
"Halo..."
Suara Celli terdengar serak. Dia sendiri tidak tahu jam berapa ini dan siapa yang meneleponnya.
"Bangun. Turunlah aku ada didepan apartemenmu."
Tuuuttt
Telepon diakhiri. Celli melongo. Itu tadi apa eh siapa. Dia kembali memejamkan mata. Mungkin mimpi kali, begitu pikirnya. Hingga satu miscall dan satu pesan masuk ke ponselnya.
"Aracelli Anjani!!!!!"
Satu pesan suara masuk. Dan Celli langsung memejamkan matanya. Begitu membuka pesan itu.
"Astaga..si naga ada dibawah? Oh what!!!"
Celli langsung melompat dari kasurnya. Langsung menyambar kunci dan keluar dari kamarnya. Dan ingat dia keluar hanya memakai bathrope saja.
Julian jelas langsung mendelik melihat penampilan Celli.
"Dia ini gila atau sengaja?"
Batin Julian sejenak memalingkan wajahnya, sekilas melihat ujung dada Celli yang terlihat menempel di bathropenya.
"Wajah buruk rupa tapi body seksoy gila." Kembali Julian membatin.
Untuk melihat perpaduan sempurnanya dia harus menunggu setidaknya tiga bulan lagi.
"Kenapa kau ada disini?"
"Dan kau kenapa turun tanpa mengganti baju?" Potong Julian cepat.
Celli cepat melirik kedirinya sendiri dan tara...detik berikutnya Celli langsung melipat tangan didepan dadanya. Satu tindakan yang justru memperjelas ukuran dada Celli.
"Ukuran sempurna untuk tubuhnya."
"Aku terkejut dan terburu-buru." Jawab Celli salah tingkah.
"Naik, ganti bajumu lagi. Temani aku malam ini."
Celli memicingkan mata mendengar ucapan Julian.
"Temani aku jalan-jalan." Julian memperjelas maksud ucapannya.
"Tidak mau sudah malam. Aku mau tidur." Tolak Celli.
"Kau belum membaca kontraknya kalau begitu." Ucap Julian sambil menyeringai.
"Memang isinya apa?" tanya Celli polos.
"Ada pasal yang menyebutkan kalau kau harus menuruti perintahku. Meski diluar jam kerja. Ada imbalannya, jangan khawatir."
"Seperti bonus begitu?" tanya Celli sumringah.
"Katakanlah seperti itu."
"Yes!!! Ponsel impianku, aku datang." Pekik Celli dalam hati.
"Sepuluh menit. Aku naik dulu." Pamit Celli langsung ngibrit masuk kembali ke apartementnya.
"Matre amat. Dengar ada imbalan aja mata langsung ijo." Gerutu Julian.
***
"Kita mau kemana sih?"
"Jalan-jalan."
"Iya, tapi mau kemana?"
"Tempat yang jarang ada orang mengenaliku." Jawab Julian singkat.
__ADS_1
Sejenak berpikir. Kemudian gadis itu tersenyum.
"Aku tahu tempatnya."
"Are you kidding me?" tanya Julian beberapa menit kemudian.
Julian menatap horor pada kerumunan orang yang ada didepannya. Mereka sedang berada di sebuah kawasan street food. Dimana puluhan gerobak dan stand penjual makanan berjajar di kiri dan kanan jalan.
"No, this is serius." Jawab Celli tegas sambil tersenýum.
Julian langsung menggelengkan kepalanya. Sedang Celli terlihat begitu antusias.
"Ayolah, ada banyak makanan lezat didalam sana" Ucap Celli lantas tanpa ragu masuk ke kerumunan orang-orang itu.
"Oh my God, dia beneran gila!"
Maki Julian, namun tak urung pria itu ikut masuk menyusul Celli. Mata Julian sedikit melirik kekiri dan kanan. Mata berhias kacamata hitam itu mulai memindai keberadaan Celli. Dan sejurus kemudian dilihatnya gadis itu tengah mengantri di stand cumi bakar.
"Ngapain?" tanya Julian.
"Mau beli cumi bakar sama sotong bakar. Mau nggak. Aku beli dua kalau kamu mau. Jangan rebut makanan aku!" Kata Celli galak.
"Yey, siapa juga yang mau ngerebut makanan kamu?"
"Lah yang tadi pagi dan kemarin, itu namanya apa jika tidak merebut makanan."
Celli ingin menghajar Julian sebenarnya, jika tidak sedang ditempat umum. Makanan Celli datang. Dan tanpa ragu Celli langsung menerima dan memakannya.
"Enak lo!" Goda Celli.
Julian sedikit tergoda oleh bibir Celli yang tengah mengunyah cumi bakarnya.
"Ini untukku kamu beli baru!" Julian merebut bowl berisi cumi bakar milik Celli.
"Kan..kan...aku bilang juga apa." Batin Celli menyeringai penuh arti.
"Mbaknya yang saos asam manis sudah siap." Teriak penjualnya.
"Bukan mengerjai tapi pintar." Jawab Celli menerima bowl cumi bakarnya lantas membayarnya.
Keduanya berjalan sambil menikmati cumi bakar milik masing-masing. Meski terlihat penuh sesak. Ternyata keduanya masih bisa berjalan dengan leluasa tanpa harus bersenggolan dengan pengunjung lain.
