Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Kedatangan yang tak diduga


__ADS_3

Mobil pribadi yang mengantar Risha kini sampai dipelataran rumah mewah Keluarga Winara. Risha langsung bergegas turun, saat melihat Seorang Anak kecil laki-laki berusia hampir 2 tahun berlarian ditaman depan rumah.


"Archie, lihatlah itu siapa?..." Ucap Deyna yang sedang mememani Archie bermain.


Anak berusia hampir 2 tahun itu langsung menoleh, dengan wajah sumringahnya Archie langsung berlari menjemput Mama Arisha.


Grepp


Risha langsung menggendong tubuh kecil itu dan menciumnya bertubi-tubi.


"Mama mama.."


"Kau merindukan mama, hem?" Sahut Risha setelah itu mendaratkan kecupan dipipi gembul itu.


Melihat Archie, seolah kesedihan yang menerpa hatinya kini lenyap sudah. Anak adalah penghibur orang tua.


"Semalam Archie nangis tidak?"


Sikecil itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Deyna yang melihat jawaban Archie pun langsung maju menghampiri. "Bener, Archie tidak nangis? Semalam yang nangis manggil mama Risha siapa?"


Anak kecil itu nampak nyengir lalu merangkul leher mamanya, wajahnya disembunyikan didada Risha. Deyna tertawa kecil melihat tingkah Keponakannya yang menggemaskan.


"Mama dimana?" Tanya Risha menatap wajah Adik iparnya.


"Ada didalam kak"


Risha mengangguk, kedua perempuan berbeda usia itupun langsung masuk kedalam rumah.


.


.


.


.


.


"Bukalah mulutmu.."


Titah Seorang pria dengan suara pelan namun menekan. Setengah sendok bubur ia sodorkan kepada Seorang Wanita yang Duduk bersandar diatas ranjang pasien. Dia adalah Elma.


Wanita yang wajahnya pucat itu menggeleng.

__ADS_1


"Aku tidak mau. Jangan memaksaku.." Jawab Elma. bagaimana ia bisa memakan bubur yang terasa hambar dimulutnya, bahkan makan makanan se-lezat apapun sekarang rasanya Lidahnya pahit, dan setelah itu ia akan muntah.


Andrew, laki-laki yang menemani Elma selama dirumah sakit. Sekaligus yang membawa Elma pergi dari Shean setelah melahirkan putra mereka. Elma tak mau membuat Shean terbebani dengan penyakit jantungnya. Mengandung Archie, begitu banyak penderitaan yang ia alami, disatu sisi ada penyakit nya, disisi lain ada buah hatinya. Dengan Anjuran dokter akhirnya Archie pun lahir dengan selamat, dan penyakitnya tak ada siapapun yang tau.


"Makanlah sedikit, setelah itu kau minum obat.." Ini yang terakhir kalinya Andrew memaksa. Jika Elma menolak, maka terserah.


Elma menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Tak ada harapan yang membangkitkan semangatnya, bertahan pun lama-lama tubuhnya akan semakin Lemah.


"Elma..."


"Apa jika aku makan... Aku akan sembuh?" Tanya Elma menatap Andrew. Pria itu gelagapan, Lidah Andrew seakan kelu, tak mampu mengucap sepatah kata.


Tentu Elma mengerti arti dari sikap Pria didepannya.


"Sudahlah, buat apa juga aku makan. Toh sebentar lagi... Aku akan mati!"


"Apa yang kamu katakan?" Sentak Andrew dengan suara yang mulai meninggi. Ia emosi mendengar ungkapan Wanita didepannya.


Elma menunduk setelah menyadari, pria Didepannya terlihat marah. Bukan tak ingin berjuang untuk kesehatan nya. Namun, waktu hampir 2 tahun, rasanya itu cukup untuknya menikmati waktu sejenak. Dengan rasa sakit yang terus menggerogotinya, Elma pun akhirnya menyerah.


.


.


.


.


.


"Lantai 8 kamar VVIP, tuan." Jawab Suster petugas Resepsionis itu dengan ramah.


Shean langsung melangkahkan kakinya menuju Lift. Berkali-kali pria yang mengenakan kaos hitam dibalut jaket jeans putih dan celana panjang hitam itu menarik nafas dan mengeluarkannya.


Haruskah Shean bahagia, karena kenyataan tentang Kepergian Elma bukan karena mencintai pria lain. Kini hatinya dirundung rasa bersalah yang teramat, pada wanita yang telah memberinya seorang malaikat kecil, yaitu Archie.


Namun Istrinya yang sekarang, rasa bersalahnya lebih besar. Tak dapat dipungkiri, Hatinya gelisah dan resah memikirkan Perasaan Arisha yang sudah ia lukai hatinya dengan begitu dalam.


