Mom For ARCHIE

Mom For ARCHIE
Dua ibu


__ADS_3

Ting ting ting ting


Notif Pesan beruntun diponsel Risha. Wanita hamil yang tengah menyuapi Archie Pancake Coklat itu langsung menoleh dan mengambilnya.


"Sebentar ya sayang..." Ucap Risha kepada sang putra.


ia membaca beberapa pesan yang dikirim Elma. matanya langsung mengembun seketika. "Elma akan pergi? kemana?" Lirihnya. ia langsung menekan tombol call, tapi tak diangkat. Risha tak menyerah, ia langsung mengirim pesan.


"Kau mau kemana? Angkat telfonku!" Ketik Risha, langsung dibaca oleh Elma.


"Aku akan pergi. Bahagialah..."


"Sekarang kau dimana? Aku akan menyusulmu. Untuk yang terakhir kalinya, aku ingin bertemu denganmu...Plis, jangan pergi dulu." Risha langsung mengirim balasan.


"Bandara. 15 menit lagi pesawatku take off."


"Aku akan kesana, jangan pergi dulu kalau kau menyayangi Archie..." Tanpa menunggu balasan jawaban Elma, Risha langsung berdiri.


"Sheaannn!!!" Teriaknya memanggil sang suami. Untung saja Shean hari ini tidak pergi kerja, karena Risha melarangnya. Awalnya Risha ingin menghabiskan waktu seharian bersama Shean dan Archie, tapi mungkin inilah firasatnya yang sebenarnya.


Shean yang sedang didapur membuatkan Jus untuk sang istri pun langsung berlari kedepan. "Ada apa sayang? kenapa teriak-teriak?"


"Antar aku kebandara."


"Hah?"


"Nanti aku ceritakan dijalan. Ayo cepat!" Risha langsung berjalan cepat menuju kamarnya, mengambil Mantel dan tasnya.


"Pelan-pelan jalannya. Kau sedang hamil." Sergah Shean yang mulai kesal. Risha dari tadi seakan lupa dengan tubuhnya yang berbadan dua. Keluar kamar langsung lari menuju mobil.


"Maaf..." Lirih Risha merasa bersalah. ia menyadari kesalahannya, namun bukan lupa kalau ia sedang hamil. Hanya dia takut waktunya habis, Elma sebentar lagi akan pergi.


Shean menghela nafasnya pelan. "Iya, Aku maafkan. Jangan mengulangi lagi. Sebenarnya ada apa? kenapa kamu terlihat buru-buru sekali? dan kenapa mau kebandara? kamu mau kemana?" Tanya Shean bingung.


"Elma. Dia akan pergi."


"Elma?" Shean mengerutkan keningnya.


Risha mengangguk. Ia menatap Archie yang berada dipangkuan Shean. Sebelum Elma pergi, dia ingin mempertemukan Archie dan Elma dahulu. Apalagi Jika ini yang terakhir kalinya.


"Aku akan ceritakan nanti diperjalanan. Tolong kita langsung kebandara ya. kita cuma punya waktu sedikit." Pinta Risha melirik Arloji dipergelangan tangan kirinya.

__ADS_1


Tak banyak kata lagi, Shean langsung menuruti keinginan Risha.


"Kau juga akan pergi?" Elma bertanya kepada pria didepannya.


"Ya. Aku tidak punya tujuan hidup disini."


"Terkadang hidup itu memang aneh. Kita yang pertama bertemu, namun akhirnya kita sendiri yang melepasnya." Elma tersenyum.


"Asal dia bahagia. Aku ikut bahagia." Jaxton ikut tersenyum. Ya, pria itu akhirnya memutuskan untuk kembali ke Sydney. Wanita yang dicintainya sudah bahagia, itu sudah cukup baginya.


*****


"Kenapa diam saja, ayo..." Risha mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil saat menyadari Shean masih diam.


"Aku tunggu disini ya." Ucap Shean akhirnya setelah lama terdiam.


"Kenapa?" Sahut Risha pelan. Ia mengamati wajah Shean yang diam saja. Risha pun diam sejenak, ia tau Shean tidak ingin bertemu dengan Elma.


Risha membuka pintu mobil. "Baiklah, aku yang akan turun. Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa..." Ucap Risha, wanita itu menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya. "Tapi aku akan menganggap, penolakanmu itu karena kau belum bisa sepenuhnya melupakan Elma dari hatimu." Lanjut Risha yang membuat Shean tersentak dan langsung menatapnya.


Risha kecewa jika Shean tidak mau turun. Apakah suaminya masih mencintai Elma? Tiba-tiba saja fikiran buruk berkeliaran difikirannya.


"Bukan begitu, sayang. Aku hanya..."