Beberapa saat berlalu dan keduanya mulai mencari tempat duduk.
"Aku mau cari minum."
Ucap Celli berlalu dari hadapan Julian yang hanya menganggukkan kepala. Masih memakan cumi bakar dan mulai mengulik ponselnya. Di tempat duduknya.
"Lama sekali tu anak." Gerutu Julian merasa Celli tak kembali-kembali dari acara cari minumnya.
"Aduuhh ngantri kaya ular naga." Keluh Celli begitu duduk di depan Julian.
Mengulurkan satu cup besar thai tea boba ke depan Julian.
"Bagaimana kau tahu?"
"Ooo kau juga menyukainya. Karena aku menyukai ini jadi aku samain aja. Ampuun, kalau minta varian lain. Takut keburu pingsan nungguinnya."
Julian langsung manyun wajahnya. Meski kemudian meminumnya juga. Hening sejenak.
"Emm untuk yang tadi pagi....aku minta maaf..."
Ucap Celli tiba-tiba. Dia sudah memikirkannya berulang-ulang. Dia salah sudah meragukan kebaikan si bos naganya itu. Karena itulah dia akan meminta maaf jika bertemu dengan bosnya itu.
"Soal apa?" tanya Julian cuek meminum bobanya sambil memainkan ponselnya.
"Mau ngerjain aku lagi atau dia beneran gak ingat."
Celli menyipitkan mata bulatnya. Berusaha memindai isi kepala bos tampannya itu. Iya, bosmu yang sekarang memang tampan. Bahkan si Fabian, si Teo dan semua artist yang pernah kamu make up in lewat semua ketampanannya. Kalah jauh dibanding si naga ini.
Lah kok malah jadi mikir kemana-mana sih ni kepala. Celli menepuk kepalanya pelan. Guna mengembalikan fokusnya.
__ADS_1
"Malah bengong. Ditanyain soal apa juga." Suara baritone Julian berhasil mengembalikan konsentrasi dan serpihan jiwa Celli yang tadi sempat beterbangan entah kemana.
"Soal yang aku bilang kamu bohong menghubungi dokter Darwis." Jawab Celli lirih.
"Soal itu?"
Celli mengangguk.
"Aku malah sudah lupa." Jawab Julian enteng.
"Aseeemm ki. Padahal aku sudah bela-belain minta maaf lagi." Gerutu Celli sambil memanyunkan bibirnya.
Julian memang marah seharian tadi. Tapi wajah Celli yang meski ya penuh jerawat, justru malah membuat mood Julian membaik setelah moodnya dibuat hancur oleh Irene. Meski tidak cantik, justru wajah Celli menunjukkan ketulusan dan kesungguhan, tanpa dibuat-buat. Gadis itu masih bisa tampil percaya diri meski Julian tahu, betapa mindernya Celli dengan wajahnya sekarang.
Julian mengukir senyum tipisnya melihat bagaimana cemberutnya wajah Celli. Entah kenapa Julian tidak merasa terganggu dengan wajah Celli. Sebab yang ada di kepala Julian adalah wajah cantik Celli bukan wajahnya yang sekarang penuh jerawat.
"Cell..."
"Apa?"
"Isshh galak amat."
"Baru tahu ya!"
"Aku mau ngomong serius ini."
"Ngomong ya tinggal ngomong aja."
"Apa Roy sudah memberitahumu kalau kamu harus pindah apartement..."
Uhuuuuk,
Celli langsung tersedak.
"Pelan-pelan. Aku gak minta."
"Kenapa harus pindah apartement?"
"Yang itu aja aku sudah engap-engap buat bayar tiap bulannya. Si naga main suruh pindah aja. Kayak aku gudangnya duit aja. Dia iya...la aku." Gerutu Celli dalam hati.
"Itu kejauhan dari tempatku."
"Terus masalahnya apa?"
"Itu akan merepotkan Celli."
"Nggak. Aku bisa berangkat lebih pagi. Jangan khawatir aku belum pernah punya catatan yang namanya telat...ingat itu."
"Tapi scheduleku sering berubah tidak aturan." Julian beralasan.
"Asal kau memberitahuku. Akan kuusahakan aku datang tepat waktu. Aku kan punya ojek pribadi."
"Punya ojek pribadi aja sombong lu."
"Eits jangan salah. Mang Udin mah Palentino Rossinya kawasan sini. Sekali geber tu Supra dia bisa nganterin elu ke manapun elu mau, dengan kecepatan di atas rata-rata."
Ngiklan dulu...ngiklan.🤣🤣
Julian mencebikkan bibirnya.
"Pokoknya pindah!"
"Enggak!"
Julian langsung memanyunkan bibirnya. Dia paling tidak bisa perintahnya dibantah.
"Marah...marahlah elu. Emang gampang apa main pindah aja."
Keduanya saling melempar tatapan tajam. Sama-sama tidak mau mengalah. Baru juga dua detik yang lalu minta maaf eh sudah berantem lagi. Duhh jadi apa nanti hubungan kerja dua orang ini.
Celli sendiri biasanya akan selalu patuh dengan bosnya. Tapi dengan Julian dia merasa lain. Jiwa membangkangnya selalu meronta-ronta saat berhadapan dengan Julian. Apa karena pertemuan pertama mereka yang sudah seperti kucing dan tikus ya. Saling mencakar dan mengerjai satu sama lain.
__ADS_1
***