Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Hubungan yang semakin jauh


__ADS_3

3 hari yang lalu.


Disinilah Risha berada, disebuah rumah lantai dua yang sudah 2 tahun kurang ini tidak pernah ia kunjungi. Rumah Tuan Arga.


Risha memutar bola matanya jengah, saat berhadapan langsung dengan Ayah dan ibu tirinya. Dibalik sikap Ayahnya yang merestui hubungannya dengan Shean, ternyata benar adanya kejanggalan. Risha baru mengetahui, kalau ternyata perusahaan tuan Arga sempat diambang kebangkrutan, dan Sheanlah yang sudah menyumbangkan dana untuk perusahaan tuan Arga.


Risha mengetahui dari surat perjanjian Tuan Arga dan Shean yang tak sengaja ia temukan jatuh diruang kerja Shean paska mencari dokumen perlengkapan Syarat pengajuan gugatan perceraiannya.


Wanita itu melemparkan map yang dia bawa diatas meja tepat didepan tuan Arga. Sedangkan tuan Arga dan Nyonya yuni nampak bingung dengan maksud dan tujuan Risha, juga map yang dilemparkan itu mengundang rasa penasaran keduanya.


"Apa ini?" Tanya Nyonya Yuni sembari mengambil map yang dilemparkan putri tirinya itu.


Risha menghela nafas kasarnya, lalu menatap dengan nanar wajah pria yang mirip sekali dengan adik laki-lakinya.


"Sejak anda dengan tiba-tiba menyetujui pernikahan saya dan Shean, saya sudah curiga, ada sesuatu yang janggal. Dan ternyata benar adanya kejanggalan tersebut."


Tuan Arga merasa terhenyak mendengar Ucapan Putrinya yang dengan sengaja mengucapkan Anda dan Saya. Hubungan keduanya seperti sangat jauh sekali.


"maksudmu apa, nak?" Tanyanya tidak mengerti.


"Pah, kamu pinjam uang sama suaminya?" Sahut Nyonya Yuni dengan nada tidak percaya, matanya melirik Risha.


Tuan Arga terkejut mendengar pertanyaan Istrinya, namun semua itu memang benar adanya. Perusahaannya pernah diambang kebangkrutan, dan secara kebetulan ada seorang pria yang menawarinya bantuan dengan memintanya sebagai Wali nikah untuk calon istrinya.


"Risha. Papa, bisa jelaskan..."


"Anda memanfaatkan saya?" Risha bertanya dengan nada kecewa. Pria yang berstatus ayah kandungnya, bukan hanya telah menelantarkannya dan adik juga ibunya. Namun malah memanfaatkan keadaan saat ia harus dengan paksa menikahi Shean.


"Papa tidak punya pilihan lain. Suamimu yang menawarkan sendiri." Sahut Tuan Arga berusaha menjelaskan yang sebenarnya. Hubungannya dengan Putri dari mantan istrinya itu sudah jauh, jangan sampai semakin jauh.


"Tapi anda..."


"Sudahlah Risha, yang sudah terjadi biarlah berlalu. Toh kalian juga sudah menikah. Jika bukan karena papamu ini, mana mungkin kamu bisa menikah dengan suamimu sekarang?" Sahut Nyonya Yuni memotong ucapan Putri tirinya. Map itu dilemparkan lagi diatas meja seperti sampah tak berguna.


"Yun..." Tuan Arga menatap tajam istrinya yang nampak acuh. lalu menatap kembali putrinya yang sudah banyak ia buat kecewa. "Maafkan papa. Papa akan mengembalikan semua uangnya Shean. Semua uang yang sudah suamimu berikan, sudah papa siapkan."


Risha tak menjawab. lain dengan Nyonya Yuni yang nampak tidak suka.


"Oh, jadi kamu diam-diam menyembunyikan uang dariku, pa?" Sentak Nyonya Yuni.

__ADS_1


"Bukam menyembunyikan. Tapi itu memang uangnya Shean yang papa kumpulkan!"


"Mana bisa begitu. Aku tidak mau tau, papa harus memberikannya pada mama!"


"Papa sudah berikan bulanan, apakah masih kurang?"


"Oh, tentu saja. Uang bulanan yang kamu kasih itu memang selalu kurang!" Sahut Nyonya Yuni sambil berdiri menatap tajam suaminya.


Mendengarkan pertengkaran yang tak bermanfaat bagi Risha, malah membuat Wanita itu pusing. Tanpa pamitan kepada sepasang kekasih yang sedang adu mulut, Risha langsung melangkah keluar sambil menenteng map yang diambilnya dari Ruang kerja Shean.


.


.


.


.


.


