
Semilir angin mulai menyapa kulit-kulitnya yang hanya tertutup gaun tidur malam warna hitam yang sangat cocok dikulit putih mulusnya. Berkali-kali Risha menghirup udara yang menyejukkan hidungnya. Matanya mendongak keatas menyaksikan bulan separuh yang dihiasi bintang-bintang kecil diatas sana.
"Ekheemm...Indah bukan?"
Suara yang sangat Risha kenal tiba-tiba menusuk ketelinga nya. Risha Terkejut sontak langsung menoleh kesamping, Shean rupanya sudah berdiri disampingnya menatap lukisan malam dengan sedikit mencodongkan tubuhnya bertumpu tangan diatas teralis balkon.
"Ka kapan kau disini?" Tanya Risha yang masih terkejut. Dia kan masih didalam mode dingin.
"Sejak kau melamun." Jawab Shean tanpa mengalihkan pandangannya pada langit malam.
Risha mengernyitkan keningnya. lalu menjawab. "Sok tau!"
Untuk menghindari Shean dan menbuat hatinya semakin tak membaik nantinya, Risha langsung berbalik badan untuk masuk kedalam kamar. Namun saat ia hendak melangkah, tangannya langsung dicekal oleh Shean yang membuat langkahnya terhenti.
"Kita perlu bicara. Kita tidak bisa seperti ini terus, Ar..." Ucap Shean, suaranya terdengar lemah. Shean sangat berharap, Wanita itu mau luluh dan berbicara menyelesaikan semuanya bersamanya. Shean tidak suka diacuhkan oleh Wanita didepannya.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan! Lepas...!" Sahut Risha berusaha menarik tangannya.
Dengan gerakan secepat kilat, Shean membalik tubuh Risha membelakanginya dan melingkarkan tangannya diperut Wanita itu, mengunci tangan risha supaya tak bisa memberontak.
"Apa yang kau lakukan. Lepaskan aku!!"
Shean tak mengubris Ucapan dan Pemberontakan yang Istrinya lakukan.
"Kita selesaikan semuanya. Kita tidak bisa seperti ini terus..." Sahut Shean menyenderkan kepalanya dipundak Wanita didekapannya.
Risha jengah dan malas dengan Pria itu. Yang mereka bicarakan nanti, ujung-ujungnya buntu. Tak ada jalan keluarnya. Jadi untuk apa menyelesaikan sekarang jika hasilnya sama. Perpisahan tetap lah akan terjadi.
"Apa maumu, Shean?" Tanya Risha Akhirnya. Sungguh, hatinya lelah. Lelah diposisi seperti ini.
__ADS_1
"Aku akan menghapus Perjanjian kita!" Ujar Shean setelah menimang-nimang keputusannya. Risha sangat Syok mendengarnya. Tak menyangka, Shean akan berkata seperti itu. Tapi baginya sudah terlambat. Karena kontrak itu akan segera habis, dalam hitungan beberapa Minggu.
Wanita itu tertawa pelan, Ucapan Shean itu seperti bualan. Yang hari ini Shean mengatakan itu, namun besok akan berubah lagi. Risha tersenyum sinis lalu berkata. "Apa kamu sedang sakit? Atau angin malam membuat fikiran warasmu hilang?".
Shean Menggelengkan kepalanya pelan, tak menyetujui kalimat pertanyaan dari Istrinya.
"Kita jalani lagi dari awal...". Sahut Shean dengan penuh harapan. Namun bagi risha, hatinya sudah mati rasa.
"Dan akhirnya akan tetap sama!" Risha menjeda ucapannya, lalu kembali berkata. "Aku tidak mau menjalin hubungan dengan laki-laki yang masih mencintai mantan istrinya. Aku butuh Cinta, bukan hanya seorang ibu untuk putramu.." Risha menarik nafasnya pelan lalu, mengisi pasokan oksigen yang menipis. "Dan aku...aku ingin dicintai dan mencintai layaknya pasangan lain, Shean." Imbuh Risha berkata dengan segenap hatinya.
Shean perlahan melonggarkan pelukannya. Dengan cepat, Risha menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya. Menutupi Wajahnya yang sudah banjir air mata. Shean membalik tubuh Ramping itu menghadapnya, lalu menariknya kedalam pelukan. Tak ada penolakan ataupun pemberontak dari Risha, wanita itu terlalu lelah dengan sikap Plin-plan dari pria yang dia cintai.
"Maaf..." Lirih Shean dengan suara Tercekat. Tangannya terus mengusap rambut Brunette itu dengan pelan.
Risha tak mampu berucap sepatah kata, juga tak membalas pelukan Shean. Namun tak menolak. Terserah apa yang dilakukan pria itu.
