Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
My Queen


__ADS_3

"Jangan mengkonsumsi pil itu lagi."


Risha mengerjapkan matanya berulangkali. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. "P__pil, apa?" Tanyanya gugup.


Shean menarik sebelah ujung bibirnya keatas, sembari salah satu tangannya mengusap rambut Brunette tersebut. Dan satu tangannya yang lain mengulur keatas meja, Jari-jari tangannya yang ditekuk dibuka.


"Aku menemukannya dilaci meja ini paling bawah. Karena penasaran, jadi aku menelpon temanku yang berprofesi sebagai dokter." Jelas Shean sembari menunjukkan botol kecil.


Risha tak mampu menjawab. Karena Shean sudah mengetahui dirinya yang mengkonsumsi pil pencegah kehamilan. Pastinya Shean akan marah. Dan apakah Shean akan menyakitinya lagi. fikiran-fikiran buruk mulai berkeliaran dikepala Risha.


"Ma_maafkan aku." Lirih Risha menundukkan kepalanya.


Shean menarik bahu sang istri untuk berdiri menghadapnya. Tangannya menyingkirkan anak rambut risha kesamping. "Tidak apa-apa. Tapi mulai sekarang, jangan minum itu lagi." Sahut Shean dengan nada suara yang tenang, tak ada kemarahan sedikit pun.


Risha langsung melingkarkan tangannya ke punggung Shean dan menempelkan keningnya kedada sang suami. Shean pun langsung membalas pelukannya sembari mengusap rambutnya dengan penuh cinta dan kasih sayang.


.


.


.


Beberapa hari telah berlalu, hubungan Risha dan Shean semakin hari semakin membaik. Shean kerap kali melakukan hal-hal romantis, misal, mengajaknya dinner tanpa Archie, membawanya ketempat-tempat romantis, membelikannya bunga. Dan masih banyak lagi.


Shean benar-benar membuktikan Cintanya itu nyata, bukan hanya sekedar kata-kata yang hanya diucapkan liwat lisan namun tak kasat mata.


Seperti hari ini juga, Pria itu tengah menemani sang istri belanja di Pusat perbelanjaan. Bayangkan saja, Seorang Presedir dari Perusahaan ternama, kini menjadi Asisten pribadi sang istri. Itupun atas kemauannya. Risha yang memilih, dia yang membawa. Archie yang mencobanya. Cocok bukan. Suami idaman.


Shean bisa saja membayar orang untuk membawakan belanjaan sang istri, namun itu tidak dia lakukan. Dia justru menikmati menjadi Asisten Sang istri yang ternyata sangat menyenangkan. Karena dengan ini, mereka bertiga jadi seperti keluarga yang harmonis.


2 Jam dirasa sudah cukup untuk berkeliling dipusat perbelanjaan. Risha akhirnya memutuskan untuk pulang, karena nampaknya Sang Putra sudah lelah harus mencoba 1 baju ke baju lain. Beberapa paper bag telah Shean tenteng, bukan untuk Risha melainkan sang putra. Karena Risha hanya membelikan Baju untuk Sang Putra, bukan untuknya.


"Ambillah satu atau dua baju. Itu tidak akan menguras Rekeningku."


"Kalau aku mau seluruh pusat perbelanjaan ini bagaimana?" Canda Risha.

__ADS_1


"Kau akan mendapatkannya. Kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan."


"Kalau begitu aku ingin Negara ini."


"Tunggulah aku menjadi penguasanya. Aku akan memberikannya untukmu."


Risha tertawa mendengarnya. Wanita itu lantas berjalan mendahului Sang suami sambil menggendong sang Putra yang mulai berat.


"Sayang, kita mampir ke restauran dulu ya. Aku lapar." Ucap Shean setelah mereka didalam mobil menuju perjalanan pulang.


"Yah, tapi Archie tidur. Kita makan dirumah saja ya, tahan sebentar laparnya." Sahut Risha, sebenarnya tak tega dengan sang suami. Karena mereka sudah berkeliling di pusat perbelanjaan terlalu lama, pantas saja jika Shean kelaparan. Namun kasihan juga Archie yang tidurnya kurang nyaman.


Mobil melaju dengan kecepatan standar. Ketika membawa sang istri dan sang buah hati, Shean memang selalu ekstra hati-hati. Dia selalu mengutamakan keselamatan keduanya. Karena dua permata itu sangat berharga untuknya, Jangan hanya karena lapar jadi dia lalai.


25 menit, mereka sampai dirumah. Usai menidurkan Archie dikamarnya, Risha langsung turun kebawah menuju dapur. Membuatkan makanan untuk sang suami tercinta. Sandwich, permintaan Shean.


Keduanya kini sudah duduk dikursi meja makan menikmati makanan yang tersaji sembari mengobrol santai.


