MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Jodoh Lama bersua Juga


__ADS_3

Terang mulai bergeser menjadi gelap. Dan kediaman Argantara dan Bagaskara semakin heboh dibuatnya. Mereka sama-sama dibuat pusing mengurusi satu orang yang malam itu akan jadi bintangnya.


Si Julian yang sampai sore tetap tidak bisa membuka matanya. Dan Celli meski sudah jam setengah tujuh malam. Masih santai berjalan kesana kemari. Bukannya segera memake up dirinya.


"Celli cepetan dandan!" Sang Mama, Mela berteriak dari lantai bawah. Dan percayalah, teriakan emak-emak berdaster bisa tembus tiga lantai dimana kamar Celli berada.


"Iya..Ma," jawaban itu entah sudah yang keberapa kalinya Celli berikan. Tapi gadis itu masih tidak bergerak dari tempatnya. Memeluk guling dengan sarung bergambar si Juki.


"Ampun deh...anakke pak Gilang. Yang mau ngelamar sudah otewe yang dilamar masih kelonan sama gulingnya," suara Mela seperti terompet di telinga Celli.


"Mama ngagetin Celli ah," gadis itu memanyunkan bibirnya.


"Kamu yang lebih ngagetin. Ganti baju! Buruan!" sang mama memberi perintah tegas, tak terbantahkan. Membuat Celli mau tidak mau bangun dari acara kelonan ria-nya dengan guling fantasinya.


"Nanti lagi, Ki. Mau dandan dulu. Si pemilik hati dunia nyata sudah mau datang," pamit gadis itu berjalan menuju meja riasnya.


Mela hanya menarik nafas melihat tingkah putri bungsunya. Itulah salah satu alasan kedua orang tua itu segera menerima Julian. Selain Julian adalah mantu idaman. Juga agar Celli bisa segera bangun dari dunia halunya yang kadang membuat orang di kiri kanannya hanya bisa mengelus dada.


"Kakak mana Ma?" Tanya Celli yang baru keluar dari kamar mandinya. Mencuci wajahnya.


"Katanya jemput teman. Tapi Mama gak tahu siapa," jawab Mela yang duduk di sofa dekat meja rias putrinya. Memutuskan untuk menunggui sang putri berdandan. Takut kalau Celli balik tidur lagi.


"Calon mantu Mamalah," sahut Celli sambil mengoleskan foundation diwajahnya.


"Memang dia sudah dapat gantinya Mia?" kepo Mela.


"Sudah. Celli pernah ketemu sekali. Orangnya asyik. Kayaknya Kakak serius sama yang ini."


"Yang bener?"


"Iya soalnya Kakak bilang mau nikah habis Celli nikahan sama Julian."


"Wah bagus dong. Jadi Kakakmu bisa langsung bantuin Papamu. Dia cukup kerepotan akhir-akhir ini," keluh Mela.


"Nya, ada yang mau ketemu. Temannya Mas Ardi." Seorang ART mereka melapor kepada Mela.


"Tu sudah datang," kata Celli setengah mengusir Mamanya.


"Iya. Aku turun. Selesaikan dandannya. Sebentar lagi Julian datang," ancam Mela.


"Iya," sahut Celli yang mulai menata rambutnya sendiri.


Sudah jago make up ya jangan ditanya. Dalam sekejab wajah Celli sudah mulai berubah karena make up. Meski hanya dipoles natural tapi hasilnya jelas berbeda.


"Ini rumahmu?" tanya Shania menatap tidak percaya pada Ardi.


Ardi mengangguk.


"Kamu bilang cuma dokter bedah. Tapi rumahmu bagus sekali."

__ADS_1


"Ini kan rumah papa dan mamaku. Aku cuma numpang tinggal disini." Lagi Ardi berujar santai. Shania langsung manyun mendengar jawaban sang kekasih.


"Siapa Ar?" tanya Gilang yang sudah berganti pakaian dengan setelan formal. Sedangkan Mela dengan gaun yang senada dengan warna kemeja sang suami.


Ardi dan Shania langsung bangkit dari duduknya. Shania jelas langsung menatap pada Ardi. Dia cukup tahu wajah Gilang Bagaskara. Seorang pebisnis yang cukup disegani di negeri ini. Dan jika Ardi tinggal dirumah ini. Berarti Ardi adalah putra Gilang.


"Dia menipuku!" maki Shania dalam hati yang hanya disambut senyuman oleh Ardi.


"Dia Shania Saraswati. Calon istri Ardi."


"Malam Om, Tante. Shania." Shania mengulurkan tangannya. Menjabat tangan Gilang dan Mela takzim lantas mencium punggung tangan keduanya bergantian.


"Wah kali ini kau serius Ar?" tanya Gilang.


"Serius Pa. Setelah Celli menikah. Aku akan segera melamar Shania," jawab Ardi.


"Cantik sekali dia. Putri siapa ini?" tanya Mela. Yang langsung membuat Shania tersipu.


"Bisa kalian tebak?" Ardi menggoda kedua orang tuanya.


"Jangan main teka teki dengan kami," gelak Gilang.


