Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Batas Ruang


__ADS_3

Pyaaaarrrrrr


Suara teko dan gelas kaca yang pecah berserakan diatas lantai dianak tangga terakhir, mengagetkan dua manusia itu. Keduanya sontak langsung menoleh kearah sumber suara.


Risha gelagapan kala ia menjatuhkan gelas dan teko yang tadi dipegang. Tangannya tiba-tiba saja terasa lemas, hingga tak mampu menahan dua benda tersebut. Kakinya melangkah turun lalu berjongkok berniat memunguti serpihan gelas kaca yang telah pecah tak terbentuk.


"Risha, jangan!!" Cegah Elma dengan nada khawatir kala Risha hendak menyentuhkan tangannya kepecahan kaca itu.


"Berdiri. Biarkan pelayan yang membersihkannya!" Sahut Shean, wajahnya menampakkan gurat khawatir. Tapi tetap menjaga sikapnya lantaran keduanya sudah sepakat untuk tidak saling perduli.


Namun Risha tak mengubris. Dia tetap memunguti satu demi satu pecahan yang berserakan diatas lantai.


"Keras kepala!" Umpat Shean dengan kesalnya.


Elma meringis ketika melihat Risha berdiri dengan membawa pecahan gelas ditangannya. Tanpa sepatah kata, Risha pun berlalu pergi menuju dapur.


"Mamaa..." Teriak Archie dengan suara tangisnya. Tangannya mengayun-ngayun menangisi Risha yang sudah hilang dari pandangannya.


Guna meredam tangisan putranya, Shean menggoyang-goyangkan tubuh kecil itu pelan.


"Archie, jangan nangis sayang." Ucap Elma sembari mengusap wajah tampan yang telah basah air mata dan keringat. "Archie mau bibi gendong?" Imbuh Elma, lalu mengulurkan kedua tangannya berniat menggendong Putranya.


Ternyata Archie menerimanya. Shean dengan terpaksa melepaskan putranya untuk Elma gendong. Tangisan Archie perlahan-lahan mulai berhenti, dari yang tadi terus meracau memanggil Risha kini jadi diam dan mengamati wajah wanita yang menggendongnya.


Elma membawa Archie untuk duduk disofa, menunjukkan kepada Sikecil itu paper bag berisi beberapa mainan robot dan mobil-mobilan yang dia beli khusus untuk Archie. Shean pun hanya diam, dia justru ikut bergabung menemani putranya yang memang beberapa hari nampak kurang semangat. Dan momen inilah yang selalu dulu dia harapkan, impian kecil mereka yang tidak dapat terwujud.


Risha meringis pelan, setelah membuang pecahan gelas itu ditempat sampah. Telapak tangannya dibeberapa bagian tergores dan mengeluarkan darah. Rasa perih mulai menjalar ditelapak tangannya, namun ada yang lebih perih dari itu. Hatinya, jauh lebih sakit dan perih ketika menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, Shean berpelukan dengan Wanita lain dirumah yang sekarang ia tempati. Bukankah sama saja Shean mengingkarinya, Pria itu selalu saja menyudutkannya dengan berbagai alasan.


Tanpa persetujuannya, Shean pun membawa Wanita lain kedalam rumah. Lebih parahnya wanita itu adalah mantan Istrinya sendiri. Risha sadar, yang Shean butuhkan itu memang satu, Wanita itu. Pun juga dengan Archie, yang lebih membutuhkan kasih sayang ibu kandungnya.


Shean sekarang sudah menjaga jarak dengannya, begitu pula Archie yang juga diberikan batas ruang. Tak bisa disangkal, Risha berfikir itu hanyalah trik Shean untuk perlahan melepaskan Archie darinya, dan mendekatkan Archie kepada Ibu kandungnya. Dan mungkin setelah mereka bercerai, Shean dan Elma akan rujuk kembali.


Memikirkan itu, hati Risha benar-benar panas. Perih dan pedih, ia dibuang setelah tak dibutuhkan. Serendah itukah dirinya, Shean sudah mengambil masa depannya. Dan sebentar lagi, dia akan pulang dengan setatus Janda.

__ADS_1


"Nyonya."


Panggilan salah satu Asisten rumahnya sontak membuyarkan lamunan Risha.


"Yaampuunnn...Tangan Nyonya kenapa?" Ucap Ani, pelayan itu dengan paniknya saat melihat tangan majikannya berdarah.


"Tidak apa-apa. Tergores pecahan gelas tadi." Jawab Risha dengan santainya, seakan luka itu hanya luka kecil yang tak kasat mata. Padahal jika dibiarkan bisa saja infeksi. Karena baginya, Luka dihatinya lebih perih dari pada luka fisiknya.