Beberapa menit, Shean melepaskan pelukannya, tapi tak sepenuhnya dilepas. Kedua tangannya mencengkram pelan bahu Wanitanya, yang pasti Risha tak merasa sakit. Ia menatap wajah teduh yang membuat hatinya tak tenang, Wanita yang sudah mengusik hidupnya sekarang.
Sontak Risha langsung mendongak menatapnya, lalu menghela nafas berat. "Kau tidak perlu lagi minta kesempatan. Karena sekarang aku masih istrimu. Tapi perjanjian tetap berjalan, sampai kontrak kita selesai!" Sahut Risha dengan tegas. Keputusannya sudah bulat.
Shean mendongak menatap langit sejenak, lalu kembali menatap wajah cantik itu. Lalu berkata, "Apa yang harus aku lakukan, supaya kamu percaya bahwa aku..." Shean menghentikan Ucapannya dengan ragu. Hampir saja ia kelepasan mengucapkan sangat menginginkan Wanita itu, sedangkan hatinya masih ragu.
Risha mengernyitkan keningnya. "Percaya apa?". Shean nampak diam, tak menjawab. Tangannya pun mendorong tangan Kekar itu menjauh dari bahunya. "Cukup sudah Shean. Jangan memberi harapan palsu padaku!" Imbuhnya berkata dengan pelan.
"Ar, Aku...Gimana dengan Archie?"
Diantara mereka yang kehilangan, akan ada 1 korban yang paling utama. Yaitu Archie. Shean mengingat bagaimana putranya saat ditinggal Elma, dan hanya Risha lah yang mempu membuat Putranya itu tenang. Lalu, seperti apa nanti Archie, jika ia dan Risha berpisah. Mengapa dulu dia tak berfikir sejauh itu?
"Kamu ayahnya. Dan kamu yang lebih tau tentangnya. Mengapa baru bertanya sekarang, mengapa tidak kamu fikirkan dulu saat membuat Perjanjian?" Tanya Risha, hatinya terasa teriris saat mengingat Archie. Sedangkan keputusannya untuk meninggalkan Sikecil itu sudah bulat, pun karena bertanggung jawab atas perjanjian apa yang dulu pernah ia dan Shean sepakati. Jika sekarang Shean memintanya untuk bertahan dan menghapus kontrak mereka, hatinya pun sudah tak berasa dengan pernikahan Sandiwara ini.
__ADS_1
"Ternyata kamu egois!" Sahut Shean dengan suara kecewa. Membuat mata coklat risha kini menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Risha tertawa kecil lalu berkata. "Egois?"
"Ya, kamu egois!"
"Tidak ngaca!!"
"Aku memang egois, maka dari itu aku memintamu tetap disini!"
Risha membuang nafasnya kasar.
"Terserah apa yang ingin kau katakan! Karena bagiku, hitam tetaplah hitam, tidak akan berubah putih kembali!" Ujar Risha, lalu melangkahkan kakinya pergi masuk kedalam kamar.
Shean tak tinggal diam, ia pun langsung menyusul Istrinya masuk kedalam kamar. Karena permasalahan mereka belum selesai. Ia ingin hubungannya dengan Risha bisa seperti sedia kala, tidak serumit ini.
"Kita belum selesai bicara!" Hardiknya menahan salah satu tangan Wanita yang hendak melangkah ke arah ranjang. Gerakan risha sontak berhenti dan menoleh kebelakang.
"Lepas Shean!" Geram Risha, emosinya pun mulai menyulut, karena Shean semakin memaksakan kehendaknya sendiri. Pria itu selalu ingin dituruti dan dimengerti, namun tak memikirkan perasaannya.
"Kita selesaikan semuanya sekarang. Kita tidak bisa seperti ini terus... Jangan lari Arisha."
"Aku capek, lepaskan aku. Aku mau tidur." Ucap Risha berusaha menahan amarahnya.
"Apa hanya karena kesalahan semalam, hubungan kita jadi seperti ini?" Tanya Shean.
'Hanya karena Hubungan semalam?' Risha tak habis, fikir dimana Shean menaruh otaknya. Hubungan semalam itulah yang menghancurkan hatinya. Hubungan semalam itulah yang membuatnya tau, siapa dan ada hubungan apa antara Shean dan Elma.
Risha memejamkan matanya sesaat, sialnya bayangan malam mengerikan itu liwat begitu saja dikelopak matanya. Risha membuka matanya lalu berkata, "Bagaimana jika posisinya terbalik? Begini saja. Aku akan menuruti keinginanmu, dan bersedia menghapus perjanjian kita. Tapi...Biarkan aku juga melakukan, apa yang kamu perbuat terhadapku...!" Ucap Risha, matanya melihat, seperti apa reaksi Shean saat ini.
__ADS_1
Bersambung...