"Putri keluarga Prayogo," balas Ardi santai.


"Kamu putri Ratih Prayogo dan Bimo Prayogo?" tanya Gilang.


"Kenallah. La wong mereka teman cari belalang waktu kecil," seloroh Mela.


Shania langsung melongo mendengar jawaban Mama Ardi.


"Apa mereka yang kita jodohkan saat lahirannya Celli?"


"Bisa jadi Ma," Gilang menjawab pertanyaan sang istri.


Kali ini Ardi dan Shania saling pandang.


"Dijodohkan?"


"Iya kalian lahir di tahun sama. Sedang kakakmu tiga tahun lebih tua darimu. Dan Celli dua tahun lebih muda dari kalian. Waktu itu kalian sekeluarga akan pindah ke Qatar. Papamu ada tugas disana. Karena itu mereka para emak-emak sepakat jodohin kalian, biar gak putus tali persaudaraan. Tapi kami semua pasrahkan pada takdir. Sekian tahun berlalu kami kira kalian sudah menemukan jodoh masing-masing. Ternyata benang merah yang diikatkan di kaki kalian waktu kecil benar-benar membawa kalian kembali bersama," cerita Gilang panjang lebar.


Mela bahkan sudah berkaca-kaca saking terharunya.


"Tante sendiri yang mengikatkan benang merah itu dikakimu. Dan Mamamu mengikatkannya di kaki Ardi. Ahh... rasanya baru kemarin dan kalian benar-benar mengatakan ingin menikah. Sungguh...."


Mela sampai kehilangan kata-kata. Menatap rindu pada Shania.


"Apa kalian tidak ingat nama Shania?" Tanya Mela.


"Mereka memanggilnya Sasa dulu."

__ADS_1


Kembali Ardi dan Shania saling pandang. Jadi mereka sudah dijodohkan dari kecil. Pantas saja. Tidak ada yang bisa menakhlukkan Shania. Rupa-rupanya jodoh Shania sudah ditentukan sejak awal.


"Jadi Papa dan Mama apa kabar?" Gilang bertanya.


"Mereka sehat. Cuma Papa sudah ingin pensiun, tapi masih ada 2 tahun juga tugas yang harus diselesaikan," balas Shania.


"Lalu sekarang Nia sibuk apa?" kepo Mela.


"Sibuk nggrebek bandar narkoba sama Julian semalam."


"Ha? Bagaimana bisa?" tanya Gilang dan Mela bersamaan.


"Dia Kapolres Kota Pa, Ma."


"What? Si Bimo benar-benar memasukkanmu ke AD?"


"Kepolisian tepatnya, Om."


"Astaga...dua mantuku bisa membuat pusing kepalaku. Yang satu model saking populernya. Yang satu Kapolres tukang nggrebek bandar narkoba dan bandar-bandar lainnya," batin Gilang frustrasi.


Padahal Gilang sengaja menyembunyikan identitas kedua anaknya dari publik. Agar dua anaknya itu bisa menikmati kehidupan mereka layaknya anak muda pada umumnya. Tapi nyatanya jodoh mereka juga bukan dari kalangan biasa. Padahal Gilang tidak masalah dengan hal itu. Asal pasangan mereka mau mencintai anak-anaknya dengan tulus. Tanpa memandang nama belakang mereka.


Tapi kedua anaknya malah terhubung dengan keluarga Argantara dan Prayoga. Dua keluarga yang boleh dibilang namanya juga punya reputasi yang baik di bidangnya masing-masing. Argantara dengan bisnisnya. Prayoga dengan keturunan militernya.


Dan perkenalan itu berlanjut dengan obrolan hangat. Hingga suara mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah Bagaskara yang memang sangat luas.


"Ayo ikut Tante menyambut mereka," ajak Mela pada Shania. Meski Shania sedikit malu. Karena ini perkenalan pertama mereka. Tapi juga sangat melegakan karena kedua keluarga mereka ternyata sangat dekat sejak dulu.


"Ini rumah Aunty cantik ya?" seloroh suara imut dengan gaya cadelnya. Seina tampak gembira berada dalam gendongan Julian yang malam itu memakai kemeja ungu lembut.


"Seina turun. Nanti dikira kamu anaknya Uncle," Caca meminta putrinya turun dari gendongan Julian.


"Seina kan memang anak Uncle," jawab Seina. Yang lain langsung memutar matanya jengah.


"Tidak apa-apa. Jika dia dilepas. Akan merepotkan kalian dan barang bawaan kalian." Ucap Julian berjalan mendahului menuju pintu rumah Celli dimana Ardi yang sudah menunggu di tangga bawah.


"Hallo cantik," sapa Ardi.


"Halo, Uncle Ganteng," sahut Seina.


"Wah anakmu ya, pinter sekali jawabnya."


"Enak saja. Anaknya Jared nooo."


Ardi terbahak mendengar kekesalan Julian.


Selanjutnya kedua keluarga itu saling berjabat tangan juga berpelukan. Sebelum masuk ke ruang tamu yang sudah disulap dengan sedikit dekorasi manis bernuansa ungu.


****

__ADS_1


__ADS_2