Tap tap tap


"Tuan, ini berkas yang tuan minta..." Ucap Asisten Elvio sembari menyerahkan berkas ditangannya diatas meja.


Tanpa melirik sedikit pun kearah asistennya, Shean langsung merebut Berkas tersebut dan membaca isinya.


"Siapa yang mengerjakan ini?" Tanya Shean sambil memamerkan Berkasnya.


"Saya sendiri tuan."


Braakkk


Suara meja yang digebrak membuat Asisten Elvio terkejut. Pria itu lantas menundukkan kepalanya, bukan takut pada apa yang dilakukan bosnya. Karena Bosnya tidak pernah marah tanpa sebab.


"Apa kamu sudah bosan bekerja disini?" Sentak Shean, kilatan amarah tercetak jelas diwajahnya. Sebenarnya tidak ada yang salah diberkas itu, karena Asisten Elvio selalu melakukan yang terbaik dan saat mengerjakan tugas apapun darinya selalu dicek berkali-kali dengan sangat teliti.


"Tidak, tuan." Jawab Asisten Elvio.


"Pergilah..." Ucap Shean akhirnya.

__ADS_1


Selama mengenal Tuannya, Asisten Elvio tidak pernah melihat Shean seperti itu. Wajahnya frustasi, selalu uring-uringan, dan amarahnya kadang kala tak terkendali. Tuannya itu seperti sedang memiliki beban masalah yang sangat berat. Dan Asisten Elvio tau, itu tentang apa.


"Tuan..." Panggil Asisten Elvio pelan.


"Kenapa masih disini?" Sentak Shean dengan suara yang tidak suka.


"Tuan, apa tuan ada masalah? Kalo ada, saya bisa bantu selesaikan..." Ucap Asisten Elvio. Semenjak dia memutuskan bekerja di perusahaan Elza Winara grup, Elvio sudah memutuskan untuk terus mengabdi kepada tuannya. Karena berkat Shean, dia yang hanya anak dari kalangan biasa bisa mengangkat derajat kedua orang tuanya yang sudah berjuang untuknya.


Shean memberinya fasilitas yang lebih dari cukup, dan bukan hanya itu, gajinya pun terbilang sangat fantastis. Tapi semua itu tidak geratis, sangat sesuai untuk kinerjanya yang sudah bertahun-tahun menjadi asisten Shean. Setiap detik bagi Asisten Elvio itu sangat berharga. Karena setiap yang ia lakukan untuk tuannya, pasti bayarannya selalu sesuai.


"Apa kamu tidak dengar saya bilang apa?" Ucap Shean dengan pelan namun menekan.


"Saya sudah berjanji akan membantu menyelesaikan semua masalah yang tuan hadapi!" Sahut Asisten Elvio tanpa takut tuannya akan marah karena dirinya keras kepala.


Shean menyenderkan punggungnya disandaran kursi kebanggaannya dan menyapu wajahnya berkali-kali menggunakan kedua telapak tangannya. Helaan nafas terasa sangat berat, lalu ia menatap luar jendela dari ruangan kerjanya, fikirannya menerawang jauh, sangat terasa berat masalah yang dia hadapi sekarang. Jika bisa memilih, ia lebih baik dihadapkan dengan masalah pekerjaan, dari pada masalah Hati.


"Tidak semua masalah yang saya miliki bisa kamu selesaikan, Elvio. Kamu tidak akan mengerti!"


Tepat dugaannya, rupanya bosnya memang sedang pusing mencari jalan keluar dalam masalah rumah tangganya.


"Saya memang tidak mengerti tuan, karena saya belum menikah."


Dan tidak akan menikah.


"Tapi, saya bisa memberi tuan masukan jika saya tau masalah yang tuan sedang hadapi!"


Shean menarik ujung bibirnya kala mendengar lantunan kata asistennya yang terdengar menggelikan. Pria itu kan belum menikah, bagaimana mau memberikannya solusi?


"Kamu mau membantu saya?"


"Tentu saja tuan. Apapun yang tuan inginkan itu adalah perintah yang wajib saya laksanakan!" Jawab Asisten Elvio dengan cepat.


"Kalau begitu, pergilah. Datanglah kembali kesini tapi harus membawa calon pendamping. Baru kamu bisa membantu memberikan masukan atas masalah saya!"


Asisten Elvio diam tak menjawab.


"Sepertinya tuan shean tidak perlu bantuan saya. Kalau begitu saya permisi, tuan. Saya masih punya pekerjaan." Pria itu pantas berdiri membungkuk sebentar lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Shean.


Shean menggeleng-gelengkan kepalanya melihat reaksi Asisten pribadinya yang selalu saja menghindari jika menyangkut soal pernikahan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2