*****


Hari terus berganti tak terasa sudah 2 bulan hubungan Risha dan Shean membaik. Shean kini aktif bekerja dikantor, sedangkan Risha dirumah menemani Archie bermain.


Seorang Waiters datang menghampirinya dan membungkuk sebentar. "Permisi Nona, Anda mau pesan apa?" Tanya Waiters tersebut.


"Ice Tiramisu Latte Satu dan Sandwich." Jawab Elma setelah membaca buku menu.


"Baik, tunggu sebentar." Setelah membungkuk, Waiters itu langsung berbalik badan dan menjauh.


"Tapi Aku maunya makan disini!" Ujar Risha bersikeras.


Dia dan Shean kini masih didalam mobil mencari tempat untuk makan siang. Aneh, biasanya Risha lebih suka makan dirumah, tapi kini Wanita itu ingin makan diluar. Shean sungguh tak mengerti, mood wanita itu memang berubah-ubah.


"Tempatnya sudah full sayang. Kita cari yang lain saja ya." Shean berusaha membujuk. Coffe yang mereka ingin kunjungi memang sangat ramai, apalagi dijam makan siang. Shean malas jika harus berdesak-desakan mencari tempat duduk.


Risha menghela nafas dengan berat, lalu mengangguk perlahan. "Iya. Kita cari tempat lain saja." Jawabnya tanpa semangat.

__ADS_1


10 menit, Mereka sampai di Saveur Restoran Victoria. Shean melingkarkan salah satu tangannya ke pinggang sang istri, menggiring Wanitanya masuk kedalam.


"Silahkah duduk, My Queen." Ucap Shean setelah menarik satu kursi untuk Risha.


Walaupun sempat merajuk karena Shean tak menuruti keinginannya untuk makan di Coffe Shop, tapi hatinya tetap berbunga-bunga diperlakukan bak Ratu. Uh, manisnya...


Risha menduduki kursi tersebut. "Thank you Hubby." Ujarnya dengan senyum yang manis. Kalau saja tidak ingat tempat, sudah pasti Shean akan langsung menerkam bibir menggoda yang membuatnya ketagihan itu.


"Kamu mau makan apa sayang?" Tanya Shean.


"Salmon Steak, minumannya Jus Delima."


Shean menyamakan pesanannya dengan Risha, bedanya dia Macchiato, tak lupa juga beberapa makanan pendamping lainnya sebagai menu pembuka dan penutup.


Jaxton yang selesai meeting di restoran sekalian makan siang tak sengaja melihat sosok yang tak asing di matanya. Dan benar saja, ternyata dunia itu sempit. Ada Shean dan Risha yang baru memasuki Saveur Restoran.


Pemandangan yang membuat hatinya panas, ketika Shean melayani Risha dengan sangat mesra. Dia masih menyaksikannya, ketika Shean menyuapi Wanita itu yang sedang ingin dimanja. Jaxton tak berani mendekat atau sekedar beranjak berdiri, karena saat dia keluar menuru pintu keluar, sudah pasti Shean akan melihatnya.


Hatinya sakit, namun senyum tetap terukir dibibirnya. Ya, orang benar. Cinta tak harus memiliki. Melihat Orang yang kita cintai bahagia walau bukan bersama kita, rasanya ikut bahagia. Itulah cinta yang sesungguhnya. Mungkin inilah yang namanya Senyum diatas Luka.


"Aku sudah kenyang Shean." Protes Risha dengan mulut yang penuh dengan potongan Salmon Steak. Bagaimana tidak, Shean terus menyuapinya bukan hanya Salmon Steak, namun cemilan yang sudah dipesan juga. Alhasil sekarang perutnya tambah Kencang.


Shean tertawa pelan melihat Wajah istrinya yang menggemaskan. "Baiklah-baiklah. Tapi habiskan Es krim-nya Sekalian." Shean beralih mengambil Gelato dan menyendoknya menyuapi Risha. Wanita itu menggeleng keras.


"Aku tidak mau!" Risha menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Aroma Gelato yang menusuk hidungnya membuatnya ingin muntah.


"Ayo sayang, kan kamu yang pesan."


Risha masing menggeleng. Tiba-tiba pandangannya sedikit kabur, kepalanya terasa sedikit pening.


"Sedikit saja. Setidaknya kamu harus mencoba rasanya."


Risha akhirnya menurut, setelah merasa Gelato itu cukup membuatnya tergugah selera kembali. Satu suapan berhasil.


Hanya 2 menit, Risha merasa sekelilingnya berputar. Bahkan melihat wajah Shean terasa kabur dan buram. Tangannya terangkat memegang kepala, detik berikutnya tubuhnya langsung jatuh. Untung saja Shean sigap menahannya.

__ADS_1


Seketika suasana Restoran yang tadinya tenang kini mulai ramai. Dua pria nampak panik dengan kekhawatiran dalam diri masing-masing.


Bersambung...


__ADS_2