Shean menghela nafas beratnya, dia bukan masih menyimpan perasaan kepada Elma. Hanya saja dia malas, dia hanya ingin menjaga perasaan Risha itu saja. Tapi Risha malah berfikiran negatif. Mau tidak mau akhirnya Shean pun menurut menyusul sang istri.


"Elmaaa." Teriak Risa setelah dia celingukan mencari sosok wanita itu.


"Risha." Gumam Elma dan Jaxton bersamaan.


Risha berjalan sedikit cepat sambil menggandeng Archie. Selain karena langkah Archie yang kecil, dia juga mengingat, didalam perutnya sedang ada benih yang tumbuh.


"Kau beneran datang kesini?" Elma menatap tak percaya sekaligus bahagia. Bahagia karena untuk yang terakhir kalinya ia bisa melihat putranya.


"Kau mau pergi kemana?"


Elma tersenyum. "Yang pasti tempat yang akan menjadi peristirahatan terakhirku nantinya."


"Kau tidak menyayangi putramu? mengapa kau memilih pergi? Elma, aku akan--..."


"Ini bukan soal aku menyayangi siapa, Arisha. Aku jelas menyayangi Putraku. Aku wanita yang melahirkannya, hidup dan matiku ada padanya. Karena aku menyayangi Putraku, maka dari itu aku memilih pergi. Aku ingin Archie hanya mengenalmu sebagai ibunya. Aku tidak ingin dia bingung nanti, kenapa dia memiliki dua ibu. Aku tidak ingin Archie kecewa, bahwa ibu kandungnya... Meninggalkannya saat dia baru lahir..."

__ADS_1


Risha langsung mendekat kepada Elma dan memeluk wanita itu. Risha tidak menyangka, ternyata begitu besar pengorbanan Elma.


Risha melepaskan pelukannya. "Saat Archie sudah besar nanti, dia pasti mengerti.. Mengapa ibunya meninggalkannya. Suatu saat aku akan menceritakan kepadanya, kalau dia punya ibu yang hebat seperti kamu."


"Aku tidak masalah Archie tidak menganggapku. Tapi aku hanya minta padamu, jaga Archie untukku karena aku tidak tau berapa lama aku bisa bertahan. Jika suatu saat Archie mengetahui Aku, maka jangan menyuruhnya untuk mencariku. Tapi katakan saja, Aku sangat mencintainya, Aku selalu bersamanya dimanapun dia berada." Ucap Elma, kepalanya menunduk matanya menatap wajah dari anak kecil yang berdiri disamping Risha.


"Ya, akan ku sampaikan nanti..."


"Terimakasih... Aku berhutang banyak padamu. Aku yakin Archie bangga memiliki Yasoda sepertimu." Elma menurunkan tubuhnya berjongkok didepan Archie. "Jaga mama Risha. Karena dia telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk kamu, nak..."


Archie diam saja ketika Elma mengusap rambutnya. Bahkan ketika Elma memeluk dan mencium pipinya, anak kecil itu tak menolak atau berkomentar.


"Apa ini keputusanmu?"


Pertanyaan dari suara yang sangat Elma dan Risha kenal. Elma langsung menengadah keatas lalu berdiri. "Iya... Aku titip Archie dan Risha." Pinta Elma.


"Tentu. Mereka hidupku. Aku akan menjaga dan melindungi mereka sekuat tenaga. Kalau perlu aku akan memasukkannya kedalam sangkar emas, supaya dia tak bisa kabur dariku." Shean menatap Wanitanya dengan senyum misterius.


Risha langsung mencubit pinggangnya membuat Shean meringis. "Sebelum kamu melakukan itu, aku yang akan lebih dulu memasukkanmu."


"Tidak masalah. Nanti aku langsung menarikmu kedalam, dan kita terkurung bersama."


"Ekheeemmm..." Suara deheman cukup keras membuat ketiga orang itu langsung menatap kearahnya.


"Jax? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Risha mengernyitkan keningnya.


"Pulang."


"Mengapa tiba-tiba? kau tidak mengabariku?"


"Sebenarnya..."


"Sayang. Biarkan saja dia pulang. kalau dia tak mengabarimu itu artinya dia sadar, Wanita pujaannya itu sudah milik orang lain." Shean menyahut, Risha langsung menatap tajam padanya yang membuatnya langsung terdiam menciut. Shean sedikit membungkuk meraih tubuh putranya yang minta digendong.


"Pekerjaanku di Sydney sangat banyak. Sangat repot bolak balik Sydney Victoria."


"Seperti itu rupanya." Risha mengangguk - angguk. Shean sampai menggeleng-gelengkan kepalanya, Istrinya itu bodoh atau gimana? Jelas Jaxton memilih pergi bukan karena itu saja, lebih tepatnya mungkin menghindarinya.


*


*

__ADS_1


*


Satu part lagi menuju End...


__ADS_2