"Tidak apa-apa bagaimana, Nyonya? Sampai berdarah begini! Tunggu sebentar, Nya.. Saya ambil kotak obat dulu."


Tanpa jawaban dari Risha, ART itu langsung ngacir pergi mengambil kotak P3K dengan raut yang cemas.


Tak berselang lama, Ani datang dengan membawa kotak P3k dan menaruhnya diatas meja makan.


"Seharusnya tidak perlu diobati. Ini hanya luka kecil, tidak sakit juga!" Ucap Risha memandangi tangannya yang telah bersih karena noda darah.


"Jangan memandang sepele Nyonya. Bisa jadi yang kecil bisa tambah besar jika tak diobati. Nyonya mau nanti kalau lukanya parah, tangan nyonya diamputasi?" Celetuk Ani yang sengaja ingin menghibur majikannya tersebut.


Dan Ani senang, saat bisa melihat kembali Nyonya nya itu bisa tersenyum. Walau dia tau, Nyonya nya sedang tida baik-baik saja. Semua permasalahan yang terjadi antara Majikannya itu, penghuni dirumah itu sudah mendengarnya.


Risha akhir-akhir selalu memilih diam, dari yang biasanya selalu aktif didalam rumah, Kini seperti patung bernyawa. Semangat hidupnya seperti hilang dalam waktu sekejap. Senyumnya yang menjadi ketenangan didalam rumah, pun tak lagi ditampilkan. Hanya luka dan kesedihan, dan itu membuat Rumah besar itu nampak Sunyi dan sepi.


"Oh ya, tolong bersihkan sisa pecahan ditangga ya."


"Nyonya tenang saja, semua sudah bersih." Jawab Ani, karena pada saat ia mengambil kotak P3K, dia melihat ART lain sudah membersihkannya.


Risha hanya mengangguk. lalu mengambil segelas air putih yang diberikan Ani, meneguknya beberapa kali.


"Nyonya, saya boleh bertanya?" Tanya Ani pelan.


Risha kembali mengangguk.


"Wanita yang datang bersama tuan, itu siapa?" Tanya Ani dengan hati-hati.

__ADS_1


"Diaa..." Risha seperti tak mampu mengungkapkan bahwa, Wanita itu adalah ibu kandungnya Archie. "Calon majikan barumu!"


"Maksudnya?" Ani terkejut bukan main, pun tak mengerti juga.


"Kamu pasti mengerti. Sudah ya, saya mau keatas. Tolong antarkan air putih kekamar!" Sahut Risha lalu beranjak berdiri, melangkah pergi meninggalkan Ani yang hanya berdiri mematung dengan jawaban yang masih ia fikirkan maksudnya.


Diantara Asisten Rumah Tangga yang bekerja dirumah itu, Ani lah yang paling peran utama, karena ia adalah kepala pelayan. Dan juga dia lah pelayan yang paling ingin tau urusan majikannya, walau seperti itu, tapi orangnya ramah tamah. Dan jarang juga bergosip hal-hal buruk.


.


.


.


.


"Kau tidak mau menjamu tamu kita?" Tanya Shean. Dia sengaja menyusul Risha dikamar yang sedang duduk bersandar dikepala Ranjang.


"Buat apa? Dia bukan tamu kita, tapi tamu mu!" Jawab Risha dengan acuhnya. Sedikit pun dia tak berniat menoleh menatap wajah tampan yang selalu membuat hatinya berdebar.


Shean menghela nafas panjangnya. Sikap Risha yang seperti ini membuatnya selalu kesal. Wanita itu selalu pandai memancing amarahnya, dan itulah yang memicu pertengkaran keduanya. Hingga ujung-ujungnya tetap Perceraian yang Risha inginkan.


Shean memilih duduk didepan istrinya, kali ini dia harus mengalah.


"Ya aku tau. Tapi setidaknya temui dia, bukankah dia juga temanmu?" Kali ini ucapan Shean tulus. Bukan ingin memperkeruh suasana menjadi lebih panas. Tapi dia ingin hubungannya dengan Risha bisa membaik.


"Benarkah? Aku tak merasa pernah berteman dengan Wanita itu. Dan kurasa, ini kali pertamaku bertemu denganny..."


"Ar, dia ingin bertemu putranya. Itu saja! Yang kamu lihat tidak seperti yang kamu bayangkan!" Sahut Shean, dia mengerti dibalik sikap Risha yang bertambah acuh padanya.


"Tidak usah menyangkut pautkan dengan Putra kalian! Aku tau kemana arah tujuanmu. Kamu sengaja ingin menyadarkanku, bahwa Wanita itu yang berhak atas Archie, kan?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2