Lepaskan aku Shean.." Imbuh risha memberontak. Shean tetap Shean yang tak mendengarkannya.


Shean semakin mendekap erat Wanitanya, tak ingin sedikit pun mengijinkan ada sekat yang menghalanginya. "Biarkan seperti ini..." Lirihnya memejamkan mata, menghirup aroma Wangi yang menenangkan dari rambut Risha.


"Lepas Shean, lepas... Mengapa kamu seperti ini?" Lirih Risha, air mata yang selalu ia tahan dari tadi. Kinu akhirnya tumpah ruah juga, mengalir merembes membasahi kain spreinya. Bukan hanya rasa sakit dikepalanya, namun hatinya jauh lebih sakit. Risha tak kuat lagi menahannya, hingga tak perduli isakan yang mulai terdengar jelas kependengaran shean.


Shean mengusap Rambut Wanitanya perlahan, namun isakan Risha tak kunjung berhenti. "Sayang...Maafkan aku."


"Ar..."


"Kepalaku sakit, Shean.." Ungkapan yang membuat Shean langsung melonggarkan pelukannya, lalu menatap wajah Istrinya.


"Kepalamu sakit?" Tanya Shean dengan raut kecemasan. Ia baru sadar, jika wajah wanitanya pucat dan Tubuhnya panas setelah dicek keningnya yang terasa hangat.


Risha mengangguk dan memegang kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. Entah mengapa rasanya bertambah, kepalanya terasa ingin pecah.


"Kita kerumah sakit sekarang." Ujar Shean yang hendak beranjak, tetapi Risha menariknya dan menggeleng.


"Aku tidak mau." Tolaknya keras.


"Lalu kau mau apa?" Sahut Shean dengan nada Frustasi. Masalahnya saja belum selesai, kini ditambah Risha yang keras kepala tidak mau kerumah sakit. Komplit sudah Ujiannya sebagai suami.


"Kau yakin mau menuruti keinginanku?" Tanya Risha pelan setelah menimang-nimang Fikirannya. Rasa sakit dikepalanya sedikit berkurang saat Shean bertanya 'apa maunya?'.


Shean bingung sendiri dengan ucapannya. Namun Ia mengangguk, apapun yang diinginkan Risha, Ia akan menuruti. "Katakan, asal setelah itu kita kerumah sakit." Ucapnya, lalu beranjak duduk meraih kaosnya yang terjatuh dilantai.


Risha menarik nafasnya perlahan dan membuangnya. Ia pun beranjak duduk dengan kepala yang terasa berat. "Datanglah kepengadilan agama, dan daftarkan gugatan perceraian kita!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2