Harusnya sekarang dirinya meminta maaf pada wanita itu, Membujuknya. Namun apa sekarang, ia berdiri didepan pintu kamar rawat Mantan Istrinya. Entah apa yang akan dilakukan, apakah dirinya akan meminta Elma kembali padanya? atau sekedar Meminta maaf? atau mendengar langsung penjelasan wanita itu? atau? atau? atau?


Shean kini bingung sendiri maksud tujuannya. Apa yang akan terjadi nanti? Arisha atau Elma?


Perlahan tangan kanannya terangkat keatas dan hendak mencoba mengetuk pintu.


"Aku lebih jijik, ditiduri oleh pria yang menyebut nama wanita lain saat Menikmati Tubuhku!"

__ADS_1


"Lagian, sebentar lagi kita akan berpisah. Tak ada hak untukku padamu!"


Suara yang tak asing kembali Terngiang-ngiang menari dikepalanya. Tidak, Shean tak mau kehilangan Apa yang saat ini bersamanya. Pria itu pun langsung mengurungkan niatnya mengetuk pintu. Tidak ada harapan apapun disini, shean mendengus kesal dan mengusap-usap wajahnya dengan kasar.


"Tidak Shean. Terlepas dari apapun, dia hanya masa lalu. Semua sudah terjadi.." Gumamnya meyakinkan diri. Setelah menimang-nimang Fikirannya yang kacau, Shean pun berbalik badan dan melangkahkan kakinya perlahan.


Ceklek


"Shean..."


Suara Seorang pria yang keluar dari dalam Ruang rawat Elma terdengar kaget, Shean langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.


Tiba-tiba tangannya terkepal kuat, rahangnya mengeras, kala melihat Pria yang merupakan dalang dari perginya Elma. Ia Mendengus kesal, meredam amarahnya sejenak. kedatangannya kesini kan untuk Elma, bukan pria yang merupakan sahabatnya.


Dengan berat, Shean melangkah menuju Andrew yang masih berdiri dengan was-was dan rasa bersalah.


"Dimana Elma?" Ketus Shean.


"Ada didalam. Kau bisa masuk" Tak ada yang ditutup-tutupin lagi oleh Andrew kini. Shean sudah tau yang sebenarnya, Pria itu sudah sangat menderita dengan kepergian Elma.


Shean enggan, gugup takut juga Gelisah saat memasuki ruang mewah yang ditempati oleh Elma. Pandangan pertama yang dituju, pada ranjang pasien. disana terdapat seorang wanita terbaring lemah dengan banyaknya alat medis yang terpasang ditubuhnya.


Shean mendekat, semakin mendekat dan semakin pula ia dapat melihat wajah yang pernah ia tatap dengan kebencian. Namun kini, rasa bersalah Menghantuinya.


"Elmaa..." Panggil Shean pelan, Sontak Wanita itu langsung membuka mata dan melihat siapa yang datang. Suara yang begitu tak asing, nyatanya benar adanya.


"Shean?"


Elma mematung menatap tak percaya akan kedatangannya mantan suaminya. Wanita itu memastikan penglihatannya apakah sekarang dia sedang berhalusinasi atau memang nyata. Namun lamunannya buyar dan ia meyakini bahwa pria itu nyata kala Shean berjalan memdekat kearahnya.


"Jangan mendekat!" Ucap Elma mengulurkan tangan kanannya mengisyaratkan Shean agar berhenti ditempat.


Shean menurut. Pria itu menyunggingkan senyum tipisnya kala memperhatikan Wanita yang mungkin masih ada didalam hatinya, atau memang masih pemilik seluruhnya. Shean iba, sedih, kecewa, marah namun kemarahannya, tak tau untuk siapa.


Haruskah ia marah pada Elma yang sedang berjuang antara hidup dan matinya?


"Apa kabar?" Tanya Shean pelan. Matanya tak lepas dari Wanita yang sudah duduk bersandar dikepala ranjang, menatapnya dengan raut takut namun terlihat tegar.


"Apa yang kau lakukan disini?" Sahut Elma dengan nada tidak suka.


"Apakah salah?" Shean kembali bertanya. Pria itu kembali mendekat tak perduli penolakan yang dilontarkan Elma untuknya. Baginya sekarang ia ingin Wanita itu, penjelasannya.


Bersambung...


Maaf ya, hampir seminggu tidak update. Lagi banyak kerjaan didunia nyata, plus hujan petir terus. Jadi tidak banyak pegang Hp, Maaf banget๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


Kembang lope untuk kalian...


__ADS_2